Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Jason dan Kasandra
Fisya melirik ke arah jendela ruang tamu, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang rumah.
Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Sebastian sudah datang."
Ia segera menoleh kepada Bik Lili.
"Ayo, Bik. Kita pergi dari sini malam ini juga sebelum Jason pulang."
Bik Lili mengangguk cepat.
Fisya segera menggendong Tina yang masih tertidur pulas.
Sementara bik Lili mengambil sebuah koper berukuran sedang yang sejak tadi telah dipersiapkannya.
Sebastian masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.
"Bu Fisya. Apa semuanya sudah siap."
Fisya mengangguk.
"Tidak ada yang mengikuti?"
Sebastian menggeleng.
"Saya sudah memastikan jalan aman."
"Kalau begitu kita berangkat." Ucap Fisya
Mereka bertiga segera keluar menuju mobil dan koper dimasukkan ke bagasi.
Bik Lili duduk di bangku belakang sambil memeluk Tina dengan hati-hati.
Fisya duduk di samping Sebastian.
Mobil perlahan meninggalkan rumah keluarga Alexander.
Rumah besar itu semakin jauh tertinggal di belakang.
Bik Lili menoleh ke luar jendela entah mengapa, dadanya terasa sesak.
"Ibu..."
Fisya menoleh.
"Iya, Bik."
"Kita sebenarnya mau ke mana?" Tanya bik Lili
Fisya terdiam beberapa detik lalu menjawab dengan tenang.
"Kita akan ke luar negeri."
Bik Lili langsung membelalakkan mata.
"Keluar negeri?"
"Iya, kita akan ke Swiss"Jawab Fisya cepat
Bik Lili hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Swiss? Ibu serius?"
Fisya mengangguk.
"Sangat serius."
"Tapi... Kenapa harus ke Swiss?" Tanya bik Lili lagi
Fisya menarik napas panjang.
"Karena hanya di sana Tina benar-benar aman."
Bik Lili masih tampak kebingungan.
"Saya belum mengerti, Bu."
Fisya menatap Tina yang tertidur di pelukan Bik Lili.
"Kasandra terlalu terobsesi dengan Tina."
"Dia selalu mencari kesempatan untuk dekat dengan putriku."
"Sedangkan Jason... Dia hanya sedang menunggu waktu."
"Waktu apa, Bu?" Tanya Bik Lili
"Waktu ketika Tina sudah cukup besar untuk dipengaruhi."
"Dia akan membuat Tina membenciku."
"Dia akan memanfaatkan kepolosan Tina."
"Lalu mengambil semua harta keluarga Alexander melalui putriku sendiri."
Tubuh Bik Lili langsung merinding.
"Ya Allah... Berarti selama ini..."
Fisya mengangguk pelan.
"Itulah sebabnya aku tidak bisa membiarkan Tina tumbuh di dekat mereka."
"Tina harus pergi, semakin jauh dari negri ini semakin baik."
Bik Lili tiba-tiba teringat sesuatu.
Matanya membesar.
"Astaga... Pantas beberapa minggu lalu Ibu menyuruh saya membuat paspor, waktu itu saya pikir hanya untuk berjaga-jaga."
Fisya tersenyum tipis.
"Itu memang alasanku waktu itu tapi tujuan sebenarnya memang untuk Tina semua sudah kupersiapkan jauh sebelum ini."
Bik Lili menggenggam selimut kecil yang menyelimuti Tina.
"Lalu... Apakah ibu ikut tinggal di Swiss?"
Fisya menggeleng.
"Tidak."
Bik Lili kembali terkejut.
"Ibu tidak ikut?"
"Saya tetap disini" Jawab Fisya sambil menarik napas
"Lalu Tina?" Tanya Bik Lili
Fisya menatap Bik Lili dengan penuh keyakinan.
"Saya ingin Bibik yang menjaganya."
"Saya?" Jawab Bik Lili hampir tidak percaya
"Iya, di dunia ini hanya ada beberapa orang yang benar-benar saya percaya salah satunya adalah Bibik." Ucap Fisya
Air mata Bik Lili mulai mengalir.
"Tapi saya takut karena saya belum pernah ke luar negeri, saya juga tidak bisa bahasa disana"
Fisya tersenyum lembut.
"Bibik tidak akan sendirian di sana ada Tante Isabel."
"Tante Isabel?" Ucap Bik Lili bingung
"Iya, Beliau adik kandung Mams dan beliau sudah puluhan tahun tinggal di Swiss" Ucap Fisya
"Waktu Mama meninggal... Tante Isabel yang membesarkan saya bik dan saya sekolah di Swiss sejak kecil."
"Beliaulah yang mengurus saya."
"Beliau sudah saya anggap seperti ibu sendiri."
Bik Lili mulai sedikit tenang.
"Apakah Tante Isabel tahu semuanya?"
"Beliau hanya tahu ada orang yang ingin memanfaatkan Tina." Jawab Fisya
"Saya belum menceritakan semua rahasia tentang Jason dan Kasandra."
"Lalu saya tinggal bersama Tante Isabel?" Tanya bik Lili kembali
"Iya, rumah beliau cukup besar dan ada beberapa orang kepercayaan yang sudah bekerja puluhan tahun, disana Tina akan aman." Ucap Fisya
"Lalu Ibu kapan datang?"
"Saya akan ke Swiss setiap dua minggu sekali." Jawab Fisya
"Dua minggu sekali?"
"Iya, Saya akan mengatur pekerjaan agar bisa pulang pergi, saya juga masih harus mengurus perusahaan."
"Dan..."
Tatapan Fisya berubah tajam.
"Saya belum selesai dengan Jason dan Kasandra, mereka harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya."
Mobil terus melaju membelah malam.
Sebastian yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Bu Fisya, saya sudah mengatur semuanya begitu sampai bandara nanti, akan ada orang kepercayaan Tante Isabel yang menjemput."
Fisya mengangguk.
"Terima kasih"
"Saya juga sudah meminta mereka merahasiakan keberadaan Tina, saya pastikan tidak akan ada yang tahu bu" Sebastian menjawab mantap.
"Selama saya masih hidup... Tidak akan ada seorang pun yang menyentuh Non Tina." Lanjutnya
Fisya menoleh.
"Terima kasih, Sebastian."
Sebastian hanya mengangguk dalam hati ia berjanji.
"Apa pun yang terjadi... aku akan menjaga mereka."
***
Sementara itu... Jason baru saja mengantar Kasandra pulang.
Mobilnya melaju menuju rumah keluarga Alexander.
Sepanjang perjalanan ia tersenyum sendiri.
"Aku harus bersabar hingga anakku Tina besar dan selama aku menunggu aku akan selalu dekat dengan Tina"
"Wanita bodoh itu benar-benar tidak menyadari rencana kami, dasar Fisya kamu benar-benar bodoh sekali" lanjutnya
Beberapa menit kemudian...
Mobil Jason memasuki halaman rumah.
Anehnya...
Suasana rumah terlihat gelap
Jason mengernyit.
"Kenapa lampu ruang tamu dimatikan?"
Ia turun dari mobil, pintu rumah ternyata tidak terkunci.
Jason langsung masuk.
"Fisya?"
Tidak ada jawaban sama sekali dan rumah tetap sunyi.
Jason menaiki tangga dengan langkah cepat, ia membuka pintu kamar Tina.
Kosong.
Tempat tidur bayi itu sudah rapi, tidak ada Tina dan tidak ada perlengkapan bayi.
Jason mulai panik, ia berlari menuju kamar utama.
"Fisya!"
Kosong dan lemari pakaian terbuka, beberapa pakaian Fisya sudah tidak ada.
Jason semakin gelisah lalu ia membuka kamar Bik Lili.
Kosong juga... Tas dan pakaian Bik Lili juga hilang.
"Apa-apaan ini?"
Jason langsung mengeluarkan ponselnya.
Ia menelepon Fisya, nomor itu aktif namun tidak diangkat.
Jason mencoba lagi tetap tidak ada jawaban dan ia segera menelepon Bik Lili nomor itu juga tidak diangkat.
Wajah Jason mulai pucat.
"Ke mana mereka? Apa Fisya membawa Tina?"
Ia segera membuka ruang CCTV rumah namun monitor menunjukkan rekaman beberapa jam sebelumnya.
Setelah itu... Layar gelap.
"Sial! CCTV dimatikan!"
Jason memukul meja sekuat tenaga.
Brak!
"Kamu mau ke mana, Fisya?"
Ia kembali mencoba menghubungi Fisya tetap tidak dijawab.
Dengan tangan yang gemetar, Jason segera meraih ponselnya dan menelepon Kasandra.
("Halo, Kas!") Ucap Jason
Suara Kasandra terdengar mengantuk.
("Ada apa?")
("Gawat! Ada masalah besar!") suara Jason terdengar panik dan terburu-buru.
Kasandra langsung duduk tegak di atas tempat tidurnya.
("Masalah apa?")
("Fisya... dan Tina menghilang.")
Mata Kasandra langsung membelalak.
("Maksudmu apa Mas?")
("Fisya tidak ada di rumah. Tina juga ikut menghilang. Bahkan Bik Lili pun tidak ada. Rumah ini benar-benar kosong.")
Wajah Kasandra seketika memucat.
("Mustahil...")
Jason mengacak rambutnya frustasi.
("Aku sudah mencari ke setiap sudut rumah. Kamar, taman, garasi, bahkan ruang penyimpanan. Tidak ada siapa pun.")
Jantung Kasandra berdegup semakin kencang.
("Jangan-jangan... Fisya sudah mengetahui semuanya.")
("Tidak mungkin!") bentak Jason.
("Tapi kalau bukan karena itu, kenapa dia pergi tanpa memberitahumu? Selama ini Fisya selalu menceritakan apa pun kepadaku. Dia juga tidak pernah mengambil keputusan besar tanpa berdiskusi dengan kita.") Jawab Kasandra
Kasandra menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan suara bergetar.
("Dan satu lagi... kamu suaminya. Biasanya dia selalu menuruti semua ucapanmu. Tapi sejak penukaran bayi itu terjadi, sikap Fisya benar-benar berubah. Dia menjadi dingin, menjaga jarak, bahkan tatapannya berbeda setiap kali melihat kita berdua")
("Diam, Kas!") teriak Jason hingga urat di lehernya menegang.
Suasana mendadak hening.
Jason mengepalkan tangannya kuat-kuat.
("Dengarkan aku baik-baik. Kalau benar Fisya sudah mengetahui semuanya... Dia pasti akan menggugat cerai, karena kita berdua tahu Fisya itu gimana orangnya")
Jason menelan ludah dengan susah payah.
("Dan... Kita juga bisa dipenjara.")
Kalimat itu membuat tubuh Kasandra membeku.
Belum sempat ia menjawab, sambungan telepon tiba-tiba terputus.
Jason menurunkan ponselnya dengan napas memburu..
"Tidak mungkin itu terjadi, aku yakin ada sebab lain, Fisya tidak mungkin tahu rahasia itu"