"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 029 - Balas Dendam Herman
Herman Wijaya keluar dari Polres dengan wajah kusut dan mata merah.
Pengacaranya berhasil mengurus penangguhan penahanan sementara. Kasusnya belum hilang. Borgol memang lepas dari tangannya, tetapi jejak delapan miliar masih menggantung di lehernya.
Di luar kantor polisi, tidak ada keluarga yang menjemput.
Hanya sebuah mobil hitam.
Pintu belakang terbuka.
Denny Hartono duduk di dalam.
"Masuk," katanya.
Herman masuk tanpa banyak gaya.
Mobil bergerak menuju private lounge di Surabaya Timur. Sepanjang jalan, Herman diam. Denny menatapnya dari samping.
"Kamu dipermalukan di depan anak-anak kantor."
Rahang Herman mengeras.
"Diam."
"Aku hanya menyebut fakta."
"Arya menghancurkan hidup saya."
Denny tersenyum tipis.
"Dia juga mengambil Kirana dari saya."
Herman menoleh.
Dua pria itu saling melihat.
Mereka tidak saling percaya.
Namun kebencian mereka menunjuk ke arah yang sama.
Di lounge, Denny menuang minuman. Herman tidak menyentuh gelas.
"Apa yang kamu punya?" tanya Denny.
"Klien."
"Berapa?"
"Tiga besar bisa saya goyang minggu ini. Lima lagi butuh harga."
"Harga bisa saya atur."
"Orang?"
"Saya kenal beberapa engineer yang masih loyal kepada saya. Mereka takut Arya membersihkan semua orang lama."
"Bagus."
Herman membuka map.
"Produk utama Surya Teknologi masih bergantung pada modul lama. Kalau dua engineer database keluar, tim R&D baru akan pincang."
Denny membolak-balik halaman.
"Data klien?"
Herman terdiam.
Denny menatapnya lebih tajam.
"Kamu masih punya akses?"
"Sebagian. Ada akun lama yang belum dicabut. Ada backup dokumen sebelum saya keluar."
"Pakai."
"Itu memperberat kasus."
Denny tertawa.
"Kasusmu sudah berat."
Herman memejamkan mata.
Lalu ia membuka laptop.
"Kita mulai dari klien yang paling takut gangguan sistem. Tawarkan harga dua puluh persen lebih rendah. Janjikan migrasi gratis. Sebarkan kabar bahwa Arya tidak stabil dan perusahaan sedang krisis."
"Nama vendor?"
"PT Langit Digital."
Denny tersenyum.
"Anak usaha kami."
Malam itu, tiga email keluar.
Pagi berikutnya, tiga surat niat terminasi masuk ke meja Mega.
Di PT Surya Teknologi, ruang krisis langsung dibuka.
Arya berdiri di depan papan kaca. Pak Budi di kanan. Mega di kiri. Rizky, Dimas, dan Bayu baru sehari resmi masuk, tapi wajah mereka sudah masuk mode perang.
Mega membacakan ringkas.
"Klien pertama: Nusantara Cold Chain. Nilai kontrak tahunan Rp 3.200.000.000. Klien kedua: Sumber Pangan Jaya, Rp 2.700.000.000. Klien ketiga: Mitra Logistik Timur, Rp 1.900.000.000. Semua mendapat tawaran dari PT Langit Digital."
Bayu menambahkan, "Harga mereka rata-rata dua puluh lima persen lebih rendah."
Rizky membuka laptop. "Secara teknis, Langit Digital belum punya produk matang untuk kebutuhan gudang dingin. Kalau mereka berani ambil, kemungkinan besar mereka pakai dokumen kita."
Dimas mengetuk meja.
"Berarti ini perang persepsi. Mereka jual rasa aman palsu sambil bilang kita kacau."
Pak Budi terlihat marah.
"Herman tahu semua titik takut klien."
Arya menulis tiga kata di papan.
Klien.
Orang.
Data.
"Serangan mereka tiga arah," kata Arya. "Mereka tarik klien, tarik karyawan, dan pakai data internal."
Mega menerima pesan baru.
"HR melapor lima engineer menengah mengajukan resign pagi ini."
Rizky langsung bertanya, "Nama?"
Mega membacakan.
Rizky mengangguk satu per satu.
"Dua bisa dilepas. Satu perlu ditahan. Dua lagi punya akses ke modul penting."
Arya menatapnya.
"Kamu punya rencana?"
"Aku audit akses hari ini. Semua credential lama dicabut. Kita rotasi key, reset token, dan pisahkan modul kritis."
"Kerjakan."
Bayu membuka catatan.
"Untuk klien, kita perlu kunjungan langsung. Jangan hanya email. Orang operasional percaya orang yang datang ke gudang mereka."
"Siapkan jadwal."
Dimas mengangkat tangan.
"Untuk persepsi, aku butuh statement singkat. Tenang. Kita bicara soal audit, stabilitas layanan, dan komitmen langsung dari CEO."
Arya menatapnya.
Dimas menutup mulut sebentar.
"Aku sadar kata itu. Aku revisi sendiri."
"Bagus. Buat draft."
Pak Budi menatap Arya.
"Pak, Herman tahu orang dalam. Ada kemungkinan masih ada yang memberi dia kabar."
Panel sistem menyala.
【Ancaman bisnis tingkat lanjut terdeteksi.】
【Pola: serangan klien + pembajakan talenta + penyalahgunaan data.】
【Hadiah respons awal: analisis intelijen bisnis Lv.3.】
【Hadiah: manajemen krisis Lv.2.】
【Peringatan: jalur bisnis Hartono Group aktif.】
Arya membaca cepat.
Lalu ia melihat semua orang di ruangan.
"Mulai hari ini, kita anggap Herman dan Hartono sudah masuk perang bisnis."
Tidak ada yang membantah.
"Rizky, amankan sistem. Bayu, jadwal kunjungan klien. Dimas, siapkan komunikasi. Mega, freeze semua akses mantan finance dan buat daftar anomali resign. Pak Budi, hubungi klien lama yang masih percaya."
"Siap."
Jawaban datang dari lima arah.
Untuk pertama kalinya, Arya merasa ruangan itu bergerak sebagai satu tubuh.
Rizky langsung berdiri.
"Aku butuh akses server penuh dan satu orang database dari tim lama."
"Ambil Yusuf," kata Pak Budi. "Dia bersih dan paham sistem lama."
Bayu menulis cepat. "Aku berangkat ke Nusantara Cold Chain sore ini. Kalau mereka takut gangguan operasional, kita jawab di lokasi."
Dimas membuka laptop. "Aku siapkan surat terbuka untuk klien, plus deck singkat. Jangan banyak klaim. Data uptime, tim baru, audit, dan jaminan layanan."
Mega menambahkan, "Saya kunci akses mantan finance sekarang. Semua resign mendadak masuk daftar wawancara exit."
Arya melihat jam.
"Kita punya empat jam sebelum klien pertama tutup kantor. Bergerak."
Empat jam itu langsung habis.
Rizky mengunci dua akun lama yang masih aktif. Satu akun mencoba login dari alamat IP luar kantor tiga menit setelah dibekukan.
"Herman sedang mencoba masuk," kata Rizky.
"Simpan log."
"Sudah."
Bayu menelepon manajer gudang Nusantara Cold Chain dan meminta izin datang malam itu juga.
"Saya tidak jual janji lewat telepon, Pak. Saya datang membawa teknisi dan data uptime."
Dimas mengirim draft statement pertama. Arya mencoret tiga kalimat yang terlalu manis dan menyisakan inti: layanan stabil, audit berjalan, CEO turun langsung.
Pak Budi menghubungi direktur lama di Sumber Pangan Jaya.
"Beri kami dua puluh empat jam sebelum Bapak menandatangani apa pun."
Malam itu, ia pulang lebih larut dari janji.
Kirana menunggu di ruang makan, tidak marah, hanya menatap wajahnya.
"Perang?"
Perisai Cinta membuat Arya merasakan kecemasannya sebelum suara itu selesai.
"Iya."
"Hartono?"
"Herman dan Denny. Mungkin Pak Hartono di belakang."
Kirana menarik napas.
"Kamu akan menang?"
Arya duduk di sampingnya.
"Aku harus menang."
Ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Pesan singkat.
Arya Pratama, PT Surya Teknologi tidak akan bertahan tiga bulan. Kalau pintar, jual perusahaan itu dan bawa istrimu pergi dari Surabaya. Anggap ini nasihat baik.
Arya membaca sampai selesai.
Kirana melihat layar, wajahnya menegang.
Arya meletakkan ponsel di meja.
Ia tidak marah keras.
Ia tersenyum tipis.
Panel sistem muncul dengan warna biru yang belum pernah ia lihat.
【Hidden mission unlocked.】
【Rute: Kerajaan Bisnis.】
【Tujuan awal: ubah PT Surya Teknologi dari perusahaan warisan menjadi kekuatan pasar mandiri.】
【Catatan: host, waktunya berhenti bertahan.】
Arya menatap pesan sistem.
Lalu menatap Kirana.
"Besok," katanya pelan, "kita mulai menyerang."