Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Karena masih diliputi rasa takut, Aurora memilih tidak membantah. Ia segera masuk ke kamar mandi yang ditunjukkan Kael.
Sebelum Aurora benar-benar menutup pintu, suara Kael terdengar dari belakang.
“Untuk sementara, gunakan bathrobe yang sudah tersedia. Setelah itu, aku akan meminta seseorang menyiapkan pakaian dan keperluanmu.”
Kael mengucapkannya dengan nada datar. Ia kemudian berbalik sambil menahan rasa tidak nyaman pada bahunya yang terluka.
Aurora mengerutkan bibir.
“Dasar menyebalkan...”
Gerutuan kecil itu hanya terdengar untuk dirinya sendiri.
Begitu berada di dalam kamar mandi, Aurora kembali terdiam. Ruangan tersebut jauh lebih mewah daripada yang pernah ia bayangkan. Namun kemewahan itu sama sekali tidak membuatnya merasa nyaman.
Ia berdiri di depan cermin.
Untuk beberapa saat, Aurora hanya menatap pantulan dirinya sendiri.
Penampilannya sudah jauh dari keadaan semula. Debu dan noda akibat kekacauan sebelumnya masih menempel di beberapa bagian tubuhnya. Rambut yang sebelumnya tertata rapi kini berantakan, sementara sisa riasan di wajahnya telah luntur bercampur dengan air mata dan keringat.
Beberapa goresan kecil terlihat di kulitnya.
Aurora menyentuh salah satunya dengan hati-hati, lalu menarik napas panjang.
Semua yang terjadi malam ini terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.
Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah sedrastis ini hanya dalam satu malam.
Matanya kembali berkaca-kaca.
“Aku benar-benar tidak beruntung...” bisiknya lirih. “Kenapa selalu ada saja hal buruk yang datang kepadaku?”
Tangis kecil lolos dari bibirnya.
“Hiks...”
Aurora menundukkan kepala, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Namun semakin ia mencoba menahan perasaan, semakin jelas rasa takut dan lelah yang sejak tadi disembunyikannya.
Di balik pintu kamar mandi yang tertutup, Kael masih berada di kamar.
Aurora tidak tahu apa yang akan terjadi setelah malam ini.
Yang ia tahu, untuk pertama kalinya ia berada di tempat asing bersama seorang pria yang sama sekali belum mampu ia pahami.
Dan ketidakpastian itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak.
Aurora akhirnya memutuskan membersihkan diri. Ia melepaskan pakaian yang sudah kotor dan segera menyingkirkannya, lalu berdiri di bawah pancuran air hangat.
Air mengalir dari kepalanya, membawa sebagian debu dan kotoran yang sejak tadi melekat. Namun rasa nyaman itu tidak mampu menghapus kegelisahan di dalam dadanya.
Tubuhnya masih terasa nyeri akibat kejadian yang baru saja dilewatinya. Setiap kali mengingat suara tembakan dan kekacauan sebelumnya, jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
Akankah semua ini benar-benar berakhir?
Waktu berlalu tanpa terasa.
Aurora tidak sedang menikmati waktu di kamar mandi. Ia hanya berdiri diam, membiarkan air mata terus mengalir sambil menata pikirannya yang berantakan. Air mata yang sempat jatuh pun kembali bercampur dengan air dari pancuran.
Tiba-tiba—
“Aurora! Cepat keluar!”
Suara Kael terdengar dari balik pintu.
Aurora tersentak.
Beberapa ketukan keras menyusul.
Tok! Tok! Tok!
Ia segera meraih bathrobe yang tersedia dan mengenakannya sebelum membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Aurora melihat Kael berdiri di sana. Wajah pria itu tampak semakin pucat karena luka di bahunya belum sepenuhnya tertangani.
Kael mengamati Aurora sekilas, memastikan perempuan itu baik-baik saja, kemudian mengalihkan pandangan.
Jujur saja Kael terpesona oleh kecantikan Aurora yang terlihat begitu menggoda di matanya.
“Cepat. Aku membutuhkan bantuanmu. Ambil ini.”
Ia menyerahkan sebuah pinset kecil kepada Aurora.
Aurora menatap benda itu dengan bingung.
“Untuk apa?”
Kael menunjuk bahunya yang terluka.
“Bantu aku mengambil sisa benda asing dari lukaku. Hati-hati.”
Aurora langsung menyadari bahwa Kael ternyata masih menahan rasa sakit sejak mereka meninggalkan tempat kejadian.
Ia menggenggam pinset itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Kau seharusnya pergi ke dokter...”
“Tidak perlu. Lakukan saja.”
Nada Kael tetap tegas, tetapi kali ini Aurora bisa menangkap sesuatu yang berbeda di balik ketenangannya—kelelahan yang berusaha ia sembunyikan.
Aurora menarik napas panjang.
Ia mungkin masih takut pada pria itu.
Namun melihat Kael terluka membuat rasa takut tersebut perlahan bercampur dengan kekhawatiran.
“Baik... aku akan mencoba.”
Kael mengangguk singkat.
“Kalau begitu, jangan buang waktu.”
Aurora pun mendekat, bersiap membantu Kael menangani lukanya dengan hati-hati.
“Naiklah ke ranjang dan bantu aku mencari proyektil yang masih tertinggal di bahuku.”
Aurora mengerjapkan mata, seolah tidak yakin dengan perintah yang baru saja didengarnya.
“Aku harus naik?”
Kael menghela napas pendek. Ia sudah berbaring menyamping di atas ranjang agar bahunya lebih mudah diperiksa.
“Tentu. Memangnya ada cara lain? Cepatlah.”
Aurora menelan ludah.
Ia masih canggung berada sedekat itu dengan Kael, terlebih setelah menyaksikan betapa kerasnya pria tersebut menghadapi situasi berbahaya malam ini. Namun kali ini ia berusaha mengesampingkan rasa takutnya.
Beberapa bekas luka terlihat di bahu Kael, tanda bahwa pria itu bukan seseorang yang asing dengan bahaya. Luka-luka tersebut membuat Aurora sadar bahwa di balik sikap dinginnya, Kael telah melewati banyak hal yang tidak pernah ia ketahui.
“Aurora, jangan melamun. Naik dan mulai cari.”
Aurora tersadar.
“Hm...”
Dengan hati-hati, ia mengambil posisi di sisi ranjang agar dapat melihat bahu Kael dengan lebih jelas. Tangannya masih sedikit gemetar ketika ia menerima alat kecil yang sebelumnya diberikan pria itu.
Kael segera menyadari kebingungannya.
“Bukan di atas tubuhku. Duduk saja di sisi ranjang dan fokus pada bahuku.”
Wajah Aurora seketika memerah karena salah memahami perintahnya.
“Oh... baik.”
Ia buru-buru menggeser posisi.
Kael memejamkan mata sesaat, berusaha menahan rasa nyeri yang kembali muncul.
“Sekarang periksa baik-baik. Aku ingin benda itu ditemukan.”
Aurora mengangguk.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia mencoba mengumpulkan keberanian. Rasa takut masih ada, tetapi melihat Kael terluka membuatnya sadar bahwa ia harus tetap tenang.
Ia mengarahkan perhatian sepenuhnya pada luka di bahu pria tersebut.
“Kalau sakit, katakan. Aku tidak mau memperburuk keadaan.”
Kael membuka matanya dan menatapnya sekilas.
“Aku bisa menahannya. Lakukan saja dengan hati-hati.”
Aurora menarik napas perlahan.
Kemudian, dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai memeriksa luka Kael secara perlahan.
Aurora turun dari sisi ranjang dengan langkah terburu-buru. Jemarinya menggenggam pinset kecil yang terasa begitu asing di tangannya. Napasnya bergetar ketika pandangannya kembali tertuju pada luka di bahu Kael.
“Aku tidak sanggup, El... Aku belum pernah melakukan hal seperti ini.”
Kael menatapnya dengan sorot tegas.
“Cepat, Aurora. Aku tidak bisa membiarkan benda itu tetap berada di sana terlalu lama.”
Aurora menggeleng cepat.
“Aku takut... tanganku bisa salah.”
Kael mengembuskan napas panjang. Nada suaranya tetap dingin.
“Kalau kau terus ragu, keadaan justru akan semakin buruk. Fokus saja dan lakukan perlahan.”
Aurora terdiam.
Pria di hadapannya memang terlihat menakutkan. Bahkan ketika sedang terluka, Kael masih mampu berbicara seolah rasa sakit bukan sesuatu yang perlu dipedulikan.
Bagaimana mungkin hidup orang ini terasa begitu dekat dengan bahaya? pikir Aurora.
Namun ia tidak punya banyak pilihan.
Dengan hati-hati, Aurora kembali mendekat. Ia memusatkan perhatian pada bahu Kael dan berusaha mengikuti arah yang sebelumnya dijelaskan pria itu.
Tangannya gemetar hebat.
“Tenang,” ujar Kael singkat. “Jangan panik.”
Aurora menarik napas dalam-dalam.
“Aku akan mencoba.”
Perlahan, ia mulai membantu menangani luka tersebut. Gerakannya sangat hati-hati karena takut membuat keadaan Kael semakin buruk.
Anehnya, Kael tidak mengeluh.
Pria itu hanya diam, menahan rasa tidak nyaman sambil membiarkan Aurora melakukan yang terbaik yang ia bisa.
Keheningan memenuhi kamar.
Bagi Aurora, beberapa detik terasa jauh lebih panjang dari seharusnya.
Ia masih ketakutan, tetapi kali ini ia memaksa dirinya untuk tidak mundur.
Setidaknya, untuk sementara, ia ingin melakukan sesuatu yang benar.
“Sedikit lagi...” gumam Aurora, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Kael hanya mengangguk kecil.
“Lanjutkan.”
Aurora kembali memusatkan perhatian. Meski jemarinya masih gemetar, perlahan rasa percaya dirinya mulai tumbuh.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari bahwa keberaniannya mungkin tidak sebesar milik Kael.
Tetapi bukan berarti ia sama sekali tidak memilikinya.
“Apa kau tidak merasakan sakit?” tanya Aurora, heran melihat Kael tetap tenang.
“Tentu saja sakit.”
Jawaban Kael begitu singkat hingga Aurora sempat menatapnya tak percaya.
“Kalau memang sakit, kenapa kau diam saja?”
Aurora kembali memusatkan perhatian pada bahu Kael. Dengan sangat hati-hati, ia berusaha menemukan benda kecil yang masih tertinggal di sana. Tangannya bergerak perlahan, sementara pikirannya terus berusaha mengatasi rasa gugup.
Kael hanya mengembuskan napas.
“Apa dengan berteriak atau menangis rasa sakit ini akan hilang? Tidak. Jadi lebih baik kau tetap tenang dan selesaikan saja.”
Aurora terdiam.
Ada benarnya juga.
Ia kembali bekerja dengan lebih hati-hati. Sesekali Aurora membersihkan bagian sekitar luka agar dapat melihat dengan lebih jelas. Jantungnya berdebar ketika ujung alat yang dipegangnya terasa menyentuh sesuatu yang berbeda.
Sepertinya aku menemukannya.
Aurora menahan napas, lalu menarik benda kecil itu dengan gerakan perlahan dan terukur.
Berhasil.
Ia segera mengangkat tangannya.
“Aku mendapatkannya, El!”
Di antara jemarinya tampak benda kecil berwarna keperakan yang sebelumnya membuat Kael kesakitan.
Wajah Aurora seketika berubah cerah. Entah mengapa, menemukan benda itu terasa seperti sebuah pencapaian besar baginya.
Kael meliriknya sekilas.
“Lama sekali. Hanya menemukan benda sekecil itu saja sampai terlihat seperti memenangkan sesuatu.”
Aurora mengerucutkan bibir, sedikit kesal.
“Yang penting aku berhasil, kan?”
Kael tidak menjawab. Ia hanya menghela napas pelan, sementara Aurora diam-diam merasa lega karena akhirnya bisa melakukan sesuatu untuk membantu pria yang sejak tadi berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
...****************...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
maap,unfollow dan unsubscribe