Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17: " nama-nama yang dipanggil ke dpan lapangan"
Upacara bendera akhirnya usai.
"Pembina upacara meninggalkan lapangan."
Komandan upacara memekikkan aba-aba dengan lantang, lalu memberikan penghormatan terakhir yang diikuti secara tertib oleh seluruh barisan. Beberapa siswa kelas sepuluh di barisan kanan tampak mengembuskan napas lega yang cukup panjang. Kaki yang pegal dan terik matahari pagi akhirnya berakhir juga.
Namun, belum ada satu pun peserta yang diizinkan membubarkan barisan.
Pak Toni melangkah tegap menuju mimbar utama dan menyesuaikan posisi mikrofon di depan lapangan. Di tangan kirinya, terapit sebuah map folder berwarna biru berisi beberapa lembar dokumen penting.
Suara beliau yang hangat dan berwibawa seketika membelah lapangan melalui pengeras suara.
"Baik. Selamat pagi anak-anakku sekalian."
"Pagi, Pak!" sahut para siswa kompak.
"Sebelum seluruh peserta dibubarkan dan kembali ke kelas masing-masing, ada beberapa pengumuman penting yang akan saya sampaikan."
Seluruh lapangan kembali hening, memusatkan perhatian penuh. Sesi pengumuman pasca-upacara Senin pagi memang menjadi agenda rutin. Biasanya diisi oleh pengumuman seputar ajang kejuaraan, pengumuman kegiatan OSIS, hingga apresiasi prestasi siswa.
Pak Toni membuka lembar pertama dari folder birunya.
"Pertama-tama... atas nama pihak sekolah, kami mengucapkan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh siswa yang telah berhasil mengharumkan nama SMAN 1 Yogyakarta pada berbagai kejuaraan selama dua minggu terakhir!"
Tepuk tangan awal riuh membahana di seluruh penjuru lapangan.
Pak Toni menyunggingkan senyum bangga. "Prestasi kalian bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi dan keluarga, tetapi juga menyalakan kebanggaan bagi seluruh warga sekolah."
Beliau jeda sejenak, meneliti barisan nama di lembar dokumennya.
Prestasi Nonakademik
"Untuk kategori Nonakademik..." panggil Pak Toni lantang. "Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta... Juara Satu... atas nama..."
Beliau menatap lembaran kertasnya sekilas. "...Syafa Khairunnisa, dari kelas X-3!"
Gemuruh tepuk tangan dan sorakan semangat meledak dari barisan kelas sepuluh.
👏👏👏👏👏
Dari barisan X-3, seorang siswi berhijab hitam melangkah perlahan menuju tengah lapangan dengan senyum tersipu.
Pak Toni kembali melanjutkan pembacaan. "Selanjutnya... Kejuaraan Karate Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta... Juara Satu... atas nama... Syaira Khairunnisa, dari kelas X-5!"
Tepuk tangan kembali bergemuruh, bahkan terdengar makin riuh.
👏👏👏👏👏
Dari barisan X-5, seorang siswi yang perawakan serta paras wajahnya sangat mirip dengan Syafa berjalan anggun menyusul ke depan. Anak-anak kelas sepuluh yang berdiri di sekitarnya langsung saling bersikut geli.
"Eh, itu kembar ya?" "Iya! Syafa sama Syaira, mirip banget mukanya!" "Wah, gokil... kembar berprestasi di silat sama karate."
Pak Toni ikut terkekeh pelan dari podium. "Selamat untuk Syafa dan Syaira. Kalian luar biasa berhasil membawa nama baik sekolah."
Kedua siswi kembar itu saling menoleh dan memamerkan senyum kebanggaan. Pak Toni lantas membalikkan lembar kertas berikutnya.
Prestasi Akademik
"Selanjutnya... Kategori Akademik."
Atmosfer lapangan mendadak berubah hening dan syahdu. Rasa penasaran menjangkiti para siswa. Siapa saja barisan anak langganan olimpiade yang kali ini berhasil memborong medali?
Pak Toni mulai membaca daftar nama tersebut.
"Untuk International Biology Olympiad... Peraih Medali Perunggu... atas nama... Najla Putri Amifa, dari kelas XI-8!"
Suara tepuk tangan kembali memenuhi udara pagi.
👏👏👏👏👏
Najla berjalan menuju depan lapangan sambil menunduk malu-malu, disoraki heboh oleh teman-teman sekelasnya. "Selamatttt, Najlaaa!"
"Berikutnya..." panggil Pak Toni lagi. "Olimpiade Sains Indonesia Bidang Kedokteran... Peraih Medali Emas... atas nama... Akbar Farel Pratama, dari kelas XII-7!"
Sorakan membahana dari rombongan kelas dua belas. Akbar melangkah mantap nan percaya diri menuju jajaran peraih prestasi.
Pak Toni mengulas senyum lebar yang sarat akan kebanggaan. Beliau meneliti dua nama terakhir di lembarannya.
"Nah... untuk dua nama berikut ini..." ujar Pak Toni sengaja menggantungkan kalimatnya. "...Saya rasa seluruh warga sekolah sudah sangat mengenal mereka berdua."
Seketika bisik-bisik spekulasi berkecambah di antara barisan murid.
"Siapa ya?" "Pasti anak langganan olimpiade lagi." "Anak XII IPA 1 pasti nih..."
Pak Toni mendekatkan mikrofon. "Peraih Medali Emas Olimpiade Sains Indonesia Bidang Fisika... atas nama..." Beliau mengangkat pandangannya tepat menatap area barisan kelas XII IPA 1. "...Alya Nadhifa Adhitama, dari kelas XII-1!
"
Seketika itu juga... seluruh lapangan meledak dalam riuh tepuk tangan dan sorakan paling bergemuruh pagi itu!
👏👏👏👏👏👏👏
Seluruh pengurus OSIS langsung tersenyum bangga. Rani dan Cantika bahkan sampai melompat kecil seraya bertepuk tangan heboh.
"Itu Bu Ketos kita!" "Keren banget Kak Nadira!" "Dari kelas sepuluh emang langganan memborong medali olimpiade!"
Di barisan kelas XII IPA 1, Arga menyunggingkan senyum tipisnya yang penuh rasa kagum seraya bertepuk tangan hangat.
Nadira yang saat itu masih berada di posisi jaga belakang barisan kelas sepuluh sempat mematung terkejut. Namanya dipanggil pertama. Pak Toni melambaikan tangan ramah padanya. "Nadira, silakan maju ke depan."
"Iya, Pak. Terima kasih," bisik Nadira pelan. Dengan langkah tenang dan penuh wibawa, gadis itu melangkah menyusuri lapangan.
Namun... Pak Toni ternyata belum selesai membaca lembaran biru tersebut.
Beliau kembali melihat nama terakhir di kertasnya dengan senyum misterius. "Dan... Peraih Medali Emas Olimpiade Sains Indonesia Bidang Fisika berikutnya... atas nama... Arga Fernansyah, dari kelas XII-1!"
BOOOMM!
Tepuk tangan dan kegaduhan meluap seketika dari barisan angkatan kelas dua belas!
👏👏👏👏👏👏👏
"WOAALAAH! KAPTEN BASKET KITA!" "Keren banget lu, Ga!" "Senggol dong, anak basket tapi otak fisika!"
Bima langsung menggeplak bahu Arga heboh. "Tuh kan! Apa kata gue! Naik podium lagi bareng Ketos!"
Arga hanya tertawa renyah, merapikan sedikit tatanan rambutnya, lalu melangkah santai melintasi lapangan menuju barisan depan.
Saat Arga tiba di barisan podium depan, Nadira sudah berdiri anggun di sana. Keduanya saling memutar kepala, bertukar tatap selama dua detik, lalu sama-sama menyunggingkan senyum simpul yang manis. Tanpa perlu kata-kata.
Bagi mereka, momen dipanggil bersamaan di depan lapangan seperti ini bukanlah hal baru. Ini sudah menjadi tradisi manis sejak mereka masih berseragam putih-biru SMP.
Di mata sekolah, Nadira adalah sosok siswi dengan kecerdasan luar biasa di bidang sains—khususnya fisika dan kimia—sekaligus pemimpin OSIS yang serba bisa. Sedangkan Arga, di balik figurnya sebagai Kapten Tim Utama Basket sekolah yang populer, ia adalah pemikir ulung dengan otak Fisika yang tak kalah tajam.
Melihat keduanya berdiri berdampingan di garda terdepan lapangan, anak-anak kelas sepuluh mendadak heboh kasak-kusuk.
"Anjay... itu Kak Ketos sama Kapten Basket..." "Iya! Kok bisa sekelas ya mereka?" "Nggak cuma sekelas, denger-denger mereka itu duduk sebangku di XII IPA 1!" "Beneran?!" "Iya! Terus mereka itu sahabatan dari kecil, rumahnya aja samping-sampingan!" "Anjir...
keren banget vibes-nya, couple goals tapi versi sahabat!"
Pak Toni kemudian mengarahkan seluruh peraih prestasi untuk berdiri sejajar menghadap peserta upacara. Dari arah kiri ke kanan berdiri rapi:
Syafa Khairunnisa (X-3)
Syaira Khairunnisa (X-5)
Najla Putri Amifa (XI-8)
Akbar Farel Pratama (XII-7)
Alya Nadira Adhitama (XII-1)
Arga Fernansyah (XII-1)
Pak Toni menatap keenam murid terbaiknya itu dengan pandangan sarat kebanggaan.
"Anak-anakku sekalian... mari kita berikan tepuk tangan sekali lagi yang paling meriah untuk teman-teman dan kakak-kakak kalian yang telah mengharumkan nama sekolah!"
Seketika lapangan SMAN 1 Yogyakarta kembali diguncang oleh riuh tepuk tangan yang panjang dan membahana.
Dari tepi podium, Bu Sinta berbisik pelan pada Pak Toni di sebelahnya. "Anak-anak angkatan dua belas ini betul-betul luar biasa ya, Pak."
Pak Toni mengangguk mantap sambil tersenyum. "Iya, Bu. Lihat saja Nadira sama Arga itu. Akademiknya sangat kuat, organisasinya jalan, ekstrakurikulernya berprestasi. Semoga keterpaduan mereka berdua bisa jadi motivasi besar buat adik-adik kelasnya."
Di depan lapangan, Nadira dan Arga berdiri tegap diiringi gema tepuk tangan ratusan siswa.
Bagi mereka berdua, deretan medali dan tepuk tangan pagi ini bukan sekadar piala pajangan. Semua itu adalah saksi dari malam-malam panjang belajar bersama di teras rumah, diskusi rumus fisika hingga larut, serta pengorbanan waktu latihan yang kini terbayar tuntas secara manis. Together.