Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemulihan di Balik Dinding Baja
Tiga hari setelah pertempuran dahsyat di Gerbang Utara, atmosfer di Kota Logam Hitam tidak lagi dipenuhi oleh ketakutan, melainkan oleh kekaguman yang mendalam terhadap sosok pemuda asing yang memimpin mereka. Namun, di dalam ruang medis kedap suara di benteng pusat, sang pemimpin justru sedang berjuang melawan batas tubuh biologisnya.
Ethan terbaring di atas ranjang medis futuristik yang memancarkan pendaran lampu indikator hijau dan merah. Exo-Skeleton Frame telah dilepas, meninggalkan bekas luka bakar keunguan di bahu kirinya akibat hantaman racun Leluhur Sanca Suci.
[ Proses Detoksifikasi Bio-Molekuler: 92% Selesai. ]
[ Pemulihan Jaringan Saraf Pusat: Berjalan Lambat (Pengaruh Kelumpuhan Qi). ]
[ Sisa Poin Sistem: 4.750 Poin. ]
Di samping ranjang, Mu Rong duduk tanpa beranjak sejak malam pertama. Wajah cantiknya tampak sedikit lelah, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Di pangkuannya, sebuah mangkuk giok berisi ramuan herbal penghangat meridian masih mengepulkan asap tipis. Ia baru saja selesai menyalurkan Qi es murninya ke dalam tubuh Ethan untuk membantu menstabilkan detak jantung pria itu.
Ethan perlahan membuka matanya. Pandangannya yang sempat kabur kembali fokus, langsung menangkap sosok Mu Rong yang sedang menatapnya dengan binar kelegaan yang tak bisa disembunyikan.
"Kau sudah bangun?" Suara Mu Rong terdengar sangat lembut, kontras dengan ketegasannya saat memegang pedang di medan laga. Ia bergegas meletakkan mangkuk herbal dan mencondongkan tubuhnya ke arah Ethan. "Jangan banyak bergerak dulu. Racun Inti Emas itu hampir saja merusak sistem saraf kirimu jika telat ditangani."
Ethan mencoba menggerakkan jari-jari tangan kirinya, merasakan sensasi kesemutan yang perlahan menghilang. Ia menatap Mu Rong yang berada sangat dekat dengannya, hingga ia bisa menghirup aroma harum samar seperti bunga es yang selalu melekat pada gadis itu.
"Analisis sistem menunjukkan bahwa detoksifikasi akan selesai dalam empat jam," ucap Ethan pelan, suaranya masih agak serak. "Kau tidak perlu berjaga sepanjang malam, Nona Mu Rong. Efisiensi fisikmu akan turun drastis jika kurang beristirahat."
Mu Rong mendengus kecil, sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di bibirnya. Ada rasa hangat yang membuncah di dadanya setiap kali Ethan kembali ke mode bicaranya yang kaku dan penuh perhitungan matematika, sebuah kebiasaan asing yang kini justru terasa sangat merindukan baginya.
"Setelah apa yang kau lakukan di atas tembok kota, kau masih memikirkan angka dan efisiensiku?" Mu Rong menatap langsung ke dalam manik mata hitam Ethan, kali ini tanpa keraguan. "Ethan, kau mempertaruhkan nyawamu untukku. Bisakah kau sekali saja tidak mengaitkan segalanya dengan probabilitas sistem?"
Ethan terdiam sejenak. Di masa lalu sebagai pembunuh bayaran, emosi adalah variabel acak yang harus dieliminasi karena bisa merusak misi. Namun, melihat binar ketulusan dan kecemasan di mata Mu Rong, Ethan menyadari bahwa algoritma dalam otaknya telah gagal memprogram ulang perasaannya sendiri terhadap gadis di depannya ini.
"Baiklah," jawab Ethan, suaranya melembut, kehilangan nada mekanisnya yang biasa. "Aku maju karena aku memang ingin memastikannya sendiri. Aku tidak bisa membayangkan ruang simulasi ini tanpamu."
Pipi Mu Rong seketika merona merah mendengar pengakuan jujur yang tidak biasa dari Ethan. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah mangkuk herbal, mencoba menyembunyikan senyumannya yang semakin lebar. "Minum ini selagi hangat. Jangan membuatku cemas lagi."
Sementara benih-benih perasaan di antara keduanya semakin mendalam di dalam benteng, berita tentang jatuhnya Sekte Sanca Suci cabang Kota Logam Hitam serta tewasnya sang Leluhur telah menyebar seperti api yang ditiup angin kencang ke seluruh penjuru Langit Kedua.
Kematian seorang ahli Ranah Inti Emas Tahap Akhir di tangan seorang pemuda asing adalah tamparan keras bagi faksi-faksi besar yang mendominasi wilayah ini. Bagi para penguasa asli di dunia atas ini, Ethan dan Mu Rong hanyalah sepasang buronan misterius tanpa silsilah sekte besar, klan kuno, atau asal-usul yang jelas. Mereka dianggap sebagai pengacau tanpa akar yang tiba-tiba mengacaukan konstelasi kekuatan wilayah pinggiran.
Di sebuah benteng batu raksasa yang melayang di wilayah barat Langit Kedua, markas dari Sekte Pedang Pemutus Surga—faksi tingkat tinggi yang mengawasi wilayah hukum sekitar Kota Logam Hitam—seorang tetua agung bernama Master Xuan Ji sedang menatap cermin proyeksi spiritual.
"Leluhur Sanca Suci tewas oleh senjata rahasia yang tidak memancarkan fluktuasi Qi?" Master Xuan Ji menyipitkan matanya yang dingin. "Siapa sebenarnya sepasang anak muda asing ini? Mengapa mereka tiba-tiba muncul di Kota Logam Hitam dan mengacaukan pasokan tambang spiritual?"