NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Yang Tak Di Inginkan

Sepulang dari kampus yena mampir sebentar ke toko kuenya.

"Ela bagaimana penjualan kue harinini" tanya yena ke salah satu karyawan nya.

"Alhamdulillah, akhir-akhir ini toko kue rame banget kak" yena yang mendengar itu sangat senang.yena tengah duduk di kursi sambil menatap layar ponselnya tak terasa hari mulai gelap, tiba-tiba hendra menelpon dan menyuruh yena untuk segera pulang.

Setelah mendapat telpon dari papanya,yena  langsung beranjak pergi dari toko kue, dan pulang kerumah saat tiba di rumah hendra sudah menunggu di ruang tamu

Lalu Ia memaksa yena untuk mandi, berpakaian rapi, dan berdandan layaknya seseorang yang akan menghadiri pesta besar.

“Kita akan makan malam di Restoran Permata Senja. Arga sudah menunggu di sana,” ucap hendra datar.

“Aku tidak mau, pa. Aku sudah putus dengannya. Dia mengkhianatiku,” jawab yena pelan, berusaha menahan getar di suara.

Hendra menarik napas kasar, lalu menatap tajam ke arah yena

“Kamu pikir papa peduli dengan urusan perasaanmu yang kekanak-kanakan itu? Arga adalah calon menantu yang tepat. Dia punya jabatan, kekayaan, dan koneksi yang bisa mengangkat nama baik keluarga kita. Kamu pikir mencari orang sebaik dia itu mudah?”

“Aku tidak peduli harta atau jabatannya! Aku tidak mau bersama dengan orang yang tidak setia apalagi sampai harus menikah dengannya” suara yena akhirnya meninggi, air mata mulai menggenang.

“Dengar baik-baik, Yena!” bentak hendra , suaranya menggelegar.

“Kalau kamu masih keras kepala menolak keinginan papa, mulai detik ini papa akan hentikan segala fasilitas yang papa berikan! Tidak ada lagi uang kuliah, tidak ada lagi biaya operasional toko kue kamu, tidak ada lagi tempat tinggal yang nyaman ini! Kamu akan hidup miskin dan susah, baru kamu tahu betapa kerasnya dunia ini tanpa bantuan Papa!”

Kata-kata itu melukai lebih tajam dari pisau. Bagaimana mungkin seorang ayah mengancam anak kandungnya sendiri hanya demi ambisi dan harga diri? Ia tak peduli betapa sakitnya hati yena dikhianati, ia hanya peduli pada apa yang bisa ia dapatkan dari hubungan ini.

“pada......tolong jangan begini… tolong mengerti aku…” mohon yena lemah, air mata mulai jatuh membasahi pipi.

“Pilih saja,” potong hendra dingin. “Ikut kemauan Papa dan bertemu Arga untuk memperbaiki hubungan, atau berjuang sendirian tanpa sepeser pun bantuan dari papa. Keputusan ada di tanganmu.”

Tak ada pilihan yang benar-benar menjadi milik yena. Yena terjepit di antara rasa sakit yang mendalam dan ketakutan akan kehilangan segalanya yang dia cintai. Dengan langkah berat dan hati yang retak, yena akhirnya mengangguk pelan menyetujui untuk bertemu dengan arga.

Yena pun bersiap-siap, mandi berdandan dan memakainya dres pendek berwarna putih.

Setelah itu mereka berdua pun berangkat ke lestoran yang yang sudah arga janjikan.

Sesampainya di sana, Arga sudah duduk menunggu di meja paling sudut yang mewah. Ia tersenyum saat melihat yena datang, seolah tak pernah ada kesalahan yang diperbuatnya. Hendra langsung duduk di sebelahnya, bersikap ramah seolah tak ada apa-apa yang terjadi, sementara yena duduk terpaku di hadapan mereka—merasa seperti barang dagangan yang sedang diperjualbelikan.

“Nah, sekarang semuanya sudah lengkap,” ucap hendra sambil menuangkan minuman ke gelas. “Kalian bicara baik-baik. Lupakan masalah yang lalu. Mulai hari ini, hubungan kalian kembali seperti semula.”

Yena menunduk, menggenggam tangan erat di bawah meja, berusaha menahan isak tangis yang ingin meledak. Di hadapan orang yang mengkhianatinya, dan di bawah tekanan hendra sendiri, yena merasa benar-benar sendirian.

Aroma masakan mewah yang biasanya menggugah selera, kini terasa hambar dan menyesakkan di hidung yena. Di hadapannya,Arga duduk dengan tenang, sesekali menyelipkan senyum yang dulu selalu membuat yena merasa aman, namun kini hanya terasa palsu dan menjijikkan. Hendra duduk tegak di sebelahnya, menatap yena tajam seolah memberi peringatan diam-diam agar aku tidak membuat keributan.

“Silakan ambil makananmu, Yena,” ucap hendra dingin sambil mendorong piring berisi hidangan mahal ke arah yena.

“Jangan bersikap seperti anak kecil yang mengamuk hanya karena masalah sepele.”

Arga pun ikut berbicara, suaranya terdengar lembut namun terasa menyakitkan.

“Benar kata papamu, Yena. Semua ini hanya kesalahpahaman. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Fira… dia hanya salah paham, dan aku tidak bisa menjaga perasaannya sepenuhnya. Tapi satu hal yang harus kau tahu, hatiku tetap milikmu.”

Kalimat itu bagai duri yang tertancap kembali.

“Kau bilang kesalahpahaman?” suara Yena bergetar, dan mata yena menatapnya lekat tak percaya.

“Kau memeluknya, berbagi rahasia dengannya, dan merencanakan hal di belakangku… kau menyebut itu kesalahpahaman?”

“YENA!” tegur hendra keras, membuat yena terhenyak. “Kau datang ke sini untuk berdamai, bukan untuk saling menyalahkan! Dengarkan Arga, dia sudah meminta maaf. Dan kau harus menerimanya. Hubungan ini terlalu penting untuk dirusak hanya karena emosi sesaat.”

“papa tidak tahu apa yang kurasakan!” seru yena pelan namun penuh kepedihan.

“papa tidak tahu betapa hancurnya aku saat melihat orang yang kucintai dan sahabat yang kapercaya bersekongkol di belakangku!”

“Perasaan bisa diatur, Yena!” potong hendra tak mau kalah. “Tapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali! Arga sudah bersedia memaafkan sikapmu yang kekanak-kanakan, dan kau pun harus bersedia melupakan kesalahannya.

Arga meraih tangan yena yang tergeletak di atas meja. Kulitnya yang hangat dulu selalu yena rindukan, kini terasa membakar dan ingin disingkirkan secepatnya. Namun tatapan tajam hendra mengunci gerakan yena. Aku tak berdaya.

“Aku berjanji akan berusaha lebih baik lagi, Yena,” ucap Arga sambil menggenggam tangan yena erat.

“Kita akan melupakan semuanya dan memulai kembali. Percayalah padaku sekali lagi.”

Yena menatap arga, lalu beralih menatap hendra yang menunggu jawaban dengan wajah tak terbantahkan. Air mata menggenang namun tertahan sekuat tenaga. Di meja makan yang megah itu, yena merasa bukan lagi Yena yang punya hati dan perasaan, melainkan sekadar alat yang harus menuruti kehendak mereka berdua. Dengan hati yang hancur, yena hanya bisa mengangguk pelan, meski setiap inci jiwanya berteriak menolak.

Tiba-tiba ponsel hendra berdering ternyata yang menelpon adalah rekan kerjanya yang ingin membicarakan bisnis.

"Yena arga papa harus pergi karna ada pekerjaan penting, kalian lanjutkan saja makannya. Oh iya arga om minta tolong yananti kamu antar yena pulang. Ucap hendra

" baik om saya akan mengantar yena pulang. Jawab arga sambil tersenyum. Setelah itu hendra segera berjalan tergesa-gesa meninggalkan restoran. Kini hanya tersisa yena dan Arga, duduk berhadapan di meja luas yang tiba-tiba terasa begitu sunyi dan pengap.

Begitu sosok hendra menghilang di balik pintu keluar, senyum pura-pura Arga perlahan luntur. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai, seolah topeng yang ia pakai akhirnya boleh dilepas. Melihat itu, batas kesabaran yena yang selama ini dia tahan akhirnya pecah berkeping-keping.

“Kau hebat sekali, ya, Arga,” ucap yena dengan suara bergetar namun penuh penekanan tajam.

“Kau sangat pandai berakting. Di depan Papa kau tampak begitu tulus, begitu ingin memperbaiki hubungan. Padahal kau sudah melakukannya di belakangku bersama Fira!”

Arga mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan.”

“Apa maksudmu?” suara yena meninggi, matanya menatap arga tajam dengan air mata yang mulai menggenang namun bukan karena takut, melainkan karena marah. “Kenapa kau tidak saja mengaku saja kalau kau sudah memilih dia? Kenapa kau berpura-pura ingin kembali padaku? Apa kau ingin menjadikan aku bahan tertawaan kalian berdua? Apa kau ingin memastikan aku tetap diam dan tidak mengganggu hubungan haram kalian?”

Arga diam sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang kini terlihat dingin dan terbuka.

“Kau masih tidak mengerti, Yena? Hubungan kita bukan sekadar soal perasaan. Ini soal nama baik, soal kerja sama bisnis keluargaku dan papamu. Kalau kita putus sekarang, semua rencana itu hancur. Aku tetap membutuhkanmu di sisiku untuk menjaga citra dan posisiku. Sedangkan Fira… dia hanya pelarianku, seseorang yang bisa memberiku kesenangan sesaat tanpa menuntut banyak hal sepertimu.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada pukulan fisik. Jadi selama ini yena hanyalah alat? Sementara dia menikmati segalanya dengan orang yang kucintai dan kupercaya?

“Kau sungguh menjijikkan, Arga,” ucap yena pelan namun penuh rasa muak.

“Kau tidak hanya mengkhianati cintaku, kau juga merendahkan aku sebagai manusia. Kau pikir aku akan diam saja membiarkanmu memainkan perasaan dan hidupku sesuka hatimu?”

“Berhenti bersikap dramatis, Yena,” jawabnya santai sambil meraih gelas minumnya.

“Kau akan menuruti kemauan papamu dan kemauanku. Kau tidak punya pilihan lain.”

Mendengar itu, hati yena yang sempat hancur perlahan terisi oleh api kemarahan dan keteguhan yang baru.

“Kau salah besar. Aku mungkin terjepit sekarang, tapi aku bukan boneka yang bisa kau gerakkan sesukamu. Waktumu mempermainkanku sudah habis.”

Yena pun beranjak pergi meninggalkan arga, tapi setelah beberapa langkah, langkah yena terhenti ketika arga memegang tangannya.

"Kau mau kemana, akan aku antar kau pulang"

Yena langsung menarik tangannya,

"Gk sudi aku di antar pulang sama laki-laki kayak kamu"

"Ini perintah papamu yena"tanpa menjawab yena pun langsung pergi meninggalkan arga.

" hmmm perempuan ini sangat keras kepala sekali"

Yena melangkah keluar dari restoran itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Tak peduli Arga memanggil atau tidak, tak peduli apa yang akan terjadi nanti. Kaki yena melangkah sendirian membelah jalanan yang mulai sepi, angin malam bertiup kencang menerpa wajah yang sudah basah oleh air mata. Malam itu terasa begitu dingin, menusuk hingga ke tulang, seolah menambah rasa beku yang sudah lama menggerayangi hati.

Tak ada kendaraan yang lewat, dan yena tak punya niat untuk memanggil taksi. Yena hanya ingin berjalan, sejauh mungkin dari tempat yang penuh kepura-puraan dan kekejaman itu. Setiap langkah terasa berat, seolah memikul seluruh dunia di pundak. Rasanya begitu kecil, begitu tak berdaya di hadapan keegoisan orang-orang terdekat yena sendiri.

Tiba-tiba, dari arah seberang jalan, terlihat sosok remaja berjaket tebal yang mengendarai motor  Saat sosok remaja bermotor itu semakin dekat, mata yena melebar tak percaya. Itu Juvan.

Juvan tampak terkejut saat melihat yena sendirian di sana, apalagi melihat wajah yena yang sembab dan mata yang merah. Tanpa ragu sedikit pun, juvan segera berhenti tepat di depan yena.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!