"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dentingan nada dari keyboard Yamaha itu meliuk-liuk memenuhi ruang ekskul band. Jari-jari Devan menari dengan luar biasa lincah di atas tuts hitam putih, mengisi kekosongan melodi yang selama ini menjadi kelemahan NOISE.
Almeera yang duduk di balik drum set menatap Devan dengan takjub. Cowok itu tidak melebih-lebihkan ucapannya di kantin tadi siang. Devan benar-benar jago.
"Masuk ke reff, Al! Kasih ketukan upbeat!" seru Devan, menoleh ke arah Almeera dengan senyum miring yang percaya diri.
Almeera mengangguk. Ia menginjak pedal bas dan menghantam snare drum-nya. Mata mereka beradu di tengah hentakan musik. Ada koneksi tak kasatmata yang langsung terjalin—sebuah sinergi musikal yang hanya bisa dipahami oleh sesama musisi. Setiap kali Almeera memberikan improvisasi pada cymbal-nya, Devan langsung menyambutnya dengan chord progression yang menyayat namun pas.
Nino yang sedang bernyanyi sampai merinding. Darren dan Baim saling melempar senyum puas. Formasi mereka akhirnya sempurna.
Namun, di ambang pintu ruang band yang terbuka setengah, berdirilah sesosok bayangan yang sama sekali tidak menikmati keharmonisan nada tersebut.
Akram menyandarkan bahunya di kusen pintu. Lengan seragamnya digulung hingga siku, dan id card Ketua OSIS-nya berayun pelan tertiup angin dari kipas angin ruangan. Matanya yang segelap malam menatap tajam ke arah dua orang yang sedang saling melempar senyum di tengah permainan musik itu.
Dada Akram terasa seperti dihantam balok es, lalu disiram air mendidih.
Ia cemburu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Akram Pradana, ia juga merasa... insecure.
Akram selalu bisa mengontrol segalanya. Ia unggul di bidang akademik, memimpin ratusan siswa, dan pandai berdiplomasi. Tapi melihat Almeera berada di dunianya—dunia musik yang liar, bebas, dan penuh ekspresi—bersama cowok yang sangat memahaminya, Akram sadar ada satu ruang di hati istrinya yang tidak bisa ia masuki. Devan adalah representasi nyata dari semua hal yang Almeera sukai.
Lagu akhirnya selesai diakhiri dengan pukulan cymbal Almeera yang menggelegar.
"Gila! Gila! Lo resmi masuk NOISE, Dev!" Nino bersorak heboh, langsung memeluk cowok baru itu. "Ini mah kita siap bantai band sekolah lain pas festival bulan depan!"
Devan tertawa pelan, menepuk punggung Nino. Matanya kemudian beralih menatap Almeera. "Ketukan lo lebih gila dari yang gue duga, Al. Main sama lo bikin adrenalin naik."
Almeera tersenyum lebar, menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. "Lo juga keren, Dev. Akhirnya gue nggak perlu repot-repot nutupin melodi yang kosong."
"Waktu ekskul habis."
Suara bariton yang sedingin es kutub seketika memecah suasana hangat di ruang band.
Semua kepala menoleh. Akram berdiri tegak di ambang pintu, aura mendominasinya langsung mengambil alih ruangan. Ia melangkah masuk, tidak mempedulikan anak-anak NOISE yang mendadak kaku, dan berjalan lurus menghampiri set drum Almeera.
"Beresin barang lo. Kita pulang sekarang," perintah Akram tanpa basa-basi. Matanya menatap Almeera lurus-lurus, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Devan di ruangan itu.
Almeera menelan ludah. Ia bisa merasakan aura permusuhan yang sangat pekat menguar dari suaminya. "B-bentar, gue masukin stik drum dulu..."
Devan yang sedang mematikan keyboard-nya, menoleh menatap Akram. Alih-alih terintimidasi, cowok berambut mullet itu justru tersenyum santai.
"Santai aja kali, Ketos. Nggak usah buru-buru, pacar lo nggak bakal hilang," tegur Devan dengan nada ringan yang memancing emosi.
Akram memutar tubuhnya perlahan. Ia menatap Devan dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sangat mematikan. "Gue nggak nanya pendapat lo. Dan gue nggak punya kewajiban buat santai kalau itu menyangkut urusan pacar gue."
Devan menyandarkan pinggulnya ke stand keyboard, melipat tangan di dada. "Protektif banget. Takut tersaingi karena kita baru aja jamming dengan sangat serasi?"
Urat di leher Akram menonjol. Rahangnya berkedut hebat. Jika ini bukan di sekolah, ia pasti sudah menarik kerah seragam cowok sok asik di depannya ini.
"Kram! Udah, ayo balik!" Almeera buru-buru melompat turun dari panggung, menyambar tas ranselnya, dan menarik lengan Akram sebelum baku hantam benar-benar terjadi. "Duluan ya, Guys! Sampai ketemu besok!"
Akram membiarkan dirinya ditarik oleh Almeera keluar dari ruangan, namun sebelum melewati pintu, matanya sempat melirik tajam ke arah Devan, memberikan peringatan tak kasatmata yang dibalas Devan dengan senyum miring penuh arti.
Pukul 17.30 WIB. Apartemen 2507.
Perjalanan dari sekolah menuju apartemen dilewati dalam keheningan yang mencekik. Akram mengendarai motornya sedikit lebih kencang dari biasanya, membuat Almeera harus memeluk pinggang cowok itu erat-erat.
Begitu sampai di dalam apartemen, Akram langsung melempar kunci motornya ke atas meja pantry dengan bunyi klak yang keras. Ia membuka dua kancing teratas seragamnya dengan kasar, lalu berjalan menuju kulkas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Almeera yang baru saja meletakkan sepatunya di rak, menatap punggung Akram dengan perasaan campur aduk. Ia paling benci didiamkan seperti ini. Dulu, ia pasti akan ikut mendiamkan Akram dan mengunci diri di kamar. Tapi sekarang, entah kenapa rasa pedulinya jauh lebih besar daripada gengsinya.
Almeera melangkah mendekati dapur. "Lo kenapa sih dari tadi diem aja? Kesambet setan jalan tol?"
Akram menuangkan air dingin ke dalam gelas, meminumnya tandas, lalu meletakkan gelas itu sedikit terlalu keras ke atas meja. "Gue nggak kenapa-kenapa. Mandi sana. Habis itu kita bahas materi Fisika. UTS tinggal tiga hari lagi."
"Gue nggak bisa belajar kalau aura lo kayak mau bunuh orang begini, Kram!" Almeera bersedekap, menahan langkah Akram yang hendak menuju kamar. "Lo marah gara-gara Devan? Gara-gara kita audisi dia tadi?"
Akram menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap Almeera dengan sorot mata yang gelap dan rumit. "Gue udah bilang, gue nggak suka lo deket-deket sama cowok yang nggak tahu batasan."
"Dia cuma anak band, Akram! Dia cuma main keyboard! Koneksi gue sama dia tadi murni urusan musik, nggak lebih!" bantah Almeera, merasa harus mempertahankan profesionalitasnya.
"Murni urusan musik?" Akram mendengus sarkas. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga punggung Almeera menabrak tepi meja pantry. "Terus kenapa lo senyum selebar itu ke dia? Kenapa lo natap dia seolah dia itu hal paling luar biasa yang pernah lo lihat? Lo nyambung banget main sama dia tadi. Seneng lo nemu cowok yang sefrekuensi sama lo?"
Almeera membeku. Ia tidak pernah melihat Akram semarah dan sevulgar ini dalam menunjukkan perasaannya.
Akram menumpukan kedua tangannya di tepi meja, mengurung tubuh Almeera sepenuhnya. Aroma mint bercampur keringat maskulin langsung menyergap penciuman Almeera, membuat napasnya tertahan.
"Gue tahu Devan itu tipe lo banget, Al," bisik Akram, suaranya kini merendah, terdengar serak dan menyimpan getaran rasa insecure yang berhasil ia tutupi dengan sangat rapi selama ini. "Anak seni, bebas, musisi, selera musik kalian sama. Beda jauh sama gue. Ketos kaku yang cuma bisa ngasih lo soal rumus dan aturan."
Mata Almeera membelalak. Mulutnya sedikit terbuka. Sang Ketua OSIS sempurna, cowok paling dipuja di Bina Bangsa, sedang merasa tidak percaya diri di depannya?
"Kram..." cicit Almeera.
"Lo nyesel?" potong Akram, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Almeera, mencari kebenaran. "Lo nyesel nikah sama cowok kaku kayak gue, Al?"
Pertanyaan itu menghantam ulu hati Almeera. Dadanya mendadak terasa sesak. Ia menatap wajah Akram yang berjarak sangat dekat darinya. Rahang tegas yang selalu terlihat arogan itu kini tampak menegang.
Tanpa berpikir panjang, dan membuang seluruh sisa gengsi yang ia miliki, Almeera mengangkat kedua tangannya. Ia menangkup rahang Akram dengan telapak tangannya yang hangat.
Akram tersentak pelan. Matanya sedikit melebar merasakan sentuhan lembut itu.
"Gue emang suka anak band," ucap Almeera pelan, ibu jarinya mengusap pelan rahang Akram. Matanya mengunci pandangan cowok itu. "Devan emang jago main keyboard. Dan frekuensi musik kita emang sama."
Mata Akram meredup, rahangnya di bawah telapak tangan Almeera semakin mengeras.
"Tapi..." Almeera melanjutkan kalimatnya, suaranya bergetar menahan luapan emosi di dadanya, "...yang bikin gue ngerasa aman... yang selalu ngelindungin gue dari segala masalah, yang mau ngorbanin jabatannya demi nilai gue, dan yang bikin jantung gue mau meledak setiap hari... itu cuma lo, tiang listrik."
Udara di apartemen itu seakan tersedot habis.
Almeera menatap bibir Akram sekilas, lalu kembali menatap matanya. "Gue nggak pernah nyesel nikah sama lo, Kram. Sekalipun."
Pernyataan telanjang dari Almeera itu layaknya sihir yang langsung melumpuhkan seluruh sistem saraf Akram. Rasa cemburu, amarah, dan keraguannya menguap tak bersisa dalam hitungan milidetik. Digantikan oleh perasaan cinta posesif yang meledak-ledak di dadanya.
Napas Akram memburu. Ia melepaskan cengkeramannya dari tepi meja, lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Almeera, menarik tubuh gadis itu hingga merapat sepenuhnya ke dadanya.
"Al..." panggil Akram parau.
Akram menundukkan wajahnya perlahan. Matanya menatap bibir Almeera yang 살짝 terbuka. Jarak di antara mereka terkikis inci demi inci. Almeera memejamkan matanya rapat-rapat, meremas kerah seragam Akram dengan kedua tangannya. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia yakin Akram bisa mendengarnya.
Tinggal dua sentimeter lagi sebelum bibir mereka bertemu. Hembusan napas hangat Akram sudah menyapu permukaan bibir Almeera...
Tuuut... Tuuut...
Suara nada dering panggilan Video Call dari ponsel Almeera yang tergeletak di atas meja pantry, meledak memecah keheningan yang romantis itu layaknya alarm kebakaran.
Almeera terkesiap hebat. Ia langsung mendorong dada Akram dan membuka matanya dengan panik. Napasnya terengah-engah, wajahnya sudah semerah tomat.
Akram mengerang frustrasi, menjatuhkan kepalanya ke bahu Almeera sesaat sebelum mendongak menatap ponsel itu dengan tatapan ingin membunuh.
"Siapa yang berani nelepon jam segini?" geram Akram, suaranya masih sangat serak.
Almeera buru-buru membalikkan ponselnya. Layar itu menampilkan nama pemanggil dengan foto seorang pria paruh baya yang sedang tersenyum lebar.
Papa (Incoming Video Call)
"Papa?!" Almeera memekik panik. "Bukannya Papa masih di Surabaya ngurusin proyek?!"
"Angkat," perintah Akram, berusaha menormalkan kembali detak jantungnya sambil merapikan kerah bajunya. Ia bergeser sedikit agar tidak masuk ke frame kamera. "Pasti cuma mau nanya kabar lo doang."
Almeera menarik napas panjang, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu menekan tombol hijau. Ia memaksakan senyum paling manis.
"Halo, Papa! Tumben video call sore-sore, kirain masih sibuk proyek di Surabaya," sapa Almeera ceria.
Di layar, wajah Papa Hendra muncul. Namun, latar belakang di belakang pria itu bukanlah kamar hotel atau lokasi proyek. Melainkan sebuah dinding marmer dengan lampu gantung kristal yang sangat, sangat familier bagi Almeera dan Akram.
Itu lobi apartemen mereka.
"Halo, Sayang! Anak Papa yang paling cantik!" suara Papa Hendra menggelegar riang. "Kejutan! Papa pulang lebih cepet sehari dari Surabaya, terus langsung mampir ke apartemen kalian nih sebelum pulang ke rumah!"
Jantung Almeera dan Akram yang baru saja normal, kini kompak terjun bebas ke lambung.
Akram langsung mendekat, ikut mengintip ke layar ponsel dengan wajah pias.
"Iya nih, Papa bawain oleh-oleh bandeng presto kesukaan kalian," lanjut Papa Hendra, memutar kameranya menunjukkan tas jinjing besar. "Tapi ini Papa lupa password akses masuk ke lift VIP lantai dua puluh limanya. Berapa ya kodenya, Al? Atau Akram turun deh jemput Papa di lobi."
Dunia seakan berhenti berputar.
Almeera menoleh menatap Akram dengan horor tingkat dewa. Ia melirik kondisi apartemen mereka. Buku pelajaran berserakan, tas sekolah dilempar sembarangan, boneka beruang dari kencan kemarin tergeletak di atas TV, dan yang paling fatal... baju seragam kotor Akram masih tersampir di sandaran sofa bersama jaket Almeera yang saling tumpang tindih.
Apartemen ini terlalu... terlihat seperti sarang pengantin baru yang nyata, bukan sekadar tempat menginap sementara.
"P-Pa... Papa di lobi bawah?!" cicit Almeera, suaranya bergetar hebat.
"Iya, Sayang. Ayo cepet, sekuriti lobinya ngelihatin Papa terus nih disangka kurir paket!" tawa Papa Hendra mengudara tanpa dosa. "Akram mana? Suruh turun jemput mertuanya dong."
Akram dan Almeera saling berpandangan. Kepanikan yang tadi sempat hilang, kini kembali dengan skala bencana tsunami yang jauh lebih mengerikan.
Belajar Fisika jelas harus ditunda, karena malam ini, ujian kelulusan yang sebenarnya adalah ujian menyembunyikan 'Tembok Berlin' dan bukti-bukti rumah tangga mereka dari mata elang sang mertua!
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔