NovelToon NovelToon
Gadis Culun Milik Tuan Marco

Gadis Culun Milik Tuan Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤

"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"

"MarcoI—itu apa?"

"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."

"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"

"Ssstttt, Cobalah... "

"Ini sakit!"

"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"

"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"

Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.

Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Malam itu, pesta berlangsung dengan sempurna. Para tamu yang hadir merupakan kerabat dekat keluarga Collins serta beberapa rekan bisnis tepercaya.

Mauren tampak sibuk berbincang dengan setiap tamu yang datang, sementara Marco sama ramainya. Pria itu dengan santai menebar pesona kepada para wanita yang merupakan rekan bisnis sang kakak. Senyum manis dan rayuan halusnya sukses membuat beberapa di antara mereka tertawa kecil.

Liora yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa mencebik kesal.

"Paman benar-benar tidak tahu malu," gumamnya pelan. "Masa teman-teman bisnis Mama juga digoda."

Di balik jendela-jendela mansion yang menghadap kanal-kanal Amsterdam, cahaya lampu kota berkilauan memantul di permukaan air, menambah kemewahan suasana pesta malam itu.

"Apa yang kau gumamkan sayang?" tanya Mauren yang baru saja menghampiri putrinya sambil membawa segelas jus.

Liora langsung menggeleng cepat. "Tidak ada, Bu."

Tatapan Mauren mengikuti arah pandang Liora. Dari kejauhan, Marco terlihat masih asyik berbincang dengan dua wanita bergaun elegan. Sesekali pria itu melontarkan candaan yang membuat lawan bicaranya tertawa lepas.

Mauren hanya menghela napas panjang. "Marco memang tidak pernah berubah," gumamnya sambil menggeleng kecil.

"Kalau begitu kenapa Ibu membiarkan Paman mengikuti?" bisik Liora.

"Karena dia tetap adik Mama. Lagi pula, dia tidak membuat keributan."

Liora mengembuskan napas pelan. "Belum, saja itu Bu."

Ucapan itu membuat Mauren terkekeh pelan.

Di sisi lain mansion, Marco yang sedang menikmati perhatian para wanita tiba-tiba menangkap tatapan Liora. Dengan santai ia mengangkat gelas sampanyenya sebagai salam, lalu mengedipkan sebelah mata.

Liora spontan memutar bola matanya dengan malas. "Paman itu benar-benar menyebalkan."

Belum sempat ia mengalihkan pandangan, suara seorang pelayan terdengar dari pintu utama.

"Nyonya Mauren, Tuan Elijah Rovesolf datang."

Suasana mansion yang semula dipenuhi alunan musik klasik mendadak terasa sedikit lebih hening.

Beberapa tamu menoleh ke arah pintu utama ketika seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan tenang. Jas hitam yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi berkelas. Rambutnya yang mulai dihiasi sedikit uban justru menambah wibawa pada wajahnya yang tampan.

Tatapan pria itu langsung mencari satu sosok di antara keramaian. Mauren. Senyum tipis terukir di bibirnya saat pandangan mereka bertemu.

"Elijah," ucap Mauren pelan.

Tanpa menunggu lama, wanita itu berjalan menghampiri tamu istimewanya.

"Terima kasih sudah datang."

Elijah menganggukkan kepala sambil menyerahkan sebuah kotak hadiah berbalut pita biru tua.

"Selamat atas kembalinya putrimu. Maaf aku sedikit terlambat. Ada rapat yang tidak bisa kutinggalkan."

"Tidak apa-apa. Yang penting kau datang."

Percakapan singkat itu membuat beberapa tamu saling melempar pandang. Mereka tahu hubungan Mauren dan Elijah sudah terjalin sangat lama. Keduanya sering terlihat bersama dalam berbagai acara bisnis maupun kegiatan amal.

Dari sudut ruangan, Marco menyipitkan mata.

"Ah... akhirnya muncul juga pria itu," gumamnya sambil menyeruput sampanyenya.

Liora yang berdiri tidak jauh dari sana ikut memperhatikan. "Itu Paman Elijah?"

Marco mengangguk. "Iya. Teman lama ibumu."

"Hanya teman?"

Marco tersenyum miring.

"Kalau dari pihak Elijah... kurasa lebih dari sekadar teman."

Liora mengernyit. "Maksud Paman?"

Marco mendekat sedikit lalu berbisik pelan, seolah sedang membocorkan rahasia besar.

"Pria itu sudah menyukai ibumu sejak Ayahmu menceraikan ibumu."

Mata Liora membulat. "Hah? Serius?"

"Sangat serius."

Marco kembali menatap ke arah Elijah yang kini sedang berbincang hangat dengan Mauren.

"Dulu banyak pria mengejar kakakku itu. Tapi Elijah yang paling setia. Sayangnya, saat itu kakakku sudah jatuh hati pada ayahmu."

Senyum di wajah Marco perlahan memudar.

"Elijah memilih mundur. Setelah itu dia tidak pernah menikah."

Ucapan tersebut membuat Liora terdiam.

Pandangannya kembali beralih kepada Elijah. Cara pria itu menatap Mauren begitu lembut, penuh penghormatan, tanpa sedikit pun memaksa.

Di sisi lain, Elijah tersenyum ketika Mauren memperkenalkannya kepada beberapa tamu.

"Aku senang melihatmu bahagia, Mauren," katanya tulus. Mauren membalas dengan senyum hangat.

"Terima kasih, Elijah. Kehadiranmu berarti banyak bagiku."

Tepat saat keduanya sedang berbincang, Marco tiba-tiba muncul di tengah mereka dengan senyum jahil yang sudah sangat dikenali.

"Hei, Elijah. Kau masih menatap kakakku dengan tatapan yang sama seperti delapan belas tahun lalu."

Suasana di sekitar mereka mendadak sunyi.

Elijah hanya tersenyum tipis, sementara Mauren menatap adiknya dengan wajah pasrah.

"Marco..."

"Apa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Marco menyeringai lebar, lalu menepuk bahu Elijah. "Kalau saja dulu kau lebih cepat menyatakan perasaanmu, mungkin sekarang aku memanggilmu kakak ipar, bukan tamu kehormatan."

Ucapan itu membuat beberapa tamu tertawa kecil. Sementara Elijah hanya menghela napas pelan sebelum menatap Mauren dengan senyum penuh makna.

"Aku tidak pernah menyesali masa lalu," katanya tenang. "Karena melihat Mauren tersenyum seperti sekarang saja... sudah cukup membuatku bahagia."

Kalimat itu membuat Liora membeku sejenak.

Ia melihat seseorang mencintai ibunya dengan begitu tulus, tanpa menuntut balasan apa pun.

Liora memandangi Elijah beberapa saat tanpa berkedip. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan raut kecewa ataupun penyesalan. Sebaliknya, tatapannya kepada Mauren dipenuhi rasa hormat yang begitu dalam.

Di dalam hati Liora muncul rasa kagum.

"Pantas saja Ibu begitu menghargainya," batinnya.

Sementara itu, Marco yang menyadari suasana mulai menjadi canggung langsung berdeham pelan.

"Baiklah, baiklah. Anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa." Ia mengangkat kedua tangannya. "Aku hanya ingin mencairkan suasana."

Elijah terkekeh pelan. "Kau memang tidak pernah berubah, Marco."

"Tentu saja. Dunia ini sudah terlalu serius. Harus ada seseorang yang membuat semuanya lebih hidup."

Mauren hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. "Terkadang aku ingin tahu bagaimana caranya kau bisa bertahan hidup dengan sifatmu itu."

"Mudah. Dengan wajah tampan ini."

"Dasar narsis," sahut Mauren, membuat Elijah ikut tertawa kecil.

Tak lama kemudian, musik berganti menjadi alunan yang lebih lembut. Beberapa pasangan mulai memenuhi lantai dansa.

Seorang tamu menghampiri Mauren. "Nyonya Collins, apakah Anda bersedia berdansa?"

Mauren tersenyum sopan. "Maaf, mungkin nanti."

Pria itu mengangguk mengerti sebelum berpamitan.

Elijah yang berdiri di samping Mauren sempat terdiam beberapa detik. Seolah sedang mengumpulkan keberanian yang selama bertahun-tahun selalu ia pendam.

Dengan suara tenang, ia berkata, "Mauren... kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku meminta satu lagu malam ini?"

Mauren menatap sahabat lamanya itu. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada gairah yang berlebihan ataupun maksud tersembunyi. Hanya seorang pria yang meminta kesempatan untuk menikmati satu tarian bersama wanita yang selama ini ia hormati.

Mauren tersenyum lembut. "Tentu."

Elijah mengulurkan tangan. Mauren meletakkan jemarinya di atas telapak tangan pria itu.

Keduanya berjalan menuju lantai dansa dengan langkah perlahan.

Para tamu yang mengenal mereka mulai bertepuk tangan pelan. Beberapa bahkan tersenyum haru melihat dua sahabat yang telah saling mengenal selama puluhan tahun itu berdansa bersama.

Di sudut ruangan, Liora memperhatikan dengan senyum kecil.

"Mereka terlihat serasi, ya?" gumamnya.

Marco yang berdiri di sampingnya ikut memandang ke arah pasangan itu. "Sangat serasi."

Liora menoleh.

"Paman..."

"Apa?"

"Kalau Paman Elijah benar-benar mencintai Ibu, kenapa sampai sekarang beliau belum pernah mengungkapkannya?"

Marco menghela napas panjang. "Bukan karena tidak berani."

"Lalu?"

"Karena Elijah terlalu menghormati ayahmu. Dan Ibumu sangat menghargaimu Liora."

Liora terdiam. "Sejak ayahmu meninggal, Elijah selalu berada di sisi keluarga Collins. Dia membantu perusahaan, menemani kakakku saat menghadapi masa-masa sulit, bahkan menjagamu dari jauh saat kau masih kecil."

Marco tersenyum tipis. "Tapi dia tidak pernah melewati batas. Baginya, kebahagiaan Kak Mauren lebih penting daripada keinginannya sendiri."

Liora kembali menatap ibunya yang sedang berdansa. Di wajah Mauren, senyum yang begitu tulus dan tenang.

1
Lilyyy
HALLO GUYS, JANGAN LUPA BERIKAN ULASAN YA JIKA BERKENAN TRIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!