NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Jennaira Hanania Mecca tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.






Update setiap hari ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Diam yang Menyakitkan

Acara bakti sosial selesai menjelang sore.

Aula panti yang sejak pagi penuh tawa anak-anak kini mulai lebih tenang. Meja-meja panjang sudah dibereskan. Sisa pita, kertas warna-warni, cat kain, dan potongan tangkai bunga dikumpulkan dalam beberapa kantong. Anak-anak memegang hasil karya mereka masing-masing dengan wajah bangga: tote bag bergambar matahari, bunga, rumah kecil, nama mereka sendiri, hingga buket-buket mungil yang dibungkus tidak terlalu rapi tetapi penuh semangat.

Jenna berdiri di tengah aula, menatap semua itu dengan mata yang lembut.

Rasa lelah memenuhi tubuhnya, tetapi hatinya terasa hangat.

“Kak Jenna!” panggil Mila sambil berlari kecil menghampirinya.

Jenna menunduk, menyambut pelukan anak itu.

“Iya, Sayang?”

“Kak Jenna besok datang lagi?”

Jenna tertawa pelan. “Besok belum bisa. Tapi nanti Kak Jenna datang lagi, insyaallah.”

“Janji?”

“Insyaallah, Kak Jenna usahakan.”

Beberapa anak lain ikut mengerubunginya. Ada yang memeluknya, ada yang menunjukkan tote bag mereka untuk terakhir kali, ada yang meminta Jenna menilai buketnya lagi. Jenna melayani semuanya dengan sabar, meski tubuhnya sebenarnya sudah sangat lelah.

Shaka berdiri beberapa langkah dari sana, memperhatikan dalam diam.

Sejak tadi, ia melihat bagaimana anak-anak itu begitu menyayangi Jenna. Cara mereka memanggil namanya, cara mereka menggandeng tangannya, cara mereka berebut ingin diperhatikan olehnya.

Jenna tampak seperti rumah kecil bagi anak-anak itu.

Hangat.

Lembut.

Selalu punya tempat untuk siapa pun.

Namun di sisi lain, suara anak tadi masih terus berputar dalam kepala Shaka.

Kirain calon suami Kakak adalah Kak Sagara.

Kalimat polos itu seharusnya tidak perlu ia pikirkan terlalu jauh.

Anak kecil bisa saja salah paham.

Anak kecil bisa saja mengira dua orang yang sering hadir bersama dalam kegiatan sosial punya hubungan khusus.

Namun tetap saja, Shaka tidak bisa mengabaikan rasa panas di dadanya.

Sagara memang menyukai Jenna.

Shaka yakin.

Tatapan laki-laki itu terlalu jelas. Sikapnya terlalu hati-hati. Dan kesedihan samar di wajah Sagara saat melihat Shaka ikut bersama Jenna pagi tadi bukan sesuatu yang bisa disembunyikan dengan basa-basi sopan.

Shaka mengepalkan tangan pelan.

Ia tidak suka.

Tidak suka membayangkan Jenna pernah begitu dekat dengan laki-laki itu dalam kegiatan-kegiatan seperti ini. Tidak suka membayangkan anak-anak panti bahkan mengira Sagara adalah calon suami Jenna. Tidak suka mengetahui bahwa ada dunia Jenna yang lebih dulu dikenal Sagara daripada dirinya.

Padahal ia tahu, ia tidak punya alasan untuk menyalahkan Jenna.

Jenna tidak melakukan apa pun yang salah.

Jenna bahkan mengenalkannya sebagai suami dengan sangat jelas.

Namun cemburu tetap saja menekan dadanya dengan cara yang menyebalkan.

Setelah semua perlengkapan masuk kembali ke mobil, Jenna berpamitan kepada pengurus panti dan para relawan. Sagara berdiri di dekat pintu aula, tersenyum sopan meski matanya menyimpan lelah yang tidak hanya berasal dari acara hari itu.

“Terima kasih banyak, Jen,” ucap Sagara. “Kegiatan hari ini berjalan lancar karena bantuanmu.”

Jenna mengangguk lembut. “Sama-sama, Kak. Anak-anak juga senang sekali.”

Sagara menatap Jenna sejenak, lalu melirik Shaka yang berdiri tidak jauh di belakangnya.

“Terima kasih juga, Tuan Shaka, sudah ikut membantu.”

Shaka menatapnya datar.

“Sama-sama, Tuan Sagara.”

Lagi-lagi sapaan itu terdengar terlalu sopan, terlalu kaku, dan terlalu penuh jarak.

Jenna bisa merasakannya.

Namun ia memilih tidak membahas apa pun di depan orang lain.

Setelah benar-benar berpamitan, Jenna dan Shaka masuk ke mobil. Hari sudah sore ketika mereka meninggalkan panti asuhan.

Di awal perjalanan, Jenna masih merasa cukup bahagia. Ia menatap keluar jendela, mengingat wajah anak-anak yang begitu antusias menghias tote bag dan merangkai bunga. Sesekali, senyum kecil muncul di matanya.

Namun beberapa menit kemudian, ia menyadari sesuatu.

Shaka diam.

Bukan diam yang biasa.

Bukan diam tenang seperti saat ia menyetir pulang dari pasar malam semalam.

Diam kali ini terasa dingin.

Wajahnya kaku, rahangnya tegas, matanya lurus menatap jalan. Tidak ada komentar tentang acara tadi. Tidak ada pertanyaan tentang anak-anak. Tidak ada satu pun kalimat sejak mereka keluar dari halaman panti.

Jenna menoleh pelan.

“Mas Shaka.”

“Hm.”

Jawabannya singkat.

Jenna mengamati wajahnya.

“Mas kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Jenna terdiam sebentar.

Jawaban itu terlalu pendek.

Terlalu dingin.

“Mas terlihat tidak baik-baik saja.”

“Saya hanya lelah.”

Jenna menatapnya lebih lama.

Lelah.

Mungkin benar. Acara hari itu memang cukup panjang. Shaka yang tidak terbiasa dengan kegiatan seperti itu pasti merasa capek. Namun Jenna merasa ada sesuatu yang lain di balik ekspresi dingin suaminya.

“Kegiatan hari ini terlalu melelahkan untuk Mas?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa Mas diam seperti itu?”

Shaka mengencangkan genggamannya pada kemudi.

Di dalam dadanya, rasa cemburu itu masih bergemuruh.

Ia ingin bertanya tentang Sagara. Ingin bertanya seberapa dekat Jenna dengan laki-laki itu. Ingin tahu sudah berapa lama anak-anak panti melihat mereka bersama sampai bisa berpikir bahwa Sagara adalah calon suami Jenna.

Namun ia juga tahu, jika ia bertanya dengan nada seperti ini, Jenna bisa kembali merasa tidak nyaman.

Ia tidak ingin membuat Jenna terluka lagi.

Tetapi ia juga belum tahu bagaimana mengendalikan perasaannya.

Akhirnya Shaka hanya menjawab singkat, “Tidak ada.”

Jenna menarik napas pelan.

“Baik.”

Satu kata itu membuat suasana di mobil semakin dingin.

Shaka melirik Jenna sekilas. Perempuan itu kembali menatap keluar jendela, tidak memaksa bertanya lagi. Dulu mungkin Jenna akan mencoba mencairkan suasana. Mungkin ia akan bercerita tentang anak-anak, tentang kelucuan mereka, tentang tote bag yang gambarnya tidak berbentuk, atau tentang buket bunga yang terlalu penuh.

Namun sekarang Jenna diam.

Dan Shaka tahu, diam itu bukan karena tidak ada cerita.

Jenna hanya sedang menahan diri.

Sampai di rumah, Shaka tetap tidak banyak bicara. Ia membantu menurunkan beberapa barang dari mobil, lalu masuk ke rumah dengan wajah yang masih dingin. Jenna mengikuti dari belakang, mulai merasa ada jarak yang kembali melebar di antara mereka.

Makan malam malam itu berlangsung canggung.

Mbak Rini menyiapkan menu sederhana: nasi hangat, ayam kecap, sayur bening, dan tahu goreng. Jenna duduk di hadapan Shaka seperti biasa. Beberapa kali ia ingin memulai percakapan, tetapi ekspresi Shaka membuat semua kalimatnya berhenti sebelum keluar.

Shaka makan dengan tenang.

Terlalu tenang.

Jenna menatap piringnya sendiri.

Ia sebenarnya bukan perempuan yang pendiam.

Di rumah keluarganya, Jenna bisa cerewet kepada Abizar, bisa bercerita panjang kepada Zahra, bisa tertawa lepas bersama Syana, bahkan bisa bercanda dengan karyawan-karyawannya di kafe. Ia suka bercerita. Ia suka menanyakan banyak hal. Ia suka berbagi cerita kecil tentang hari yang ia lalui.

Tetapi sejak menikah dengan Shaka, sebagian dirinya seperti tertahan.

Karena setiap kali ia ingin bicara, ia takut dianggap melewati batas.

Dan malam ini, ketika Shaka kembali diam tanpa penjelasan, rasa kesal mulai tumbuh di dadanya.

Setelah makan malam selesai, Jenna berdiri untuk membantu membereskan meja.

“Biar saya saja, Bu,” ucap Mbak Rini.

“Tidak apa-apa, Mbak. Jenna bantu sedikit.”

Shaka tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri, mengambil ponselnya, lalu berjalan menuju tangga.

Jenna menoleh.

Biasanya, kalau Shaka akan ke ruang kerja, ia akan berkata singkat. Setidaknya, “Saya kerja dulu.” atau “Saya cek email sebentar.”

Namun malam ini, Shaka langsung pergi.

Tanpa memberi tahu.

Tanpa menoleh.

Jenna memegang piring di tangannya, terdiam.

Mbak Rini yang berada di sampingnya ikut melihat ke arah tangga, lalu menatap Jenna dengan hati-hati.

“Pak Shaka mau ke ruang kerja, Bu.”

Jenna menoleh kepada Mbak Rini.

“Mbak tahu?”

“Mungkin, Bu. Biasanya kalau sudah bawa ponsel dan map kecil, Pak Shaka ke ruang kerja.”

Jenna menghela napas pelan.

“Begitu.”

Ia meletakkan piring ke wastafel dengan gerakan lebih pelan dari biasanya.

Mbak Rini menyadari perubahan itu.

“Bu Jenna mau istirahat saja? Biar saya yang bereskan.”

Jenna menggeleng.

“Tidak apa-apa, Mbak.”

Namun setelah beberapa menit, Jenna akhirnya berhenti. Ia menatap mesin kopi di sudut dapur.

Meski sedang kesal, ia tetap teringat kebiasaan Shaka.

Kopi hitam tanpa gula.

Ia tidak tahu kenapa Shaka tiba-tiba bersikap sedingin itu. Ia tidak tahu apakah ia melakukan kesalahan. Namun ia juga tidak ingin membalas diam dengan diam yang sama tanpa mencoba memahami.

Akhirnya Jenna membuatkan kopi untuk suaminya.

Dengan bantuan kecil dari Mbak Rini, secangkir kopi hitam hangat tersaji di atas nampan. Jenna membawanya menuju ruang kerja Shaka di lantai dua.

Di depan pintu, ia berhenti sebentar.

Lalu mengetuk pelan.

“Masuk.”

Suara Shaka terdengar datar.

Jenna membuka pintu.

Shaka duduk di depan laptop. Layar menyala, beberapa email terbuka. Wajahnya masih sama: dingin, serius, dan jauh.

Jenna berjalan masuk dan meletakkan kopi di meja.

“Kopi, Mas.”

Shaka menatap cangkir itu sebentar.

“Terima kasih.”

Hanya itu.

Jenna berdiri diam.

Biasanya, setelah mengantar kopi, ia akan langsung keluar. Namun malam ini, mulutnya terasa gatal. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin keluar. Ia sudah mencoba diam, tetapi semakin ia diam, semakin rasa kesalnya menumpuk.

Akhirnya ia bertanya pelan, “Mas Shaka.”

Shaka menatap layar laptop.

“Hm?”

“Jenna ada salah?”

Gerakan tangan Shaka di trackpad berhenti.

Ia mengangkat wajah.

“Apa?”

Jenna menatapnya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski hatinya sudah tidak nyaman.

“Dari perjalanan pulang sampai sekarang, Mas diam saja. Ekspresi Mas juga dingin. Jenna ingin tahu apakah Jenna ada salah.”

Shaka menatapnya.

Ada rasa bersalah yang langsung muncul, tetapi ia menutupinya terlalu cepat.

“Tidak ada.”

Jenna menunggu.

Tidak ada penjelasan lain.

“Tidak ada?” ulang Jenna.

“Iya.”

“Kalau tidak ada, kenapa Mas mendiamkan Jenna?”

“Saya tidak mendiamkanmu.”

Jenna hampir tertawa karena kesal, tetapi ia tahan.

“Mas bahkan pergi ke ruang kerja tanpa bilang apa-apa.”

“Saya hanya cek email.”

“Biasanya Mas memberi tahu.”

Shaka terdiam.

Jenna menatapnya lebih tajam dari biasanya.

“Kalau Jenna melakukan kesalahan, Mas bisa bilang. Jenna bukan orang yang tidak bisa diajak bicara.”

Shaka menatapnya lama.

Ia tahu Jenna benar.

Masalahnya bukan Jenna.

Masalahnya adalah dirinya sendiri. Cemburu yang tidak bisa ia ucapkan. Ketakutan yang tidak ingin ia akui. Perasaan memiliki yang tiba-tiba muncul begitu kuat ketika melihat Sagara berada terlalu dekat dengan dunia Jenna.

Namun alih-alih jujur, Shaka justru kembali berlindung di balik jawaban singkat.

“Kamu tidak salah.”

Jenna diam.

Matanya yang tadi masih berusaha lembut kini mulai kehilangan sabar.

“Lalu apa masalahnya?”

“Tidak ada masalah.”

Itu jawaban terakhir yang membuat Jenna benar-benar kesal.

Ia menatap Shaka beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Baik.”

Satu kata itu terdengar terlalu tenang.

Justru karena itu, Shaka tahu Jenna marah.

Jenna berbalik tanpa mengatakan apa-apa lagi.

“Jenna,” panggil Shaka.

Langkah Jenna berhenti di dekat pintu.

Namun ia tidak menoleh.

Shaka membuka mulut, tetapi tidak tahu harus berkata apa.

Akhirnya tidak ada kalimat yang keluar.

Jenna menunggu beberapa detik.

Ketika Shaka tetap diam, ia membuka pintu dan keluar dari ruang kerja.

Pintu tertutup pelan.

Namun bagi Shaka, suara itu terasa jauh lebih keras daripada bantingan.

Ia menatap kopi di meja.

Kopi yang tetap Jenna buatkan meski ia mendiamkannya.

Kopi yang kini terasa seperti teguran diam-diam.

Shaka mengusap wajahnya kasar.

Ia tahu ia salah.

Namun rasa cemburu itu masih terlalu panas untuk ia susun menjadi kalimat yang masuk akal.

Satu jam kemudian, Shaka kembali ke kamar.

Lampu kamar masih menyala redup. Jenna sudah berada di ranjang, duduk di sisi kanan sambil membaca buku kecil. Wajahnya tidak tertutup cadar, tetapi ekspresinya datar. Terlalu datar.

Shaka masuk dan menutup pintu pelan.

Jenna tidak menoleh.

Ia tahu Shaka masuk, tetapi memilih tetap menatap bukunya.

Shaka meletakkan ponsel di meja kecil, lalu berdiri beberapa saat di dekat pintu. Ia ingin bicara. Ia tahu seharusnya bicara. Namun setiap kali ia melihat Jenna, kalimat tentang Sagara tersangkut di tenggorokan.

Akhirnya ia hanya berjalan ke sisi kiri ranjang.

Jenna menutup bukunya.

Shaka meliriknya.

Namun Jenna tidak mengatakan apa pun.

Ia meletakkan buku di meja samping, menarik selimut, lalu berbaring membelakangi Shaka.

Gerakannya tenang.

Terlalu tenang.

Shaka duduk di sisi ranjang.

“Jenna.”

Jenna memejamkan mata.

“Istirahat saja, Mas. Besok Senin Mas kerja.”

Nada Jenna sopan.

Tetapi dingin.

Shaka terdiam.

Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak bermaksud mendiamkannya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia hanya sedang kacau karena Sagara. Ia ingin meminta maaf karena membawa kembali jarak yang sudah mereka coba pendekkan.

Namun lagi-lagi, egonya mengalahkan keberaniannya.

Maka kamar itu kembali sunyi.

Jenna menahan kesal di balik selimut.

Ia sangat lelah hari itu. Lelah mengurus acara. Lelah menghadapi anak-anak. Lelah menjaga perasaan semua orang. Dan sekarang ia juga harus menghadapi suaminya yang tiba-tiba berubah dingin tanpa alasan jelas.

Padahal Jenna sebenarnya ingin bercerita banyak.

Tentang Mila yang membuat tote bag untuk pengurus panti.

Tentang Rafi kecil yang menyebut Shaka seperti menara.

Tentang anak-anak yang begitu senang saat Shaka membantu mengikat pita.

Tentang betapa bahagianya ia melihat Shaka mencoba masuk ke dunianya.

Namun semua cerita itu tertahan.

Karena Shaka memilih diam.

Dan malam itu, Jenna juga memilih diam.

Ia menarik selimut lebih tinggi, memunggungi Shaka sepenuhnya.

Shaka berbaring di sisi kiri ranjang, menatap punggung Jenna yang kini terasa jauh.

Baru tadi malam mereka mulai dekat.

Baru tadi malam mereka tidur dengan canggung tetapi hangat.

Baru hari ini ia merasa menjadi bagian dari dunia Jenna.

Namun karena cemburu yang tidak mampu ia ucapkan dengan benar, Shaka kembali merusak suasana.

Di tengah keheningan kamar, Shaka menatap langit-langit.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa diam tidak selalu melindungi.

Kadang diam justru melukai lebih dalam daripada kata-kata.

Dan malam itu, di ranjang yang sama, jarak antara Shaka dan Jenna kembali terasa panjang.

Bukan karena mereka tidak saling peduli.

Tetapi karena salah satu dari mereka terlalu takut mengaku cemburu, dan yang lain terlalu lelah untuk terus menebak-nebak.

1
partini
dihhh bikin esmosi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!