Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Tiri Dengan Masa Lalu Kelam
Begitu taksi online Arumi melesat keluar dari area perumahan, dan gerbang besi tinggi itu tertutup rapat, atmosfer di dalam rumah mewah milik Pramudya Shinta mendadak berubah menjadi sangat sunyi sekaligus mencekam.
Vina menarik napas panjang, lalu dengan langkah kaki yang terburu-buru, ia menuruni koridor lantai atas untuk menemui Bu Pramudya Shinta di dalam ruang kerja pribadinya. Di sana, sang nyonya besar sedang duduk di atas kursi jati dalam posisi menghadap ke arah jendela besar. Mematung menatap dingin ke luar. Jemarinya yang terawat rapi nampak menggenggam pinggiran kursi kayu dengan cengkeraman yang kaku.
"Bu Shinta..." Vina membungkuk menghormat dan berbisik dengan nada suara yang sungkan, memecah keheningan ruangan. "Bagaimana... bagaimana pendapat Ibu mengenai Bu Arumi? Apakah... Ibu tetap berniat melanjutkan pembatalan kontrak investasi Pak Rangga pagi ini?"
"Kita... harus sangat waspada dengan istri baru Rangga itu, Vina," suara berat Bu Shinta akhirnya mengalun dingin, memutus kesunyian. Ia perlahan membalikkan tubuh tegaknya, menatap asisten pribadinya dengan raut wajah yang sangat serius. "Arumi... perempuan dengan lidah semanis itu, kepribadian yang se-tenang dan se-tajam itu, di masa depan pasti akan sanggup membuat anak haram itu menjelma menjadi 'orang yang jauh lebih besar' melebihi seluruh pencapaian prestasinya selama ini."
Bu Shinta mengembuskan napas panjang, seulas senyuman sinis namun sarat akan rasa takjub tipis terukir di wajah aristokratnya. "Saya tahu persis bagaimana hukum alam di dunia ini bekerja, Vina. Di balik sosok suami yang hebat dan tak terkalahkan, selalu ada peran dari seorang istri yang cerdas di belakangnya. Kamu bisa lihat bedanya saat saya yang dibelakang Agung, dibandingkan saat si gundik yang dibelakangnya. Pertanyaannya sekarang... hal itu akan membawa dampak baik atau justru buruk bagi posisi saya di masa depan?"
Kekhawatiran dan rasa penasaran itulah yang mendadak mencubit ego Bu Shinta. Sebagai seorang pemimpin bayangan dari beberapa bisnis raksasa, ia merasa perlu dan wajib untuk melihat lebih jauh bagaimana pergerakan taktis selanjutnya dari seorang Arumi. Ia tidak boleh gegabah mengambil kesimpulan. Karena wanita itu akan jadi bagian dari keluarganya. Suatu kedekatan eksklusif yang tidak semua manusia bisa mendapatkannya.
"Hubungi sekretaris saya," perintah Bu Shinta dengan nada suara yang kembali dipenuhi otoritas mutlak. "Katakan pada tim finance kita... berikan Rangga kelonggaran dan perpanjangan waktu dulu selama satu minggu ke depan untuk mencari sisa dana cadangan pendamping tersebut. Jangan boikot investasinya hari ini. Jika dalam waktu tujuh hari anak itu berhasil membuktikan kapasitasnya membalikkan keadaan... saya bersedia menandatangani draf kerja sama Mega Movie Studio itu tanpa syarat."
Begitu pintu ruang kerja pribadi ditutup rapat dari luar dan langkah kaki Vina perlahan menghilang di koridor tangga, topeng dingin Bu Pramudya Shinta tidak lantas luntur. Ketegasan aristokratnya justru semakin pekat, mengunci keheningan ruangan bernilai miliaran tersebut dalam atmosfer yang sarat akan wibawa yang sunyi.
Wanita paruh baya itu melangkah anggun mendekati meja kerja kayu jati miliknya. Ia menarik laci rahasia di bagian terbawah, menekan barisan digit angka digital di atas panel smartlock yang terpasang di sana. Begitu terdengar bunyi klik pelan, laci itu terbuka, menampilkan sebuah buku tua bersampul kulit tebal yang permukaannya sudah sedikit mengelupas dimakan waktu.
Bu Shinta perlahan mengambil buku itu, membukanya tepat di halaman tengah yang sengaja disembunyikan dari dunia luar selama lebih dari dua dekade.
Di dalam jepitan lembaran kertas tua tersebut, terbaring selembar pasfoto jadul. Sebuah foto yang menangkap siluet Bu Shinta yang nampak lebih muda dua puluh tahun, mengenakan pakaian bersahaja tanpa perhiasan mewah, sedang mendekap erat seorang bayi mungil yang kulitnya masih merah di dalam pelukannya.
Jemari Bu Shinta yang terawat rapi perlahan terangkat. Dengan gerakan yang luar biasa lembut—sebuah kehangatan langka yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia bisnis—ia membelai permukaan foto tersebut, tepat di atas gambar sang bayi merah.
"Kau... yang langsung dibuang sesaat setelah hadir di dunia ini," suara berat Bu Shinta mengalun parau, berbisik lirih pada sunyinya ruangan. "Dibiarkan menangis sendirian di dalam tabung ruang NICU, sementara ibu kandungmu yang brengsek itu malah sibuk mengomel histeris karena kehadiranmu dianggap menghancurkan dan membuat bentuk tubuhnya rusak."
Sepasang mata aristokrat Bu Shinta berkilat tajam, dipenuhi oleh prinsip hidupnya yang keras dan tak terpatahkan.
Teringat dengan jelas seakan baru kemarin, Shinta yang datang ke rumah sakit saat ia tahu kalau si gundik sudah melahirkan. Ia berencana untuk membunuh Bayi mungil itu karena rasa traumatis dilecehkan di penjara. Namun karena mendengar teriakan penuh kebencian si Gundik ke anaknya sendiri, dengan posisi si Agung yang malah berusaha menenangkan si gundik tak tahu malu, seketika Shinta sadar... Rangga tidak salah apa-apa.
"Aku tidak akan pernah mungkin membiarkanmu tumbuh menjadi pria yang lemah, Rangga. Tidak akan pernah," lanjut Bu Shinta, napasnya memburu pelan menahan debaran emosi masa lalu. "Itulah sebabnya, aku sengaja ingin memperlihatkan betapa kejam dan kerasnya dunia ini padamu terlebih dahulu. Menempa mentalmu dengan rasa sakit, sebelum tiba saatnya kau benar-benar pantas untuk menikmati 'surgamu' sendiri."
Bu Shinta menjeda kalimatnya. Bayangan wajah tenang nan berwibawa milik Arumi yang baru saja membawa kotak asinan aceh tadi kembali berputar di dalam ingatannya.
"Saat ini... tampaknya 'surgamu' itu baru saja melangkah mendatangiku pagi ini, Rangga. Tapi aku tetap tidak boleh gegabah," gumam Bu Shinta, perlahan menutup kembali buku kulit tua itu lalu menguncinya rapat-rapat ke dalam laci smartlock. "Jadi... maafkan aku, Rangga Adiwilaga. Untuk saat ini, aku belum bisa membiarkan hidupmu berjalan dengan tenang begitu saja. Masih akan tetap ada rentetan ujian berat yang harus kau selesaikan di dalam bisnismu."
Pramudya Shinta kembali menatap ke arah luar melalui jendela besar di kamarnya.
“Arumi, ya... Saya jadi ingin tahu bagaimana bisa istri pertama suamimu begitu baik padamu, dan kenapa anak-anaknya begitu sayang padamu. Sebenarnya kita memiliki nasib yang sama ya? Semoga saja kamu tidak mengecewakanku.”
**
Siang itu, koridor lantai eksekutif Red-Desmont Investment mendadak heboh oleh aroma segar yang mengundang selera. Alih-alih langsung pulang ke rumah kayu setelah menyelesaikan diplomasi senyapnya, Arumi memilih untuk menyewa Go-Car lagi menuju kantor Rangga. Ia membawa tiga wadah kotak thinwall sisa Rujak Aceh porsi jumbo yang diborongnya subuh tadi. Alasan Arumi sederhana; daripada mubazir di kulkas rumah, lebih baik dibagikan kepada para staf operasional di sini. Lagipula, Arumi tahu betul kalau gadis nyentrik seperti Aqila pasti akan sangat menyukai kesegaran kuliner lokal tersebut.
Benar saja, dalam waktu singkat, ruang kerja divisi administrasi dan sekretariat langsung berubah menjadi pasar tumpah kecil. Para staf berkumpul mengelilingi meja pantry, sibuk menyendok bumbu rujak aceh yang asam-pedas-manis tersebut dengan riang. Di sudut ruangan, Aqila dengan rambut pendek pixie cut-nya nampak memeluk satu wadah kotak penuh dengan mata berbinar-binar bahagia, melupakan gelas bobanya sejenak.
“Bu Arumi, jujurly, dari sekian banyak ibu-ibu pejabat yang ke sini, dirimu ini paling TOP!” sahut Aqila sambil mengangkat ibu jarinya.
“Kurangi minuman manis, biasakan makan sehat. Kalau perlu masak sendiri. Denny suka makanan rumahan.” Tembak Arumi.
Aqila terdiam.
“Buseeeeet, sekarab itu kalian. Tiga tahun aku coba deketin si hati baja itu, tetap tak bergeming! Aku udha coba agar mengarahkannya ke jalan yang benar, bahwa dunia ‘belok’ itu hanya akan membawa penyakit! Sekarang Aku udah mulai pasrah ya Bu kalau memang posisiku di geser Pak Rangga. Tapi... keberadaan Bu Arumi ini membuatku tidak kehilangan harapan!” seru Aqila berapi-api.
“Rangga bukan gay, dia Cuma nggak suka cewek.”
“Bu Arumi bukan cewek? Oh, aku tahu... wanita dari jenis yang berbeda!”
“Kamu anggap aku ini serangga?”
“Dewita, lah.” Sahut Aqila.
Arumi mencibir, “Jangan kebanyakan makan bobba.” Desisnya sambil mencubit pipi Aqila. “Kalau kamu sakit,kasihan Tony.” Sahutnya lagi.
“Apa sebut-sebut nama saya?” Di tengah hiruk-pikuk kegembiraan para karyawan yang sedang teralihkan oleh makanan gratis, Tony dengan gerakan waspada perlahan melangkah mendekati Arumi yang sedang berdiri di dekat meja konter utama. “Ngomongin saya di belakang yaaaa?”
“Kita jelas-jelas ada di depan.” Sahut Arumi.
Tony mengernyit sambil melihat suasana kantor yang ramai. Baru kali ini kantornya nggak setegang manusia melihat kabut kiamat muncul. Kini hampir semua karyawan menyunggingkan senyum senang sambil menyantap hidangan berbau manis yang segar. Beberapa dari mereka berteriak sambil mengangkat mangkoknya sambil bilang “Makasih ya Pacar Pak Boss!”
Arumi hanya melambaikan tangan dengan riang ke arah mereka. “Habisin ya!” seru wanita itu.
“Bapak ngapain di sini? Bukannya ikut Pak Rangga meeting mendadak ya tadi pagi?” taya Aqila sambil menyuapi Tony sesendok Rujak Aceh.
“Benda apa ini yang masuk ke mulut saya? Kok enak?” desis Tony sambil mengunyah.
“Rujak Aceh dari Pasar Subuh. Nih bekal kamu.” Kata Arumi sambil menyerahkan tas bekal.
“Pak Tonyyyyyy, kok dibawain bekaaal? Mana tasnya kembaran sama Pak Ranggaaaaaa?!” sembur Aqila tampak sewot.
“Ya kan mereka berdua sepaket.” Gumam Arumi. “Sepanjang Boss kamu kasih duit belanja ke saya, saya sih nggak keberatan ya.”
“Punyakuuu?’ tawar Aqila mencoba bernegosiasi.
“Lah masak sendiri dong, sekalian bikinin Denny, sana.”
Aqila cemberut sambil bergumam tak jelas. Karena ia tak yakin Denny akan menerima hasil masakannya.
“Tadi pagi saya memang meeting, tiba-tiba ada kejadian. Dan lalu ada ribut-ribut di sini jadi saya keluar ruang meeting buat melihat keadaan. Rupanya Bu Arumi datang.” Tony menatap Arumi sambil memicingkan mata seakan pria itu memang sedang bertanya mengenai situasi kondisi pagi ini.
Rangga sudah mewanti-wanti Arumi agar jangan ikut campur urusan bisnisnya, makanya Arumi nekat bertanya alamat rumah Bu Shinta ke Tony. Tony khawatir dia bisa dipenggal Pak Rangga, tapi pertahanan dirinya hanya sampai sebatas kotak bekal makan siang dari Arumi saja. Saat ditawari menu hari ini ayam rempah kuah kare, dia langsung mengirimkan alamat lengkap plus foto tampak depan rumah Bu Shinta.
“Kamu, sana ke meja, makan yang banyak, dada kamu datar, gemukin dikit.” Tony mengusir Aqila.
“Nggak usah bawa-bawa dada Pak, sok ganteng banget Anda.” Gerutu Aqila sambil minggir. Sebagai seorang asisten, Gadis itu juga tahu mengenai gestur dan kode kode kalau Tony ingin bicara rahasia dengan Arumi.
“Semua laki-laki di dunia ini terasa seperti asinan martabak di mata Aqila, kecuali Denny seorang.” Gumam Tony. Pemuda berusia 28 tahun itu kini memasang raut wajah yang luar biasa cemas. Demi menjaga kerahasiaan dan agar tidak memicu kecurigaan staf lain, Tony sengaja mencondongkan tubuh jangkungnya sedikit lebih dekat ke arah Arumi, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar.