Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Sebelum Bayi Itu Lahir
Senyum pria itu menghilang.
Keira tetap menyalakan rekaman suara. Papa Hendra berdiri di samping pagar, tubuhnya tidak besar seperti penjaga bayaran, tetapi cukup kokoh untuk membuat dua pria itu tidak berani melangkah masuk.
"Kami cuma mau bicara baik-baik," kata pria pertama.
"Kalau baik-baik, sebut nama, lembaga, dasar tagihan, dan surat kuasa," jawab Keira. "Kalau tidak ada, saya panggil polisi sekarang."
Pria kedua mendengus. "Galak amat, Bu."
"Panggil saya Nona Keira. Dan jangan bicara ke Vania."
Dari dalam rumah, Vania menahan napas. Mama Lina merangkul bahunya.
Pria pertama akhirnya mengeluarkan map. Isinya fotokopi perjanjian utang yang ditandatangani Om Anton, tetapi tidak ada nama Vania, tidak ada nama Hendra, tidak ada nama Lina.
"Ini urusan Anton Khiu," kata Keira setelah memotret dokumen. "Keluarga yang tidak menandatangani tidak bisa kalian intimidasi. Kalau mau proses, kirim somasi resmi ke alamat kuasa hukum atau ke kantor polisi tempat kasus berjalan."
"Utangnya tetap harus dibayar."
"Silakan tagih ke orang yang berutang, lewat jalur legal."
Keira mengangkat ponsel. "Saya sudah punya rekaman kalian menyebut anaknya untuk tekanan. Mau lanjut?"
Dua pria itu saling pandang. Mereka masih memasang wajah keras, tetapi langkah mereka mundur. Sebelum pergi, salah satunya berkata, "Jangan sok pintar. Urusan begini panjang."
"Bagus," jawab Keira. "Saya suka urusan panjang kalau semua tertulis."
Pagar ditutup.
Baru setelah suara motor mereka hilang, Vania menangis. Bukan tangis panik seperti malam pertama. Tangisnya kali ini pecah, keras, membuat Mama Lina memeluknya lebih erat.
"Maaf," Vania terisak. "Aku bawa masalah."
Papa Hendra masuk dan menaruh map fotokopi di meja. "Yang bawa masalah itu orang dewasa yang tidak tanggung jawab. Kamu bawa tas, bukan masalah."
Keira duduk di kursi, lututnya baru terasa lemas. Ia mengirim foto dokumen ke Arya karena Arya punya kenalan di dinas dan tahu jalur bantuan hukum warga. Arya membalas cepat, menawarkan bertemu kuasa hukum bantuan.
Besoknya, Arya datang membawa temannya dari lembaga bantuan hukum. Mereka memeriksa dokumen, memastikan Vania tidak punya kewajiban hukum atas utang Anton, dan menyarankan keluarga membuat laporan jika intimidasi berlanjut.
Vania mendengarkan semua dengan wajah serius.
"Jadi aku tidak harus bayar utang Papa?"
Pengacara itu menggeleng. "Tidak, selama kamu tidak ikut menandatangani atau menerima uangnya."
Vania menutup wajah dengan kedua tangan. Keira melihat beban yang mungkin sudah ia bawa berminggu-minggu akhirnya turun sedikit.
Arya menatap Keira seolah menunggu sesuatu.
"Terima kasih," kata Keira.
"Aku senang bisa membantu."
Kalimat itu biasa, tetapi setelah pengacara pulang, Arya menahan Keira di teras.
"Kamu lihat? Aku bisa ada untuk keluargamu."
Keira menatapnya. "Aku tahu."
"Tapi kamu tetap tidak pulang ke apartemen."
"Mas Arya..."
"Aku membantu, Keira. Aku mencoba masuk ke hidupmu dengan cara yang benar. Tapi setiap kali aku merasa dekat, kamu mundur."
"Karena kamu membuat bantuan terasa seperti bukti yang harus kubayar dengan hubungan."
Arya terdiam.
Keira menyesal segera setelah mengatakannya, tetapi kata itu benar. Dan kebenaran yang keluar terlalu lama ditahan biasanya terdengar lebih tajam.
Hari-hari berikutnya, Vania mulai pelatihan komputer. Mama Lina menyiapkan bekal untuknya. Papa Hendra mengantar hari pertama. Keira membantu membelikan sepatu murah yang nyaman. Untuk pertama kalinya, Vania pulang membawa cerita tentang teman baru, bukan tentang orang yang menyebut nama ayahnya dengan jijik.
Kehidupan pelan-pelan menemukan bentuk baru.
Namun rahasia lain tumbuh lebih cepat.
Perut Sanya mulai sedikit terlihat. Media menyebutnya pengantin baru yang berseri. Ibu Yong mengirim foto makanan sehat. Ibu Meilan beberapa kali menemani kontrol dan selalu membaca hasil dokter dengan mata tenang yang terlalu teliti. Rayhan bekerja seperti biasa, menjadi suami yang hadir secukupnya, calon ayah yang tidak banyak bicara.
Keira melihat Sanya di lift suatu siang. Sanya memegang tas kecil berisi vitamin.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Keira sebelum sempat menahan diri.
Sanya menatapnya. "Tidak ada yang benar-benar baik, kan?"
Pintu lift terbuka. Sanya keluar, meninggalkan aroma parfum lembut dan kalimat yang tidak selesai.
Kevin tidak datang ke Rumah Khiu seperti janji. Ia makin jarang membalas pesan. Tante Linda beberapa kali menelepon Mama Lina, mengeluh Kevin sibuk dan sulit ditemui. Keira menyimpan semua kecurigaan seperti bara di bawah abu.
Enam bulan berlalu.
Dalam enam bulan itu, Rumah Khiu kembali punya ritme. Vania mulai bisa tertawa tanpa langsung meminta maaf. Arya masih datang, tetapi lebih berhati-hati setelah percakapan di teras. Keira kembali ke apartemen sebagian waktu, namun kamar tamu di Rumah Khiu tetap menjadi tempat pulang cadangan setiap kali dunia terasa terlalu bising.
Sanya memasuki trimester akhir dengan tubuh yang makin sulit menyembunyikan beban. Secara publik, semua orang menyebutnya calon ibu yang beruntung. Secara pribadi, Keira melihat perempuan itu semakin sering memegang pinggang sambil tersenyum di depan orang tua Yong.
Kevin menghilang dari percakapan keluarga. Tidak benar-benar hilang, tetapi cukup jauh untuk membuat Tante Linda mulai bertanya apakah anaknya punya pacar rahasia. Keira setiap kali hanya menjawab, "Nanti aku cek," padahal ia tahu yang harus dicek bukan lagi jadwal kerja Kevin.
Pada suatu pagi hujan, Ci Lien masuk ke ruang sekretariat dengan wajah tegang.
"Keira, Pak Rayhan minta jadwal hari ini dikosongkan."
"Ada apa?"
"Sanya masuk rumah sakit. Kontraksi lebih cepat dari perkiraan."
Keira berdiri terlalu cepat sampai kursinya terdorong.
Di layar ponselnya, Kevin akhirnya mengirim pesan setelah berminggu-minggu diam.
Ci, dia mau melahirkan?
Keira menatap pesan itu, dan untuk pertama kalinya ia merasa waktu yang selama ini ia minta sudah habis.