NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 03 - Bukti untuk Pergi

Hanif datang kurang dari satu jam kemudian.

Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana hitam rapi. Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan. Wajahnya tenang, tapi cara ia menatap membuat Ratna tahu ia bukan orang yang mudah dibohongi.

Di belakangnya ada seorang perempuan dari divisi legal dan seorang pria muda membawa laptop.

Bu Laras langsung menunjuk sofa.

"Duduk. Ini Ratna. Mulai malam ini kalian bantu dia."

Ratna buru-buru berdiri.

"Pak, Mbak, maaf merepotkan. Saya sebenarnya..."

Hanif mengangkat tangan sedikit, sopan tapi tegas.

"Bu Ratna tidak perlu minta maaf. Kalau Bu Laras sudah meminta, berarti ini penting."

Bu Laras mendengus.

"Jangan terlalu kaku. Aku minta kalian cari informasi tentang Hendra Prasetyo. Usaha ritel sembako, beberapa ruko, rekening perusahaan, aset pribadi. Istri sahnya Ratna. Perempuan simpanannya Clara. Ada anak laki-laki juga."

Ratna menunduk saat kata "perempuan simpanan" terdengar.

Malu itu masih ada.

Namun kali ini malu bercampur marah.

Perempuan legal bernama Siska membuka buku catatan.

"Bu Ratna, saya perlu tahu beberapa hal. Pernikahan Ibu tercatat resmi?"

"Iya. Di KUA. Sudah dua puluh delapan tahun."

"Aset yang dibeli selama menikah?"

Ratna menarik napas.

"Ada rumah yang kami tempati. Dulu dibeli setelah usaha mulai maju. Ada beberapa ruko. Dulu saya ikut mengurus toko pertama. Tapi setelah anak lahir, Mas Hendra meminta saya fokus di rumah. Semua sertifikat diurus dia."

"Ibu pernah tanda tangan dokumen?"

"Sering. Tapi saya jarang baca. Saya percaya."

Kalimat terakhir itu membuat ruangan hening sejenak.

Ratna tersenyum hambar.

"Bodoh, ya?"

Siska menggeleng.

"Bukan bodoh, Bu. Ibu percaya pada suami. Yang salah orang yang memanfaatkan kepercayaan itu."

Ratna menggenggam ujung kerudungnya.

Hanif meminta video yang direkam Ratna. Ia menontonnya tanpa ekspresi berlebihan. Hanya rahangnya yang mengeras ketika anak laki-laki itu memanggil Hendra sebagai Papa.

"Kita perlu cadangkan file ini di beberapa tempat," katanya.

"Saya sudah kirim ke email," jawab Ratna cepat.

Hanif menatapnya. Ada sedikit penghargaan di matanya.

"Bagus. Ibu juga perlu mencatat semua pengeluaran rumah yang selama ini Ibu tanggung. Uang les cucu, obat mertua, belanja, apa pun."

Ratna hampir tertawa.

"Saya punya semua catatannya."

Semua orang menoleh.

Ratna membuka tas dan mengeluarkan buku kecil. Sampulnya sudah lecek. Di dalamnya ada catatan tanggal, harga sayur, obat, tagihan listrik, biaya les Bima, bahkan utang kecil ke warung.

"Saya takut uang tidak cukup. Jadi saya tulis semuanya."

Bu Laras mengusap dadanya.

"Ya Allah, Ratna."

Hanif menerima buku itu dengan hati-hati, seolah benda itu bukti perkara besar.

"Ini sangat membantu."

Ratna tidak menyangka catatan yang selama ini ia buat agar bisa menghemat belanja akan berubah menjadi bukti betapa banyak ia memikul rumah itu.

Siska bertanya lagi.

"Bu Ratna siap kalau nanti keluarga menekan? Mereka mungkin akan membawa agama, cucu, nama baik."

Ratna diam.

Siap?

Tidak.

Ia belum siap menghadapi Bima yang menangis. Belum siap mendengar Raka menyebutnya ibu durhaka. Belum siap melihat Mama Sulastri pura-pura sakit.

Tapi apakah ia siap kembali menjadi perempuan yang pura-pura tidak melihat Hendra mencium Clara?

Lebih tidak.

"Saya akan takut," kata Ratna pelan. "Tapi saya tidak mau mundur."

Bu Laras tersenyum puas.

Malam itu, setelah tim Hanif pergi membawa salinan video dan catatan awal, Ratna tetap bekerja seperti biasa. Ia membantu Bu Laras minum obat, mengatur bantal, dan memijat kaki perempuan tua itu.

"Sudah, jangan pijat terus. Nanti tanganmu pegal."

"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah terbiasa."

"Itu yang harus kamu ubah. Jangan semua hal kamu jawab dengan terbiasa."

Ratna tersenyum kecil.

Ucapan itu terdengar sederhana, tapi menusuk.

Ia memang terbiasa.

Terbiasa bangun sebelum subuh.

Terbiasa memasak untuk enam orang.

Terbiasa menahan lapar agar Bima bisa beli buku gambar.

Terbiasa memakai baju bekas Maya yang sudah tidak dipakai.

Terbiasa mendengar Hendra berkata ia terlalu tua untuk berdandan.

Terbiasa sampai lupa bertanya, apakah hidup memang harus seperti itu?

Sekitar pukul sembilan malam, Hanif kembali mengirim pesan. Cepat sekali.

"Bu Ratna, kami menemukan beberapa aset atas nama Clara Maharani dan satu rekening perusahaan yang alirannya mencurigakan. Detail besok saya bawa."

Ratna membaca pesan itu berkali-kali.

Besok.

Ternyata hanya butuh beberapa jam bagi orang profesional untuk menemukan sesuatu yang ia tidak lihat selama bertahun-tahun.

Hendra bukan hanya berkhianat.

Ia menyusun hidup lain dengan rapi.

Ratna meminta izin pulang lebih cepat. Bu Laras awalnya menolak, tapi Ratna perlu mengambil dokumen di rumah sebelum Hendra curiga.

"Aku minta sopir mengantar," kata Bu Laras.

"Tidak usah, Bu. Saya bisa naik ojek online."

"Ratna."

Ratna berhenti.

"Mulai sekarang, biasakan menerima bantuan yang memang kamu butuhkan."

Akhirnya Ratna menurut.

Mobil Bu Laras menurunkannya dua gang dari rumah. Ia tidak mau tetangga melihat mobil mewah berhenti di depan pagar. Bukan karena takut. Belum waktunya saja.

Rumah itu masih terang.

Dari luar, Ratna sudah mendengar suara Mama Sulastri.

"Perempuan itu makin lama makin kurang ajar. Disuruh pulang malah banyak alasan. Hendra, kamu itu terlalu memanjakan istri."

Raka menyahut, "Iya, Pa. Mama sekarang aneh. Aku cuma minta ayam kecap saja tidak dibuatkan."

Maya berkata dengan nada manja, "Aku sampai batal treatment, Pa. Bima nangis karena Nenek tidak jemput."

Ratna berdiri di balik pintu.

Lucu.

Mereka membicarakannya seolah ia pegawai yang mangkir kerja.

Bukan ibu.

Bukan istri.

Bukan manusia yang hari ini baru saja hancur.

Ia membuka pintu.

Semua kepala menoleh.

Hendra berdiri dari sofa. Wajahnya keras. Mungkin ia baru pulang dari Clara. Mungkin ia sempat mandi dan mengganti baju agar bau rumah sakit hilang.

"Kamu dari mana saja?" tanyanya.

Ratna menatap suaminya.

Dulu ia selalu gentar jika Hendra memakai nada seperti itu. Hari ini, anehnya, ia hanya merasa lelah.

"Kerja."

"Kerja sampai lupa rumah?"

Mama Sulastri memukul sandaran sofa.

"Ratna, kamu ini sudah tua, tapi makin tidak tahu diri. Istri baik itu pulang sebelum suami. Bukan keluyuran."

Ratna melepas sandal.

"Saya mau mandi dulu."

Raka melotot.

"Ma, aku belum makan."

"Di dapur ada telur. Masak sendiri."

Ruangan mendadak sunyi.

Maya tertawa kecil, tidak percaya.

"Ma, Raka mana bisa masak?"

Ratna menatap menantunya.

"Dia tiga puluh tahun, Maya. Menggoreng telur tidak butuh ijazah."

Wajah Raka memerah.

"Mama ngomong apa, sih?"

Hendra melangkah mendekat.

"Ratna, jangan mulai."

Ratna mengangkat wajah.

"Aku belum mulai, Mas."

Ia berjalan melewati mereka menuju kamar. Di dalam, ia mengunci pintu. Tangannya langsung bergerak cepat. Ia membuka laci, mengambil fotokopi buku nikah, kartu keluarga, beberapa dokumen lama, buku tabungan yang jarang dipakai, dan map berisi surat pembelian rumah yang pernah ia simpan tanpa Hendra tahu.

Ia memotret semuanya.

Satu per satu.

Dari luar, Hendra mengetuk pintu.

"Ratna, buka. Kita bicara."

Ratna memasukkan dokumen ke tempat semula.

"Besok saja."

"Aku bilang buka."

Ratna berdiri di tengah kamar. Jantungnya berdebar, tapi tangannya tidak lagi gemetar.

Ponselnya menyala.

Pesan dari Hanif.

"Bu Ratna, satu lagi. Apartemen atas nama Clara dibeli tunai tiga tahun lalu. Sumber dananya dari rekening usaha Pak Hendra."

Ratna memejamkan mata.

Jadi benar.

Uang yang katanya tidak ada, ternyata hanya pergi ke rumah lain.

Di luar, Hendra masih mengetuk.

"Ratna!"

Ratna membuka kamera, memotret pesan itu, lalu menyimpannya.

Besok ia akan punya lebih banyak bukti.

Dan setelah itu, Hendra tidak akan bisa lagi menyuruhnya diam.

Ketukan berhenti setelah beberapa menit. Ratna mendengar langkah Hendra menjauh, disusul suara Mama Sulastri bertanya dengan nada tajam.

"Dia buka pintu?"

"Tidak," jawab Hendra.

"Lihat? Istrimu sudah keras kepala. Pasti ada yang mengajari."

Ratna berdiri di balik pintu, menahan napas. Ia ingin membuka pintu dan berkata tidak ada yang mengajarinya selain luka. Tapi ia menahan diri.

Malam ini bukan untuk menang debat.

Malam ini untuk bertahan sampai pagi.

Ia mengambil buku catatan belanja dari tas, membuka halaman kosong, lalu menulis satu kalimat:

"Aku bukan barang milik Hendra."

Tulisan itu miring karena tangannya masih gemetar. Namun setelah melihatnya, Ratna merasa sedikit lebih tegak.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!