Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Sisi Baru
...----------------...
Seminggu telah berlalu sejak malam di mana Astrid menginjakkan kakinya di rumah keluarga Albian. Kehidupan terasa seperti berjalan di atas seutas tali yang tipis; setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Namun, di balik ketegangan yang menyelimuti, hubungan ku dan Astrid justru semakin mendalam. Setiap hari, aku menyempatkan diri untuk mengunjunginya atau setidaknya memastikan dia tidak kekurangan apa pun. aku mulai membelikannya makanan-makanan bergizi, menanyakan bagaimana perkembangan janin di perutnya, dan mendengarkan keluh kesahnya tentang dunia perkuliahan yang mulai terasa berat.
"Ka, lu gak usah repot-repot beli buah-buahan terus setiap hari," ucap Astrid saat aku mengunjunginya kemarin malam.
"Ini bukan repot, Strid. Ini kewajiban gue," balas ku sambil mengusap rambutnya.
Astrid tersenyum, senyum yang selalu berhasil meredam kegelisahan di hati ku. "Gue seneng, Ka. Gue ngerasa... akhirnya ada seseorang yang bener-bener peduli sama keadaan gue, bukan cuma karena terpaksa, tapi karena emang dia mau."
Perkataan itu menghujam jantung ku. aku menyadari betapa kerasnya Astrid berjuang sendirian selama ini. aku semakin bertekad untuk memastikan bahwa masa depan dia dan anak ku akan terjamin, meskipun aku tahu ada "monster" yang harus aku hadapi.
...****************...
Pagi itu, aku membulatkan tekad untuk jujur kepada Ayah. Namun, langkah kaki ku terhenti di teras rumah saat berpapasan dengan Kak Zalya yang baru saja tiba dengan mobil mewahnya.
"Lu mau ke mana? Tumben banget rapi, pagi-pagi udah kayak mau ngelamar orang," tanya Kak Zalya dengan nada sinis namun penuh selidik.
"Gue udah mutusin buat ngomong jujur sama Ayah dan Ibu hari ini, Kak. Gue gak mau lagi sembunyi di balik kebohongan," jawab ku dengan suara yang bergetar.
Kak Zalya mendengus, lalu menatap ku dengan tatapan yang sangat serius, membuat ku seketika merasa kecil. "Gausah konyol, Arka. Lu tau kan sifat Ayah itu sekeras apa? Kalau lu sendirian ke sana buat ngasih tau informasi yang bakal bikin dia darah tinggi, lu bisa-bisa beneran diusir dari keluarga Albian. Lu mau jadi gelandangan tanpa status di luar sana?"
aku terdiam. Ketakutan itu nyata, dan Kak Zalya benar. "Terus gue harus gimana, Kak? Gue gak bisa terus-terusan nyembunyiin ini."
"Anak kesayangan Ayah itu Andra. Cuma dia yang paling nurut dan dianggap punya visi yang sama sama Ayah. Saran gue, lu ke sana sama dia aja. Siapa tau Andra bisa jadi tameng atau ngebujuk Ayah supaya gak terlalu marah," balas Kak Zalya sebelum berlalu masuk ke dalam rumah.
Saran itu menghancurkan mental ku. Aku memutuskan untuk menunda keberangkatan. Sepanjang hari, pikiran gue terus berkecamuk, bingung dengan nasib yang menanti.
...****************...
Dua hari berlalu, aku baru saja pulang setelah menemui astrid di rumahnya, aku mencari Kak Andra ke seluruh penjuru rumah, namun nihil. Rumah ini terasa begitu megah namun kosong. Saat hendak melangkah ke kamar, tatapan ku tertuju ke arah kolam renang dari balik jendela kaca lantai atas. Di sana, Kak Andra duduk sendirian di pinggir kolam, ditemani kepulan asap rokok yang menari-nari di bawah cahaya rembulan.
aku memutuskan untuk menghampirinya. "Ada pria sok gagah yang pernah bilang 'merokok itu gak elegan', tapi lihat orang itu, kayaknya dia menelan ludahnya sendiri. Tumben banget ngelamun gitu, butuh temen?" sapa ku dari belakang.
Kak Andra melirik, tatapannya dingin namun tak ada kemarahan di sana. Tanpa suara, dia menaruh sebungkus rokok dan korek api di sampingnya. Sebuah isyarat bisu yang menyuruh ku duduk. Aku duduk di sampingnya, mengambil sebatang rokok, dan menyalakannya. Aroma tembakau bercampur dengan wangi air kolam yang menenangkan.
"Dulu kita sering banget kumpul di kolam renang ini," ucap Kak Andra dengan suara rendah, menatap pantulan bulan di air. "Hendra masih sekolah, Zalya baru masuk kampus, Ellisya masih bocah imut, dan lu... masih cengeng tapi banyak tingkahnya."
Aku tertawa getir. "Gue inget. Lu dulu sering banget gue jailin. Masih inget gak waktu kita ceburin lu ke kolam renang pas lagi pake jas kantor gara-gara lu kerja mulu ?"
Kak Andra tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka. "Iya, gue inget banget. Jas itu langsung basah kuyup, dan gue harus rapat dengan baju basah kuyup karena ulah kalian. Tapi, itu momen di mana gue ngerasa bener-bener jadi kakak."
Kak Andra tersenyum tipis, sebuah pemandangan yang langka. "Sekarang semua udah punya jalan masing-masing. Zalya fokus sama butiknya, Hendra menetap di Bandung, Ellisya beranjak remaja... bahkan lu, lu udah ngelakuin hal bodoh yang bakal ngerubah hidup lu selamanya."
"Hidup gue emang udah berubah drastis semenjak kedatangan Astrid," ucap gue lirih, menatap ujung rokok yang membara.
Hening menyelimuti kami. Suasana yang tadinya mencekam perlahan melunak. Aku memperhatikan sudut wajah Kak Andra yang biasanya tampak kaku. Pria ini, yang selalu menjadi sosok paling tegas dan menuntut di keluarga ini, malam ini terlihat begitu manusiawi dan rapuh.
"Kenapa lu gak benci gue, Ka?" tanya Kak Andra tiba-tiba. "Secara gue sering marahin lu, mukul lu, bahkan selalu ngomong hal pedas buat lu. Gue tau gue banyak salah."
Aku masih memandang bulan, tatapan ku jauh. "Emang hal itu ngeselin banget buat gue. Gue kesel, sering ada niat buat ngebales, tapi niat itu selalu ilang gak lebih dari tiga jam."
Kak Andra menoleh, terkejut. "Tiga jam? Kenapa?"
"Karena setelah tiga jam, gue baru bisa berpikir jernih. Gue tau lu tegas sama adik-adik lu, karena lu sayang. Lu rela jadi 'tameng' buat kita supaya kita nggak nanggung beban lebih berat. Lu numbalin diri lu sendiri, membiarkan lu yang dipaksa sempurna supaya kita bisa punya sedikit kebebasan. Lu ngambil semua tanggung jawab itu agar kita nggak hancur di bawah tuntutan Ayah."
Kak Andra terdiam. Ternyata Kak Andra menyadari pengorbanan itu selama ini. "Pasti Zalya yang ngasih tau lu semua itu," tebak Kak Andra.
"Mungkin," jawab ku singkat sambil terkekeh pelan.
Kami menghabiskan waktu berjam-jam tertawa, mengenang masa kecil yang sederhana. Tentang Hendra yang pernah kecebur got saat mencoba menangkap layangan, atau Zalya yang nekat memotong rambutnya sendiri sampai hampir botak karena ingin mirip laki-laki. Itu adalah momen paling hangat yang pernah aku rasakan setelah bertahun-tahun hubungan kami yang kaku.
Namun, suasana kembali serius saat Kak Andra menatap ku dengan tajam. "Astrid cewek yang baik, Ka. Kalo bukan karena kebodohan lu, mungkin dia bakal punya masa depan yang jauh lebih baik. Sebagai pria, lu harus bertanggung jawab. Jangan sampai udah ngerusak masa depan wanita baik, lu malah nyakitin hati dia."
"Iya, Kak. Gue paham kok," jawab ku lesu.
"Nanti gue bantu ngomong ke Ayah sama Ibu. Atur aja lu siap kapan kasih taunya." ucap kak andra sambil menatap bulan
Aku membelalakkan mata. "Loh, kok Kak Andra tau gue butuh bantuan?"
"Sebelum lu ke sini, gue, Zalya, sama Hendra udah ngobrolin lu. Kita udah tau ini bakal terjadi, dan kita sepakat bahwa lu butuh dukungan buat menghadapi Ayah."
Ternyata, bukan cuma aku yang melihat perubahan pada Kak Andra, mereka semua sudah membicarakan hal ini. aku bukan sendirian. "Kalau gitu... malem minggu ini bisa, Kak?"
"Bisa aja. Jangan lupa ajak Astrid." balas kak andra sambil membakar sebatang rokok lagi.
"Kalau ternyata nanti Ayah marah besar pas ada Astrid, gimana?" tanya ku panik.
"Mau lu ajak atau nggak, Ayah pasti marah. Tapi semoga aja, kehadiran Astrid bisa meluluhkan hati Ayah sedikit demi sedikit," pungkas Kak Andra tegas.
Setelah beberapa saat mengobrol aku pun pergi ke kamar dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Malam minggu nanti akan menjadi hari yang menentukan, tapi setidaknya, aku tahu bahwa ada satu sosok pemimpin di keluarga ini yang berdiri di samping ku. aku merebahkan tubuh di kasur, memandang langit-langit kamar sambil membayangkan apa yang akan terjadi nanti, namun akhirnya, rasa lelah yang luar biasa menarik ku ke dalam tidur yang tenang, setidaknya untuk malam ini.
...----------------...