Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Kemungkinan
...----------------...
Di ruang kerjanya yang luas di lantai 35, Kak Andra menatap cakrawala Jakarta yang mulai menggelap. Lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menyala satu per satu, membentuk hamparan bintang buatan yang indah namun dingin. Meski di permukaan ia tampak sebagai eksekutif yang dingin, tak tergoyahkan, dan disegani, pikirannya saat ini sedang kacau. Ia terus memeriksa ponselnya, berharap ada pesan dari Arka, namun gengsi yang ia rawat bertahun-tahun serta tanggung jawab untuk menjaga wibawa di depan Ayah membuatnya tetap membisu.
Ia teringat kembali hari saat Arka pergi. Adik bungsunya itu terlihat begitu hancur, namun juga begitu berani. Sejak hari itu, rumah Albian tidak pernah sama lagi. Ayah menjadi lebih tertutup, Ibu lebih sering mengurung diri, dan suasana di rumah utama terasa seperti kuburan.
Pintu ruangannya terbuka pelan. Kak Zalya masuk dengan langkah elegan, membawa aura yang selalu bisa mencairkan ketegangan di ruangan itu. "Masih mikirin dia, Ndra?" tanyanya sambil meletakkan tas tangannya di atas meja.
Andra segera memutar kursinya, wajahnya kembali kaku, mencoba menyembunyikan retakan di hatinya. "Siapa? Arka? Enggak. Dia udah dewasa. Dia milih jalan hidupnya sendiri, dan itu konsekuensi yang harus dia tanggung."
Zalya tersenyum sinis, sebuah senyum yang penuh pengertian karena ia mengenal kakaknya itu lebih dari siapa pun di dunia ini. "Gak usah bohong, Ndra. Gue tau lu tiap malem diam-diam stalking IG Arka, Lu bahkan udah tahu kan dia di Bandung? Lu cuma terlalu gengsi buat ngaku kalau lu khawatir setengah mati."
Andra terdiam. Ia tidak membantah, hanya menatap meja kerjanya dengan pandangan nanar. "berisik... gue gak mau dia hancur lebih dari ini, Zal. Tapi gue takut kalo dia nyakitin Astrid"
"Lu bisa bantu dia tanpa harus kelihatan bantu," sahut Zalya pelan sebelum ia berbalik dan keluar dari ruangan. "Gue mau ke butik, ada urusan yang harus gue selesein."
Setelah Onrolan singkat antara anak kembar, Zalya meninggalkan kantor Andra. Namun, dalam perjalanan menuju butiknya di pusat kota, perutnya terasa lapar. Ia mampir ke sebuah restoran ramen autentik yang terselip di antara deretan toko-toko. Ia memilih duduk di meja sudut yang tenang.
Sambil menikmati semangkuk ramen pedas dengan kuah kaldu yang pekat, pendengarannya tak sengaja menangkap suara yang sangat familiar di meja tepat di belakang punggungnya. Itu Iksan, sahabat Arka.
Zalya awalnya ingin menyapa, karena ia tahu Iksan adalah orang terdekat Arka selama ini. Namun, sesuatu dalam nada bicara Iksan membuatnya urung. Iksan sedang menempelkan ponsel ke telinganya, berbicara dengan nada berbisik namun sangat tajam dan penuh penekanan.
"Iya, tenang aja. Semuanya udah beres. Besok sore gue berangkat ke China," ucap Iksan di telepon. Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat meremehkan dan penuh kemenangan. "Modalnya udah di tangan. Arka si anak kaya itu percaya banget kalau uangnya bakal berlipat ganda. Dia sama sekali nggak curiga kalau setelah ini gue bakal ngilang selamanya. Arka cuma pion yang bisa gue singkirkan dengan gampang."
Zalya mematung. Sendok di tangannya berhenti di udara. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu menahu soal investasi atau uang apa pun yang dimaksud, namun nama 'Arka' yang disebut dengan nada menghina membuat bulu kuduknya berdiri. Ia merasa ada sesuatu yang sangat busuk sedang terjadi. Namun, sebagai seseorang yang profesional, ia memilih untuk tetap diam dan tidak membuat keributan di sana. Ia segera menyelesaikan makannya, lalu keluar dari restoran dengan perasaan tidak enak yang sangat mengganjal di dadanya. Ia tidak menaruh curiga pada Iksan secara pribadi karena ia belum tahu soal investasi bodoh yang ditawarkan kepada adiknya, namun ia merasa harus waspada.
Sementara itu, Kak Andra baru saja masuk ke mobilnya. Malam sudah larut dan rintik hujan mulai membasahi kaca mobilnya. Ia menatap ikon aplikasi pesan di ponselnya, jarinya ragu di atas nama 'Arka'. Di dalam kepalanya, berkecamuk niat untuk mengirimkan pesan singkat: 'Apa kabar, Ka? Gimana di sana?' alimat itu sudah ia ketik, namun ia hapus kembali. Gengsi itu seperti tembok beton yang sulit diruntuhkan. Akhirnya, ia meletakkan ponselnya kembali ke dasbor, menghela napas panjang, dan menjalankan mobilnya menembus dinginnya malam Jakarta.
...****************...
Di Bandung, suasana rumah kami perlahan mulai mencair, kontras dengan ketegangan yang terjadi di Jakarta. Sudah enam hari kami berada di rumah peninggalan ini. Rumah yang awalnya terasa dingin dan asing, kini mulai terasa seperti rumah yang sesungguhnya. Astrid, yang awalnya menutup diri karena rasa kecewa yang mendalam, mulai menunjukkan tanda-tanda untuk mencairkan hatinya kembali.
Malam itu, kami duduk di teras belakang rumah. Tanah di halaman belakang itu sangat luas, ditumbuhi rumput yang mulai kuhijaukan lagi dengan perawatan rutin. Udara Bandung sangat sejuk, dan langit malam itu sangat cerah, bertabur bintang yang jarang terlihat di Jakarta.
"Menurut lu, mending kita bikin apa ya di sini?" tanyaku sambil menyesap kopi hangat, mencoba memulai obrolan yang santai dan penuh harapan.
Astrid menatap tanah luas itu cukup lama. Wajahnya yang pucat karena stres beberapa hari lalu kini tampak lebih segar, meski sisa kesedihan masih terlihat tipis di sudut matanya. "Menurut gue... taman bunga kayaknya bagus, Ka. Biar kelihatan asri pas pagi-pagi, terus kita bisa duduk di sini sambil dengerin suara burung," ucapnya pelan.
"Boleh juga. Tapi gue sempat kepikiran bikin kolam ikan, biar suasananya lebih tenang dan dingin," sahutku antusias. Aku sangat ingin menciptakan kebahagiaan untuknya, ingin menunjukkan bahwa aku bisa bertanggung jawab atas rumah ini.
Astrid tersenyum kecil, senyum pertama yang kulihat setelah sekian lama. Itu adalah pemandangan yang paling indah di dunia bagiku saat ini. "Kolam ikan? Nanti dedek bayi bahaya kalau udah gede. Dia pasti bakal lari-lari ke sana terus kecebur."
"Ya bener juga sih," aku tertawa kecil. "Gimana kalau taman bermain kecil di pojok buat anak kita nanti, terus sisanya kita tanam bunga-bungaan yang banyak?"
Astrid mengangguk pelan. "Itu ide bagus. Gue setuju."
Kami tertawa kecil. Tawa yang sudah lama hilang dari rumah tangga kami. Aku merasa hidup mulai kembali ke jalurnya. Investasi dengan Iksan sebentar lagi akan cair, rumah ini mulai kami tata, dan Astrid sudah mulai bisa menerima keberadaanku lagi. Aku merasa hidup ini sempurna, seolah semua pengorbanan yang kubuat tidak sia-sia.
Namun, di tengah tawa kami, aku tidak sadar bahwa aku sedang berdiri di atas retakan es yang tipis. Aku merasa sangat aman, padahal badai terbesar dalam hidupku sedang bersiap untuk menerjang tepat di depan mata. Aku merasa telah berhasil membuktikan diri pada dunia.
Aku memandang wajah Astrid yang terlihat tenang di bawah cahaya lampu teras. Aku ingin sekali memeluknya saat itu juga, tapi aku masih ragu. Aku merasa bahwa jarak yang kutimbulkan sendiri selama seminggu ini belum sepenuhnya tertutup. Tapi setidaknya, kami sudah mulai bicara kembali.
Malam itu, aku tidur dengan nyenyak, merasa bahwa keputusan-keputusanku adalah langkah yang benar. Aku tidak menyadari bahwa besok sore, ketika Iksan melangkah ke gerbang keberangkatan bandara menuju China, dunia yang kucoba bangun perlahan akan runtuh menjadi debu.
Di kamarnya sendiri, Astrid pun merasa sedikit lebih tenang. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan uang itu, dia hanya mencoba percaya pada suaminya meski hatinya masih menyimpan kecurigaan. Ia menatap perutnya sendiri, memikirkan masa depan anak yang akan segera lahir ke dunia.
Aku tidak tahu bahwa saat aku dan Astrid sedang merencanakan taman bunga di halaman belakang, di Jakarta, orang yang kusebut sebagai "sahabat" sedang menghitung hari untuk kabur dengan membawa seluruh tumpuan harapan hidup kami. Aku merasa seperti pria yang paling sukses di dunia, padahal sesungguhnya aku adalah pria yang paling malang. Besok akan menjadi hari di mana semua ilusi ini akan pecah, dan aku tidak punya persiapan apa pun untuk menghadapi kebenaran yang akan menghantamku tepat di ulu hati.
Dalam tidurku yang lelap, aku tidak memimpikan apa pun. Aku merasa damai. Tapi kedamaian itu hanyalah sebuah tipu daya dari waktu yang terus berdetak, membawa Iksan semakin dekat ke pesawat yang akan membawanya menjauh dari tanggung jawabnya, dan membawa kami semakin dekat ke titik kehancuran total.
Ketika matahari terbit nanti, aku akan bangun dengan penuh semangat untuk menata taman bunga, sementara Iksan akan bangun dengan tiket pesawat di tangannya, siap untuk menghancurkan hidup kami hanya dalam satu kedipan mata. Dan aku, sang suami yang merasa hebat, masih terlalu buta untuk melihat apa yang sedang terjadi di balik layar. Aku hanya seorang pria yang sedang bermimpi, belum tahu bahwa saat aku terbangun nanti, aku akan berada di tengah-tengah badai yang paling dahsyat dalam hidupku.
...----------------...