NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Tawa kecil yang sempat menghiasi sudut bibir Hani menguap tanpa bekas ketika keheningan hangat di dalam kamar rawat nomor 701 itu mendadak dihempas oleh suara ketukan pintu yang tergesa-gesa.

Belum sempat Hani atau Reza mempersilakan masuk, gagang pintu kuningan itu sudah berputar kasar. Seorang wanita muda dengan penampilan teramat modis melangkah masuk dengan gaya anggun yang dipaksakan.

Wanita itu mengenakan gaun terusan rancangan desainer ternama berwarna pastel, menenteng tas mewah yang berkilat, dan menyebarkan aroma parfum mawar yang sangat pekat hingga menusuk hidung.

"Reza! Ya ampun, Reza! Kamu tidak apa-apa?" Suara melengking wanita itu seketika memenuhi ruangan.

Ia langsung setengah berlari menghampiri Reza, mengabaikan keberadaan Hani yang duduk di kursi samping tempat tidur. Wajahnya dipenuhi rona kecemasan yang berlebihan saat ia mencoba mendekat.

"Aku baru saja mendengar kabar dari Papah kalau kamu masuk rumah sakit karena diserang orang. Kenapa bisa sampai seperti ini? Siapa yang berani melukaimu?"

Reza dengan cepat menarik tangannya menjauh sebelum wanita itu sempat menyentuhnya. Ekspresi wajahnya yang semula penuh canda dan kehangatan saat bersama Hani, mendadak berubah menjadi sedingin es. Sorot matanya memancarkan rasa tidak suka yang teramat nyata.

"Rachel? Untuk apa kamu ke sini?" tanya Reza, suaranya terdengar datar dan ketus, sama sekali tidak menyembunyikan rasa terganggunya.

Rachel Adiguna, putri tunggal dari rekan bisnis sekaligus sahabat karib Narendra Baskara mengerucutkan bibirnya manja, tampak tersinggung dengan sambutan dingin pria yang sudah sejak lama ia gilai itu. "Tentu saja untuk menjengukmu, Reza. Hubungan keluarga kita kan sangat dekat, mana mungkin aku tinggal diam saat tahu kamu terluka."

Atas dasar apa Rachel tidak sengaja menangkap keberadaan piring kecil berisi potongan mangga dan garpu yang masih dipegang oleh Hani. Rachel membalikkan badannya secara penuh, lalu mengunci pandangannya pada Hani.

Sepasang mata indahnya yang dilapisi riasan tebal itu mendadak menyipit, menatap Hani dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sarat akan keangkuhan.

"Siapa kamu?" tanya Rachel, nadanya ketus dan menuntut, seolah-olah Hani adalah seorang penyusup yang tidak sengaja masuk ke dalam wilayah orang lain. "Kenapa kamu ada di kamar rawat Reza selarut ini?"

Hani yang menyadari situasi tidak menyenangkan ini segera meletakkan piring mangga di atas meja nakas. Ia mengabaikan tatapan merendahkan dari Rachel dan mencoba tetap bersikap tenang serta profesional. Harga dirinya melarangnya untuk terlihat terintimidasi oleh wanita asing di depannya.

Hani bangkit berdiri dari kursinya, lalu mengangguk sopan dengan senyuman formal yang kaku. "Selamat sore. Perkenalkan, nama saya Hani Adisa Putri. Saya adalah karyawan di divisi administrasi Baskara Group."

Mendengar kata 'karyawan', sebelah alis Rachel terangkat tinggi. Sebuah senyuman sinis yang meremehkan langsung terukir di wajahnya yang dipulas riasan tebal. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Hani dengan pandangan yang kian merendahkan.

"Oh, jadi cuma karyawan?" cemooh Rachel, suaranya terdengar sangat sinis dan tajam. "Kalau kamu cuma seorang karyawan biasa di Baskara Group, atas dasar apa kamu merasa memiliki hak untuk berada di ruangan VIP ini? Berlama-lama di sini, bahkan sampai bertindak tidak sopan dengan menyuapi bosmu sendiri? Apa itu bagian dari deskripsi pekerjaanmu di kantor, hah? Kurang ajar sekali."

Kalimat tajam Rachel laksana duri yang sengaja ditusukkan untuk menginjak-injak harga diri Hani. Namun, sebelum Hani sempat membuka mulut untuk membela diri, suara bentakan keras dari atas brankar sudah lebih dulu menggelegar memotong kalimat Rachel.

"Rachel! Jaga bicaramu!"

Reza setengah berteriak, mengabaikan rasa perih yang mendadak berdenyut di otot punggungnya akibat gerakan yang terlalu tiba-tiba. Matanya menatap Rachel dengan kilatan amarah yang menyala-nyala.

"Hani tidak salah apa-apa! Akulah yang menyuruhnya datang ke sini, dan akulah yang memaksanya untuk mengupaskan serta menyuapiku mangga karena tanganku sedang tidak bisa digerakkan! Jangan berani-berani kamu menghina Hani di depanku!"

Rachel tersentak hebat, wajahnya memucat karena terkejut mendapati Reza membela seorang karyawan biasa dengan begitu emosional di depannya. "Reza... kenapa kamu malah membela perempuan ini dan membentakku?"

Hani mengepalkan tangannya di balik saku blus kerjanya. Berada di tengah-tengah pertengkaran dua orang kelas atas ini membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Emosinya hari ini sudah terlalu banyak terkuras oleh duka dan ketakutan, dan ia tidak memiliki sisa energi lagi untuk meladeni drama kecemburuan seorang wanita asing.

Hani berbalik menatap Reza, mencoba memberikan tatapan menenangkan agar pria itu tidak memperparah luka jahitannya. "Pak Reza, kondisi Anda baru saja stabil, tolong jangan emosi. Berhubung hari sudah semakin malam dan Anda sudah ada yang menemani, saya rasa tugas saya di sini sudah selesai. Saya pamit pulang terlebih dahulu."

"Hani, tunggu... jangan pulang dulu," panggil Reza dengan nada memohon yang teramat sangat, mencoba menahan langkah kaki Hani. Namun, Hani memilih untuk tidak menoleh. Ia berjalan mantap melewati Rachel Adiguna, mendorong pintu kamar rawat, dan melangkah pergi menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan yang campur aduk.

Begitu pintu kamar nomor 701 tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam, Rachel langsung berbalik menghadap Reza dengan wajah yang memerah padam karena menahan kekesalan yang luar biasa.

"Reza! Kamu keterlaluan ya!" seru Rachel sambil menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Aku ini tamu yang datang dengan niat baik untuk menjengukmu, tapi kamu malah memperlakukanku seperti ini demi membela perempuan miskin itu! Kamu sadar tidak sih dengan apa yang baru saja kamu lakukan?"

Reza tidak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya, mengembuskan napas pendek berkali-kali untuk meredam amarahnya yang hampir mencapai ubun-ubun. Sikap Rachel benar-benar menguji batas kesabarannya yang sudah tipis.

Melihat Reza yang mengabaikannya, rasa cemburu dan kecurigaan di dalam hati Rachel semakin membakar logikanya. Ia melangkah mendekati brankar, menatap Reza dengan pandangan menuntut.

"Reza, jawab aku! Siapa perempuan bernama Hani itu sebenarnya? Kenapa kamu sampai segitunya melindungi dia? Jangan-jangan... cewek genit itu memang sengaja menggoda dan merayumu memanfaatkan posisinya sebagai asisten pribadimu, kan? Dia sengaja bertingkah sok polos biar bisa masuk ke dalam kehidupan keluarga Baskara!"

Brak!

Reza memukul meja nakas di samping tempat tidurnya dengan tangan kanannya yang bebas dari selang infus, menciptakan suara hantaman keras yang membuat piring mangga di atasnya berdenting nyaring.

Reza membuka matanya, menatap Rachel dengan pandangan yang begitu dingin dan menusuk, seolah-olah ia siap menghabisi siapa saja yang berani mencemarkan nama baik Hani.

"Rachel Adiguna, tutup mulutmu yang tidak berpendidikan itu!" desis Reza dengan suara rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan.

"Hani adalah wanita baik-baik. Dia tidak pernah menggoda atau merayuku sedikit pun. Justru akulah yang selama ini mengemis dan mengejar-kejajar perhatiannya! Jadi, kalau aku mendengar kamu melontarkan satu kata hinaan lagi tentang Hani..."

Reza menjeda kalimatnya, memberikan penekanan mutlak pada setiap kata yang keluar dari bibirnya. "...aku pastikan hubungan bisnis antara keluarga kita akan hancur malam ini juga, dan aku tidak akan pernah sudi melihat wajahmu lagi seumur hidupku!"

Rachel membeku di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu, dan seluruh keberaniannya menguap runtuh. Ia belum pernah melihat Reza semarah ini seumur hidupnya, apalagi kemarahan itu dipicu hanya karena seorang wanita yang statusnya berada jauh di bawah mereka.

"Pulang, Rachel," potong Reza dingin tanpa sudi menatap wajah wanita itu lagi. "Pergi dari sini sekarang juga sebelum aku memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar. Jangan membuat keributan yang tidak berguna di tempat ini."

Dengan perasaan hancur, malu, dan dendam yang membara di dalam dada, Rachel akhirnya menyambar tas mewahnya dengan kasar. Ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar rawat dengan hentakan kaki yang keras, membanting pintu kayu jati itu hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema di seluruh ruangan.

Reza menyandarkan kepalanya kembali ke tumpukan bantal dengan helaan napas lelah yang teramat sangat. Pikirannya kembali melayang pada Hani. Ia merutuki dirinya sendiri karena membiarkan Hani pergi dalam kondisi terluka lagi oleh perkataan orang-orang di sekitarnya.

Sementara itu, di luar gedung rumah sakit, Rachel berdiri di lobi sambil mencengkeram tali tas mewahnya hingga jemarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah jalan raya, tempat di mana taksi yang membawa Hani baru saja berlalu beberapa menit yang lalu.

"Hani Adisa Putri..." desis Rachel dengan senyuman licik yang mengerikan di balik bibirnya yang merah merona. "Kamu sudah berani merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Kita lihat saja, seberapa lama kamu bisa bertahan di sisi Reza setelah ini."

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!