Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal Kencan Lagi
Setelah perpisahan terjadi, kini Ayra dan Bagas menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan perjalanan hidup yang tak begitu mudah di setiap hari-hari mereka lewati. Ayra terpaksa pergi meninggalkan Jakarta hanya untuk menjauhkan dirinya dari Bagas selama 2 tahun. Dan kini Ayra memantapkan diri tinggal di kota Palembang, bukan hanya karena suatu pekerjaan saja, melainkan sesuatu alasan pribadi menyangkut hatinya dan perasaannya.
Sebenarnya Ayra bisa saja pulang balik Jakarta - Palembang, namun karena alasan utamanya adalah Bagas, jadi hingga saat ini Ayra memantapkan diri untuk tinggal di Palembang bersama dengan temannya. Dia tinggal di sebuah kos-kosan, berdua dengan temannya. Hidupnya kini bahagia, tapi jangan sangka dibalik kebahagiaannya itu adalah semuanya palsu, alias bohongan.
Ya bilangnya move on, tapi hingga sekarang Ayra nyatanya masih belum bisa melupakan bayang-bayang Bagas, yakni mantan kekasihnya. Hem begitulah manusia, terkadang hati dan pikirannya tidak sejalan. Apalagi mulutnya tidak sesuai dengan hatinya saat dia berkata.
"Woiiiii masakan loe gosong tuh, Ay!" Jerit Stevi yang membuat Ayra menyadarkan dirinya dari lamunan.
"Akhhh, astaga ... yahhh gosong," keluh Ayra sembari mematikan kompor gas.
UHUK UHUK UHUKKK
Ayra dan Stevi terbatuk sambil menebas-nebas tangan mereka ke udara pada kepulan asap yang berada di depan mereka. Gosongnya masakan yang dibuat oleh Ayra menimbulkan bau menyengat yang tidak enak ditambah kepulan asap yang lumayan banyak membuat mereka tidak sengaja menghisapnya hingga sampai nyelekit di tenggorokan.
"Kamu kenapa sih, Ay selalu nggak fokus kalau dekat-dekat tahun baru? Jangan bilang kamu masih ingat sama mantan kamu itu?" Stevi geleng-geleng kepala dan berdecak kesal.
"Berhenti mikirin Bagas. Mungkin hidup dia jauh lebih bahagia dari kamu, paham!" Tegas Stevi menghela nafasnya kasar, apalagi melihat Ayra hanya diam saja.
Memang benar bahwa dulu kisah awal mula Ayra dan Bagas meresmikan hubungan mereka ketika bertepatan dengan tahun baru. Saat itu Bagas menyatakan cinta pada Ayra dan karena itu lah Ayra mengingat kenangan mereka sampai sekarang. Pikiran dan hatinya masih terbayang-bayang oleh Bagas, Bagas dan Bagas.
Kini Stevi yang menatap Ayra, lalu beralih meninggalkan Ayra sendirian di dapur. Sedangkan Ayra masih menatap masakannya yang gosong sambil mengusap air matanya yang perlahan jatuh di pipinya. Dia pun takut bila dia menangis apalagi sampai ketahuan Stevi. Maka pasti akan ketahuan bila memang benar Ayra sedang memikirkan Bagas.
"Bagas, apa kabar kamu? Maaf karena aku masih sangat merindukanmu," lirih Ayra dengan pandangan kosong, entah apa yang ia tatap di depannya.
Ya, nyatanya sampai sekarang ini Ayra memang masih belum bisa melupakan Bagas. Move on sih, tapi permasalahannya ada pada hatinya yang masih banyak menyimpan rasa bersalahnya terhadap Bagas. Tapi sayang, Bagas tidak mengetahui hal itu.
*******
Di lain tempat, Bagas kini menjalani aktivitas di kantor. Dia bekerja di perusahaan keluarganya sendiri, dan sekarang dia telah resmi menjadi CEO. Setelah kepergian Ayra, sosok Bagas kembali menjadi seorang pria yang tidak lagi sederhana, melainkan sosok pria yang kaya raya. Kalau soal wajah, tidak diragukan lagi bahwa Bagas memang berwajah tampan sejak dulu apalagi saat dia mempunyai hubungan dengan Ayra. Bagas begitu merawat penampilan dirinya.
Hal itu juga membuat Bagas memfokuskan dirinya dalam pekerjaannya. Dia tidak ingin membuat kecewa orang-orang disekitarnya. Perjalanan hidupnya bersama Ayra membuat dirinya sadar bahwa kejujuran adalah terpenting untuk setiap hubungan. Dan kini Bagas akan menunjukkan jati dirinya sebagai orang yang bisa dipercaya untuk masa depannya maupun pada pekerjaannya.
Sekarang ini Bagas sedang duduk di sebuah cafe sembari menatap ponsel miliknya dan sesekali menatap jam di tangan kirinya. Kelihatan bahwa Bagas sedang menunggu seseorang.
"Hai Bagas maaf ya, pasti kamu sudah menunggu lama kan?" seorang perempuan berlari ke arah Bagas hingga duduk di dekat dirinya.
"Baru sepuluh menit yang lalu, kok. Hei, kamu tambah cantik saja, Beb. Aku pangling loh," sela Bagas dengan senyumnya kemudian memeluk perempuan yang dipanggil Beb itu.
"Ih, gombal deh. Kayak nggak ketemu bertahun-tahun saja, padahal kita sering video call, hemm!" Perempuan itu cemberut dengan memajukan bibirnya.
Bagas tertawa melihat tingkat perempuan itu.
"Ih gemes banget sih kamu. Tambah sayang aku sama kamu, tau nggak!" Bagas mencubit pipi perempuan itu.
"Aww, sakit. Hanya aku yang gemes kan?" Tanya si perempuan itu.
Bagas yang tadinya tersenyum kini tampak mendatarkan ekspresi wajahnya, lalu menghela nafasnya dalam.
"Sorry, bukan maksudku untuk...," ucap perempuan itu terhenti.
Bagas langsung memotong perkataannya, karena seketika itu Bagas mengingat wajah seseorang, yaitu Ayra Grizelle.
"Ssstttt, udah Beb ... pokoknya kamu yang paling gemes, cantik dan ngangenin tau nggak," tutur Bagas mengalihkan pembicaraan.
Mereka berdua bercanda bersama melepaskan rindu seperti sepasang kekasih yang telah lama terpisah.
"Aku ke toilet dulu ya," ucap perempuan itu.
"Ya Beb," sahut Bagas mengembangkan senyumannya.
Tak lama itu, Bagas mengalihkan pandangannya pada ponsel miliknya yang langsung dia raih di atas meja. Dia pun menghubungi seseorang.
"Bagaimana, apakah semuanya masih aman?" Tanya Bagas.
"Sangat aman, Tuan. Dia juga baik-baik saja," sahut seseorang pria menjawab pertanyaan Bagas.
"Good job, kabarkan seperti biasa besok," Bagas langsung mematikan sambungan teleponnya.
Bagas pun tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
"Aku merindukanmu Ayra," gumam Bagas lirih.
*******
Hari ini tepat di hari libur, Ayra mengadakan pertemuan dengan temannya, tepatnya teman laki-laki sekantor dengannya. Hanya berdua saja. Ayra berdandan yang sederhana dan terlihat cantik. Sebenarnya Ayra sangat malas sekali bila ada teman laki-laki yang mengajaknya untuk pergi, ya bisa dibilang kencan. Tapi bagaimana lagi, Ayra tidak ingin berlarut dalam kenangannya bersama masa lalu. Dan Ayra memantapkan untuk melupakan Bagas.
Menurut Ayra cara untuk melupakan masa lalunya adalah menyetujui ajakan setiap teman lelakinya untuk berkencan. Ya siapa tahu hatinya terbuka untuk lelaki baru walaupun itu tidak mudah baginya. Ayra hanya bisa berusaha untuk tetap terus menjalankan kehidupannya tanpa beban pada kenangan masa lalu.
Tut Tut tutttt
Ayra mengangkat ponsel miliknya yang mendapat panggilan.
"Danu, kamu dimana? Sudah setengah jam loh aku nungguin kamu di rumah," tanya Ayra merasa kecewa.
Ayra saat ini sedang duduk di teras rumah kontrakan sambil menunggu Danu, teman kencannya sekaligus teman sekantornya.
"Ay, maaf ya tadi ban mobil aku tiba-tiba bocor di jalan dan sekarang sedang diperbaiki, tapi nyatanya harus ke bengkel dan membutuhkan waktu lama, Ay. Bisa tunggu sebentar lagi, nggak?" ucap Danu beralasan. Dia berbicara gugup dan sedikit ketakutan di hatinya.
"Tunggu lagi? Cancel saja lah, aku sudah lelah dengan alasan kamu yang selalu itu itu terus," ucap Ayra sambil menutup sambungan teleponnya.
BRAKKK
Ayra membanting pintu dengan kesal. Ya siapa yang tidak marah, setiap kali dia ingin berkencan dengan seseorang pria selalu saja gagal. Alasannya juga sama persis seperti Danu. Yang ini lah yang itu lah. Dan kali ini terjadi kembali.
Sudah sekian banyaknya kencan yang akan Ayra jalankan selalu saja gagal. Mungkin ini sudah puluhan kali terjadi. Wow, miris banget perjalanan cinta Ayra. Ingin hatinya melupakan Bagas, tapi sayangnya kencan buta yang selama ini dinantikan dengan calon pasangan baru malah gagal total.
"Kenapa? Gagal lagi, Ay? Hahaha!" Ejek Stevi tertawa.
"Kenapa semua pria selalu mempermainkan aku? Apa salahku?" sahut Ayra dengan membanting tubuhnya ke kasur dengan wajah murung.
"Eh, jangan-jangan Bagas udah nyumpahi kamu agar kamu nggak laku-laku, hahaha ... ups," lagi-lagi Stevi tertawa.
"Seneng ya kalau temen lagi susah, dasar jahat!" kesal Ayra membalikkan badannya seolah menangis.
"Ya, maaf Ay. Lagian, ini sudah yang kesekian kalinya kamu kencan nggak pernah mulus, selalu gagal. Aku jadi berpikir kalau...," Stevi menjeda kalimatnya dengan ragu dan takut menyinggung Ayra.
"Karma buat aku, gitu maksud kamu, kan? Huaaa huaaa," tangis Ayra pecah seperti anak kecil.
Stevi garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia menyesal telah membuat Ayra menangis.
"Eh, Ay ... jangan nangis dong. Maafin aku yah," ucap Stevi sambil memeluk Ayra penuh penyesalan.
*******
Di lain tempat, seorang pria baru saja mengakhiri panggilan telepon dengan seseorang yang lain. Senyumnya terukir indah. Dia sangat bahagia dan bersemangat. Dia adalah Bagas.
"Walau raga kita berjauhan, aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia bersama pria manapun, Ayra. Karena kau hanya milikku!" gumam Bagas dengan senyum smirk.
Bagas memutar-mutar kursi duduknya sambil bersenandung ceria, tak lupa senyumnya dia kembangkan dengan lebar.
Bersambung....