Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Istri Gue
"Coba aku telepon deh. Aneh deh malam Minggu telepon dan aku sudah bilang ini waktu bersama keluarga," sungut Daisy kesal.
Dokter Lucky menerima pesan dari Fikri yang memang bertugas di sana. Fikri biasanya libur di hari Minggu.
📩 Fikri Tukang Makan : Ada Dok. Ada dua mayat memang. Kebetulan Dok Adiwilaga sedang di sini tapi dokter forensik yang jaga masih sibuk autopsi mayat lain. Dokter Ginanjar dihubungi sedang ada acara lamaran adiknya jadi tidak bisa.
"Selamat sore dokter Adiwilaga. Ada apa?" tanya Daisy sambil me loud speaker ponselnya agar dokter Lucky ikut mendengar.
"Ini Dok, ada dua jenazah datang kiriman dari satreskrim. Sayangnya dokter Ginanjar sedang lamaran adiknya dan dokter Lila masih autopsi jenazah lain. Keduanya korban kejahatan," jawab dokter Adiwilaga dengan nada lembut tapi sok tegas.
Dokter Lucky menyipitkan matanya di ponsel Daisy. Awas dia! Pebinor aku cukup Winston almarhum!
Nyaris Daisy terbahak melihat wajah judes suaminya yang terlihat sangat cemburu. Dia hanya mengelus pipi suaminya dan mencium pipinya.
"Baik Dok. Kami akan segera ke ME. Biar Mas Lucky bersiap dulu. Selamat sore," jawab Daisy sambil mematikan panggilannya.
Di seberang, dokter Adiwilaga yang hendak mengatakan datang sendiri, tertegun saat ponselnya hening. Dia menggeleng sebal.
"Laki Bini sama saja!" gerutunya kesal.
Dokter Lucky menatap Daisy. "Pakai gamis kalau perlu!"
Daisy auto terbahak. "Mas, mau kamu pakai gamis, mau pakai bikini, kalau otaknya udah nggak beres ya tetap saja tidak beres! Semua itu tergantung mindset. Sudah, gini saja, Mas Lucky antar aku terus kita tetap mesra seperti biasanya. Pasti panas deh tuh Jelaga."
"Iya! Si Fikri bilang memang ada mayat masuk! Kenapa bukan si Jelaga saja yang jadi mayat?" gerutu dokter Lucky dan langsung mendapatkan keplakan bahu dari Daisy.
***
Kenzie tiba di rumah dan tidak melihat mobil BMW ayahnya. Dua ekor anjing corginya langsung mendatangi dirinya dengan heboh.
"Gak bawa Tunjang! Rendang! Mas Kenzie nggak mampir ke pet shop buat beli camilan. Nanti pesan lewat online aja ya. Biar diantar. Oke?" ucap Kenzie ke kedua anjingnya yang langsung memasang wajah memelas.
"Mas Kenzie sih bilang mau bawain camilan," ejek Elina sambil menggendong Serundeng, kucing tri color nya. "Jadi nagih kan mereka."
"Yeeee, wong nggak bisa mampir juga. Kan Mas Kenzie nebeng Oom Steven. Sudah, aku pesan lewat online saja." Kenzie mengambil ponselnya dan mulai membuka aplikasi e-commerce dan memesan camilan anjing.
"Yang buat Oma Abon, yang empuk Mas. Giginya sudah nggak kuat," pinta Elina.
"Oke." Kenzie memang sudah diberikan kepercayaan punya m-banking sendiri meskipun isinya sekitar dua juta setiap bulan dari dokter Lucky. Tujuannya untuk hal-hal seperti ini atau kalau pulang naik ojek online.
"Mama dan Papa kemana dik?" tanya Kenzie setelah memesan camilan buat anjing-anjing dan kucingnya.
"Ke ME, Mas. Katanya ada jenazah korban kejahatan datang dan mereka kekurangan orang," jawab Elina.
"Malam Minggu begini?" Kenzie mengernyitkan dahinya. "Kenapa sih penjahat itu nggak nunggu Senin ya jahatnya. Biar kita bisa malam mingguan sama Papa dan Mama."
"Dih, orang berbuat jahat juga nggak lihat hari kali Mas!" sungut Elina gemas.
"Eh dik. Katanya Papa mau tukar tambah mobil Camry dan Mazdanya. Mama sudah oke sih," celetuk Kenzie.
Elina terkejut. "Lho? Kan itu hadiah ulang tahun."
"Iya. Tapi kata Papa sudah jadi motuba beneran. Adalah seumuran Mas Kenzie."
"Tapi kan masih bagus. Wong Papa ngerawatnya beneran," protes Elina. "Aku suka naik Mazdanya. Mau diganti apa Mas?"
"Belum tahu."
***
Medical Examiner RS Bhayangkara
Dokter Lucky memarkirkan BMW nya dan melihat ada AKP Ghafar yang datang bersama AKBP Teguh. Kedua anggota tim gabut itu terkejut saat melihat Daisy dan dokter Lucky datang.
"Lho Dok? Kok bersama Dok Lucky?" tanya AKP Ghafar.
"Jeng Daisy adalah My Istri Gue! Jadi wajar dong gue antar!" cebik dokter Lucky judes.
Kedua pria itu melongo. "Dok? Nggak salah makan tho?"
"Kagak! Gue habis makan seblak level seratus!" balas dokter Lucky sambil menggandeng tangan Daisy yang cekikikan.
"Dok, ente nggak doyan seblak," celetuk AKP Ghafar.
"Shut up Gaban!" sungut dokter Lucky.
Mereka pun masuk ke dalam ruang Medical Examiner dimana Fikri sudah menunggu. Pria itu menatap keempat tim gabut dengan perasaan tidak nyaman.
"Ada apa Fikri?" tanya Daisy.
"Dok, jenazahnya ... Transgender," jawab Fikri. "Ini mas Sanji sudah datang dan dia juga bingung."
"Apakah banci lagi korbannya?" tanya AKP Ghafar.
"Sepertinya," jawab Fikri.
Daisy menoleh ke dua anggota tim gabut. "Bapak-bapak, mari ikut ke acara autopsi."
AKBP Teguh menatap sebal ke Daisy. "Dok Daisy, kenapa kesannya dirimu mengajak ke ruang autopsi macam ajak ke mall sih?"
***
Dokter Lucky memilih duduk di kursi tunggu di luar ruang autopsi sambil membuka-buka web dealer mobil. Dirinya dan Daisy sudah sepakat untuk tukar tambah dua mobil yang merupakan kado ulang tahun masing-masing. Apalagi sudah lebih dari lima belas tahun usia mobil mereka.
"Ganti apa ya? Camry generasi terbaru atau Innova atau Fortuner lagi?" gumamnya. "Kalau yang Mazda ... ganti apa ya? CX-5 atau CX-9 ya?"
"Dokter Lucky?"
Dokter Lucky mengangkat wajahnya dan melihat dokter Adiwilaga berdiri di depannya. "Dok Je ... Eh, dokter Adiwilaga," senyumnya manis tapi tidak dengan matanya.
"Dimana dokter Daisy?" tanyanya sambil celingukan.
"My istri gue sedang autopsi di rumah autopsi bersama dengan Teguh dan Gaban. Apa Anda sudah selesai autopsi?" balas dokter Lucky.
"Sudah. Biar saya bantu dokter Daisy," ucap dokter Adiwilaga.
"Lebih baik tidak usah, Dok! Anda mau membantu apa? My istri gue sudah sangat kompeten di bidangnya dan Jeng Daisy sudah lebih dari lima belas tahun di sini! Atau ... Anda ada maksud lain terhadap My Istri Gue?" Dokter Lucky berdiri dengan wajah garang.
Dokter Adiwilaga menatap dokter Lucky. "Kenapa Anda berkata demikian?"
"Memangnya saya tidak tahu maksud Anda! Cari wanita lain, jangan My Istri Gue! Lagipula, Anda itu tidak ada seujung kukunya dari saya soal Jeng Daisy! Apa Anda mau dicap jelek oleh pegawai Anda di ME? Asal Anda tahu, di sini paling benci pebinor dan pelakor!" jawab dokter Lucky. "Anda jangan macam-macam!"
Dokter Adiwilaga tersenyum. "Anda tidak tahu kemampuan saya, Dokter Lucky."
"Ohya? Seperti yang Anda lakukan pada istri dokter di Semarang saat Anda masih koas?" ejek dokter Lucky. "Oh ya. Saya sangat tahu kelakuan Anda."
Dokter Adiwilaga melongo. Bagaimana dia tahu?
**
Yuhuuuu up Siang Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛