Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan Yang Terbesar
Talitha menggigit bibir bawahnya dengan sangat kencang, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit di pipinya sekaligus rasa malu yang teramat sangat karena ditampar di depan Jevan yang menurutnya memiliki status lebih rendah darinya. Namun, dia tidak berani membalas bentakan harimau Moretti tersebut dan hanya bisa berdiri mundur dengan napas yang memburu kasar di sudut dinding.
Di atas ranjang, Jevan yang menyaksikan pertengkaran hebat itu langsung membuka masker oksigennya dengan tangan yang gemetar hebat, wajahnya yang pucat mendadak dipenuhi ketegangan penuh. "Tuan... Tuan Besar... apa... apa maksud dari perkataan wanita ular itu? Tolong... tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi saat aku tidak sadarkan diri..."
Batara menghela napas berat, menatap Jevan dengan pandangan mata yang sarat akan keseriusan taktis. "Malam itu di pelabuhan, peluru musuh dari klan Black Eagle berhasil mengoyak pembuluh darah arteri di dalam dadamu, Jevan. Kau kehilangan terlalu banyak darah dan membutuhkan transfusi segera dengan golongan darah B negatif yang sangat langka. Stok di bank medis kita kosong, dan bank darah kota juga nihil. Pilihan satu-satunya yang tersedia di dalam seluruh area koordinat kita malam itu... hanyalah sampel darah murni milik Talitha yang memiliki kesamaan golongan darah denganmu. Terpaksa... aku mengambil keputusan untuk menggunakan darahnya demi menyelamatkan nyawamu."
Mendengar penjelasan jujur dari mulut tuannya sendiri, seluruh tubuh Jevan seketika menegang sempurna, seolah-olah dia baru saja disengat oleh aliran listrik bertegangan tinggi. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa penolakan, kemuakan, dan kehinaan yang teramat sangat di dalam jiwanya yang menjunjung tinggi kehormatan klan. Bagi seorang ksatria mafia seperti Jevan, menerima cairan kehidupan dari tubuh musuh yang licik dan berniat menghancurkan kebahagiaan tuannya adalah sebuah bentuk kutukan dan aib terbesar yang tidak akan pernah bisa dia terima sepanjang sisa hidupnya.
"Tidak... tidak mungkin... aku tidak sudi! Aku tidak sudi menerima darah kotor dari wanita ular ini di dalam tubuhku!!!" Teriak Jevan dengan suara yang serak dan parau, dipenuhi oleh emosi penolakan yang meledak-ledak dari dalam dadanya.
Dengan gerakan refleks yang sangat nekat dan liar di luar kendali akal sehatnya, Jevan mengangkat tangan kanannya yang masih terpasang selang jalur infus transfusi darah. Tanpa memedulikan rasa sakit yang merobek dagingnya, dia menyentak dan mencabut jarum kanula besar itu dari pembuluh darah lengannya secara paksa dengan satu tarikan kasar.
Sret!
Darah segar seketika menyembur keluar dari bekas lubang tusukan jarum di lengan Jevan, membasahi seprai rumah sakit yang putih bersih menjadi merah pekat dalam sekejap. Dengan tubuh yang masih sangat lemas, gemetar, dan tidak bertenaga, Jevan memaksakan dirinya untuk menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, mencoba berdiri tegak di atas lantai marmer yang dingin meskipun seluruh sendinya terasa lumpuh.
Tangan kirinya yang bebas bergerak cepat ke atas meja nakas di samping tempat tidur, menyambar sebilah pisau buah berbahan baja tajam yang terletak di dalam keranjang hadiah di sana.
"Jevan! Apa yang kau lakukan, bodoh?! Hentikan!" bentak Batara, melangkah maju hendak merebut pisau tersebut.
"Jangan mendekat, Tuan Besar! Aku mohon jangan mendekat!" teriak Jevan histeris, mengarahkan mata pisau tajam itu tepat di atas permukaan kulit pergelangan tangan kirinya sendiri, bersiap untuk memberikan sayatan dalam di sana. Napasnya memburu kasar, dan matanya dipenuhi air mata kehormatan yang tumpah. "Aku... aku lebih baik mati saat ini juga! Aku lebih baik membusuk di dalam liang kubur daripada harus melanjutkan hidup dengan membawa darah kotor milik wanita terkutuk ini mengalir di dalam organ tubuhku! Aku akan menyayat pergelangan tanganku sekarang juga... aku akan mengeluarkan setiap tetes cairan menjijikkan miliknya ini dari dalam pembuluh darahku dan mengembalikannya kepada pemiliknya! Biarkan aku mati dengan kehormatan sebagai anggota Inferno yang bersih, Tuan!!!"
"JEVAN!!!" raung Batara dengan amarah yang telah mencapai batas kesabaran tertingginya.
Dengan kecepatan mafianya yang berada di luar jangkauan reaksi manusia biasa, Batara melangkah maju satu langkah besar, tangan kanannya bergerak seperti kilatan petir menghantam pergelangan tangan Jevan yang memegang pisau hingga benda tajam itu terlepas dan jatuh berdenting di lantai. Detik berikutnya, tangan kiri Batara mengepal kuat dan melayangkan sebuah pukulan keras yang telat mengenai rahang Jevan, membuat tubuh lemas asistennya itu terkapar kembali di atas ranjang medis dengan sudut bibir yang pecah mengeluarkan darah.
Brak!
Suara pintu ICU terbuka kasar, dan tiga orang dokter senior beserta lima perawat berlari masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang dipenuhi ketakutan yang luar biasa melihat kericuhan berdarah tersebut. Mereka segera bergerak sigap, menahan tubuh lemas Jevan yang masih mencoba memberontak di atas kasur, sementara perawat lainnya dengan cekatan menekan pendarahan baru di lengan Jevan menggunakan kain kasa steril.
Batara berdiri kokoh di samping ranjang, dadanya naik turun dengan cepat menahan laju amarahnya yang meledak-ledak. Tatapan matanya menatap lurus ke dalam sepasang mata Jevan dengan dingin yang membekukan udara di sekeliling mereka.
"Dengar aku dengan baik, Jevan!" Ucap Batara, suaranya terdengar sangat rendah, bergetar oleh otoritas tertinggi seorang raja mafia yang tidak boleh dibantah oleh siapa pun, bahkan oleh orang kepercayaannya sendiri. "Aku telah mengorbankan banyak hal, mengorbankan ego, dan membuang harga diri ini hanya untuk memastikan bahwa kau... kau tetap hidup untuk mendampingi takhta kekuasaanku di klan ini! Jika kau... jika kau berani melayangkan pisau itu lagi dan mengeluarkan sebutir pun cairan darah dari dalam tubuhmu tanpa izin resmiku... maka mulai detik ini juga, kita... kita tidak perlu saling mengenal lagi satu sama lain di dunia hitam ini!" Kalimat terpanjang yang pernah Jevan dengar dari mulut seorang Batara Moretti.
Jevan tersentak membeku di atas bantalnya, matanya menatap wajah tegas Batara dengan pandangan tidak percaya yang teramat sangat. Kalimat tuannya terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan pukulan di rahangnya tadi.
"Pergilah... pergilah menjauh dari seluruh distrik kekuasaan klan The Inferno jika kau memang memilih untuk menjadi seorang pengecut yang mati karena ego bodohmu sendiri, Jevan!" lanjut Batara dengan nada suara yang sangat kejam dan final, membalikkan badannya dengan cepat tanpa berniat menoleh ke belakang lagi. "Urus dia sampai tenang! Pasang kembali infusnya, atau kepala kalian semua yang akan menjadi taruhannya!" Perintah Batara kepada tim dokter sebelum melangkah lebar keluar dari ruang itu, meninggalkan atmosfer ruangan yang dipenuhi oleh bau darah segar dan ketegangan maut yang kian mencekam takdir masa depan klan mereka.
gx tega iikh kak liat sonyaa di sakitin trus ,,
ayoo laa kak sx aj jadiin si Sonya wonder woman ,,
atau kasih kekuatan dikit ,, buat nampol si thalita ,, 😒😒😒😒
terlanjur sakit dan kecewa
Hilang saja kau dr muka bumi ini
karena itu tanda dia berarti bt muu
dan kau jadi terbiasa kan Sonya