Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
SELAMAT MEMBACA !!!
Siang harinya, setelah selesai makan siang, Kapten William keluar dari ruang kerjanya. Ia hendak menemui Serma Yoga untuk mengetahui hasil dari pertemuan yang dilakukan bersama Pak RT tadi pagi.
"Serma Yoga...!" panggil Kapten William.
"Siap, Kapten. Mohon maaf kami telat makan, Kapten. Tadi saya bersama Serda Feri dan kopda Haris berkeliling menemui para pemuda di lingkungan sekitar, mengundang mereka untuk datang ke Markas nanti sore, Kapten!" seru Serma Yoga menjelaskan keterlambatannya mereka makan siang.
"Silahkan dilanjutan makannya. Saya hanya ingin tau, bagaimana hasil pertemuannya dengan Pak RT tadi?" tanya Kapten William dudu bergabung bersama mereka.
"Kami sudah bertemu dengan beliau, Kapten. Hanya saja Pak RT bertanya berapa kira-kira jumlah orang yang dibutuhkan. Saya sampaikan agar seluruh warga yang berminat bekerja dalam pembanguan datang ke sini, agar mereka bertemu langsung dengan Kapten," jawab Serma Yoga sambil menyantap makan siangnya, walaupun seakan nggak sopan.
Tapi Kapten William selalu menekan, kalau waktu istirahat begini, diminta berbicara santai jangan
terlalu formal karena umur mereka seumuran.
Dan benar saja, baru juga Serma Yoga berhenti berbicara. Para warga bersama Pak Rt, mendatangi Markas Kodam Jaya. Satpam depan yang nggak tau soal ini, langsung melaporkannya kepada Jendral Agus, beliau takut akan ada demo di Markas Kodam Jaya.
"Silakan masuk, Bapak‑bapak semuanya! Mari ikut saya ke gedung pertemuan, supaya kita bisa berbincang dengan lebih nyaman dan leluasa," ajak Kapten William menyambut rombongan warga bersama Pak RT. Sebelumnya, ia sudah menelepon Cafe Tiga Saudara untuk mengirimkan kue dan camilan guna menjamu mereka.
"Silakan masuk semuanya, dipersilakan!" ujarnya lagi sambil membuka lebar pintu aula dan menyalakan pendingin ruangan agar suasana lebih sejuk.
Seluruh anggota yang sedang tidak menjalankan tugas khusus pun turut diundang untuk hadir dan berkumpul bersama di sana.
"Mohon izin bertanya dulu, apakah seluruh warga yang hadir ini berminat bekerja dalam proyek pembangunan, Pak RT?" tanya Kapten William.
"Benar, Kapten. Semua yang ada di sini ingin ikut bekerja. Apakah diperbolehkan semuanya ikut, meskipun sebagian besar hanya berpengalaman sebagai tenaga kasar saja?" tanya Pak RT dengan ragu.
Kapten tersenyum ramah sambil mengangguk. "Tentu saja boleh. Kalau boleh saya ketahui, apakah ada di antara Bapak‑bapak yang biasa bekerja sebagai kontraktor atau pengawas? Dan kira‑kira berapa orang yang sudah ahli sebagai tukang bangunan?" tanyanya kembali.
"Untuk kontraktor ada satu orang saja, Kapten. Kalau bagian pengawas, bukankah lebih baik ditugaskan dari kalangan anggota Bapak sendiri? Sedangkan untuk tukang ada lima orang, sisanya siap bekerja sebagai tenaga kasar atau Kuli," jelas Pak RT.
"Baiklah, Saya akan mengatur yang bagian pengawas dan yang bagian pengelola proyeknya. Begini Bapak-bapak semua. Sebenarnya proyek ini untuk memindahkan warga yang tinggal di bawah jembatan sana. Tapi pagi ini saat saya bersama anggota ke sana. Warga di sana akan digusur oleh perusahaan yang tidak bertanggung jawab dan hanya dikasih waktu satu bulan ke depan.
Maksud saya, kalau bisa pembangunan ini harus sudah jadi sebelum mereka digusur. Mereka hanya diberi waktu sebulan untuk meninggalkan tempat itu tanpa kepastian ke mana harus pergi," ucap Kapten William menjelaskan keadaannya sekarang.
"Mohon izin bertanya, Kapten?" ucap salah satu anggota yang turut hadir.
"Silakan saja, sampaikan apa yang ingin ditanyakan," jawab Kapten William memberi kesempatan.
"Kalau mereka digusur, seharusnya tetap berhak mendapat ganti rugi bukan, Kapten? Walaupun tempat itu bukan tanah milik mereka sendiri, setidak ganti rugi pembangunan rumahnya itu juga menggunakan dana nggak sedikit," tanyanya lagi.
"Hmm... justru di situlah letak masalahnya, Kopda. Seharusnya, jika perusahaan itu bertanggung jawab, mereka tetap harus memberikan ganti rugi sebagai pengganti tempat tinggal yang sudah dibangun warga itu sendiri. Namun kenyataannya mereka tak mendapatkan ganti rugi, Kopda. Tapi jangan khawatir, kita harus bantu mereka mendapatkan ganti ruginya walaupun hanya sedikit. Saya sudah tau perusahaan itu ilegal dan kita harus menekannya untuk mengeluarkan dana ganti rugi buat warga di sana," jawab Kapten William.
"Siap, Laksanakan!! Kapten. Kami berjanji akan membantu mereka dan untuk tenaga kuli, kami juga siap untuk membantu dalam proyek pembangunan ini," Kopda Arif dan semua anggota menganggukan kepalanya.
"Terima kasih kerja samanya untuk semuanya.
"Baiklah. Kepada Bapak kontraktor yang ada di sini, pastikan nanti bahan yang digunakan benar‑benar berkualitas dan kokoh. Rencananya akan dibangun gedung setinggi sepuluh lantai, dengan dua puluh unit kamar hunian di setiap lantainya. Nanti akan ada perancang dari Perusahaan Adhitama yang mendesain gambarnya dan rincian pembangunannya. Kalau Bapak sekalian mengenal teman atau kerabat yang menjadi tukang maupun kontraktor. Silakan ajak mereka bergabung. Syarat utamanya, orang yang dapat dipercaya dan masih tinggal di lingkungan sekitar ini," pesan Kapten William dengan tegas.
Tok tok tok
Pintu dibuka dari luar.
"Mohon izin, Kapten. Saya mau mengantarkan pesanan dari Cafe Tiga Saudara, Kapten," ucapnya sambil membawa tiga dus jajanan.
"Baik, terima kasih. Sertu Dimas! Tolong dibantu bagikan kepada semua yang ada disini. Dan yang dua dus buat nanti sore, katanya mau ada pertandingan Voli, jadi nggak ?" tanya Kapten.
"Jadi dong!" seru mereka serempak.
Kapten William tersenyum melihat semangat yang terpanjar dari wajah anak buahnya.
"Ayo silahkan dinikmati jajanannya, sambil lanjutkan pembicaraan tadi. Jadi, Bapak-bapak sekalian, besok pagi kita berangkat dan berkumpul di tanah lapang di dekat perumahan Griya Laksana, ya!" pesan Kapten William kembali menegaskan.
Tok tok tok
"Silahkan masuk..!" seru Kapten William.
Semua yang ada di ruangan serentak menoleh ke arah pintu, dan rasa kaget menyelimuti mereka saat melihat siapa yang baru saja berdiri di sana.
Kapten William segera berdiri tegak, diikuti seluruh anggota lain yang hadir, lalu mereka serentak memberi penghormatan kepada Jenderal Agus yang baru saja tiba.
"Mohon maaf sebesar-besarnya, Jendral atas ketidak tahuan kami, sehingga kami tidak bisa menyambut kehadiran Jendral beserta rombongan dengan layak!" seru Kapten merasa ia dan anak buahnya tidak ada kesopanan.
Jenderal Agus mengangkat tangan membalas penghormatan mereka, lalu tersenyum ramah memberi isyarat agar semua kembali duduk.
"Tidak perlu meminta maaf. Saya sengaja tidak memberi kabar sebelumnya. Saya ingin tahu alasan warga berbondong‑bondong datang ke markas ini? Kami khawatir hal itu berkembang menjadi unjuk rasa besar, makanya saya beserta rombongan datang langsung ke sini," ucapnya tenang sambil melangkah menuju kursi kosong di sebelah Kapten William lalu duduk.
Kapten William duduk tegak lalu mulai menceritakan kejadiannya.
"Warga berkumpul di sini atas arahan saya, Jenderal. Sama sekali bukan dengan maksud menimbulkan keributan. Ini bermula dari rencana sederhana untuk membagikan nasi kotak di lingkungan markas dan bagi warga yang tinggal di bawah jembatan. Ketika saya pertama kali melihat langsung keadaan mereka, hati saya terasa tersayat menyaksikan ketidakadilan itu. Bagaimana mereka bertahan hidup sekuat tenaga dengan apa adanya, tanpa mendapat perhatian maupun bantuan apa pun dari pihak berwenang..." jelas Kapten William dengan nada suara yang tulus dan serius.
alhamdulillah smoga apapun kedepannya nanti tak merubah ksh sayang dan kluarga besar mereka