Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: RETAK FINAL
Langit Jakarta pagi itu tidak benar-benar cerah.
Seperti ada sesuatu yang menahan cahaya agar tidak jatuh sepenuhnya ke bumi.
Di ruang medis Rafardhan Group, Arsen terbaring dengan mata terbuka.
Tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Monitor di sampingnya menunjukkan detak jantung stabil.
Tapi otaknya…
tidak sepenuhnya berada di sana.
Baskoro berdiri di ujung ruangan.
“…Tuan Arsen sudah sadar secara fisik.”
Dokter mengangguk pelan.
“Tapi respons kognitifnya belum sinkron.”
Baskoro menatap Arsen.
“…dia seperti masih di tempat lain.”
Di dalam kepala Arsen.
Sunyi bukan berarti kosong.
Ia berdiri di ruang putih.
Tapi ruang itu kini retak.
Seperti kaca yang tidak pecah, hanya menunggu sedikit tekanan lagi.
“…aku masih di sini.”
Suara Arsen bergema.
Tapi tidak ada jawaban.
Lalu suara itu muncul.
Bukan EL.
Bukan sistem.
Lebih dalam.
Lebih tua.
“KAMU TIDAK KELUAR SEPENUHNYA.”
Arsen menutup mata.
“…aku sudah kembali.”
“TUBUHMU YA.”
“TAPI JEJAKMU TIDAK.”
Retakan di ruang itu melebar.
Dan dari celahnya…
terlihat sekolah.
Anya.
Selene.
Dan dirinya sendiri.
Tapi semuanya bergerak tidak sinkron.
Seperti video yang terlambat beberapa detik dari kenyataan.
Arsen membuka mata.
“…jadi aku masih terhubung.”
Jawaban datang:
“TERHUBUNG ADALAH KONDISI NORMAL.”
“YANG TIDAK NORMAL ADALAH MENYADARINYA.”
Di dunia nyata.
Anya berdiri di dalam ruang kontrol bawah tanah.
Bukan lagi di mobil.
Bukan lagi di permukaan.
Layar di depannya penuh dengan error merah.
Tulus berdiri tegang di belakangnya.
“…Queen… Layer 2.7 tidak tertutup. Dia bocor ke sistem utama.”
Anya tidak menjawab langsung.
Matanya fokus pada satu garis data.
“…bukan bocor.”
Ia berhenti.
“…dia membawa sebagian Layer keluar.”
Tulus terdiam.
“…itu tidak pernah terjadi sebelumnya.”
Anya mengangguk pelan.
“…karena tidak ada yang pernah sadar di dalamnya.”
Tiba-tiba alarm berbunyi.
“ANOMALI EKSTERNAL TERDETEKSI: ARSENIO RAFARDHAN”
Tulus langsung menoleh.
“…dia… terdeteksi di sistem kita?”
Anya menatap layar.
Dan untuk pertama kalinya—
wajahnya sedikit tegang.
“…dia tidak lagi hanya subjek.”
Ia berhenti.
“…dia sudah jadi node.”
Tulus menelan ludah.
“…node apa?”
Anya menjawab pelan:
“node yang tidak bisa dimatikan dari luar.”
Sunyi.
Di dunia nyata.
Arsen duduk perlahan di ranjang rumah sakit.
Baskoro langsung maju.
“Tuan, jangan bergerak terlalu cepat.”
Arsen mengangkat tangan.
“aku baik-baik saja.”
Tapi matanya tidak.
Ada sesuatu di dalamnya.
Seperti pantulan dua dunia sekaligus.
Baskoro ragu.
“…apa yang Anda lihat di sana?”
Arsen terdiam beberapa detik.
“…bukan lihat.”
Ia menatap tangannya.
“…aku masih merasakan.”
Baskoro mengerutkan dahi.
“merasakan apa?”
Arsen menjawab pelan:
“sistem yang mencoba mengatur ulang kenyataan.”
Sunyi.
Di ruang kontrol Anya.
Semua layar tiba-tiba berubah.
Bukan error.
Tapi akses terbuka.
Tulus langsung panik.
“…Queen, ini tidak mungkin! Dia membuka firewall kita dari dalam!”
Anya menatap layar.
“…dia tidak membuka.”
Ia berhenti.
“…dia hanya mengingat jalannya.”
Salah satu layar menampilkan nama:
ARSENIO RAFARDHAN
STATUS: OBSERVER NODE
Tulus membaca itu pelan.
“…observer?”
Anya menatapnya.
“…artinya dia bisa melihat sistem, tapi juga dilihat balik.”
Tiba-tiba layar lain menyala.
Dan satu pesan muncul.
“ANYA CLARISSA TERDETEKSI”
Anya tidak bergerak.
Tapi untuk pertama kalinya…
napasnya sedikit terhenti.
“…dia sudah bisa melihat aku juga.”
Di rumah sakit.
Arsen menatap jendela.
Dan di luar sana…
dunia terasa sedikit berbeda.
Seperti ada lapisan tipis transparan di atas realitas.
Ia berbicara pelan.
“…Anya.”
Tidak ada jawaban.
Tapi di ruang kontrol bawah tanah, Anya menutup mata sesaat.
“…dia sudah sadar.”
Tulus menatapnya.
“…tentang apa?”
Anya membuka mata.
Dan kali ini tidak ada keraguan.
“…tentang aku yang dulu.”
Sunyi.
Di dalam sistem EL.
Sesuatu yang lama terkunci akhirnya bergerak.
“PROTOKOL RETAK FINAL TERDETEKSI”
Dan untuk pertama kalinya…
EL tidak lagi berbicara seperti sistem.
Tapi seperti sesuatu yang takut kehilangan kendali.
Di antara dua dunia itu—
Arsen dan Anya saling “melihat” tanpa benar-benar bertemu.
Dan batas terakhir antara pembuat dan yang dibuat…
mulai runtuh perlahan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏