NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Rumah keluarga Daneswara malam itu dipenuhi gelak tawa dan aroma kue manis yang dibawa oleh Eliza. Di ruang keluarga yang luas, seluruh anggota keluarga berkumpul. Papa Doni duduk di sofa sembari tersenyum lebar, di sampingnya ada Kakek Horison yang tampak bugar di usianya yang senja. Saka, dengan setelan santainya, sibuk menggoda Eliza tentang keberhasilannya diterima di Apex Core.

Di karpet bulu yang sudah di pastikan steril, Maudi tampak telaten mengawasi kedua anak kembar laki-lakinya yang baru berusia dua tahun. Bocah-bocah kecil itu sedang aktif-aktifnya berlarian, sesekali merayap ke pangkuan Eliza, menambah riuh suasana.

"Jadi, sekretaris utama Tuan Malik Ibrahim?" tanya Saka sembari mengambil sepotong kue. "Hebat kamu, Za. Itu posisi yang jadi rebutan orang-orang ambisius di luar sana."

Eliza tersenyum lebar, wajahnya merona bahagia. "Iya, Kak Saka. Alhamdulillah. Tapi..." Eliza menjeda kalimatnya, tiba-tiba teringat kejadian di parkiran tadi. Wajahnya seketika memerah mengingat sosok laki-laki bernama Faas. "Tadi sebelum pulang, Eliza sempat kena musibah. Ada perampok. Tapi untungnya... ada seorang laki-laki yang nolongin Eliza. Dia hebat banget, Kak. Dan... kami sempat kenalan."

Maudi yang sedang memegangi salah satu anak kembarnya langsung mendongak, menatap saudara nya dengan senyum penuh arti. "Oh? Sudah ada yang membuat saudara ku ini merona ya? Siapa namanya?"

"Namanya Faas, Kak," jawab Eliza pelan, menyembunyikan senyumnya di balik cangkir teh.

Maudi tersenyum penuh arti "wah Faas, ternyata targetmu adalah saudara ku, tenang saja, aku akan membantumu" gumam Maudi dalam hati.

Di ruangan yang penuh kasih itu, Eliza merasa hidupnya akhirnya berjalan ke arah yang benar. Sah menjadi sekretaris, dan baru saja mengenal seorang laki-laki yang menggetarkan hatinya.

____

Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, sebuah mobil sedan hitam sederhana memasuki baru memasuki pelataran rumah mewah milik keluarga Husen Abrari. Faas turun dari mobil dengan wajah yang sepenuhnya datar, tak ada ekspresi apapun. Kehangatan yang sempat ia rasakan saat berkenalan dengan Eliza di parkiran tadi sore seketika menguap begitu ia melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri.

Malam itu, ruang kerja Husen sudah dipenuhi oleh orang-orang yang siap menghakiminya.

Husen Abrari duduk di kursi kebesarannya dengan wajah tegas yang menuntut. Di sofa ruangan, Jihan duduk sembari melipat tangan, didampingi Gavin yang menatap Faas dengan pandangan meremehkan , serta Jenita yang masih memasang wajah ketus karena kejadian di club kemarin malam.

"Duduk, Faas," perintah Husen, suaranya berat dan menggelegar.

Faas melangkah tenang, lalu duduk di kursi tunggal di hadapan ayahnya. Ia melirik sekilas ke arah ibunya, Diana. Faas tahu, ini adalah sidang untuknya.

"Usiamu sudah dua puluh delapan tahun, Faas. Bukan usia yang muda lagi untuk luntang-lantung tidak jelas!" Husen memulai dengan nada tinggi. "sepuluh tahun kamu di Amerika, pulang-pulang tidak membawa pencapaian apa pun. Papa tidak mau punya anak sulung yang dicap pengangguran dan jadi beban keluarga!"

Husen melemparkan sebuah map dokumen ke atas meja, tepat di depan Faas.

"Besok, kamu datang ke kantor pusat Abrari Group. Papa sudah menyiapkan posisi staf tertinggi di salah satu divisi untukmu. Ini hanya formalitas! Biar orang-orang luar tahu kamu bekerja, bukan cuma mendekam di rumah. Atau berkeliaran di jalan dengan mobil bututmu, padahal papa sudah memberikan mu mobil , Kamu harus belajar berbisnis dari Gavin!" lanjut Husen mutlak.

Gavin terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Iya, Kak Faas. Masuk saja ke divisi saya. Nanti saya ajari bagaimana caranya memimpin rapat dan menghasilkan uang miliaran. Tapi ya... jangan kaget kalau nanti kinerjamu terus dipantau, karena di Abrari Group tidak menerima orang yang cuma bisa diam."

Jenita ikut menimpali dengan nada meremehkan yang kencang. "Ih, Papa baik banget sih masih mau kasih jabatan formalitas. Sadar diri dong, Kak. Kalau kamu tidak mulai bekerja di perusahaan Papa, mana ada perempuan terhormat yang sudi jadi istrimu? Siapa yang mau sama laki-laki pendiam, miskin, dan tidak punya masa depan?"

Jihan tersenyum puas mendengar tusukan kalimat anak-anaknya. Ia menatap Husen. "Benar kata anak-anak, Mas. Faas ini harus dipaksa. Kalau tidak, dia cuma akan jadi aib yang merusak nama besar Abrari Group di mata kolega kita."

Di tengah rentetan makian, tuntutan, dan pandangan rendah dari keluarganya, Faas tetap duduk dengan posisi tegap. Tangannya bertumpu tenang di atas lutut. Tidak ada urat wajahnya yang menegang, tidak ada amarah yang meledak. Tekanan psikologis dari keluarganya ini sama sekali tidak sebanding dengan interogasi bersenjata yang biasa ia hadapi di Sektor 7.

Faas menatap lurus ke arah Husen, sepasang mata klasiknya memancarkan kedalaman yang dingin.

"Terima kasih atas tawarannya, Papa," ucap Faas, suaranya terdengar sangat tenang, berat, dan mengontrol suasana. "Tapi saya menolak. Saya tidak akan bekerja di Abrari Group."

Ruangan itu seketika hening. Husen menggebrak meja dengan geram. "Apa kamu bilang?! Menolak?! Lalu kamu mau jadi apa, hah?!"

"Saya akan mencari pekerjaan saya sendiri. Meniti karier dengan kemampuan saya sendiri," jawab Faas datar, tanpa berniat pamer bahwa ia adalah pemilik Apex Core yang asetnya bahkan bisa membeli setengah dari Abrari Group jika ia mau.

Mendengar jawaban Faas, tawa Gavin dan Jenita langsung pecah di dalam ruangan.

"Cari kerja sendiri? Hahaha! Kak, sadar diri dong! Zaman sekarang cari kerja di Jakarta itu susah! Modal tampang Arabmu itu paling cuma laku jadi penjaga toko atau sopir!" ejek Gavin blak-blakan.

"Aduh, kita lihat saja nanti, paling seminggu lagi dia bakal ngemis-ngemis minta jabatan ke Papa karena tidak diterima di mana-mana...eh, atau Kakak mending jadi model saja, tapi melihat wajah datar kakak , siapa juga sih, agensi yang mau memperkerjakan orang seperti kak Faas," sahut Jenita sembari memutar bola matanya malas.

Husen menatap Faas dengan kekecewaan yang mendalam. "Terserah kamu, Faas! Papa sudah memberikan jalan keluar, tapi kamu egois. Jika dalam waktu dekat kamu masih menganggur dan mempermalukan nama Papa, jangan salahkan Papa kalau Papa mencoret namamu dari silsilah keluarga ini!"

Faas berdiri, membungkuk sedikit memberikan penghormatan terakhir yang formal kepada ayahnya. "Saya permisi ke kamar, Pa."

Laki-laki itu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu. Di balik wajah datarnya, emosi Faas tetap tertahan dengan sangat rapi. Ia tidak butuh pengakuan mereka.

Saat berjalan menuju kamarnya di lantai atas, Faas mengambil ponsel pribadinya dari saku. Layarnya menyala, menampilkan satu pesan masuk dari nomor baru yang baru saja ia simpan sore tadi.

Eliza: "Assalamualaikum ... Kak Faas, ini Eliza. Sekali lagi terima kasih untuk bantuan sore tadi ya. Semoga urusan Kak Faas malam ini lancar."

Melihat pesan singkat dari gadis yang jujur dan tulus itu, dingin di wajah Faas perlahan mencair. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hangat. Pesan dari Eliza seolah menjadi penawar dari pekatnya racun di rumah Husen.

Faas mengetik balasan singkat dengan jemarinya:

Faas: "Sama-sama, Eliza. Urusan saya lancar. Istirahatlah, semoga harimu besok menyenangkan."

Faas memasukkan kembali ponselnya. Besok pagi, ia akan kembali mengenakan rambut palsu beruban dan kumis tebalnya sebagai Tuan Malik Ibrahim. Ia akan melihat Eliza duduk di depan ruang kerjanya sebagai sekretaris barunya, sementara di saat yang sama, ia akan mulai meninjau proposal investasi yang diajukan oleh Abrari Group milik ayahnya.

"Kita lihat, siapa yang akan mengemis pada siapa pada akhirnya", batin Faas tenang di balik kegelapan kamarnya.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!