NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik yang Tidak Bisa Diulang

Semuanya bergerak terlalu cepat dan terlalu lambat pada saat yang bersamaan.

Arka berlari ke jalan, mengabaikan klakson mobil lain yang berhenti mendadak, mengabaikan kerumunan yang mulai terbentuk. Dia berlutut di samping Nadia, tangannya gemetar saat menyentuh wajahnya.

"Nadia. Nadia, lihat aku. Kamu bisa denger aku?"

Mata Nadia bergerak, mencari wajah Arka, dan menemukannya. Bibirnya bergerak, mencoba bicara, tapi hanya suara napas yang keluar—berat, tidak teratur.

"Tolong! Ada yang bisa panggil ambulans?!" teriak Arka, suaranya pecah.

Pak Hartono, yang masih berdiri membeku di trotoar, akhirnya bergerak, mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar, menelepon.

Arka menggenggam tangan Nadia, mencoba menahan air matanya yang sudah tidak terbendung. "Kamu akan baik-baik aja. Kamu denger aku? Kamu akan baik-baik aja."

Nadia mencoba tersenyum—senyum yang terlihat seperti permintaan maaf, bukan untuk dirinya, tapi seolah dia minta maaf karena membuat Arka khawatir.

"A...ka..." suaranya hampir tidak terdengar.

"Aku di sini. Aku di sini, Nad. Jangan ngomong dulu, oke? Tunggu ambulans."

Tapi mata Nadia mulai kehilangan fokus, kelopaknya semakin berat, dan genggaman tangannya di tangan Arka mulai melemah.

"Nadia—Nadia, tetep sama aku. Nadia!"

Ambulans datang dua belas menit kemudian. Arka tahu itu, karena dia menghitung setiap detiknya—dua belas menit yang terasa seperti dua belas tahun.

Dia ikut naik ke ambulans, menggenggam tangan Nadia yang sudah tidak sadar, mendengar petugas medis berbicara dengan istilah-istilah yang tidak dia mengerti, melihat alat-alat yang menempel di tubuh Nadia, lampu-lampu yang berkedip.

Di rumah sakit, Arka diminta menunggu di luar ruang IGD. Dia duduk di kursi plastik yang dingin, tangannya masih bergetar, masih terasa hangat dari genggaman tangan Nadia yang terakhir.

Waktu berjalan tanpa bentuk. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di sana ketika seorang dokter keluar, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sudah Arka kenal—ekspresi yang dia lihat di wajah orang-orang yang harus menyampaikan kabar terburuk.

"Keluarga dari Nadia Putri?"

Arka berdiri, kakinya hampir tidak kuat menopang.

"Saya—saya pacarnya."

Dokter itu menghela napas, suaranya pelan tapi jelas. "Kami sudah melakukan semua yang bisa kami lakukan. Tapi cedera kepalanya terlalu parah. Dia... dia nggak berhasil kami selamatkan. Saya turut berduka."

Dunia di sekitar Arka terasa runtuh dalam satu kalimat.

Arka tidak ingat bagaimana dia keluar dari rumah sakit. Dia tidak ingat berapa lama dia berjalan, atau ke mana. Yang dia ingat hanyalah dia akhirnya berada di apartemennya, duduk di lantai, di tempat yang sama seperti malam-malam sebelumnya, tapi sekarang segalanya terasa berbeda—lebih berat, lebih gelap.

Aku bisa cegah ini.

Pikiran itu muncul, tidak terbendung, seperti air yang menerobos retakan dinding.

Aku punya kekuatan untuk balik. Aku bisa cegah Nadia melangkah ke jalan itu. Aku bisa—

Tapi kemudian dia mengingat kata-kata Sera. "Setiap kali kamu pakai, itu akan minta sesuatu sebagai balasan."

Dan dia mengingat ibunya—ibunya yang hidup sekarang, yang baru beberapa jam lalu dia lihat tersenyum di depan pintu rumahnya. Jika dia kembali, mengubah sesuatu lagi—apakah ibunya akan tetap hidup? Apakah perubahan baru akan menghapus kehidupan yang sudah dia perjuangkan?

Dia tidak tahu. Dia tidak bisa tahu.

Tapi di sisi lain—Nadia. Nadia yang baru beberapa jam lalu tersenyum padanya, meremas tangannya, mendengarkannya dengan tulus. Nadia yang sudah menunggu Arka untuk benar-benar "ada" selama tiga tahun, dan baru hari ini, untuk pertama kalinya, Arka benar-benar ada untuknya—hanya untuk kehilangan dia beberapa jam kemudian.

Arka duduk di lantai, air mata mengalir tanpa suara, tubuhnya gemetar bukan karena dingin.

"Aku nggak tau apa yang bener," bisiknya ke ruangan kosong. "Aku nggak tau lagi."

Malam itu, Arka tidak tidur dengan sengaja. Dia takut—takut bahwa jika dia tertidur, dan kesedihannya cukup dalam, dia akan terbangun di masa lalu lagi, tanpa benar-benar memutuskan apakah dia ingin itu terjadi.

Tapi tubuh manusia punya batasnya sendiri. Setelah berjam-jam menangis, setelah hari yang menghancurkan, matanya akhirnya menutup—bukan karena dia memilihnya, tapi karena tubuhnya tidak punya pilihan lain.

Dan kesedihannya—kesedihan yang paling dalam yang pernah dia rasakan, lebih dalam bahkan dari kesedihan tentang ibunya—sudah cukup.

Dunia di sekelilingnya mulai bergetar.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!