Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35 Rora Pergi
Seharian ini di kantor Max mencoba menghubungi Rora dari tadi pagi setelah berpisah di rumah sampai kini tidak juga tersambung. ponsel Rora mati tidak mungkin kalau batrai ponselnya habis. Max mulai merasa ada yang tidak beres karena tidak biasanya Rora seperti ini sulit di hubungi.
"Serly mundurkan meeting siang ini, saya mau keluar sebentar" kata Max pada sekretarisnya.
"Siap pak"
Max menyambar kunci mobil dan buru-buru pergi. ia akan ke perusahaan papa Antoro tempat Rora bekerja. di tengah perjalanan Max inisiatif menghubungi Vera.
"Halo Vera apa Rora ada di ruangannya?"
"Halo Max, Aurora pagi ini tidak ngantor katanya ada urusan"
"Urusan? apa kau tahu kemana Rora pergi?" tanya Max mulai cemas.
"Bisakah kita bertemu Max?" tanya Vera yang sepertinya tahu sesuatu.
"Oke sepuluh menit lagi aku sampai di kantor papa tunggu aku di sana"
"Oke"
Max mematikan telepon dan menambah kecepatannya. mobil Jaguar X-type warna biru tua itu membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Max tidak tenang sebenarnya ada apa dengan istrinya. tadi pagi semua masih baik-baik saja,
Apa yang Rora sembunyikan dariku?!
Max memarkir mobilnya di depan lobi kantor papa Antoro. ia bergegas turun dan setengah berlari memasuki lobi.
"Max!" Vera terlihat berjalan menghampiri Max.
"Vera, sebenarnya ada apa? tadi pagi Rora masih baik-baik saja ia bahkan tidak menunjukan gejala marah padaku"
Vera menggelengkan kepalanya prihatin, ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sesuatu pada Max.
"Lihat ini" kata Vera.
"Ini..." Max nampak terkejut melihat fotonya sedang bersama seorang wanita di kapal pesiar.
"Tunggu, ini foto lama tapi kenapa di foto ini aku jadi liar begini. foto ini di ambil dua tahun lalu saat penggalangan dana sosial yang diadakan teman bisnis ku di kapal pesiar dan aku sama sekali tidak memeluk wanita ini saat berfoto!"
"Mungkin ada yang sengaja mengedit foto ini dan mengirimkan pada Rora melalui chat pendek. Rora sedang menyelidiki siapa pemilik.nomor telepon yang mengirim foto ini padanya"
"Apa?! kenapa Rora tidak bercerita padaku?!" tanya Max setengah frustasi.
"Max kau tahu Rora bukan? ia memang begitu jadi sebaiknya sekarang segera cari dia" kata Vera.
Max mengangguk ia segera pergi menuju mobilnya untuk mencari Rora. Max menelpon mama Gunanto barangkali Rora ada di rumah papa dan mama Gunanto. tapi mama bilang Rora tidak datang ke rumah. Max semakin cemas ia menelpon Wisnu meminta Wisnu melacak keberadaan Rora melalui GPS yang diam-diam Max pasang di mobil istrinya.
"Gps non aktif bos sepertinya sudah di lepas dari mobil mba Rora"
Max menggeleng kesal, ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Max perlu berpikir jernih ia harus mengingat tempat yang biasa Rora datangi saat Rora sedang sedih atau galau.
Max mengingat satu tempat ia segera menuju ke sana dengan mobilnya. Max pergi ke taman dekat sekolah Rora dulu. taman itu tempat favorit Rora untuk menyendiri ketika ada masalah menderanya.
Max tiba di taman menjelang sore hari. pengunjung taman cukup ramai. ada yang sedang berolah raga sore, ada yang hanya duduk santai sambil ngopi. Max melangkah mengedarkan pandangannya, hatinya bergetar saat ia melihat Rora duduk seorang diri di ayunan. Max tersenyum tipis dan segera menghampiri Rora.
Max duduk di ayunan sebelah Rora tanpa memulai percakapan. Rora menoleh menatap Max ia berdiri dari ayunan dan berjalan dua langkah menghadap Max.
"Max? kenapa disini bukankah kau ada meeting sore ini?"
Max tidak menjawab ia berdiri dari ayunan lalu memeluk Rora. ia tidak peduli jika mereka jadi bahan tontonan pengunjung taman. Max lega Rora baik-baik saja.
Kenapa mematikan ponsel?" tanya Max tanpa melepas pelukannya.
"Ponselku jatuh tadi dan mati sepertinya rusak, oh ya Max aku..."
"Aku tahu, aku akan jelaskan semua soal foto itu. aku sedang meminta Wisnu untuk mencari file lama. Rora sungguh aku tidak pernah berfoto mesra seperti itu dengan wanita lain. dulu tidak pernah sekarang apa lagi"
Rora terdiam ia menatap wajah Max yang kalut. pasti tadi Max cemas sekali padaku, mungkin ia pikir aku melarikan diri karena marah.
"Baiklah, kalau begitu ayo pulang" kata Rora.
Max memeluk Rora sekali lagi lalu mengecup kening Rora. ia hampir jantungan karena Rora tidak bisa di hubungi di tambah soal foto itu.
Lihat saja jika aku menemukan orang yang sengaja mengirim foto itu pada Rora, aku tidak akan mengampuninya!