Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Kemunculan Damian
Sebuah senyuman miring yang samar terukir di bibir Kaelen yang bersimbah darah. "Kau tahu sendiri, para sepupuku adalah ras campuran terkuat—demon, vampire, mermaid, pegasus, hingga elf hutan. Coba kau pikirkan baik-baik... bagaimana jadinya jika kau harus menghabiskan sisa hidupmu dikejar dan diburu oleh seluruh ras terpandang itu hanya karena kau bersikeras membunuhku?"
"Aku tidak takut pada ancamanmu," balas Evelyn datar, suaranya mengalun tenang namun penuh intimidasi. "Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja setelah semua kekejaman yang kau lakukan padaku? Lagipula, jika para sepupumu itu tahu bahwa kau sempat menyiksaku, merekalah yang mungkin akan berbalik memburumu. Apa jadinya jika seluruh dunia immortal mengetahui kelakuan aslimu yang kejam dan pengecut ini?"
Kaelen tertegun. Detak jantungnya berpacu cepat. Gadis di hadapannya ini terlalu pintar untuk ia kelabui dengan gertakan politik. Saat rasa sakit fisik akibat tanaman sihir kian menggerogoti sisa tenaganya, ketakutan baru menyelinap ke dalam benaknya—takut jika ayahnya mengetahui kekacauan ini dan menjatuhkan hukuman yang jauh lebih mengerikan.
Mau tidak mau, harga diri sang Pangeran Merman akhirnya runtuh.
"Ampuni aku... Kumohon..." bisik Kaelen serak, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin pantai. "Aku berjanji tidak akan pernah lagi mengusik hidupmu. Mulai sekarang... aku akan menjauh dan pergi selamanya dari hadapanmu. Tolonglah, Evelyn."
Evelyn menatap Kaelen dari ketinggian, matanya berkilat memperingatkan. "Jangan pernah berani mengingkari janjimu, Kaelen. Aku tidak akan segan-segan menyuruh monster itu melahapmu bulat-bulat jika kau berani melanggar ucapanmu sendiri."
"Aku berjanji... Jadi, tolong lepaskan aku," rintih Kaelen pasrah.
Bruk!
Evelyn menurunkan tangannya, memutuskan aliran sihir secara instan. Seketika itu juga, tubuh Kaelen terhempas kasar ke atas hamparan pasir. Tanaman-tanaman rambat berduri yang membelitnya menyusut cepat, bergerak mundur dan menghilang ditelan bumi.
Kaelen tergeletak telungkup secara mengenaskan. Wajahnya yang basah oleh rembesan darah kini kotor tertempel butiran pasir, membuat penampilan sang pangeran lautan tampak begitu memprihatinkan.
bersamaan dengan runtuhnya sihir itu, perlahan wujud fisik Evelyn kembali normal—rambut pirang keemasannya menyusut menjadi hitam sebahu, dan telinga runcingnya kembali layaknya manusia biasa.
"Kembalilah ke sarangmu," perintah Evelyn pada Nessie. Monster purba itu menggerung rendah penuh kepatuhan, lalu berbalik arah membelah kegelapan mulut gua tanpa menimbulkan riak kekacauan lagi.
Evelyn melangkah mendekat. Ia berjongkok tepat di depan tubuh Kaelen yang masih terkapar tak berdaya.
"Bagaimana rasanya, Kaelen? Sakit?" tuntut Evelyn, nadanya sedingin es. "Apa menurutmu aku tidak merasakan sakit yang luar biasa saat kau menyiksaku semalam? Apa kau mendengarkan semua rintihanku waktu itu? Tentu saja tidak. Kau menutup mata dan telingamu."
Evelyn kembali berdiri, bersedekap dada sembari menatap kaku ke arah pria yang kini mandi darah di bawah kakinya.
"Sadar diri, Kaelen. Meski kau adalah putra dari penguasa sekalipun, setidaknya kau harus belajar menghargai nyawa seseorang. Kebencian yang kau pelihara itu sama sekali tidak berdasar. Ayahku sudah lama meninggal, sementara kau masih saja memeluk dendam basi padanya. Apa dengan cara melampiaskan semuanya padaku, dendam lamamu itu bisa terlunaskan?"
Evelyn menjeda kalimatnya sejenak, menekan emosinya yang mendadak naik saat mengungkit masa lalu. "Lagipula, para sepupumu yang kau banggakan itu masih hidup dengan selamat. Mereka bahkan tidak menyimpan dendam apa pun pada mendiang ayahku ataupun diriku. Tapi kenapa hanya kau yang begitu membenciku, Kaelen? Jawab aku!"
Kaelen yang tersudut oleh kebenaran itu hanya bisa tersenyum getir. "Aku... aku memang bodoh, Evelyn," bisiknya dengan suara tercekat di tenggorokan. "Kau benar. Kenapa aku harus melimpahkan kebencian ini kepadamu? Akulah yang telah membuang The Heart Pearl itu secara ceroboh, dan kau hanyalah gadis malang yang menelannya tanpa sengaja. Aku yang salah..."
"Kau memang bodoh," balas Evelyn, nadanya datar tanpa simpati. "Membuang pusaka seberharga itu hanya karena ego dan rasa sakit hati setelah ditolak oleh kekasihmu."
Evelyn sebenarnya sempat mencuri dengar pertengkaran Kaelen dengan seorang gadis kemarin siang. Saat itu, ia tidak sengaja melintas, namun pandangannya terlalu kabur dan ia tidak menaruh perhatian lebih karena seluruh fokusnya terenggut oleh rasa pening akibat glioblastoma yang menyiksa nyawanya.
"Namun, apa pun alasanmu, sekali lagi aku tegaskan: aku tidak akan pernah memaafkanmu. Nikmatilah konsekuensi dari rasa sakitmu itu, Kaelen. Selamat tinggal."
Tanpa sudi menoleh lagi, Evelyn berbalik dan melangkah pergi ke arah timur—rute menuju Gua Museum yang sebenarnya. Kali ini, insting magis baru yang mengalir di dalam darahnya menuntun langkahnya dengan akurat, meninggalkan Kaelen yang napasnya kian memburu dengan kesadaran yang perlahan menipis.
Sepasang mata Kaelen yang sayu menatap nanar punggung Evelyn yang kian menjauh dan mengabur. "Evelyn... Jangan pergi..." ucapnya lirih, nyaris menyerupai bisikan angin.
Setitik air mata luruh dari sudut matanya, membasahi pasir pantai yang berlumuran darah. Kehilangan terlalu banyak energi dan darah, Kaelen akhirnya menyerah pada kegelapan. Kelopak matanya terpejam rapat saat kesadarannya putus sepenuhnya, meninggalkan tubuh sang Pangeran Merman tergeletak pingsan dalam kondisi yang sangat kritis.
"Wow, sangat menarik. Ternyata dewi takdir tidak salah pilih. Dia memang mate-ku yang kuat, sangat cocok untuk menjadi ratuku."
Ternyata, di atas batuan atap gua monster Nessie, sesosok pria tampan bersayap hitam legam tengah duduk santai sembari menopang dagu. Pria itu adalah Damian, sang Raja Demon.
Sebenarnya, ia telah mengintai di tempat itu sejak awal. Damian menggunakan sihir transparansi tingkat tinggi yang menghapus keberadaan serta auranya secara mutlak, sehingga keberadaannya sama sekali tidak terdeteksi oleh indra tajam Evelyn maupun Kaelen.
"Astaga, bocah ingusan itu sudah tampak seperti mayat," Damian tertawa geli, menatap keponakannya dari ketinggian. Ada binar kepuasan sekaligus rasa bangga yang menyelimuti benaknya saat menyaksikan keberanian dan kekuatan masif yang ditunjukkan oleh Evelyn.
Bruk!
Dengan satu kepakan sayapnya yang gagah, Damian melompat turun. Ia mendarat tepat di samping tubuh kaku Kaelen.
"Hah, kau ini hanya bisa menyusahkan saja," cibir Damian sembari bersedekap dada. "Ck. Ini salahmu sendiri karena terlalu keras kepala, Kaelen. Sekarang kau baru menyesal, kan? Dengar, ya... sampai kau menangis darah pun, belum tentu Evelyn mau menerimamu kembali. Seharusnya kau bangga memiliki mate sehebat dia."
Damian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sial, aku harus mengatakan apa pada orang tuamu nanti?"
Raja Demon itu mendesah frustrasi, meratapi kerepotan yang harus ia urus. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyentuh jubahnya, lalu mengangkat tubuh Kaelen yang bersimbah darah. Dalam satu kedipan mata, seberkas kabut hitam menyelimuti mereka berdua, dan sosok keduanya lenyap sepenuhnya dari pesisir pantai tersebut.
Sring!
Dalam sekejap mata, Damian telah mendarat di dalam kastil pribadinya yang megah. Karena tipikal pria yang enggan berurusan dengan hal-hal rumit, Damian sengaja membawa Kaelen ke kastilnya sendiri yang terletak jauh di dalam kedalaman Hutan Perak Vespera. Ia benar-benar malas jika harus diinterogasi dan diceramahi oleh orang tua Kaelen yang pasti akan heboh melihat kondisi putra mereka.
Dengan gerakan santai, Damian membaringkan tubuh Kaelen yang babak belur ke atas ranjang mewahnya.
Ia kemudian berdiri berkacak pinggang sembari menatap sang keponakan dengan tatapan ogah-ogahan. "Beruntung pamanmu ini masih punya hati yang baik, Kaelen. Jika tidak, kau sudah kubuang ke dasar jurang terdalam," gumamnya sinis.
Tak ingin membuang waktu, Damian memejamkan mata sejenak untuk mengirimkan pesan via mindlink kepada asisten pribadinya yang berasal dari ras vampire.
'Dominic, panggilkan dokter kerajaan ke kamarku sekarang juga! Ada seseorang yang harus segera diobati. Ingat, datang cepat dan jangan banyak tanya!'