NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Utang dan Senyum yang Dipaksakan

Jika di lantai teratas gedung Wijaya Group sore itu ditutup dengan tatapan obsesi gelap Keisha dan langkah dingin Arsen, maka di sudut kota lain, sore berjalan dengan cara yang jauh lebih melelahkan bagi Alana.

Aroma ayam goreng tepung yang baru diangkat dari minyak panas kembali memenuhi udara gang kecil tempat kedai Geprek Rumah Rasa berdiri.

Suara ulekan sambal yang beradu dengan cobek batu terdengar berirama, bercampur dengan obrolan para pelanggan yang mulai berdatangan menjelang malam.

Di balik etalase kaca kecil yang mulai berembun karena hawa panas dapur, Alana bergerak sibuk tanpa henti.

Tangannya cekatan membolak-balik ayam goreng, sesekali meraih plastik pembungkus, lalu kembali mengulek sambal dengan tenaga penuh. Dari luar, semuanya tampak biasa saja.

Seolah hidupnya baik-baik saja.

Seolah pagi tadi tidak terjadi apa-apa.

Namun hanya Alana yang tahu, sejak siang tadi dadanya terasa sesak setiap kali matanya menatap laci kecil di bawah meja.

Di dalam sana tersimpan selembar kertas lusuh bertuliskan jumlah pinjaman dan setoran harian yang mulai besok harus ia bayar tanpa telat satu hari pun.

Bank harian.

Pilihan paling nekat yang akhirnya ia ambil demi menyelamatkan kedainya hari ini.

Alana mengembuskan napas pelan sambil terus mengulek sambal. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam lalu setelah ia berpisah dengan keluarga Naira.

Saat itu sebenarnya ia bisa saja meminjam uang pada Naira.

Sangat bisa.

Alana tahu, sahabatnya itu pasti akan langsung membantu tanpa banyak tanya. Bahkan mungkin orang tua Naira juga tidak akan keberatan jika Alana meminta bantuan untuk modal jualannya.

Namun justru karena itulah Alana tidak sanggup membuka mulut.

Selama tiga tahun terakhir, keluarga Naira sudah terlalu banyak menolongnya. Memberinya tempat tinggal murah, makanan, bahkan perhatian yang kadang terasa lebih hangat daripada keluarga kandungnya sendiri.

Alana takut.

Takut suatu hari dirinya benar-benar berubah menjadi beban.

Karena itulah, dengan kepala pening dan hati penuh gengsi, ia memilih pergi ke sudut pasar dan menemui seorang pria bertubuh besar yang biasa menawarkan pinjaman harian kepada para pedagang kecil.

“Lima ratus ribu. Mulai besok setor tiga puluh ribu per hari selama dua puluh lima hari. Telat kena denda.”

Kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya sampai sekarang.

Plak!

Alana menumbuk sambal lebih keras dari sebelumnya.

Rasa kesal, takut, dan lelah bercampur menjadi satu di dalam dadanya.

Uang hasil pinjaman itu memang berhasil membuat kompornya menyala lagi sore ini.

Namun mulai besok, hidupnya akan dikejar cicilan harian tanpa ampun.

“Mbak Alana! Level lima satu dibungkus ya!”

Suara pelanggan membuat Alana buru-buru tersadar dari lamunannya.

“Oke, Kak! Ditunggu bentar ya, ayamnya baru mateng!”

Ia kembali memasang senyum ramah andalannya, seolah tidak ada apa-apa.

Padahal kepalanya terasa berat sejak tadi siang.

Srek.

Suara motor berhenti tepat di depan kedainya.

Belum sempat Alana menoleh, sebuah suara laki-laki yang cukup familiar sudah lebih dulu terdengar.

“Wangi banget. Sampai ujung gang kecium aromanya.”

Alana mendongak.

Dan di sana, berdiri seorang pria dengan kemeja flanel hitam merah yang lengannya digulung santai sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan karena helm, tapi senyum lebar di wajahnya membuat suasana sekitar terasa lebih ringan.

Reno.

Kakak tingkat Alana di kampus.

Pria itu sudah cukup lama mengenal Alana karena beberapa kali bertemu di organisasi fakultas. Meski sekarang Reno sedang sibuk menyelesaikan skripsinya, ia masih cukup sering datang ke kedai kecil ini.

Awalnya hanya pelanggan biasa.

Namun lama-lama Reno mulai terbiasa mampir hampir setiap beberapa hari sekali.

Kadang membeli makan.

Kadang hanya duduk menemani Alana berjualan sambil mengobrol ringan.

Dan meski Alana tidak pernah benar-benar sadar, semua orang di sekitar mereka sebenarnya bisa melihat jelas bahwa perhatian Reno kepada Alana jauh lebih dari sekadar rasa kasihan senior kepada junior.

Sayangnya, Alana benar-benar menganggap Reno seperti kakak sendiri.

“Eh, Kak Reno,” sapa Alana sambil tersenyum kecil. “Tumben sore-sore.”

Reno tertawa pelan sambil melepas helmnya. “Habis revisi sama dosen. Otakku udah hampir gosong, jadi nyari penyelamat ke sini.”

“Kasihan banget hidupnya.”

“Makanya tolong selamatkan dengan ayam geprek.”

Alana terkekeh kecil untuk pertama kalinya hari itu.

Dan entah kenapa, melihat tawa kecil gadis itu, dada Reno terasa sedikit lega.

Sejak datang tadi, ia langsung sadar ada yang berbeda dari wajah Alana.

Gadis itu terlihat lebih pucat dari biasanya.

Matanya sembab samar, meski berusaha ditutupi dengan senyum dan tingkah santainya.

Reno menarik kursi plastik di dekat etalase lalu duduk santai.

“Capek ya?” tanyanya tiba-tiba.

Gerakan tangan Alana sempat berhenti sepersekian detik sebelum kembali normal.

“Hah? Enggak kok.”

“Bohong.”

Alana mendengus kecil sambil mengambil ayam dari penggorengan. “Ih, Kak Reno sok tahu.”

“Kamu kalau lagi capek itu matanya beda.”

Kalimat itu membuat Alana refleks salah tingkah kecil.

Untung posisi tubuhnya membelakangi Reno.

“Perasaan mata aku dua-duanya masih lengkap.”

“Alana.”

“Napa?”

“Kamu habis nangis?”

Deg.

Jantung Alana langsung berdegup tidak nyaman.

Ia buru-buru mengambil plastik dan mulai membungkus pesanan pelanggan dengan gerakan cepat agar Reno tidak melihat wajahnya terlalu jelas.

“Enggak lah,” jawabnya cepat. “Ini cuma efek asap cabe.”

Reno diam beberapa detik.

Tatapannya memperhatikan punggung kecil Alana yang tampak lebih lelah dari biasanya.

Selama mengenal gadis itu, Reno tahu satu hal.

Alana adalah tipe orang yang paling sulit jujur soal dirinya sendiri.

Kalau sedih, dia bercanda.

Kalau capek, dia malah makin cerewet.

Kalau sakit hati, dia justru tertawa paling keras.

“Kalau ada apa-apa cerita aja,” ucap Reno lebih pelan kali ini. “Nggak harus sendirian terus.”

Untuk sesaat, tangan Alana kembali melambat.

Kalimat sederhana itu hampir saja membuat pertahanannya runtuh.

Hampir.

Namun beberapa detik kemudian gadis itu malah tertawa kecil sambil menyerahkan pesanan pelanggan lain.

“Duh, Kak Reno kayak bapak-bapak penyuluhan banget ngomongnya.”

Reno menghela napas kecil sambil ikut tersenyum tipis.

Kabur lagi.

Selalu begitu.

“Yaudah, aku pesen seperti biasa.”

“Dada atau paha?”

“Kalau aku jawab hati kamu marah nggak?”

“Najis.”

Reno langsung tertawa keras mendengar jawaban refleks itu.

“Nah gitu dong. Ketawanya keluar.”

Alana mendelik gemas. “Kak Reno kalau nggak gombal sehari bisa sakit ya?”

“Bisa.”

“Yaudah semoga sembuh.”

Reno kembali tertawa kecil sambil memperhatikan Alana yang sibuk bergerak ke sana kemari.

Dan semakin lama ia melihatnya, semakin Reno sadar satu hal.

Alana terlihat kuat di luar.

Namun sebenarnya gadis itu sedang memikul terlalu banyak hal sendirian.

Sementara itu, Alana kembali melayani pelanggan dengan senyum yang terus ia paksa muncul.

Namun diam-diam, matanya beberapa kali melirik ke arah stoples uang di dekat etalase.

Isi stoples itu belum cukup banyak.

Besok ia harus mulai membayar setoran.

Besok ia harus belanja bahan lagi.

Besok hidupnya kembali dimulai dengan perjuangan yang sama.

Dan entah sampai kapan ia bisa terus bertahan seperti ini.

Di tempat lain, Arsen Laurent Wijaya mungkin baru saja menghancurkan masa depan bisnis seseorang hanya lewat satu keputusan dingin.

Namun di sudut kecil gang sempit ini, Alana Kirana Putri justru sedang berjuang mati-matian mempertahankan hidupnya… hanya dengan lima ratus ribu rupiah pinjaman dan senyum yang mulai terasa semakin berat untuk dipertahankan.

1
partini
move on dari mana nya nyonya,aihhhh belum nyesel aja ninggalin anakmu nanti juga nyesel dia nangis " minta balikan lah lagu lama nyonya, semoga anakmu ga oleng nanti pas mantan istri datang
Gabutz
ayo dong Thor update lagi, setidaknya sehari satu tapi konsisten kalau tidak bisa jadi double update aja
rokhatii: udah up ya kak.. maaf kemalaman othor nya masih sibuk banget sama pekerjaan utama🙏🙏
total 1 replies
partini
di suruh balik ada apa yha
Yeni Amalia
lama nunggu selanjutnya.....
partini
good story
partini
lagi Thor
partini: oh is ok Thor
total 2 replies
partini
lagian tuh mulut lost dol aja,, lanjut Thor 👍👍👍👍
partini: kasih fakta selanjutnya Thor ,, lihat pas jualan mungkin biar tambah nyesel
total 2 replies
Rahman Hayati
ikut menetes air mata ku
Sandrie
menarik
Rahman Hayati
yg diam diam perhatian
Endang Fitria3236
jangan kelamaan Thor... penasaran bgt SM kelanjutannya 💪
rokhatii: masih tahap review terus kak mohon bersabar ya othor usahain secepatnya🙏🙏
total 1 replies
Rahman Hayati
baru mampir
moga gadis yg kuat setidak nya bisa bela diri dikitlah
semangat thor
partini
dasar dosen otak udang kamfreeet
partini: otak udang ga guna 😂😂😂😂
dia terlalu bodoh
total 4 replies
Kristina NellaWara
sejauh ini msih bguss👏
rokhatii: makasih kak tapi maaf kalau ada bab yang muter" karena masih ada revisi🙏🙏
total 1 replies
partini
pak dosen marah" terus nanti lihat anakmu nempel kaya prangko sama mahasiswi mu itu baru dah mikir
Sitilestari Ikhsan
lama cerita nya muter muter
partini
nah Lo punya penawar nya kan makanya jangan terlalu kejam
partini
dihhh galaknya habis nolongin ank mu kamfreeet
Ulfatut Tho'ah
nangis bombai banget bab ini 😢😢😢🥹🥹🥹😭😭😭
rokhatii: doakan terus Alana supaya bisa hidup lebih damai
total 1 replies
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!