NovelToon NovelToon
Alvaro

Alvaro

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia
Popularitas:925
Nilai: 5
Nama Author: Patmandari Nugraheni

Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...

Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 2 Mulainya Penjagaan

Setelah ia sampai di lantai atas Alvaro pun pergi menuju ke dalam kamarnya, ia pun membuka pintu kamarnya.

Clek!

Dan ia pun menutup kembali pintu kamarnya.

Dumn!

Bunyi suara pintu dari kamar Alvaro

Dan Alvaro pun menghempaskan tubuhnya kembali ke kasur king sizenya. Kamar serba biru itu terasa damai dan juga tenang, kontras dengan ketegangan yang tadi sempat ia rasakan di meja makan. Meskipun santai, otak pintar Alvaro menangkap ada yang aneh dengan panggilan dari sang papah.

"Hah... ada apa lagi sih ini? Padahal minggu ini waktunya aku menonton film dan bermalas-malasan" gumam Alvaro malas, sambil memandangi langit-langit kamarnya.

Uncle Sam yang berdiri kaku di sudut kamar seperti patung yang hanya terdiam. Ia tahu betul tuan mudanya yang satu ini tidak sedingin papah, abang, kakak dan maupun adiknya tapi kalau sekalinya sudah malas tingkat dewa iapun akan jarang keluar dari kamar sekalipun keluar itupun hanya untuk makan atau mengambil cemilan saja ataupun ia makan di dalam kamar saking malasnya.

"Haduh tuan muda sikap malas anda sudah keluar" gumam uncle Sam dengan nada pasrah sekaligus heran.

[Ruang Kerja Alaric - Pukul 13.00 WIB]

Tok... tok... tok...

"Masuk" suara berat Alaric terdengar dari dalam.

Alvaro masuk dengan gaya santainya, mengenakan hoodie kebesaran dan celana pendek selutut. Di ruangan itu sudah ada Arlan, Erlan, dan juga Elvano yang duduk dengan posisi melingkar. Kali ini suasananya berbeda, tidak sedingin dan sekaku saat sarapan tadi.

"Duduklah boy" ujar Alaric menunjuk kursi yang ada depannya. Alvaropun duduk, sambil tangannya menopang dagunya.

"Kenapa, Pah? Tumben serius banget. Ada proyek perusahaan yang macet atau ada kendala yang harus aku bantu? Biar Alva beresin pake otak brilian Alva ini" celetuknya dengan senyum lebar, mencoba mencairkan suasana di dalam ruang kerja sang papah.

Erlan menatap saudara kembarnya itu tajam "Jangan bercanda terus, Al."

Alaric mengangkat tangan, untuk menghentikan Erlan. "Papah cuma mau ngasih tau. Mulai besok, keamanan kamu diperketat uncle Sam tidak akan lepas dari pandangan kamu."

Alvaro mengerutkan kening. "Lho, kan udah biasa, Pah? Lagian siapa sih yang mau nyulik cowok pemalas kayak Alva? Harta juga ga bawa ke mana-mana."

"Diam, Al," potong Arlan dingin, namun ada nada kekhawatiran yang tersirat.

"Ada ancaman yang mengincar... kelemahan Alexander. Dan itu, kamu." Ujar Arlan lagi

Alvaro terdiam. Ia menatap Elvano yang bersedekap dada, menatapnya intens. Ternyata, obrolan mereka di meja makan tadi benar.

"Kalian..." Alvaro hanya bisa tersenyum tipis, kali ini bukan senyum ceria dan bersemangat, melainkan senyum yang cukup di paksakan.

"Apakah kalian takut kehilangan Alva karena Alva sangat mirip dengan Mamah?"

Suasana menjadi hening

Alaric hanya bisa mengangguk pelan.

"Alva ngerti. Tenang saja, Alva nggak bakal ke mana-mana kecuali ada uncle Sam" ucap Alvaro sambil tersenyum ceria kembali.

"Tapi, ada imbalannya kan? PlayStation 5 edisi terbaru, gimana?" tawaran dari Alvaro

Elvano memutar bola matanya malas, "Dasar pemalas."

"Sudah-sudah," Alaric hanya bisa menghela napas, "Intinya, hati-hati. Terutama kamu juga El, jaga kakak kembarmu itu."

"Hnm" jawab Elvano singkat, meski dalam hati ia bersumpah akan menjaga Alvaro mati-matian meskipun itu menaruhkan hidupnya sekalipun, karena hanya Alvaro yang tersisa dari kehangatan mendiang Mamah mereka.

"Apakah sudah selesai?" Tanya Alvaro

"Aku dan uncle Sam ingin kembali kekamar jika semua sudah selesai" ujar Alvaro lagi.

"Ya sudah, kalian bisa kembali kekamar kalian masing-masing untuk istirahat dan jangan lupa besok kalian berdua Al dan El sekolah Arlan dan Erlan kuliah jangan lupa" peringatan dari sang Papah

"Baik lah" jawab mereka semua dengan kompak

"Paman ayo kekamar aku sangat malas hari ini untuk pergi kemana-mana" ucap Alvaro

"Baik tuan muda" jawab uncle Sam

"Uncle bisa jangan memanggilku tuan muda aku sangat risih" ujarnya

"Anda mau saya panggil apa tuan muda" jawab uncle Sam

"Terserah uncle saja yang penting bukan tuan muda" jawabnya lagi

"Bagaimana kalau Varo? Apakah anda suka panggilnya?" Ucap uncle Sam

"Baiklah aku suka dan uncle jangan terlalu kaku memanggilku anda ya" ucap Alvaro dengan nada santai dan tidak lupa dengan senyumnya itu.

"Baik Varo" ujar uncle Sam dan senyum tipisnya

Ketiga saudaranya pun hanya bisa melihat pemandangan itu dari jarak yang cukup jauh, karena mereka belum pernah mendapatkan senyuman dari Varo setelah mamah mereka meninggal dan mereka hanya bisa memandang senyum tersebut dari jarak yang cukup jauh dan senyum itu juga bukan untuk mereka melainkan untuk uncle Sam Penjaga yang selalu menjaga Alvaro atas perintah sang mamah dulu sebelum meninggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!