Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Kembali
“Baiklah, aku pamit pergi dulu. Nanti kalau kamu senggang, aku ajak kamu ke butik dan studionya,” ucap Aren kepada Dhea.
“Janji ya?” tanya Dhea memastikan.
“Iya, janji.”
“Awas Mas ingkar loh ya.”
Aren langsung terkekeh kecil.
“Nggak, Dhea. Nggak.”
Dhea pun tersenyum puas mendengar jawaban itu.
Namun tiba-tiba.
Kring!!!
Suara bel pintu toko berbunyi.
Membuat mereka bertiga menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka. Seorang wanita masuk ke dalam toko. Wanita itu terlihat cantik dengan pakaian yang rapi dan elegan.
Namun seketika juga.
Tubuh Aren langsung menegang. Senyumnya menghilang begitu saja. Mata pria itu membelalak kecil saat melihat siapa orang yang baru datang.
“Mas Aren?” panggil Dhea pelan karena menyadari perubahan ekspresinya.
Namun Aren tidak menjawab.
Tatapannya masih terpaku pada wanita tersebut.
Sedangkan wanita itu juga terlihat terkejut saat melihat Aren berada di sana.
“Aren…”
Suara wanita itu terdengar pelan.
Deg.
Jantung Aren langsung berdegup keras.
Karena wanita yang berdiri di depannya saat ini adalah orang yang selama ini berusaha ia lupakan. Orang yang pernah menghancurkan hidupnya. Orang yang menjadi alasan mengapa dirinya memilih menjadi Arelia.
Dan kini, setelah sekian lama menghilang. Dia kembali muncul di hadapannya.
Namun pandangan Aren perlahan turun mengarah ke perut wanita itu. Dan saat melihat perut yang sudah terlihat membesar karena kehamilan, wajah Aren langsung berubah pucat.
Deg.
Seketika semua kenangan yang selama ini berusaha ia kubur
kembali muncul begitu saja. Tangannya perlahan mengepal kuat. Sedangkan wanita itu tampak gugup saat menyadari tatapan Aren yang mengarah kepadanya.
“Mas Aren…” panggil Dhea lagi karena mulai khawatir.
Namun Aren masih belum menjawab. Tatapannya tetap terpaku pada wanita tersebut.
“Aren…” panggil wanita itu pelan.
Membuat pria itu akhirnya tersadar.
“Ada apa?” tanya Aren dingin.
Nada suaranya yang berubah membuat Dhea dan Nisa langsung saling berpandangan.
Karena selama ini, mereka belum pernah melihat Aren berbicara sedingin itu. Wanita itu terlihat menundukkan wajahnya.
“Aku…”
Namun kata-katanya terhenti.
Karena dirinya sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.
Sedangkan Aren justru tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar begitu pahit.
“Jadi ini alasan kamu datang?” tanyanya sambil menatap perut wanita itu.
Seketika wajah wanita tersebut berubah. Sedangkan Dhea yang melihat semuanya mulai menyadari satu hal.
Wanita di depannya ini, adalah seseorang yang sangat penting dalam masa lalu Aren.
“T-tidak,” ucap wanita itu gugup. “A-aku cuma kebetulan mau membeli bunga.”
Aren langsung terdiam beberapa detik. Tatapannya masih terlihat dingin.
“Sebetulnya dunia memang sempit ya,” ucapnya pelan. “Dari sekian banyak toko bunga yang ada, kamu malah datang ke sini.”
Wanita itu langsung menundukkan kepalanya.
Sedangkan Dhea yang berdiri di dekat mereka semakin bingung dengan situasi tersebut.
“Aren…” panggil wanita itu pelan.
Namun Aren langsung mengalihkan pandangannya.
“Kalau memang mau beli bunga, silakan beli.”
Jawabannya terdengar begitu formal. Seolah mereka adalah dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
Deg.
Hal itu membuat wanita tersebut semakin terlihat sedih.
Sedangkan Dhea mulai merasa tidak nyaman melihat keadaan Aren.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat pria itu benar-benar terluka.
“Apa kabarmu?” tanya wanita itu hati-hati.
Aren langsung tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Bukankah kamu sudah bisa lihat sendiri?”
Jawaban itu membuat suasana menjadi semakin canggung.
Dhea yang tidak tahan melihatnya akhirnya melangkah mendekat.
“Mas Aren,” panggilnya pelan.
Aren langsung menoleh.
“Kalau Mas nggak nyaman, Mas boleh pulang dulu kok,” ucap Dhea dengan lembut.
Seketika Aren terdiam.
Karena lagi-lagi.
Dhea tidak bertanya tentang masa lalunya. Tidak memaksanya menjelaskan apa pun. Gadis itu hanya memikirkan bagaimana perasaannya saat ini.
“Kamu nggak bertanya siapa wanita di depan aku ini?” tanya Aren pelan.
Tatapannya tertuju kepada Dhea. Seolah sedang menunggu reaksi yang selama ini selalu ia takutkan.
Namun Dhea justru menggeleng kecil.
“Dhea nggak mau.”
Deg.
Aren langsung terdiam.
“Kenapa?”
“Karena Dhea nggak ingin bikin Mas sedih.”
Jawaban itu membuat Aren membeku di tempatnya.
Sedangkan Dhea menatapnya dengan wajah yang begitu tulus.
“Kalau Mas mau cerita, Dhea akan dengar.”
“Tapi kalau Mas nggak mau cerita juga nggak apa-apa.”
Suara Dhea terdengar lembut seperti biasanya.
“Dhea cuma nggak mau nanti Mas sedih lagi.”
Deg.
Dada Aren langsung terasa sesak.
Karena selama ini, kebanyakan orang selalu penasaran dengan masa lalunya. Selalu ingin tahu. Selalu bertanya. Namun Dhea berbeda.
Gadis itu justru lebih peduli pada perasaannya dibanding rasa penasarannya sendiri.
“Dan lagi…” lanjut Dhea pelan. “Dhea nggak mau nanti Mas menghindar lagi kayak kemarin-kemarin.”
Seketika Aren langsung tertawa kecil. Namun kali ini, bukan tawa pahit. Melainkan tawa yang dipenuhi rasa hangat.
“Mas tahu nggak?” lanjut Dhea sambil cemberut kecil.
“Nyari Mas selama satu bulan itu capek.”
“Dhea sampai keliling ke mana-mana.”
“Jadi jangan bikin Dhea begitu lagi.”
Mendengar itu, tatapan Aren perlahan melembut. Lalu tanpa sadar, tangannya terangkat dan mengusap pelan kepala Dhea.
“Iya.”
“Aku nggak akan pergi lagi.”
Dan untuk pertama kalinya sejak wanita dari masa lalunya itu muncul.
Aren merasa tenang. Karena sekarang, ada seseorang yang memilih tetap berdiri di sampingnya.
“Aren…” panggil wanita itu kembali.
Namun Aren tidak lagi menatapnya.
Tatapannya justru mengarah ke Dhea yang berdiri di sampingnya.
“Kalau memang mau membeli bunga,” ucap Aren dengan nada tenang namun terdengar dingin. “Kamu bisa minta tolong sama Mbak yang di pojok sana.”
Ia menganggukkan kepalanya ke arah Nisa yang sejak tadi hanya diam memperhatikan situasi tersebut.
“Katanya kamu mau membeli bunga, bukan?”
Deg.
Wanita itu langsung terdiam. Karena ia tahu.
Aren sedang membuat batas yang sangat jelas di antara mereka.
“Aren, aku cuma ingin—”
“Aku sedang ada urusan,” potong Aren pelan.
Meski suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat wanita itu menghentikan ucapannya.
Sedangkan Dhea hanya berdiri diam di samping Aren.
Ia bisa melihat dengan jelas bahwa pria itu sedang berusaha menahan banyak hal di dalam dirinya.
“Aku tidak ingin membuat masalah di toko ini,” lanjut Aren.
“Jadi kalau memang mau membeli bunga, silakan beli.”
Suasana langsung menjadi hening. Wanita itu perlahan menundukkan kepalanya.
Raut wajahnya terlihat sedih. Namun ia juga sadar bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk memaksa Aren berbicara dengannya.
Sementara itu, Dhea diam-diam melirik ke arah Aren.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat pria itu benar-benar menutup hatinya rapat-rapat kepada seseorang.
Aren perlahan melangkah mendekat ke arah Dhea yang berdiri di sampingnya. Hal itu membuat Dhea mengernyit bingung.
“Mas?” panggilnya pelan.
Namun sebelum Dhea sempat bertanya lebih jauh.
Cup!!!
Seketika mata Dhea langsung membelalak lebar saat Aren mencium pipinya tepat di depan wanita itu.
Deg!
Otak Dhea langsung kosong. Wajahnya memerah dalam hitungan detik. Sedangkan Aren hanya tersenyum kecil melihat reaksinya.
“Aku pergi dulu,” ucapnya tenang. “Nanti aku kembali.”
Setelah mengatakan itu, Aren langsung berjalan pergi meninggalkan toko.
Sedangkan Dhea masih membeku di tempatnya.
Tangannya perlahan menyentuh pipi yang baru saja dicium oleh Aren. Wajahnya benar-benar merah sampai ke telinga.
“M-mas Aren…” gumamnya terbata-bata.
Di sisi lain, wanita itu hanya bisa berdiri diam. Tatapannya mengikuti kepergian Aren.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat Aren tersenyum tulus kepada seseorang setelah sekian lama.
Sedangkan Nisa yang menyaksikan semuanya dari kejauhan langsung menutup mulutnya karena terkejut.
“Ya Tuhan...” bisiknya pelan. “Kalau ini masih belum pacaran, terus apa namanya?”