NovelToon NovelToon
Ketika Sinta Memilih Rahwana

Ketika Sinta Memilih Rahwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Perjodohan
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.

Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part *32

Sementara itu, Rama dengan kondisi yang sangat memprihatinkan sedang berada di kediaman utama keluarga Hermawan. Dia datang sejak beberapa saat yang lalu. Tapi kedua orang tua, bahkan pelayan di rumahnya tidak ada di kediaman tersebut. Rumah itu kosong tanpa tahu penghuninya ke mana.

"Tidak. Ke mana mereka semua?"

"Papa mama benar-benar pergi? Mereka benar-benar berusaha menghindar dari ku dengan susah payah."

"Di kantor, mereka juga tidak ada. Kak Wana, papa, mama. Kalian di mana sebenarnya?"

Iya. Sebenarnya, ini bukan kedatangan Rama yang pertama ke rumah tersebut. Melainkan, sudah yang ke dua kalinya. Setelah kedatangan yang pertama, Rama meninggalkan rumah tersebut karena kosong. Dia bergegas mendatangi kantor utama tempat biasa papanya bekerja.

Namun sayang, baik di rumah, maupun di kantor, jangankan papanya, kakaknya yang biasa duduk manis di ruangan kerja, tanpa beranjak sedikitpun sebelum waktu pulang larut saja tidak ia temukan. Jantung Rama semakin berdegup tak beraturan. Dia benar-benar cemas dan bingung.

"Kalian ke mana? Aku sudah lelah mencari kalian. Aku sudah dua kali datang ke sini. Tapi kalian tetap tidak bisa aku temui."

"Bagaimana kalian bisa jadi setega ini padaku? Aku tidak bisa menghubungi kalian. Aku tidak bisa menemukan kalian. Kalian sungguh keterlaluan."

Wajah putus asa tergambar dengan sangat jelas. Bagaimana tidak? Sedari tadi, dia hanya munda-mandir tanpa menemukan sedikitpun petunjuk. Ketika dia datang ke rumah orang tuanya, rumah kosong. Saat datang ke kantor, keluarganya juga tidak ada di sana.

Lalu, saat datang ke kediaman orang tua Sinta, dia malah tidak di sambut. Si bibi pelayan yang biasanya ramah saja, tadi sangat ketus padanya. Ketika ia bertanya tentang Sinta, bukannya jawaban yang jelas ia dapatkan. Eh ... malah jawaban yang mengesalkan.

"Kalian semua benar-benar tega ...! "

"Kalian kejam," ucap Rama lagi. Kali ini, nadanya berubah lirih. Tidak sekeras ucapan sebelumnya.

Saat itu, air matanya hampir saha jatuh. Namun tiba-tiba tertahan karena kemunculan Dorin yang datang mendekat.

"Rama."

Sontak. Manik mata Rama berubah seketika. Gegas, dia bangun dari jongkoknya dengan cepat untuk menyambut kedatangan sepupunya itu.

"Dorin. Kamu, bagaimana kamu bisa ada di sini, Dorin? Mereka semua, mereka, orang tuaku dan yang lainnya entah ke mana. Apa kamu tahu ke mana mereka, Dorin."

Anggukan kecil langsung terlihat.

"Iya ... aku tahu."

"Kamu tahu?" Mata Rama berbinar bahagia. Seolah, baru saja mendapatkan cahaya di tengah kegelapan yang sangat mencekam.

"Kamu tahu mereka ke mana, Dorin?" Lagi, Rama berucap dengan wajah yang penuh semangat.

"Mereka ke mana? Kenapa tidak bisa aku hubungi? Apa yang-- "

"Mereka berlibur, Rama." Dorin memotong cepat ucapan sepupunya. Jujur, apa yang ia lakukan barusan bukan karena tidak ingin mendengar banyak pertanyaan dari si sepupu. Melainkan, karena kasihan melihat sepupunya itu yang kini telah ditinggalkan oleh keluarga.

"Me-- mereka ... berlibur?" Rama berucap agak terbata-bata.

"Mereka berlibur ke mana? Apa kamu tahu ke mana mereka berliburnya? Terus, kenapa mereka tidak bisa aku hubungi?"

"Mungkin karena tidak ingin diganggu saat berlibur, Rama. Atau juga mungkin, mereka pergi ke tempat yang sinyalnya sulit. Jadi, karena itu susah untuk menghubungi mereka."

"Sebenarnya mereka ke mana?" Kali ini, nada bicara Rama terdengar agak tinggi.

Namun, belum sempat Dorin menjawab apa yang ia katakan, pria itu malah berucap lagi dengan cepat. "Sinta. Di mana Sinta sekarang? Apa kamu juga tahu di mana Sinta?"

"Sinta ...?" Wajah Dorin semakin terlihat cemas.

"Iya, Sinta. Aku gak tahu ke mana orang tua ku gak papa, Dorin. Yang penting, aku tahu di mana Sinta. Karena sekarang, hal yang paling penting adalah, bertemu dengan Sinta."

Kali ini, bukan lagi cemas yang Dorin rasakan. Melainkan, juga perasaan kesal. Ucapan Rama barusan entah kenapa langsung membangkitkan rasa kesal yang sudah ia tahan sejak beberapa waktu yang lalu.

"Kenapa nanya, Sinta? Apa urusannya lagi kamu sama dia? Bukankah kamu yang sudah menunda pernikahan kalian?"

"Ucapan macam apa itu, Dorin? Kenapa aku gak boleh nanya Sinta? Bukankah Sinta adalah tunangan ku. Sekalipun aku tunda pernikahan kami, tetap saja, dia masih calon istri aku."

"Sekarang baru kamu sadar dia calon istrimu?" Nada bicara Dorin semakin meninggi. "Kemarin-kemarin, kamu ke mana? Kamu sibuk sama wanita baru mu itu."

"Dia teman, Dorin. Teman. Tak lebih dari itu. Apa salahnya aku dekat dengan teman ku sebelum kami menikah."

Dorin langsung mendengus kasar. Tak lupa, untuk menahan sedikit saja rasa kesal yang ada di hatinya, Dorin langsung mengusap kasar wajahnya dengan satu tangan. Sedang yang satu lagi, dia cekatkan pada pinggang.

"Astaga! Astaga! Ya Tuhan .... " Dorin benar-benar frustasi sekarang.

"Rama sadarlah! Ulah mu ini telah membuat wanita mu hilang. Ulah mu yang gil*a ini, ah tidak gila. Bo*doh. Kau bo*doh sampai membuat wanita mu lebih memilih menikah dengan orang lain. Dan orang itu adalah kakak mu sendiri. Sekarang, kau bisa apa? Semuanya sudah terlambat."

Kali ini, Dorin berucap dengan nada yang penuh dengan penekanan. Sungguh, hatinya kesal bukan kepalang. Sampai-sampai, pria itu tidak lagi bisa menahan amarahnya untuk lepas. Dia bahkan lupa dengan kondisi Rama yang sangat menyedihkan saat ini.

"Dorin .... "

"Apa? Aku benar, bukan? Kau terlalu percaya diri, Ram. Kau terlalu yakin kalau Sinta akan tetap ada untukmu selamanya. Tapi kamu juga lupa, Sinta adalah manusia. Dia bukan robot yang tidak punya hati, yang akan tetap ditempatnya sekalipun kau tinggalkan dia. Kau tak perduli dengannya."

"Tapi aku rasa, sekalipun Sinta robot, dia akan tetap rusak jika kau abaikan terlalu lama," ucap Dorin lagi.

Ucapan yang membuat Rama membatu selama beberapa saat. Pikirannya bekerja dengan sangat keras setelah kata-kata yang Dorin ucapkan menyentuh telinganya. Sungguh, kata-kata itu ternyata mampu membuatnya sadar sepenuhnya, kalau selama ini, dia benar-benar telah salah.

"Dorin .... Katakan padaku, Sinta ... dia tidak benar-benar menikah, bukan?"

Sayangnya, kenyataan tentu saja tidak sama dengan apa yang Rama harapkan. Apa yang Dorin ucapkan tentu saja hal yang sesungguhnya terjadi.

"Ram. Kamu salah. Kamu juga kalah. Gara-gara orang baru, kamu lepaskan orang lama yang harusnya kamu perjuangkan. Rama. Andai saja kamu datang hari penentuan tanggal pernikahan, semua gak akan jadi seperti ini."

"Atau tidak," ucap Dorin cepat menyambung kata yang sudah ia lepaskan sebelumnya. "Andai saja kamu muncul, kamu pulang seperti yang aku katakan saat hari pernikahan kemarin, mungkin saja, dia yang awalnya akan jadi milikmu, masih bisa kau perjuangkan. Tapi sekarang, tidak lagi, Ram. Tidak."

1
Soraya
msih mbulet thor lanjut
partini
aihhh badan besar tapi gitu ,,yg kau butuhkan tuh seseorang yg bisa bikin hatimu yg panas jadi dingin
wana wana
partini
lah emang kamu yg di pukul semua orang juga tau dah lihat so what ?
aihhh Rama gendeng
aku
wkwkwkwk yg dihajar sopo yg ditanyai sopo 🤣🤣🤣 nyahokk kowe rama 🤣🤣🤣
Anonim
Rama bloon emang ,laki egois g tahu diri .ayo wana dan sinta harus tegas tunjukan sinta kamu itu milik wana sekaranf
Evy
gemes sama Rama ...pingin tak hiiiiih ajah 😅
partini
sejak kapan tunangan lebih berhak dari pada suami,,aihhh Ramayana emang rada"
Patrick Khan
risa sakit jiwa kah🤣🤣🤣🤣
Rani: wuahahahah.... sekarang masih belum. tapi sudah hampir mendekati🤣
total 1 replies
Patrick Khan
rama km ribet bgt sih🤣
Rani: jangan di kata. memang ribet dia
total 1 replies
Soraya
nex
Rani: sabar yuhu🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Anonim
Si intan ibu yg oon ko bisa pilih kasih begitu,tolol.anak salah ko malah di dukung ,blok
Rani: nama juga anak sayangan dia.
total 1 replies
partini
dulu pas th 90 an ada drama India Rama dan Sinta ini kembali nya nikahnya sama wana jadi penasaran
Rani: wkwkwkw.... iya lho. tahun ini Sintanya malah milih Wana. Iya kan?
total 1 replies
partini
udah unboxing belum sih
Rani: jawabannya, udah pasti belom dong yah. ini Si Wana lho yah. Wana. Lama prosesnys. 🤭
total 1 replies
Dew666
💜
Rani: makasih buanyak😘🫰
total 1 replies
Anonim
Ah g seru si wana masa cowo gitu sih lemah amat ,gugup mulu
Rani: iya, anak angkat aku yang ini kan hidupnya penuh dengan penyisihan. jadi, wajar kalo dia kek gini kan yah
total 1 replies
Soraya
lanjut
Rani: sabara yah....
total 1 replies
Anonim
Ibu yg aneh ko bisa nanya kaya gitu bukan nya senang anak nya yg biasa menyendiri jadi ceria lagi,jangan jangan wana bukan anak kandung nya kah thor?
Rani: ish, nggak kok. anak kandung dia. Hanya saja, dia sejak kecil emang dekat dengan neneknya. Singkatnya, ibunya kek ibu tetanga aku 🤣 punya anak kesayangan gitu dia.
total 1 replies
Patrick Khan
ram ram karepmu wes..😄😄😄
Patrick Khan: sebel muak sm rama🤣🤣🤣
total 2 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Rani: 🫰🫰🫰🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Soraya
nex
Rani: 👍👍👍👍👍👍🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!