Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Benar saja suami Angel berada di pinggir jalan bersama orang bengkel yang di panggilnya. Feri menepikan mobilnya di belakang mobil suami Angel. Angel pun segera turun dan menghampiri suaminya.
"Sayang, Dita nya mana?" Tanya Kevin.
"Itu." Tunjuk Angel ke belakang mobil Kevin.
"Halo Kev."
"Hei Dit. Sorry ya jadi ngerepotin nih." Kevin.
"Ngga apa-apa santai. Kenapa mobilnya?" Dita.
"Ngga tau ini lagi di cek. Tadi tiba-tiba mati di tengah jalan. Untung banget lagi macet jadi orang lagi hati-hati semua. Ini di bantu orang dorong ke pinggir. Eh.."
"Hm Kev ini kenalin Pak Feri. Pak Feri ini Kevin suami nya Angel." Dita.
"Feri."
"Kevin."
"Ko, mobilnya saya bawa ya ini udah ada dereknya." Ucap orang bengkel.
"Iya Mas. Nanti kalo udah beres hubungi saja ya Mas." Kevin.
"Siap Ko. Ci saya duluan."
"Iya Mas makasih..." Angel.
"Cici Ngga tuh." Ledek Dita yang sejak dulu Angel Ngga mau di panggil Cici.
"Diem lu." Angel.
"Udah beres kalo gitu ayo saya antar pulang." Feri.
"Pak, lagi ngga sibuk kan?" Tanya Angel.
"Ngga."
"Boleh makan malam dulu ngga. Saya laper hehehe..." Angel.
"Eh, kita pergi berdua aja sayang. Kuta pesan taksi. Nggak enak merepotkan Dita dan Pak Feri." Kevin.
"Kalo saya ngga masalah Ko. Gimana Dita bisa?" Feri.
Deg...
Dada Dita semakin bergemuruh tak menentu ketika Feri menyebut namanya tanpa embel-embel dokter. Karena Dita hanya diam Angel pun menyenggol tangannya.
"Apa?"
"Lu bisa kan makan malam dulu sama kita? Bisa ya udah yuk anak gw laper." Putus Angel menggandeng tangan Dita.
"Maaf merepotkan Pak."
"Panggil Feri saja Ko." Feri.
"Eh, kalo begitu panggil saya Kevin saja jangan pake Ko." Kevin.
Mereka pun segera melaju mencari rumah makan yang di inginkan Ibu hamil. Ibu hamil yang sangat doyan makan berbeda dengan Laela yang memilih makanan semenjak kehamilannya. Tapi anehnya apapun yang di berikan Bagas selalu di makan. Suapan tangan Bagas membuat Laela makan banyak hanya sayang mereka tak selalu bisa bersama karena tugas masing-masing.
"Tempatnya enak ya yang." Angel.
"Kalian belum pernah ke sini?" Kevin.
"Belum lah." Angel.
"Kirain kalian pernah ke sini makanya kamu mau ke sini." Kevin.
"Belum. Aku liat di sosmed katanya restoran ini recomended." Angel.
Pelayan datang memberikan menu Angel tanpa ragu memesan beberapa menu yang dia mau. Kevin sampai geleng-geleng kepala melihat nafsu makan istrinya yang meningkat setelah hamil. Kevin tak bisa protes toh kehamilan Angel hasil perbuatannya.
"Saya ini saja sama ini." Tunjuk Dita pada satu menu makanan dan minuman.
Begitu juga dengan Kevin dan Feri yang hanya menunjuk pada satu menu makanan dan minuman.
"Tumben lu pake nasi Dit?" Angel.
"Takut lu kurang makan jadi gw kasih lu nanti." Dita.
"Dih,,"
"Ngga apa-apa nanti kalo ngga abis aku abisin." Feri.
Mendengar ucapan Feri membuat wajah Dita bersemu merah. Entah mengapa Dita begitu sulit mengendalikan perasaannya ketika berdekatan dengan Feri.
"Mereka pacaran?" Bisik Kevin pada Angel.
"Doakan saja." Angel.
Drreeettt...
"Iya Mi."
"Sayang, kamu ngga apa-apa? Kok ini tadi kata Bibi mobil kamu di antar sama polisi sih? Kamu dimana?" Ibu Rani.
"Eh, Mami udah pulang toh." Ucap Dita saat mendengar ocehan Ibu Rani di balik telfon.
"Sayang, jangan bercanda. Kata Raya kamu udah keluar dari rumah sakit sejak siang tadi." Ibu Rani.
"Iya Mi. Itu tadi temannya Pak Feri Mi yang antar mobil Dita." Dita.
"Pak Feri! Pak Feri polisi itu? Terus kenapa temennya bawain mobil kamu sayang? Terus kamu dimana ini?" Panik Ibu Rani.
"Dita sama Angel ini Mi." Ucap Dita.
Dita melihat Feri meminta ponselnya Dita menolak tapi Feri bersikukuh akhirnya Dita memberikan ponselnya. Feri masih mendengar ocehan Ibu Rani saat ponsel Dita beralih padanya.
"Assalamualaikum Tante.."
Hening... Jeda beberapa detik..
"Tan.."
"Eh, Wa'alaikum salam..."
"Maaf Tante, Feri belum minta ijin Tante bawa Dita. Ini Dita sama Feri Tan. Tadi ngga sengaja kita ketemu di mall." Feri.
"Oh, iya Nak. Tapi ini Dita ngga kenapa-napa kan?" Ibu Rani.
"Ngga Tan. Tadi Feri yang paksa Dita buat Feri antar Tante. Terus Feri minta tolong temen Feri antar mobil Dita ke rumah. Maaf ya Tan. Ini kita lagi makan dulu Tan. Nanti Feri antar Dita." Jelas Feri.
"Oh, iya. Syukurlah kalo ngga kenapa-napa. Tante kaget kok mobil Dita di antar polisi. Ya udah titip Dita ya Nak Feri." Ibu Rani.
"Baik Tante." Feri.
Sambungan telfon pun terputus.
"Lu belum chat Mami lu dari tadi?" Angel.
"Lupa." Dita.
"Lupa apa gugup lu?" Goda Angel.
"Mau makan gw." Jawab Dita melihat semua makanan sudah tersaji.
Dita menyisihkan nasi di piringnya ke pinggir. Dita memang hanya akan menyentuh nasi di makan siang saja sejak sekolah dulu. Melihat nasi di piring Dita sisihkan Feri pun berinisiatif mengambil nasi Dita dan memindahkannya pada piringnya.
"Eh,.."
"Ngga apa-apa. Biar saya yang makan. Kamu makan ini aja." Feri.
"Loh ini."
"Tadi saya pesan tambahan daging untuk kamu. Udah makan." Feri.
Angel ingin sekali menggoda sahabatnya itu hanya saja Angel tak ingin merusak suasana makan malam mereka. Diam-diam Angel mengambil gambar mereka berdua dan di kirimkan ke Ibu Rani.
Ibu Rani tak kuasa menitikan air mata nya ketika melihat foto Dita dan Feri.
"Kenapa Mi?" Tanya Dokter Wijaya.
Tanpa menjawab Ibu Rani menyodorkan ponselnya pada suami tercintanya dan sama halnya dengan Ibu Rani, Dokter Wijaya pun terharu dan menitikan air matanya.