Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Setelah memastikan Gayuh tertidur lelap di bawah penjagaan ketat Pak Gunawan dan tim keamanan berlapis, Jati melangkah keluar dari rumah sakit.
Sisi lembutnya seketika menguap, digantikan oleh aura dingin yang mematikan.
Dengan mobil hitam yang melaju cepat, Jati tiba di gudang tua pelabuhan lama tempat Tryas Adiguna ditahan.
Ceklek.
Pintu besi gudang terbuka kasar. Tryas yang sudah frustrasi, lelah, dan dicekam ketakutan luar biasa selama belasan jam mendongak.
Matanya membelalak sempurna saat melihat sosok pria yang berjalan tegap ke arahnya.
Pria itu tidak lagi memakai jaket ojol kusam, melainkan setelan jas mewah buatan desainer Italia yang sangat mahal—menampilkan identitas aslinya sebagai penguasa J-Corp.
Begitu melihat Jati yang asli dengan segala kemegahannya,
Tryas langsung menangis histeris. Keangkuhannya runtuh total.
Ia meronta di kursinya, mencoba memohon ampun dengan suara serak.
"Jati! Aku mohon ampuni aku! Aku khilaf! Aku melakukan itu karena aku frustrasi kehilangan pekerjaanku! Tolong lepaskan aku, Jati... Seharusnya aku yang menjadi istrimu!! Aku yang dijodohkan denganmu sejak awal, bukan wanita sialan itu!" jerit Tryas tanpa tahu malu.
Jati berhenti tepat tiga langkah di depan Tryas. Ia menatap wanita itu dengan pandangan jijik, menolak mentah-mentah segala bentuk permohonan maafnya.
"Itu salah kamu sendiri, Tryas," ucap Jati dengan suara bariton yang sangat tenang namun menusuk pertahanan Tryas hingga berkeping-keping.
"Kamu tidak mau menemuiku karena kamu malu. Kamu mengira aku hanya seorang tukang ojek online yang miskin dan tidak punya masa depan!"
"Enggak, Jati! Aku—"
"Kamu egois, Tryas!!" bentak Jati dengan suara menggelegar yang membuat seisi gudang mendadak senyap.
Tatapan matanya berkilat penuh amarah. "Kamu membuangku saat mengira aku miskin, lalu kamu mencoba membunuh wanita yang tulus mencintaiku saat kamu tahu aku kaya? Manusia macam apa kamu?!"
Tryas yang semakin tersudut dan panik mulai kehilangan akal sehatnya.
Dalam keputusasaannya, ia mencoba memutarbalikkan fakta demi menyelamatkan dirinya sendiri.
"Ini semua karena Gayuh, Jati! Gayuh yang menghasutku agar aku tidak menemui kamu malam itu! Dia sengaja menceritakan hal-hal buruk tentang ojek online supaya aku jijik dan menyuruh dia menggantikanku! Dia yang merencanakan ini semua untuk merebut posisi CEO J-Corp dari tanganku! Dia licik, Jati!" fitnah Tryas dengan urat leher yang menonjol.
Jati tidak terpancing. Ia justru tersenyum sinis, sebuah senyuman yang mengisyaratkan bahwa permainan Tryas telah usai.
Tanpa ingin mengotori tangannya sendiri dengan menyentuh wanita ular di depannya, Jati membalikkan badan dan memberi isyarat ke arah pintu.
Seketika itu juga, beberapa petugas kepolisian khusus yang sudah disiapkan oleh Jati melangkah masuk ke dalam gudang.
Di atas meja kayu tua, anak buah Jati meletakkan sebuah tablet berisi rekaman CCTV rumah sakit yang sangat jernih dan sebuah kantong plastik transparan berisi pisau dapur yang masih bernoda darah kering milik Gayuh.
"Bawa dia," perintah Jati dingin kepada petugas.
"Pastikan dia mendapatkan hukuman maksimal atas kasus percobaan pembunuhan berencana. Jangan biarkan ada celah untuk remisi atau jaminan apa pun."
Jati kemudian menoleh sedikit ke arah Tryas yang mulai diseret oleh polisi.
"Dan untuk keluarga Adiguna, mulai hari ini, seluruh aset dan nama baik yang tersisa akan dihancurkan tanpa sisa sebagai ganti rugi atas setiap tetes darah Gayuh yang kamu tumpahkan. Kamu akan membusuk di penjara dengan penyesalan seumur hidupmu, Tryas."
"JATI!! TIDAKKK!! JATI, DENGARKAN AKU! GAYUH YANG BERSALAH! JATIII!!"
Jeritan histeris Tryas menggema di sepanjang pelabuhan saat ia diseret masuk ke dalam mobil tahanan.
Jati tidak sudi menoleh lagi. Ia mengancingkan jasnya, lalu melangkah pergi kembali menuju rumah sakit, tempat di mana "berlian" aslinya sedang menunggu untuk ia jaga selamanya.
Jati melangkah keluar dari gudang pelabuhan yang pengap, meninggalkan semua urusan hitam tentang Tryas Adiguna di belakangnya.
Begitu pintu mobil sedan mewah miliknya ditutup oleh pengawal, aura mematikan yang tadi melingkupinya perlahan luruh.
Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang nyaman, mengembuskan napas panjang untuk membersihkan kepalanya dari sisa-sisa amarah.
"Jalan," perintah Jati kepada sopir pribadinya.
Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi karena malam yang semakin larut.
Di dalam keheningan, Jati melirik jam tangan mewahnya.
Pikirannya langsung terbang kembali ke kamar perawatan VVIP rumah sakit, membayangkan wajah tenang Gayuh yang sedang tertidur.
Tiba-tiba, mata Jati menangkap sebuah gerobak sederhana di pinggir jalan dengan asap yang mengepul harum, memancarkan aroma gurih danging dan daun bawang yang sangat familiar.
Langkah kakinya seolah diingatkan pada momen manis saat mereka mengantre bersama sebagai "tukang ojol" dan "penulis miskin".
"Tunggu, berhenti di depan sana," ucap Jati tiba-tiba.
Sopir mobil mewah itu terkejut, namun segera menepikan mobilnya tepat di depan sebuah kedai martabak pinggir jalan.
Sebelum pengawalnya sempat turun untuk membukakan pintu, Jati sudah keluar lebih dulu. Dengan setelan jas mahalnya yang berharga ratusan juta, sang CEO J-Corp tanpa ragu berjalan mendekati gerobak kaki lima tersebut.
Penjual martabak itu sempat melongo melihat pria berpenampilan agung seperti seorang menteri mendatangi dagangannya.
"Pak, beli martabak telurnya satu, ya. Tolong telurnya ditambah, buatkan yang paling enak," ucap Jati dengan senyum tulus yang ramah.
Sambil menunggu pesanan dibuat, Jati berdiri di pinggir jalan dengan tangan terbenam di saku celana jasnya.
Ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang di sekitar sana.
Baginya, martabak telur ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol dari ketulusan cinta Gayuh yang menerima dirinya apa adanya sejak awal.
Setelah pesanan siap dan Jati membayarnya, ia kembali masuk ke dalam mobil sambil membawa sekotak martabak telur yang masih hangat di tangannya.
Aroma gurih yang memenuhi kabin mobil membuat hatinya terasa hangat.
"Sekarang, kita kembali ke rumah sakit," ujar Jati dengan binar mata yang tidak sabar untuk segera melihat senyuman wanita yang teramat dicintainya itu.
Jati melangkah menyusuri lorong VVIP rumah sakit yang sunyi dengan langkah kaki yang sengaja dipelankan.
Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik sederhana yang membungkus sekotak martabak telur hangat.
Pemandangan itu tampak sangat kontras dengan setelan jas mewah yang melekat di tubuh tegapnya, namun ada binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan dari sepasang matanya.
Saat Jati masih berdiri di luar pintu kamar, tangannya baru saja hendak memutar kenop pintu yang terbuat dari kuningan mengilap.
Ia sengaja membukanya sedikit demi sedikit agar tidak menimbulkan suara desitan yang bisa mengejutkan wanita di dalam sana.
Namun, belum sempat Jati melangkahkan kaki melewati ambang pintu, sebuah suara parau yang lembut namun terdengar sangat antusias sudah menyambutnya lebih dulu dari arah ranjang perawatan.
"Hmm... baunya menggoda sekali," bisik Gayuh.
Indra penciuman sang penulis novel rupanya jauh lebih peka daripada yang Jati duga.
Aroma gurih dari telur, daging cincang, dan daun bawang yang digoreng garing dalam bungkusan itu telah berhasil menembus celah pintu dan langsung menyergap penciuman Gayuh, mengalahkan keharuman anggrek bulan yang memenuhi ruangan sejak sore.
Jati seketika melebarkan pintu kamar sambil terkekeh pelan.
Ia melangkah masuk dengan senyuman hangat yang begitu tampan.
"Rupanya penciuman Nyonya Jati ini tidak bisa dibohongi kalau soal makanan kesukaannya," goda Jati sembari berjalan mendekati ranjang.
Ia meletakkan kotak martabak yang masih mengepulkan uap hangat itu di atas meja nakas.
Gayuh yang sedang bersandar pada tumpukan bantal langsung menoleh.
Matanya berbinar cerah saat melihat kotak makanan tersebut, seolah rasa sakit di punggungnya mendadak sirna hanya karena kehadiran camilan pasar kesukaannya.
"Kamu membelinya di kedai tempat kita mengantre waktu itu?" tanya Gayuh dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya yang masih agak pucat.
Jati duduk di sisi ranjang, lalu membuka kotak martabak itu dengan telaten, membiarkan aroma gurihnya menguar semakin kuat dan menggugah selera.
"Tentu saja. Aku meminta penjualnya menambahkan telur ekstra, khusus untuk berlianku yang baru bangun dari tidur panjangnya."
Gayuh menatap potongan martabak telur yang masih hangat di depannya, lalu beralih menatap wajah pria yang kini duduk di sisinya.
Air mata haru kembali menggenang di sudut matanya, namun kali ini bukan karena rasa sedih atau bersalah, melainkan karena rasa syukur yang teramat besar.
Pria di depannya ini adalah seorang CEO besar, namun rela menepikan mobil mewahnya di pinggir jalan hanya untuk membelikan makanan kaki lima kesukaannya.
"Terima kasih, Tuan Jati untuk semuanya," bisik Gayuh dengan suara yang bergetar lembut. Kata 'Tuan' itu ia ucapkan dengan nada sedikit menggoda, namun sarat akan ketulusan terdalam dari hatinya.
Jati tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum sangat manis, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.
Jati menangkup lembut kedua pipi Gayuh dengan tangannya yang hangat, lalu mendaratkan sebuah ciuman yang lama dan penuh perasaan di kening wanita itu.
Cup.
Ciuman itu terasa begitu tenang, menyalurkan seluruh rasa cinta, kelegaan, dan janji suci yang tidak tertulis bahwa ia akan selalu ada untuk melindungi Gayuh dari badai apa pun di masa depan.
Gayuh memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Setelah menjauhkan wajahnya, Jati tetap menempelkan dahinya pada dahi Gayuh, membuat ujung hidung mereka saling bersentuhan.
"Sama-sama, Sayang. Tapi mulai sekarang, kurangi panggilan 'Tuan' itu, hmm?" bisik Jati dengan suara baritonnya yang rendah dan seksi, membuat pipi Gayuh kembali merona merah.
"Sekarang, ayo kita makan martabaknya sebelum dingin. Aku yang akan menyuapimu."
Gayuh menghentikan kunyahannya sejenak. Ia menatap lekat ke dalam manik mata Jati yang mendadak tampak beralih fokus, seolah ada sesuatu yang sedang mengganjal di dalam benak pria itu.
"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Jati perlahan. Nada suaranya terdengar sangat hati-hati, seolah takut merusak suasana manis yang baru saja tercipta di antara mereka.
Gayuh menganggukkan kepalanya dengan lembut.
"Tentu saja. Mau tanya apa?"
Jati meletakkan garpu yang dipegangnya kembali ke atas kotak martabak.
Ia menggenggam jemari Gayuh, mengusapnya perlahan sebelum akhirnya berbicara.
"Tadi, sebelum kembali ke sini, aku mendatangi Tryas di gudang tempat dia ditahan. Di sana dia histeris dan mengatakan sesuatu. Tryas mengatakan kalau kamu yang memintanya untuk melarangnya datang saat pertama kali perjodohan kita. Dia bilang kamu yang menghasutnya agar dia tidak menemuiku malam itu."
Mendengar nama Tryas dan fitnah yang dilontarkannya, senyum di wajah Gayuh perlahan memudar.
Kenangan akan bagaimana sahabatnya itu selalu menindas dan memanfaatkannya kembali berkelebat.
Gayuh menghela napas panjang, dadanya terasa sedikit sesak.
Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Jati, lalu menatap pria itu dengan binar mata yang kecewa dan terluka.
"Kamu tidak percaya denganku?" tanya Gayuh dengan suara yang mendadak bergetar pelan.
"Kamu mengira aku sejahat dan selicik itu untuk merebutmu?"
Melihat perubahan ekspresi dan mendengar nada bicara Gayuh, Jati langsung diserang rasa bersalah yang teramat sangat.
Ia sadar pertanyaannya telah menggores hati wanita yang bahkan baru saja mempertaruhkan nyawa untuknya.
Jati segera memajukan posisi duduknya, lalu kembali meraih kedua tangan Gayuh dan menggenggamnya dengan sangat erat, seolah takut kehilangan.
"Bukan... bukan begitu, Sayang. Aku percaya denganku. Aku 100% percaya padamu," potong Jati dengan cepat dan penuh penekanan.
Tatapan matanya memancarkan ketulusan yang mutlak.
"Aku tahu betul bagaimana busuknya sifat Tryas, dan aku tahu bagaimana sucinya hatimu. Aku hanya ingin memastikan agar tidak ada satu pun kebohongan dia yang tersisa di antara kita."
Jati mengecup punggung tangan Gayuh berulang kali, mencoba mengalirkan kembali rasa aman yang sempat goyah.
"Maafkan aku, sayang. Maaf aku sudah bertanya hal yang bodoh dan membuatmu sedih," sesal Jati dengan tulus. Ia lalu tersenyum hangat, mencoba mencairkan kembali suasana ruangan.
"Dan sekarang, lupakan tentang wanita ular itu. Mari kita lanjutkan menikmati martabak ini sebelum benar-benar dingin. Buka mulutmu, Sayang... Aaa..."
Melihat kesungguhan di mata Jati, mendengarkan kata maafnya, serta melihat tingkah manjanya yang menyodorkan sepotong martabak hangat, hati Gayuh kembali melunak.
Rasa kecewanya menguap begitu saja. Ia tersenyum manis, lalu menerima suapan dari sang CEO dengan perasaan yang jauh lebih lega.