NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Keesokan paginya, rumah terasa lebih hidup dari biasanya.

Bukan karena ramai.

Tapi karena ada sesuatu yang akan terjadi.

Aku berdiri di depan lemari, menatap deretan pakaian yang disiapkan oleh pelayan. Semuanya indah. Semuanya mahal. Dan semuanya… terasa bukan milikku.

Gaun-gaun itu terlalu elegan.

Terlalu “sempurna”.

Aku menyentuh salah satunya pelan, lalu menarik napas.

Hari ini aku akan pergi ke butik bersama Adrian.

Untuk memilih gaun.

Untuk menghadiri pernikahan Celine.

Pernikahan yang… entah kenapa terasa seperti medan perang.

Aku tersenyum kecil pada pikiranku sendiri.

“Berlebihan,” bisikku.

Namun jauh di dalam hati…

Aku tahu itu bukan sekadar pesta.

Tok.

Tok.

Ketukan di pintu membuatku menoleh.

“Iya?”

“Sudah siap?”

Suara Adrian terdengar dari luar.

Aku sedikit terkejut.

Ia… menungguku?

“Iya, sebentar.”

Aku mengambil tas kecil, memastikan semuanya sudah siap, lalu membuka pintu.

Adrian sudah berada di depan kamar, kursi rodanya berhenti tepat di sana. Penampilannya rapi seperti biasa—kemeja gelap, jas tipis, dan ekspresi yang tetap sulit dibaca.

Namun ada satu hal yang berbeda—

Ia tidak terlihat terburu-buru.

Seolah memang… menunggu.

“Ayo,” katanya singkat.

Aku mengangguk.

Kami berjalan berdampingan—atau lebih tepatnya, aku berjalan dan ia bergerak di sampingku. Langkah kami tidak cepat. Tapi juga tidak canggung.

Setelah keluar rumah, mobil sudah siap.

Sopir membuka pintu.

Aku membantu Adrian naik seperti biasanya, lalu ikut masuk setelahnya.

Perjalanan dimulai.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

Aku menatap ke luar jendela, melihat jalan yang semakin ramai.

“Tempatnya jauh?” tanyaku pelan.

“Tidak.”

Jawaban singkat.

Namun kali ini aku tidak merasa canggung.

“Apa… aku harus memilih sendiri?” tanyaku lagi.

Ia menoleh sedikit.

“Kamu yang pakai.”

“Kalau aku salah pilih?”

“Tidak ada yang salah kalau kamu nyaman.”

Aku terdiam.

Jawaban itu… sederhana.

Tapi membuatku berpikir.

Nyaman.

Kapan terakhir kali aku memilih sesuatu karena aku nyaman?

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah butik besar.

Kaca-kaca tinggi memperlihatkan gaun-gaun elegan di dalamnya. Logo brand terkenal terpampang jelas di depan.

Aku langsung merasa… kecil.

Ini bukan tempatku.

“Ayo.”

Suara Adrian menarikku kembali.

Aku mengangguk, lalu turun dari mobil.

Begitu masuk, seorang wanita langsung menyambut dengan senyum profesional.

“Selamat datang, Tuan Adrian.”

Aku sedikit terkejut.

Ia mengenalnya.

Tentu saja.

Wanita itu lalu menatapku.

“Ini…?”

“Istriku,” jawab Adrian singkat.

Aku sedikit kaku.

Kata itu…

Masih terasa asing.

Wanita itu langsung tersenyum lebih lebar.

“Silakan, Nyonya. Kami sudah menyiapkan beberapa pilihan.”

Aku dibawa ke area khusus, di mana beberapa gaun sudah digantung rapi.

Putih.

Emas.

Hitam.

Biru tua.

Semua terlihat… luar biasa.

Aku berdiri di depan mereka, sedikit bingung.

“Coba yang ini dulu,” kata wanita itu sambil mengambil gaun berwarna biru gelap.

Aku mengangguk pelan, lalu masuk ke ruang ganti.

Beberapa menit kemudian, aku keluar.

Gaun itu pas di tubuhku.

Jatuh dengan indah.

Namun saat aku melihat cermin…

Aku tidak mengenali diriku sendiri.

“Cantik sekali,” kata wanita itu.

Aku hanya tersenyum kecil.

Namun mataku… ragu.

Aku melirik ke arah Adrian.

Ia memperhatikanku.

Beberapa detik.

Tanpa bicara.

Lalu—

“Tidak.”

Aku terkejut.

Wanita itu juga.

“Tidak?” ulangnya.

“Bukan dia.”

Aku menatap Adrian.

“Kenapa?”

Ia tidak langsung menjawab.

Lalu berkata pelan,

“Itu terlihat seperti orang lain.”

Aku terdiam.

Ia melanjutkan,

“Aku tidak butuh kamu terlihat seperti mereka.”

Kalimat itu…

Langsung membuat dadaku terasa hangat.

“Pilih yang kamu mau,” tambahnya.

Aku menatap cermin lagi.

Lalu melihat gaun lain di sudut.

Sederhana.

Warna soft—champagne dengan sentuhan lembut, tidak terlalu mencolok, tapi tetap elegan.

Aku menunjuk pelan.

“Yang itu.”

Wanita itu mengambilnya.

Aku masuk ke ruang ganti lagi.

Saat aku keluar…

Aku diam.

Gaun itu tidak terlalu mencolok.

Tidak terlalu mewah.

Tapi…

Aku merasa seperti diriku sendiri.

Aku menatap cermin lama.

Lalu perlahan menoleh ke arah Adrian.

Ia melihatku.

Lebih lama dari sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku melihat sesuatu di matanya.

Bukan dingin.

Bukan kosong.

Tapi…

“Yang itu.”

Aku sedikit terkejut.

Wanita itu tersenyum. “Pilihan yang bagus.”

Aku menunduk sedikit.

Tidak tahu kenapa… aku merasa senang.

Sore hari, kami kembali ke rumah.

Gaun itu sudah siap.

Dan acara pernikahan… tinggal satu hari lagi.

Aku duduk di kamar, menatap gaun itu yang tergantung rapi.

Tanganku menyentuh kainnya pelan.

“Besok…” bisikku.

Jantungku sedikit berdebar.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.

Tapi satu hal yang pasti—

Aku tidak akan mundur.

Tok.

Tok.

Ketukan di pintu lagi.

Aku membuka.

Adrian.

Ia menatapku sebentar.

“Kamu gugup?”

Aku tersenyum kecil.

“Sedikit.”

Ia mengangguk.

Lalu berkata pelan,

“Wajar.”

Sunyi sejenak.

Aku menatapnya.

“Kalau… aku membuat kesalahan besok?”

Ia tidak langsung menjawab.

Lalu berkata—

“Selama kamu berdiri di sampingku… itu bukan kesalahan.”

Aku terdiam.

Kalimat itu…

terlalu kuat.

Aku menggenggam tanganku pelan.

“Iya…”

Ia berbalik.

Namun sebelum pergi, ia berkata tanpa menoleh—

“Dan kalau ada yang mencoba menjatuhkanmu…”

Aku menahan napas.

“…biarkan mereka mencoba.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan—

“Aku ingin melihat siapa yang jatuh lebih dulu.”

Langkahnya menjauh.

Meninggalkanku di depan pintu.

Aku berdiri diam.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Bukan karena takut.

Tapi karena…

Untuk pertama kalinya—

Aku merasa siap.

Dan di tempat lain—

Seseorang tersenyum melihat gaun yang telah dipilihnya sendiri.

Seseorang yang sudah menyiapkan panggung.

Seseorang yang menunggu momen yang tepat—

Untuk menjatuhkan aku.

Besok malam…

Bukan hanya pernikahan.

Tapi awal dari permainan yang sesungguhnya.

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Aku berdiri di depan jendela kamarku, menatap taman luas yang gelap di bawah sana. Lampu-lampu taman menyala redup, menerangi jalan setapak yang sepi. Angin malam berhembus pelan, membuat tirai bergoyang sedikit.

Namun pikiranku… tidak setenang itu.

Undangan itu masih tergeletak di atas meja.

Pernikahan Celine.

Aku menatapnya lagi.

Besok.

Itu berarti… aku harus kembali bertemu mereka.

Ayah.

Ibu tiriku.

Dan Celine.

Tanganku tanpa sadar menggenggam ujung baju tidurku.

Dadaku terasa sesak.

“Aku harus datang…” bisikku pelan.

Bukan karena aku ingin.

Tapi karena aku tidak punya pilihan.

Aku sekarang adalah istri Adrian. Dan sebagai istrinya, aku harus hadir di acara sebesar itu—apalagi kalau itu berkaitan dengan keluarga.

Aku menghela napas panjang, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Bayangan masa lalu perlahan muncul kembali.

Suara ibu tiriku yang tajam.

Tatapan meremehkan Celine.

Dan ayah… yang selalu diam.

Aku menutup mata sebentar.

“Kalau mereka bicara seperti dulu lagi…” gumamku.

Tanganku mengepal pelan.

Dulu, aku hanya diam.

Menunduk.

Menerima semuanya.

Tapi sekarang…

Aku membuka mata perlahan.

Tatapanku berubah sedikit.

“…apa aku masih akan diam?”

Pertanyaan itu menggantung di kepalaku.

Dan jujur saja—

Aku tidak tahu jawabannya.

Tok.

Tok.

Ketukan pelan di pintu membuatku tersentak.

“Iya?”

Pintu terbuka sedikit, lalu kepala pelayan—Bibi Ratna—masuk dengan senyum lembut.

“Nyonya belum tidur?”

Aku menggeleng pelan. “Belum.”

Ia melangkah masuk perlahan. “Besok acara penting, sebaiknya istirahat.”

Aku tersenyum kecil. “Iya… aku tahu.”

Namun ia sepertinya menyadari sesuatu dari ekspresiku.

“Nyonya… gugup?” tanyanya hati-hati.

Aku terdiam sejenak.

Lalu mengangguk pelan.

“Iya.”

Tidak ada gunanya menyangkal.

Bibi Ratna mendekat sedikit, suaranya lebih lembut.

“Karena keluarga lama?”

Aku menatapnya, sedikit terkejut.

Ia tersenyum tipis. “Saya sudah cukup lama bekerja di sini. Saya bisa menebak.”

Aku menunduk sedikit.

“Dulu… aku tidak pernah bisa membela diri,” kataku pelan. “Jadi sekarang… aku tidak tahu harus bagaimana.”

Sunyi sejenak.

Lalu Bibi Ratna berkata,

“Nyonya tidak perlu menjadi orang lain.”

Aku mengangkat sedikit kepalaku.

“Maksudnya?”

Ia tersenyum hangat.

“Kalau dulu Nyonya diam karena tidak punya pilihan… sekarang Nyonya diam atau bicara adalah pilihan.”

Aku terdiam.

Kata-kata itu sederhana.

Tapi terasa… berbeda.

“Dan satu lagi,” lanjutnya. “Nyonya tidak sendirian.”

Aku sedikit tertegun.

“Di rumah ini… ada kami,” katanya pelan. “Dan Tuan.”

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Adrian.

Entah kenapa, saat namanya disebut, rasa gelisah di dadaku sedikit berkurang.

Aku tersenyum kecil.

“Terima kasih, Bi.”

Ia mengangguk, lalu berjalan ke pintu.

“Selamat istirahat, Nyonya.”

“Iya.”

Pintu tertutup kembali.

Kamar kembali sunyi.

Namun kali ini… tidak seberat sebelumnya.

Aku berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit.

Pikiranku masih penuh.

Tapi tidak lagi berantakan.

Aku mengingat satu per satu kejadian belakangan ini.

Dari pertama kali datang ke rumah ini…

Sampai sekarang.

Aku yang dulu… tidak akan pernah berani menatap Celine.

Tidak akan pernah berani menepis tangannya.

Tidak akan pernah berani berbicara jujur.

Tapi sekarang…

Aku menatap tanganku sendiri.

“…aku berubah ya,” bisikku pelan.

Perubahan itu kecil.

Sangat kecil.

Tapi nyata.

Dan untuk pertama kalinya—

Aku tidak membencinya.

Keesokan harinya…

Aku berdiri di depan cermin.

Gaun yang kupakai kali ini berbeda.

Elegan.

Sederhana, tapi terlihat mahal.

Bukan seperti gaun pengantin kemarin yang terasa asing.

Yang ini… entah kenapa lebih “aku”.

Aku merapikan sedikit rambutku, lalu menatap bayanganku sendiri.

Wajahku terlihat tenang.

Meski di dalam… masih ada gelisah.

“Tidak apa-apa,” bisikku pada diriku sendiri.

Aku menarik napas panjang.

“Hari ini… aku hanya perlu bertahan.”

Saat aku keluar dari kamar, Adrian sudah menunggu di lorong.

Seperti biasa—tenang, rapi, dan sulit dibaca.

Ia menatapku beberapa detik.

Tatapannya berhenti sedikit lebih lama dari biasanya.

“…Kamu siap?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

“Iya.”

Ia tidak langsung bergerak.

Masih menatapku.

“Kalau kamu tidak mau datang,” katanya tiba-tiba, “kita bisa tidak datang.”

Aku sedikit terkejut.

“Tidak apa-apa,” jawabku pelan. “Aku harus menghadapi ini.”

Ia menatapku lebih dalam.

Seolah memastikan aku tidak memaksakan diri.

“Aku tidak akan membiarkan mereka memperlakukanmu seperti dulu,” katanya tenang.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Kalimat itu…

Sederhana.

Tapi terasa sangat kuat.

Aku mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Ia tidak menjawab.

Namun kali ini, ia menggerakkan kursi rodanya lebih dekat.

Sedikit lebih dekat dari biasanya.

“Kalau kamu merasa tidak nyaman,” katanya, “bilang padaku.”

Aku tersenyum kecil.

“Iya.”

Perjalanan menuju tempat acara terasa lebih singkat dari yang kubayangkan.

Atau mungkin… karena pikiranku terlalu penuh.

Mobil berhenti di depan gedung besar yang sudah dihiasi mewah.

Lampu terang.

Karpet merah.

Dan banyak tamu yang berdatangan.

Aku menelan ludah pelan.

Ini dia.

Aku bisa melihat beberapa wajah familiar di kejauhan.

Dan di antara mereka—

Aku melihat ayah.

Dan ibu tiriku.

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Tanganku sedikit gemetar.

Namun sebelum aku sempat tenggelam dalam perasaan itu—

Aku merasakan sesuatu.

Hangat.

Aku menoleh.

Adrian.

Tangannya berada di atas tanganku.

Menahan.

Bukan erat.

Tapi cukup.

Seolah berkata—

Aku di sini.

Aku menatapnya.

Ia tidak melihatku.

Tatapannya lurus ke depan.

Namun tangannya… tidak dilepaskan.

Aku menarik napas perlahan.

Gemetar di tanganku perlahan mereda.

“…Ayo,” katanya singkat.

Aku mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya—

Aku melangkah ke arah masa lalu…

bukan sebagai Alina yang dulu.

Tapi sebagai seseorang yang…

tidak lagi sendirian.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!