Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18.
Tatapan Arka benar-benar dingin malam itu.
Bukan marah biasa.
Tapi seperti seseorang yang emosinya sudah terlalu penuh dan tinggal menunggu meledak.
Kayla langsung berdiri di antara Arka dan Dimas sebelum situasi semakin buruk.
“Arka, cukup.” Suara Kayla terdengar panik.
Namun Arka tidak menggubris. Tatapannya masih terkunci pada Dimas yang juga tidak mau mundur sedikit pun.
“Lo belum jawab pertanyaan gue.” Arka tersenyum miring tipis.
“Pegangan tangan sama dia maksudnya apa?”
Dimas tertawa kecil tanpa rasa takut. “Santai aja kali.”
Rahak Arka langsung mengeras.
“Jangan nantangin gue.”
“Emang kenapa?” balas Dimas cepat. “Kayla bukan barang.”
Suasana langsung membeku.
Kayla bisa melihat tangan Arka mengepal kuat di samping tubuhnya. Cowok itu berjalan mendekat sampai jarak mereka tinggal beberapa senti.
“Lo sok jago ya?”
“Daripada sok ngatur hidup orang.”
Bruk.
Arka langsung mendorong bahu Dimas keras sampai cowok itu mundur satu langkah. Kayla refleks memekik kecil.
“Arka!”
“Masuk, Kay.” Nada suara Arka rendah menekan. “Sekarang.”
Kayla menggeleng cepat. “Jangan mulai.”
“Gue bilang masuk.”
“Engga!”
Jawaban itu justru membuat emosi Arka semakin naik. Untuk pertama kalinya malam itu, cowok itu menatap Kayla dengan sorot mata kecewa bercampur marah.
“Lo ngebelain dia?”
Kayla langsung terdiam.
Dimas maju lagi. “Jangan bentak dia.”
Kalimat itu jadi pemicu terakhir.
Bugh!
Arka menghajar wajah Dimas tanpa peringatan sampai cowok itu tersungkur ke samping motor. Helm jatuh menggelinding ke jalan.
“ARKA!” Kayla berteriak panik.
Dimas mengusap sudut bibirnya yang berdarah sambil tertawa miring. “Anjing...”
Belum sempat berdiri sempurna, Arka sudah menarik kerah bajunya lagi. Emosi cowok itu benar-benar lepas malam ini.
“Jangan deketin cewek gue.”
“Aku bukan cewek Kamu!” teriak Kayla tiba-tiba.
Semua langsung diam.
Bahkan Arka ikut membeku.
Napas Kayla naik turun, matanya mulai memerah karena emosi yang selama ini ditahan akhirnya keluar begitu saja.
“Aku capek, Ka...” suaranya bergetar.
Arka perlahan melepas cengkeraman tangannya dari baju Dimas. Tatapannya langsung beralih ke Kayla.
“Apa?”
Kayla mundur selangkah.
“Aku capek harus selalu ngertiin kamu. Capek sama emosi kamu. Capek sama semua hal yang bikin aku takut tiap hari.”
“Takut?” Arka tertawa pendek tidak percaya.
“Iya takut!” bentak Kayla balik sambil menahan air matanya. “Kamu selalu maksa semua harus sesuai mau kamu!”
Arka terdiam beberapa detik.
“Jadi sekarang gue yang salah?”
Kayla mengusap air matanya kasar. “Aku cuma pengen tenang...”
Hening.
Sunyi yang terasa menyakitkan.
Sampai akhirnya Kayla mundur perlahan lalu berbalik pergi masuk ke dalam gang kost tanpa melihat Arka lagi.
“Kayla.” Suara Arka memanggil rendah.
Namun perempuan itu tidak berhenti.
“Kayla, gue belum selesai ngomong.”
Tetap tidak ada jawaban.
Langkah Kayla justru semakin cepat.
Arka mulai berjalan mengejar, tapi Dimas langsung berdiri menghalangi di depan.
“Jangan paksa dia lagi.”
Tatapan Arka berubah gelap total.
“Geser.”
“Kalau engga?”
Arka mendecak pelan sambil tertawa kecil penuh emosi.
Namun di saat itu juga, suara pintu pagar kost tertutup keras terdengar dari ujung gang.
Brak.
Kayla sudah masuk.
Dan untuk pertama kalinya, Arka merasa benar-benar kehilangan perempuan itu.
Arka berdiri diam beberapa saat di tengah jalan yang mulai sepi. Tatapannya masih tertuju ke arah pagar kost yang sudah tertutup rapat. Dadanya terasa sesak dengan cara yang bahkan tidak bisa ia jelaskan sendiri.
Dimas mendecak kecil sambil mengusap darah di sudut bibirnya.
“Kalau emang sayang sama dia, harusnya lo belajar nenangin dia. Bukan malah bikin dia takut.”
Kalimat itu membuat Arka menoleh pelan. Tatapannya tajam, tapi kali ini tidak ada tenaga untuk membalas.
Cowok itu justru tertawa kecil hambar sambil mengusap wajahnya kasar.
“Lo gak tau apa-apa soal gue sama Kayla.”
“Yang gue tau,” balas Dimas dingin, “dia nangis gara-gara lo.”
Sunyi lagi.
Untuk pertama kalinya malam itu, Arka tidak membantah.
Ia hanya mengambil helmnya yang tadi terlempar, lalu menyalakan motor tanpa berkata apa pun lagi.
Namun sebelum pergi, Arka sempat melirik ke arah jendela kamar kost Kayla yang gelap.
Dan entah kenapa, malam itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
...---...
TO BE CONTINUE