NovelToon NovelToon
FAKE LOVE MISSION

FAKE LOVE MISSION

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Xylona

Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.

Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.

Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.

Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 23.

Hari senin pagi hari dimana semua orang yang beraktivitas di luar terasa sangat berat untuk menjalani rutinitas biasa mereka, seperti halnya dengan Aurora meski ia sangat malas untuk berangkat ke sekolah. Aurora memaksakan dirinya berangkat tepat waktu.

Suasana sekolah yang sudah ramai sejak gerbang dibuka. Suara motor, obrolan siswa, dan langkah kaki yang berlalu-lalang memenuhi halaman sekolah seperti rutinitas yang selalu terulang di setiap harinya kecuali hari minggu.

Aurora berjalan santai di koridor yang menuju kelasnya, sambil memainkan handphone tanpa sadar Aurora hampir melewatkan kelasnya. Untungnya ada teman sekelasnya yang menengur Aurora.

Duduk di bangkunya menyimpan tas di kolong meja dan kembali fokus memainkan handphone.

"Woy... gue mau nagih penjelasan!." Tukas Zara dengan suara yang melengking, membuat teman kelas yang lain memandang ke arah Zara.

Aurora memandang Zara sebal." Penjelasan apa sih?."

"Halah pura-pura nggak tau lo."

"Cepet jelasin."

"Maksud si Billy apa lo habis cipokan sama Gama?." Tanya Zara frontal.

Aurora memukul bibir Zara yang kurang ajar itu." Mulut lo."

Zara masa bodo." Cepetan jelasin."

Tak lama Khanza datang dan nimbrung bersama Aurora dan Zara.

"Khanza lo sama kan penasaran soal yang di omongin sama Billy?." Tanya Zara.

"Iya bener Gama beneran cipok lo?."

Aurora duduk di bangkunya sambil pura-pura fokus melihat buku yang terbuka di depannya. Padahal sejak tadi ia sama sekali tidak membaca isinya. Pikirannya justru dipenuhi oleh ejekan teman-temannya yang tak kunjung berhenti membahas kejadian itu.

Setiap kali mendengar namanya disebut, wajah Aurora langsung memanas. Ia tahu teman-temannya hanya bercanda, tetapi tetap saja rasa malu itu sulit diabaikan. Apalagi setiap ada yang menirukan ekspresi terkejutnya atau mengungkit kejadian tersebut, tawa langsung pecah di seisi kelompok mereka.

Aurora akhirnya menundukkan kepala lebih dalam, berharap perhatian teman-temannya beralih ke hal lain. Jemarinya memainkan ujung lengan seragam dengan gelisah, sementara pipinya masih terasa hangat karena menahan malu.

Sesekali ia melirik ke arah jendela kelas, berusaha mengalihkan pikirannya. Namun semakin ia mencoba melupakan semuanya, semakin jelas kejadian itu terbayang di kepalanya.

Di sisi lain, teman-temannya masih sibuk menggoda tanpa menyadari betapa malunya Aurora saat itu. Gadis itu hanya bisa menghela napas panjang dan berharap bel pelajaran segera berbunyi agar obrolan tersebut berakhir dengan sendirinya. Meski begitu, senyum tipis yang sesekali muncul di sudut bibirnya menunjukkan bahwa di balik rasa malu itu, ada perasaan yang bahkan ia sendiri belum tahu bagaimana menjelaskannya.

Akhirnya bel yang di tunggu tunggu Aurora berbunyi nyaring membuat teman temannya berhenti menggoda Aurora yang sudah tidak bisa menahan malu.

Guru mata pelajaran sudah datang Aurora bukannya fokus mendengarkan materi, malah masih terbayang bayang kejadian di rumah pohon itu. Aurora menggelengkan kepala mencoba menyadarkan diri.

"Aurora."

Suara Pak Ridwan membuatnya langsung menegakkan badan. Jantungnya seakan melonjak sesaat karena kaget. Dengan wajah bingung, ia spontan melirik ke kanan dan kiri, seolah mencari petunjuk dari teman-temannya tentang apa yang sedang dibahas.

"Iya Pak."

"Kamu merhatiin tidak? saya sedang menerangkan di depan?." Tanya Pak Ridwan.

"Me—merhatiin Pak." Jawab Aurora gugup padahal sebenarnya Aurora tidak memperhatikan Pak Ridwan yang sedang menerangkan di depan.

Sayangnya, yang ia dapat justru beberapa tatapan penasaran dan senyum tertahan dari teman-teman sekelasnya. Aurora semakin panik. Sejak tadi pikirannya memang melayang entah ke mana, sama sekali tidak memperhatikan penjelasan guru di depan kelas.

"Kalau begitu, coba kamu jawab," lanjut Pak Ridwan dengan nada tenang.

Aurora langsung membeku. Otaknya berusaha keras mengingat pelajaran yang baru saja dijelaskan, tetapi hasilnya nihil. Ia bahkan tidak tahu pertanyaan apa yang diberikan kepadanya.

Dengan ragu, Aurora mengangkat tangannya.

Pandangannya kembali menyapu seisi kelas, berharap ada seseorang yang mau memberinya petunjuk. Namun teman-temannya justru terlihat sibuk menahan tawa melihat ekspresinya yang kebingungan.

Wajah Aurora perlahan memerah karena malu. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia berharap lantai kelas bisa menelannya bulat-bulat agar tidak perlu menghadapi situasi memalukan tersebut.

"Mengapa pelestarian keanekaragaman hayati (konservasi) sangat penting bagi kelangsungan hidup di bumi?." Tanya Pak Ridwan.

Aurora hanya berdiam diri di tempatnya. Bibirnya sempat terbuka seolah ingin menjawab, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Kepalanya terasa kosong. Semakin lama Pak Ridwan menunggu, semakin gugup ia jadinya.

Tatapannya kembali berkeliling ke seluruh kelas, berharap menemukan petunjuk dari teman-temannya. Namun yang ia lihat justru teman temannya yang mulai menahan senyum seolah merasa kasihan dan ada pula yang diam-diam memberi kode yang sama sekali tidak ia mengerti.

Aurora menelan ludah pelan. Ia benar-benar tidak tahu jawabannya. Sejak tadi pikirannya terlalu sibuk memikirkan hal lain sampai tidak menyimak penjelasan yang diberikan di depan kelas.

"Kenapa? kamu tidak bisa menjawabnya?." Tanya Pak Ridwan seolah tahu atas keterdiaman Aurora.

Ia langsung menundukkan kepala karena malu. Rasanya tidak enak harus mengakui bahwa ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang mungkin sebenarnya sudah dijelaskan beberapa menit sebelumnya.

Hari itu rasanya memalukan sekali. Belum cukup dengan teman-temannya yang terus menggoda sejak pagi, sekarang ia juga tidak bisa menjawab pertanyaan guru di depan seluruh kelas. Aurora hanya bisa berharap tidak ada lagi hal memalukan yang terjadi sampai jam pelajaran Pak Ridwan berakhir.

Istirahat telah tiba Aurora bersama Zara dan Khanza berjalan menuju ke kantin, kedua temannya tidak henti hentinya mengejek Aurora.

1
Davina Aurora
bagus ka ceritanya😍
aurora: terima kasih☺
total 1 replies
T28J
hadiir kk🙏
aurora: terimakasih😊☺😍
total 1 replies
Wawan
Semangat ✍️
aurora: terimakasih 🤗🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!