NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|05|Lantai 99

Pagi hari yang sangat mengacaukan dilewati Aruna dengan susah payah, seperti berada dipenjara lantai paling atas. Semua akses pintu keluar dikunci rapat-rapat. Aruna hanya didalam menangis tanpa henti dengan segala penyesalan dalam dirinya.

Ayahnya sudah pasti selamat dan hutangnya pun juga sudah lunas, namun bayaran dari semua itu adalah nyawa-nya. 'Lebih baik jika aku mengakhiri hidup daripada harus menyerahkan hidupku kepada pria itu' gumam Aruna.

Namun, benda tajam tidak ada didalam ruangan megah dan mewah itu, mungkin sengaja disimpan karena tau kalau Aruna akan berbuat nekat. Saat sedang mengelilingi penthouse itu dilantai atas Aruna menemukan sebuah ruangan rahasia, pintu terbuat dari baja dengan akses sidik jari dan tulisan 99 yang samar nyaris tak terlihat. Namun segera Aruna abaikan, menurutnya tak penting untuk Ia cari tahu.

Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya Ia akan mengakhiri hidupnya. Aruna mengelilingi penthouse yang sangat luas itu sampai kaki nya pegal hanya untuk mencari tali ataupun benda tajam. Namun hampir satu jam lamanya Ia tidak menemukan apapun.

Saat jam 09.00 ada suara pintu masuk terbuka, Aruna dengan cepat berlari menuruni tangga. Terlihat seorang perempuan paruh baya berjalan kearah dapur.

"Budhe, tunggu dulu" Teriak Aruna.

Perempuan itu terlihat bingung dengan panggilan dari Aruna. Namun Ia juga melemparkan senyuman kepada gadis itu. "Pelan-pelan nyonya" Ujarnya.

Aruna menaikkan alisnya, baru pertama kali ini Ia dipanggil nyonya. Aruna tertawa kecil, "Panggil Aruna aja budhe"

"Panggil saya bi Meri aja, kalau panggil nama nyonya saya gak berani" Balas Meri, Ia terlihat berbicara namun dengan sedikit menunduk, seperti takut dengan Aruna.

"Apa Pak Devara sangat galak?" Tanya Aruna yang penasaran. Ia mengekori Meri didalam dapur yang luas itu.

"Saya jarang ketemu Tuan Devara, tapi dia gak pernah nyapa atau ngomong apapun kalau ketemu. Yang sering ketemu malah sama den Andre" Ujar Meri sambil membersihkan meja kompor.

Aruna mengangguk. "Bi Meri kerja sampai malam kan?" tanya Aruna kembali, jelas Ia takut kalau bermalam hanya dengan Devara, si iblis tampan yang menakutkan itu.

Meri tertawa pelan, "Enggak, selesai saya buat makan siang dan bersih-bersih saya pulang. Tenang, Tuan Devara gak gigit kok" ujar Meri sambil tertawa pelan seakan tau isi hati Aruna.

Aruna hanya diam sambil duduk melihat Meri memasak. Rasa bosan yang menerpa dirinya di siang hari ini membuat Aruna ingin cepat-cepat keluar dari tempat tersebut.

"Bi, pinjam kartu akses-nya boleh?" ujar Aruna dengan lirih.

"Jangan nyonya, saya gak berani. Kita lagi dipantau lho" balas Meri dengan lirih sambil memberi isyarat menunjuk cctv yang bergerak kesana kemari menggunakan dagu-nya.

Aruna langsung menatap kearah cctv tersebut, tatapan tajam Ia arahkan ke cctv itu. Aruna mengangkat tangannya dan menunjukkan jari tengah kearah cctv yang bergerak.

Ditempat lain...

didalam kantor Mahesa Group, Devara duduk dikursi paling depan memimpin rapat, matanya membulat setelah mengecek cctv yang memperlihatkan Aruna mengacungkan jari tengahnya dengan tatapan tajam.

"Ada apa pak?" tanya ketua devisi setelah selesai menjelaskan, namun ekspresi Devara terlihat tidak senang.

Jari Devara nge-pause video satu detik. Wajahnya datar, namun bibirnya bergerak 1 cm. Ia langsung merapikan jas-nya dan menegapkan badannya. Pandangannya kembali beralih ke layar proyektor. "Lanjut" ujarnya datar.

Andre nunduk, kertas notulen didepannya basah karena keringatnya sendiri. Melihat bos nya beda dari sebelumnya, apalagi teringat terakhir Devara senyum 1 cm saat ada tiga direktur yang mengundurkan diri, besoknya mereka benar-benar lenyap tak terlihat lagi. Tak ada mayat dan tak ada jejak, hilang seakan lenyap.

Andre melihat putaran cctv, aksi protes Aruna membuat Andre mengkhawatirkan gadis itu. "Ya ampun bu Aruna berani banget sama singa" -batin Andre.

...*** ...

Sore hari yang membosankan dilalui Aruna. Saat seusai mandi Ia mengambil piyama dari dalam lemari. Jelas saja dirinya tidak membawa satu baju-pun saat pindah ke istana megah ini. satu-satunya barang miliknya hanyalah ponsel tua yang sudah mati karena kehabisan daya.

Sekali lagi Aruna menatap piyama berwarna maroon itu. Dengan tali yang setipis harapannya untuk keluar dari dalam kandang singa ini. Serta rok pendek yang nyaris tak menutupi bagian sensitive-nya.

"Aku mau pulang ke kontrakan" keluh Aruna sambil menatap piyama itu.

Dengan terpaksa dan karena tidak ada pakaian lain, Aruna mengenakan piyama itu. Setelah mandi, Ia menatap dirinya didepan pantulan cermin. Terlihat lebih pucat dari biasanya, senyumnya semakin memudar. Sudah hampir 24-jam dirinya dikurung didalam ruangan ini. Sudah selama itu juga Aruna tidak melihat rumput hijau, ataupun ayam goreng yang Ia sajikan direstoran.

Biasanya jam seperti ini pelanggan sudah mengantre untuk mendapatkan ayam goreng direstorannya yang sangat ramai. Bahkan bisa sampai lembur karena saking ramai-nya. Terbayang rasa lelahnya Aruna bekerja siang malam tanpa henti. Matanya tertuju pada lingkaran hitam dibawah matanya, masih samar tapi itu tanda kalau dirinya sering melewatkan tidur malam hanya untuk mendapatkan tambahan uang untuk makan keesokan harinya.

Aruna melangkah mendekati ranjang empuk yang sudah hampir setahun Ia tidak merasakan empuknya tidur diranjang seperti ini. Tubuhnya meringkuk memeluk guling dan tertidur dalam sekejab.

Pukul 02.00 dini hari, mata Aruna terbuka lebar, Ia mendengar suara lift terbuka dilantai atas. Lantai 99. Aruna berjalan perlahan melihat kearah samping, tak terlihat apapun namun sangat jelas kalau Ia mendengar suara lift terbuka persis diatas kamarnya, ruangan yang berada diatas kamarnya. Lalu ada suara seperti seseorang jatuh, atau terjatuh. Aruna menggigit bibir bawahnya. Takut, dan cemas.

Ditempat lain...

Ting... Suara pintu lift terbuka, Devara menyeret seseorang dengan mulut tertutup lakban dan tangan terikat kencang. Ia mendudukan pria tersebut disebuah kursi.

"Pastikan kalau kerja itu pakai otak, barang satu kontainer hilang dalam semalam" Bibirnya naik 1cm , bukan tersenyum namun lebih merasa muak dengan pria yang Ia tangkap didepannya. Suaranya lirih tepat ditelinga pria itu.

Devara mengeluarkan pisau kecil yang terukir naga emas dari dalam saku nya. Sambil membenarkan topinya lalu Devara membuka pisau kecil itu dan mengelapnya menggunakan jari telunjuknya perlahan, tenang dan santai.

Seolah dirinya sudah lihai dalam hal tersebut.

Pisau kecilnya Ia sayatkan ke leher pria itu dengan sekali sayat 'Sreekkk' tepat di pembuluh darah. Devara menyeringai, Ia segera memanggil Andre untuk menyingkirkan pria tersebut.

Sambil menunggu, Devara menyalakan rokoknya. Devara seolah menyimpan sebuah rahasia yang tidak pernah orang tau, dibalik wajah tampan dan sifat dingin-nya itu Ia dijuluki sebagai Iblis Naga Hitam. Tak ada seseorang pun yang berani berurusan dengan Devara. Semua orang bisa Ia targetkan sebagai korban selanjutnya, termasuk Aruna.

Tanpa ketukan, tanpa membuka pintu kamar itu terbuka sendiri untuk Devara, pemilik kamar itu menggunakan akses sidik jari. Gadis itu terlihat cemas, berjalan kesana kemari. Namun saat melihat Devara masuk tiba-tiba kedalam kamarnya, napas Aruna tiba-tiba berhenti, tidak takut tapi karena oksigen dikamar tersedot oleh aura Devara. Tatapan nanarnya tertangkap oleh Devara. Pria itu datang, jari telunjuknya masih membekas darah kering. Mata Aruna tak bisa menghindari menatap jari itu.

"Kamu melanggar peraturan no 3 Run" ucap Devara dingin, datar dan membuat Aruna semakin cemas.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!