NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam bersama

Tok! Tok! Tok!

"Masuk!"

Tangan kurus memutar handle pintu lalu menutup kembali ketika dirinya sudah berada di dalam ruangan yang dingin.

"Tuan memanggil saya?" walaupun ia mengetahui alasan Majikannya memanggil dirinya.

"Buatkan aku kopi seperti waktu itu." netra tajam itu tak menatapnya, melainkan fokus ke tumpukan beberapa dokumen di atas meja.

"Baik, tuan."

Langkah terayun kembali ke luar ruangan. Kepalanya terangguk sopan kala bertemu pandang dengan sekretaris yang sudah dua tahun bekerja di sini.

Diam-diam Hana kagum pada sekretaris itu, perempuan tersebut tahan banting menghadapi kerewelan Luca. Sekretaris-sekretaris sebelumnya hanya mampu bertahan beberapa bulan saja.

Hana membawa baki yang berisi secangkir kopi menuju meja kerja Luca. Pria itu mengenakan kacamata yang menambah ketampanannya.

"Ini kopinya, tuan."

Telunjuk pria itu menyentuh sisi kosong meja, Hana paham harus meletakkan kopi di sana.

Gadis itu berdiri di sisi Luca dengan memeluk baki. Ia menunggu intruksi selanjutnya.

Detik berlalu menit dan hampir menyentuh satu jam. Luca menegakkan tubuhnya, tangannya terulur melepaskan kacamata yang sedari tadi bertengger di hidung, lalu menyesap kopi yang mungkin sudah dingin.

"Kau sedang belajar menjadi patung?"

Hana tahu, pertanyaan itu untuknya.

"Anda ingin saya melakukan sesuatu, tuan?"

"Pijat bahuku."

Tubuh kurus itu segera beralih ke belakang kursi yang diduduki Luca, perlahan tangannya mulai memijat bahu lebar majikannya.

"Lebih keras. Ini masih pagi kenapa kau sudah lemas?"

Luca menyindir tenaga Hana yang tak terasa di bahunya.

Hana mengetatkan rahangnya untuk menambah kekuatan. Dirinya sudah mengerahkan semua tenaganya.

"Nanti malam kau masak untuk dirimu sendiri. Aku akan lembur." pria itu memejamkan mata sembari menikmati pijatan Hana.

"Apa anda akan makan malam di luar?"

"Mungkin."

"Jika nanti anda lapar, tolong bangunkan saya."

"Aku tidak makan larut malam."

"Apapun yang anda butuhkan."

"Nikmati saja istirahatmu. Kebaikanku ini hanya dinikmati oleh beberapa orang saja."

"Baik, tuan. Terima kasih atas kebaikan anda."

Luca membuka matanya.

"Berhenti. Keluar."

Hana melepaskan pijatan dan menggeser tubuhnya.

"Baik, saya permisi tuan."

Punggung kecil itu perlahan menjauh dari tempat Luca. Tatapan pria itu tak beralih sampai sosok itu keluar dan pintu kembali tertutup.

"Gadis desa yang sombong."

"Tuan, Putri dari Dirut OHA meminta untuk bertemu dengan anda."

"Kita tidak punya janji. Untuk apa?"

"Beliau ingin mengenal anda lebih dekat, tuan."

"Aku tak tertarik. Tolak saja, aku sibuk."

"Baik, tuan."

Ruby segera mengirim email kepada asisten pribadi Putri Dirut OHA.

"Pastikan penjagaan Hana lebih ketat. Firasatku tidak enak tentangnya."

"Baik, tuan."

Tidak mudah membawa Hana ke apartemennya, dirinya memiliki musuh yang siap menerkam kapan saja. Sedikit saja memperlihatkan kedekatannya dengan gadis itu, maka Hana akan menjadi sebuah ancaman. Selama ini Luca sering bermain kucing-kucingan untuk mengecoh keberadaan dirinya.

Pukul 8 malam, Hana sudah pulang dan selesai memasak untuk makan malamnya. Ia merasa sangat kesepian karena sudah terbiasa makan malam bersama Luca, walaupun mereka jarang berbincang.

Gadis itu merapikan kamar sang majikan sebelum pergi tidur. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Hana mengkhawatirkan Luca yang belum juga pulang.

Pria itu sangat jarang lembur di kantor. Luca lebih sering membawa pekerjaannya ke apartemen.

"Mungkin akan lebih mudah menyelesaikannya di kantor." pikirnya.

Hana menurunkan beberapa stel piyama untuk Luca. Gadis itu menjatuhkan pilihannya pada piyama berwarna navy. Ia membawa piyama tersebut dan meletakkannya di atas tempat tidur Luca.

"Jika dipikir lagi, ini seperti kegiatan seorang istri melayani suaminya." Hana tertawa hambar. Benar-benar pria itu membuat dirinya melakukan hal seperti ini.

Matanya tak sengaja melihat laci penyimpanan yang tak tertutup rapi, ia melangkah mendekat.

"Kenapa berantakan sekali?" Ia melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.

"Mungkin membereskannya tidak terlalu lama, lagi pula aku belum mengantuk."

Tangannya mulai mengeluarkan barang-barang dari laci penyimpanan dan menyusunnya dengan rapi.

Waktu berlalu begitu cepat, Hana seolah hanyut dalam kegiatannya hingga tak merasa kehadiran sang pemilik kamar.

"Astaga, tuan!" Hana memekik ketika menoleh ke samping, Luca berdiri menenteng tas kerja dan jasnya. Hanya mengenakan kemeja dan dasi yang sudah dilonggarkan.

"Apa yang kau lakukan selarut ini di kamarku?"

"Merapikan isi laci ini, tuan. Tadi sangat berantakan."

Luca berlalu menuju kamar mandi setelah meletakkan asal tas kerja dan jasnya di atas tempat tidur.

Hana sigap untuk membereskan dan meletakkannya di tempat yang tepat.

Terdengar suara air yang berarti Luca sedang mandi. Gadis itu melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Tanggung jika diteruskan esok hari.

"Kenapa belum selesai?"

Hana menoleh dan terkejut mendapati Luca yang keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk sebatas pinggang.

Uhuk! Uhuk!

Hana terbatuk ketika tak sengaja menelan ludah.

"Anu.. Saya harus mengurutkan posisi ini agar terlihat rapi."

Hana menunduk, ia malu wajahnya memerah. Sedangkan pria itu dengan cuek mengenakan pakaian di depan Hana.

Hana melirik takut pada Luca yang sedang mengancingkan piyama pilihannya tadi.

"Kau sudah makan malam?" Luca duduk di sofa single yang menghadap ke arah Hana. Gadis itu duduk di lantai dengan beberapa barang yang belum tersusun.

"Sudah, tuan. Anda bagaimana?"

"Aku makan salad, Ruby membeli."

"Ingin minum atau camilan, Tuan?"

"Tidak. Sebentar lagi aku akan tidur."

Hana segera mempercepat pekerjaannya agar tak membuat Luca menunggu dirinya selesai.

"Kau bisa tidur di sini."

Hana menatap horror Luca. Pria itu hanya menyeringai kecil.

"Aku serius. Kapan pun kau mau, kau bisa tidur bersamaku."

"Saya berani tidur sendiri tuan."

Luca mengedikkan bahunya.

"Aku hanya menawarkan sesuatu yang gadis lain inginkan."

"Terima kasih atas tawarannya, tuan. Saya menolaknya."

"Dan kau menikmatinya." Sambung Luca tersenyum puas. Sontak wajah Hana memerah, ia tak mengelak. Tapi gerakan tangannya menjadi asal.

Dan itu tak luput dari perhatian Luca.

"Kau tahu, hutangmu mustahil lunas, kan?"

"Saya percaya itu akan lunas."

"Kau hanya mampu membayar 5 juta dalam sebulan. Itu karena kemurahan hatiku."

"Terima kasih banyak."

"Tidak sesuai kesepakatan." bibir Luca mencebik.

"Saya minta maaf tapi hanya mampu sebanyak itu."

"Ya, apa boleh buat. Masa mudamu akan panjang melayaniku."

"Saya akan terima."

"Andai kau mau menikah denganku, semua akan lunas."

"Saya hanya punya harga diri dan belum berminat untuk menggadainya."

"Aku tak bermaksud begitu."

"Saya menganggapnya begitu."

"Sudahlah. Intinya, jika kau menikah denganku semua uang yang sudah kau cicil itu akan kembali padamu. Aku anggap kau tak pernah berhutang denganku."

Hana hanya mengangguk. Baginya, percuma menyanggah, pria ini selalu memiliki jawaban.

"Saya sudah selesai. Selamat beristirahat, tuan."

Baru saja ia akan melangkahkan kakinya, suara bariton membuatnya berhenti.

"Sebelum pergi, pijat tubuhku terlebih dahulu."

Hana menghela napas pelan sampai tak terlihat. Tubuhnya sudah lelah ingin segera beristirahat.

"Baik, tuan." tak ada pilihan lain daripada hutangnya berbunga.

Luca kembali membuka piyamanya dan hanya menyisakan celana panjangnya saja. Dirinya berbaring telungkup dia atas tempat tidur.

Hana menyiapkan minyak urut lalu naik dan duduk di sisi tubuh Luca.

"Pijat yang kuat, kau sudah makan. Jangan membuatku rugi memberi makanan yang sehat untukmu."

"Baik, tuan."

Hana mulai membalur minyak urut ke punggung Luca yang bertato.

Baru 15 menit, Hana sudah menguap beberapa kali. Tangannya terus memijat punggung kekar itu.

Tampaknya Luca sudah tertidur karena sudah tak ada lagi ucapan remeh yang terdengar di telinga Hana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!