Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Klien itu ...
"Ini benar Maira, kan?" tanya Reza memastikan seraya menatap tidak percaya.
"Iya, Mas. Aku Maira, Maira Yustina." Maira menyebutkan namanya seraya melempar senyum pada sesosok lelaki dengan wajah blasteran antara Turki dan Jawa.
Hidungnya sungguh mancung, wajah sangat berwibawa dengan rahang yang nampak jelas dan tegas serta ditumbuhi jambang yang dicukur sangat rapi. Bibirnya merah alami, terlihat menggoda siapa saja yang melihatnya. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi terlihat sangat bersih.
"Senang sekali bertemu denganmu, Maira. Oh ya, bagaimana kabarmu? Sudah menikah?" tanya Reza ramah dan spontan.
Maira sedikit tersenyum kecut mendengar pertanyaan terakhir yang terlontar dari bibir Reza.
Menikah?
Ya, aku telah menikah dua tahun yang lalu. Pernikahan yang bahagia, sebelum prahara itu datang.
Ia lalu menundukkan kepala sesaat kemudian menariknya kembali hingga tegak. Tidak mungkin ia menunjukkan kesedihannya dihadapan Reza.
"Kabar aku baik, Mas. Mas Reza sendiri gimana?" Maira balik bertanya, ia sedikit memperhatikan penampilan Reza yang sangat rapi, tubuhnya yang tinggi dan kekar itu terbalut jas berwarna abu-abu tua yang nampak mewah dan mahal.
Dilihat dari tampilannya, Reza sudah jauh berbeda sekali dengan Reza yang dia kenal dulu.
Lelaki itu melempar senyum singkat ke arah Maira. Matanya terlihat hitam dan bening serta penuh semangat.
"Alhamdulillah baik," jawabnya singkat lalu menengok arloji ditangannya.
"Maira, aku ingin sekali mengobrol banyak denganmu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Tapi sayangnya hari ini aku ada janji dengan sahabatku. Jika berkenan, bolehkah aku minta nomormu yang bisa dihubungi?" tanya Reza hati-hati.
"Oh ... boleh, kebetulan aku juga ada janji dengan bos ku. Kami harus menemui klien kami sesaat lagi. Ini nomorku, Mas." Maira menunjukkan ponselnya pada Reza. Sementara Reza nampak serius mengetik dan menyimpan nomor tersebut.
"Oke, Maira. Thanks, ya. Insya Allah kalau aku senggang, nanti ku hubungi." Reza tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan berbaris rapi. Sungguh senyum yang membuat wanita hilang kesadaran.
"Sama-sama, Mas. Ya udah aku duluan, takut telat dan ditunggu sama bos." Maira membalas melempar senyum. Senyum seorang wanita yang begitu cantik. Andai saja ia tidak menyimpan beban di balik senyumnya, senyum itu akan menjadi senyum yang sempurna sekali. Bibir merah jambunya tertarik lebar menghiasi wajah cantik dan putih bersih.
Reza pun melambaikan tangan dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
Sementara Maira melangkah dengan anggun menapaki jalan menuju pintu masuk restoran dengan nuansa hitam dan ungu.
"Selamat pagi, selamat datang di restoran kami. Ada yang bisa kami bantu, Ibu?" sapa seorang resepsionis restoran pada Maira yang baru saja masuk ke dalam restoran.
"Pagi, mau tanya, Mbak. Meja atas nama pak Hardi dimana, ya?" tanya Maira.
"Dengan Ibu Maira, ya? Bapak Hardi, ada di ruangan VIP. Mari saya antar," perempuan dengan seragam kerja serba berwarna ungu muda itu mempersilahkan Maira.
"Oh ... iya, baiklah. Terimakasih sebelumnya." Maira lalu mengikuti langkah kaki resepsionis itu kedalam. Menuju ruangan khusus yang disebut ruangan VIP tadi.
Setelah melewati lorong yang tak terlalu panjang, akhirnya sampailah Maira di ruangan bertuliskan angka 102.
"Silahkan, Bu. Ini ruangannya." Resepsionis itu menunjuk ruangan itu.
"Terimakasih," jawab Maira.
Resepsionis itu pun mengangguk dengan sopan dan tersenyum kemudian pergi meninggalkan Maira.
Maira akan mengetuk pintu, namun ponselnya tiba-tiba berdering. Ia mengambilnya dari dalam tas dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Selamat pagi, Pak," sapanya.
"Kamu sudah sampai dimana?" tanya si penelepon.
"Saya sudah berada di depan ruangan VIP yang Bapak pesan," jawab Maira.
"Baguslah, cepat masuk segera!" perintah pak Hardi. Ia lalu memutus teleponnya begitu saja.
Untung Maira sudah hapal dengan tabiat orang satu ini. Jadi ia tidak heran jika bosnya main tutup telepon seenaknya tanpa menunggunya menjawab.
Maira memasukkan kembali ponselnya dan memutar gagang pintu berwarna perak dihadapannya. Udara dingin langsung menembus blouse yang dikenakannya, hingga menerpa kulitnya yang halus. Terasa sejuk sekali.
"Selamat pagi, Pak." Ia menyapa bosnya yang sedang duduk di ujung meja dan mengotak-atik ponselnya.
"Hem ...," balasnya.
Tanpa basa-basi lagi, Maira langsung duduk di kursi sudah disediakan. Klien yang akan ditemui belum menampakkan dirinya, Maira celingukan melihat ke kanan dan ke kiri serta ke seluruh isi ruangan.
"Maira, pastikan hari ini kamu tidak membuat kesalahan. Karena klien kita kali ini adalah orang yang cukup berpengaruh juga, dan lagi ... dia adalah kawan baikku. Jangan sampai mengecewakannya!" Pak Hardi mewanti-wanti.
"Baik, Pak. Saya akan bekerja dengan baik. Omong-omong ... orangnya belum datang ya, Pak?" tanya Maira.
"Ya, mungkin masih dijalan." Pak Hardi menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
Setelah itu tidak lagi ada obrolan karena Maira sedang memeriksa berkas kerjasama yang akan dibahas pagi ini oleh kedua belah pihak. Bahkan sampai seseorang masuk ke dalam ruangan pun ia tidak menyadarinya karena terlalu fokus.
"Senang bertemu denganmu, Hardi." Seseorang menyapa bosnya dengan ramah dan ceria, membuat Maira menghentikan sejenak pekerjaannya dan menoleh ke arah orang yang baru saja bersuara itu.
Ia menutup mulutnya dengan ujung-ujung tangannya saat melihat klien yang dimaksud adalah orang yang sama yang hampir menabraknya tadi. Reza.
Sementara Reza hanya melempar senyumnya lalu menyalaminya.
"Reza," ujarnya memperkenalkan diri.
Jadi sekertaris cantik yang Hardi ceritakan itu adalah Maira. Reza bergumam dalam hatinya.
"Oh ... em ... Maira," balas Maira dengan sedikit gugup lalu menjabat tangan Reza.
"Senang bertemu dengan Anda, Bu Maira." Reza kembali tersenyum. Ia menjaga profesionalisme pekerjaannya. Masalah mengobrol dengan Maira itu bisa nanti setelah pertemuan.
Maira yang cepat mengerti situasi itupun membalas senyum Reza dengan ramah.
"Sama-sama, Pak Reza. Silahkan duduk," ujarnya.
Melihat hal itu Reza menarik sudut bibirnya. Benar apa yang dikatakan Hardi, sahabatnya. Maira adalah orang yang bisa bekerja profesional dan sekaligus bisa diandalkan. Terbukti ia cepat sekali merubah situasi dirinya yang tadinya terkejut dan canggung menjadi kembali anggun dan bersikap biasa.
Jarang sekali seorang perempuan bisa fokus seperti itu. Pantas saja, seberapapun perfeksionisnya seorang Hardi. Ia tetap mempertahankan Maira menjadi sekertarisnya. Padahal sebelum ada Maira, entah sudah berapa kali ia berganti sekertaris.
Setelah itu Maira pun memulai acara meeting pagi itu dengan baik. Melupakan masalah rumah tangganya dan juga rasa canggungnya karena klien yang ia hadapi ternyata adalah Reza, kakak kelas SMA yang dulu pernah menyatakan perasaan padanya. Namun sayangnya, Agam saat itu telah lebih dulu mengisi hati Maira. Sehingga Reza hanya bisa menjadi teman biasa yang hanya mampu mengagumi dan memandangnya dari kejauhan.
gw intip koq gk ad🙃