NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 : Percikan

"Gila... Profesor Alan mengamuk dari kemarin sampai hari ini. Kau ini benar-benar ya!" Zizi mengomel lewat layar ponsel.

Alin menghela napas panjang, menatap dua temannya bergantian. Saat itu, Han dan Mei sedang berkumpul di kamar Alin, melakukan panggilan video dengan Zizi untuk melepas penat.

"Apa? Kau mau ikut menyalahkanku juga?" tanya Alin defensif. "Sudah kubilang aku tidak tahu kenapa berkas itu bisa terkirim. Kalian sendiri tidak percaya?"

"Masalahnya, berkas itu terkirim dari email pribadimu, Lin," sahut Han tenang namun menuntut penjelasan. "Hampir mustahil ada yang menyabotase akun email mu bukan."

"Aku juga tidak langsung menerimanya begitu saja. Aku bahkan belum melapor diri karena masih mempertimbangkannya," bantah Alin.

"Lalu kau tidak berencana diskusi dengan Profesor Alan?" Zizi menyela.

"Tentu saja aku akan minta pertimbangannya. Bagaimanapun, dia yang membimbingku dan Han untuk—"

"Kalau begitu, tahan dulu programmu sampai masa tiga bulan kita di sini berakhir," potong Han tegas. "Kita harus menemuinya langsung."

"Ya, kau benar. Tinggal 1,5 bulan lagi. Tidak terasa, ya?"

Mei, yang sedari tadi terkapar di kasur, mengeluh pelan, "Aku hampir mati di sini. Besok pagi kita sudah harus ke istana, kan? Aku takut membayangkan apa yang akan terjadi di sana."

"Kudengar dua pangeran itu akan hadir. Pangeran Lie dan Pangeran Yan," balas Han.

Zizi melirik jam di layarnya. "Di sana sudah jam dua pagi. Kalian tidak tidur?"

"Apa kami terlihat seperti orang yang bisa tidur?" sahut mereka bertiga serempak.

"Sistem monarki ini sungguh mencekik. Terlalu banyak protokol yang harus kuhafal," gerutu Alin sambil melemparkan hardcopy tata tertib kerajaan ke meja.

BIP BIP BIP

Tuan Rei : Kau belum tidur? Apa semua baik-baik saja?

Alin tersentak. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat membaca nama itu.

"Siapa?" tanya Mei curiga.

BIP BIP BIP

Ponsel Alin kembali bergetar. Tanpa menjawab, Alin segera bangkit dan melangkah menuju balkon.

"SIAAPAAA, ALIN?!" pekik Han penasaran.

"Paling juga pria psikopat itu lagi," sahut Mei santai sambil menenggak minumannya. "Sudahlah Zi, aku mau tidur. Han, kau juga sana tidur!" Mei melemparkan bantal ke arah Han untuk mengusirnya ke sofa.

Di balkon, Alin menatap layar ponselnya yang menyala. Ada keraguan yang terpancar dari wajah gugupnya saat panggilan telepon dari Rei masuk.

"Lucu sekali. Kau segugup itu sampai tidak berani menjawab panggilanku?" Di seberang sana, Rei menahan tawa. Ia kembali mencoba menelepon.

Pria itu sebenarnya berada di area parkir bawah. Dari dalam mobil, ia terus memperhatikan lampu kamar Alin yang tak kunjung padam. Ia ingin naik dan menemui wanita itu, namun logika menahannya, ini terlalu larut. Rei tidak ingin merusak reputasi Alin. Dan jelas ia juga menjaga adabnya sebagai anggota kerajaan.

"ANGKATLAH! SUARANYA BERISIK SEKALI!" teriak Mei dari dalam kamar.

"JANGAN MEMBUATNYA MENUNGGU!" imbuh Han yang juga mulai terganggu.

Akhirnya, dengan tangan sedikit gemetar, Alin menggeser tombol hijau. "Ya, Rei?"

"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa belum tidur?" suara berat Rei terdengar lembut.

"Aku... tadi baru saja mau tidur. Teleponmu berisik sekali," Alin mencoba mencari alasan.

"Sungguh?" Rei terkekeh pelan. "Kau tidak mahir berbohong, Lin. Aku tahu kau masih terjaga."

Alin menggigit bibir bawahnya. "Kau sendiri di mana? Belum tidur?"

"Aku tidak bisa tidur. Tadinya aku ingin melihatmu, tapi mendengar suaramu saja kurasa sudah cukup."

Ucapan itu telak membuat pipi Alin memanas. Ia terdiam sejenak, mencoba menetralkan degup jantungnya.

"Besok kau berangkat bersama mereka? Aku tidak bisa mengantarmu karena..."

"Tidak perlu," potong Alin cepat. "Kami membawa mobil masing-masing."

"Kenapa?"

"Han harus melanjutkan perjalanan ke pinggiran Yong'an, katanya ada urusan mendesak. Sedangkan Mei akan langsung kembali ke Linggu."

"Lalu kau? Kau tidak ikut kembali ke Linggu?"

Alin terdiam cukup lama. Matanya menatap pemandangan kota dari balkon. "Aku masih ada keperluan setelah dari istana."

"Ke mana? Dengan siapa?" cecar Rei, nadanya sedikit berubah protektif.

"Rei, sudah malam. Aku mau tidur sekarang," ujar Alin, mencoba menghindari interogasi lebih lanjut sambil melangkah masuk ke kamar.

"Lin..." panggil Rei pelan. Namun, tepat saat itu, Alin mematikan lampu kamarnya. Rei tahu itu adalah isyarat agar ia berhenti mengusik.

"Tidurlah, Rei. Selamat malam," bisik Alin sebelum memutus sambungan.

"Selamat malam, Lin," balas Rei pada ponselnya yang sudah gelap.

Rei masih belum beranjak. Sang Pangeran sudah terlalu sering menyelinap keluar istana tanpa pengawalan hanya demi wanita itu. Jika Raja sampai tahu, entah sanksi berat apa yang akan ia terima kali ini.

...****************...

"Apa dia sungguh tidak tahu kalau sampai detik ini kau adalah pangeran kedua Negara Xinglan?" tanya Pangeran Lie memecah keheningan.

Pangeran Yan hanya terdiam, bersandar pada meja kerjanya dengan tatapan kosong. Sang kakak menyesap minuman di hadapannya dengan elegan.

"Aku mengadakan acara ini sebagai agenda rutin lima tahun terakhir. Tujuannya agar para tenaga ahli asing merasa nyaman bekerja di Negara Xinglan,” ujar Lie. Ia bangkit, mendekati adiknya, lalu merapikan kerah pakaian Yan.

"Jadi, Yan..." sahut Lie lembut. "Jangan hanya fokus padanya saat berbicara di depan nanti. Kau tahu reputasimu cukup besar di mata mancanegara."

"Jangan mendekatinya di depan umum," pinta pangera Lie datar.

"Aku tahu batasku," sang adik tersenyum tipis, jemari pangeran Lie menyentuh wajah tampan pangeran Yan dengan sayang. "Aku tidak akan membocorkan rahasiamu, termasuk fakta bahwa kau tidak pulang semalaman hanya untuk menemaninya di rumah sakit waktu itu."

Senyum Lie melebar melihat reaksi adiknya. "Kau bebas bicara dengannya nanti, tapi jangan terlalu intens mengejarnya besok. Kita berdua sedang berada di bawah sorotan publik."

"Kenapa kau begitu khawatir?"

"Karena akhir-akhir ini kau jarang di istana dan menyuruh Yuchen meninggalkan para pengawal," sahut Lie tenang. "Jangan lupa siapa dirimu, Yan. Keamananmu adalah prioritas utama."

Pangeran Pertama itu akhirnya menyadari bahwa adiknya telah jatuh hati terlalu dalam. Dari laporan Yuchen, ia tahu Pangeran Yan sedang berjuang mati-matian—bukan untuk takhta, melainkan untuk menjaga dan memenangkan hati wanita itu.

...****************...

Hal biasa yang akan Alin lakukan. Mengirim portrait dirinya untuk sang kakak. Dan tentunya Yuhan akan langsung menghubungi kembali adiknya.

“Kau mengganti sepatu mu?” Tanya Yuhan diseberang layar ponsel.

“Ya, yang kau belikan aku buang ke laut.”

"Kakimu masih sakit?" suara Yuhan melembut, menyiratkan rasa khawatir.

"Sedikit. Tapi tadi aku sudah minum obat pereda nyeri. Harusnya bisa bertahan hingga beberapa jam ke depan."

"Ingat, jangan dipaksakan. Kalau sudah tidak kuat, kau bisa segera pulang."

"Siap, Kakak."

"Jaga sikapmu selama di istana, Lin.“

Alin tertawa kecil. "Hahaha, tenanglah. Aku tahu adab. Lagipula, saat sekolah di asrama dulu kan aku—"

"Patuhi kakakmu, Lin. Meski ada yang bertindak kurang ajar di sana nanti, tolong tahan sikapmu," sela sebuah suara lembut. Itu Yunxi, kekasih kakaknya, yang tiba-tiba ikut melongok ke kamera.

"YUNXI! Ah, aku merindukanmu!" pekik Alin girang.

"Aku juga sangat merindukanmu," sahut Yunxi dengan mata berkaca-kaca. "Aku menantikan kepulangan mu.”

"Iya, iya. Aku pasti akan mengambil libur panjang setelah ini. Aku sudah sangat lelah dengan pekerjaan di sini," keluh Alin manja.

"Kau sudah sampai di istana?" tanya Yunxi kemudian.

Tanpa pikir panjang, Alin memutar kamera belakang ponselnya, menyorot kemegahan arsitektur di segala penjuru area luar istana.

"Lin, matikan videonya sekarang!" seru Yunxi panik. "Kau lupa? Tidak boleh merekam atau mengambil gambar sembarangan di dalam area istana!"

Alin tersentak, langsung menurunkan ponselnya. "Ah, benar. Bodohnya aku."

"Apa kubilang? Kumohon, Lin, dengarkan kata kakakmu. Jaga sikapmu dengan baik," pinta Yunxi, raut cemasnya belum hilang.

"Baiklah, Kakak Ipar sayang. Aku akhiri dulu panggilannya, ya. Sampai jumpa!" Alin berpamitan lalu memutus sambungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!