Xaviena Avanzi seorang petarung bebas di Mexico tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Hidup seorang diri membuat Xaviena hanya peduli dengan dirinya saja. Tidak pernah berusaha mengetahui dunia luar, dan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai petarung. Xaviena tertidur panjang karena diracuni oleh seorang pria yang tidak terima dikalahkan oleh gadis itu.
Saat membuka mata, dia terkejut karna terbangun di tubuh seorang wanita asal Spanyol yang sudah menikah. Bukan pernikahan yang bahagia tapi pernikahan yang hanya membawa kesakitan dan penolakan untuk sang wanita. Xaviera bertekat untuk membalas semua kesakitan dan perbuatan suaminya.
Bagaimana jika jiwa Xaviena, si petarung bebas yang bodoh amat, masuk ke dalam tubuh Xaviera, si istri yang sangat mencintai suaminya?
Dan apa yang terjadi pada tubuh Xaviena? ikuti kisah mereka.
Ayo mampir, dijamin ga bikin bosen!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter thirty
Setengah jam kemudian, mobil yang membawa Xaviera dan Axelian tiba di lobi utama Costa Tower.
Begitu pintu kaca otomatis lobi utama Costa Tower terbuka, Langkah kaki dari dua pasang sepatu hak tinggi yang berketuk ritmis di atas lantai marmer mengkilap langsung mengalihkan perhatian hampir seluruh staf, resepsionis, hingga pengawal yang sedang berjaga.
Seluruh lobi mendadak sunyi senyap.
Dua wanita berjalan berdampingan dengan aura yang begitu memukau, namun memancarkan kontras yang luar biasa. Di sebelah kiri, Xaviera berjalan dengan gaun terusan kasual yang melekat sempurna di tubuhnya, memancarkan keanggunan yang berkelas, tenang, dan tatapan mata yang ramah namun berwibawa.
Sementara di sebelah kanannya, Axelian sukses membuat beberapa staf pria menahan napas. Sebagai seorang model papan atas, setiap langkah kaki Axelian dipenuhi pesona yang mematikan. Wajahnya yang luar biasa cantik tampak sedikit ditekuk kesal, namun hal itu justru membuatnya terlihat seribu kali lebih menawan.
"Tunggu... siapa mereka?" bisik salah satu resepsionis wanita dengan suara sangat pelan kepada rekannya.
"Aku tidak tahu! Tapi ya Tuhan, mereka cantik sekali... Yang memakai kemeja hitam itu seperti tidak asing, apa dia model?" sahut yang lain, matanya tidak berkedip menatap Axelian.
"Tapi lihat di belakang mereka. Itu pengawal divisi satu milik Tuan Besar Xaviero, kan? Kenapa mereka mengawal dua wanita itu?"
Kasak-kusuk langsung menyebar cepat seperti virus di area lobi. Para staf pria yang sedang membawa dokumen bahkan sampai menghentikan langkah mereka, terpesona oleh kecantikan mutlak Xaviera dan Axelian. Beberapa pengawal luar yang tidak mengenali mereka sempat hendak melangkah maju untuk meminta kartu identitas, namun langsung mundur teratur dengan wajah pucat begitu melihat komandan divisi satu memberikan tatapan peringatan yang mematikan dari belakang tubuh Xaviera.
Axelian yang menyadari dirinya menjadi pusat perhatian langsung berbisik pelan pada Xaviera tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Xera, orang-orang di kantor suamimu melihatku seperti aku ini alien yang salah memakai baju."
Xaviera terkekeh sangat halus, tetap menatap lurus ke depan menuju lift khusus. "Biarkan saja, Axelian. Mereka hanya sedang mengagumi calon kakak iparku yang terlalu cantik ini. Anggap saja ini gladi resik sebelum kamu resmi menjadi bagian dari keluarga kami."
Mendengar godaan Xaviera, Axelian hanya bisa menggigit bibir bawahnya, mencoba menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di pipinya.
Kehebohan di lobi belum mereda, bahkan beberapa manajer tingkat atas yang kebetulan lewat sampai ikut terpaku, menebak-nebak identitas kedua wanita misterius yang bisa berjalan begitu santai di gedung paling ini tanpa ada satu pun pengawal yang berani menyentuh mereka.
Sampai akhirnya, Xaviera menempelkan kartu akses khusus berwarna emas ke sensor lift pribadi akses yang hanya dimiliki oleh Xaviero sendiri membuat seluruh lobi yang menyaksikan hal itu langsung melongo, menyadari bahwa kedua wanita cantik itu bukanlah orang sembarangan.
Pintu lift khusus berlapis emas di lobi utama Costa Tower akhirnya tertutup, memutuskan tatapan penuh kekaguman dan rasa penasaran dari ratusan pasang mata staf kantor yang masih membeku di tempat.
Xaviera melirik pantulan mereka pada dinding lift yang mengilap bagai cermin. Di sebelahnya, Axelian sedang mengembuskan napas panjang.
"Aku bersumpah, Xera," gumam Axelian sambil membenahi letak tas jinjingnya, jemari lentiknya bergerak merapikan kerah kemeja hitam Xander yang melorot di bahu kanannya. "Jika bukan karena kamu yang mengajakku ke sini, aku lebih memilih mengunci diri di kamar daripada menjadi tontonan gratis satu gedung. Pria-pria di bawah tadi menatapku seolah aku tidak memakai celana."
Xaviera tertawa renyah, suara tawanya yang merdu menggema di dalam lift. "Mereka tidak menatap karena kamu aneh, Axelian. Mereka menatap karena kamu terlalu menawan. Ditambah lagi, kemeja Kak Xander itu... jujur saja, memberikan efek yang sangat berbahaya untuk penglihatan pria normal."
Axelian memutar bola matanya yang indah, meskipun pipinya kembali merona merah. "Ini semua salah kakakmu yang kaku itu. Awas saja nanti."
Ting. Dentingan lift pribadi berbunyi, menandakan mereka telah sampai di lantai paling atas lantai suci yang menjadi pusat komando seluruh pergerakan bisnis legal dan ilegal milik Keluarga Costa dan aliansi Vargas.
Namun, begitu pintu lift terbuka, mereka melangkah dengan anggun. Tidam ada Riccardo disana. Mungkin lelaki itu kebelet.
Cklek. Xaviera mendorong pintu. Begitu pintu terbuka, atmosfer dingin dan pekat langsung menyergap indra penciuman. Di dalam ruangan bernuansa gelap itu, Xaviero Costa sedang duduk di kursi kebesarannya di ujung meja, jemari kokohnya mengetuk meja secara ritmis, sementara matanya menatap tajam ke arah tumpukan dokumen. Di sisi kirinya, Xander Vargas berdiri membelakangi pintu, menatap papan digital yang menampilkan rute logistik pelabuhan dengan dahi berkerut dalam.
"Ricc, di mana dokumen cadangan yang aku minta—" Kalimat Xaviero terputus di tengah jalan. Netra gelapnya yang tajam langsung beralih dari dokumen menuju ambang pintu.
Di saat yang sama, Xander membalikkan tubuhnya dengan gerakan lambat.
Seketika itu juga, dua pria yang ditakuti di seluruh daratan Spanyol itu membeku di tempat. Xaviero langsung menegakkan punggungnya, tatapan matanya yang sedingin es seketika mencair, digantikan oleh kilat binar pemujaan yang mendalam begitu melihat Xaviera melangkah masuk dengan senyuman manisnya. Pria Costa itu langsung berdiri dari kursinya tanpa memedulikan dokumen yang berserakan.
Namun, reaksi yang paling dramatis datang dari Xander. Pria kaku berusia tiga puluh tahun itu seolah kehilangan kemampuan bicaranya selama beberapa detik. Sepasang netra biru miliknya, yang tajam di balik kacamata baca melebar kecil, terkunci mati pada sosok Axelian.
Xander menatap bagaimana kemeja hitam miliknya bergoyang di tubuh molek Axelian, mengekspos tulang selangka dan leher jenjang wanitanya setiap kali Axelian bergerak.
Aura dingin yang biasanya memancar dari tubuh Xander mendadak digantikan oleh ketegangan gairah yang sangat pekat. Jakunnya naik-turun saat ia memperhatikan betapa seksinya Axelian dalam balutan pakaiannya.
"Xaviera? Axelian?" Xander akhirnya bersuara, suaranya terdengar lebih berat, serak, dan penuh dengan nada posesif yang tertahan. Pria itu langsung melangkah lebar, mengabaikan Xaviero, berjalan lurus ke arah Axelian seolah wanita itu adalah satu-satunya objek yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Xaviero, yang kini sudah berada di depan Xaviera, langsung melingkarkan tangan kekarnya di pinggang sang istri dan menariknya ke dalam pelukan hangat, mengabaikan eksistensi orang lain di ruangan itu.
"Kami membawakan makan siang untuk kalian, karena kami tahu para pria pekerja keras ini pasti lupa waktu," jawab Xaviera lembut, tangannya naik untuk mengusap dada bidang Xaviero dengan sayang.
Sementara itu, Xander sudah berdiri menjulang di depan Axelian.
Tubuh tingginya yang tegap sepenuhnya mengurung Axelian.
Xander menunduk, menatap Axelian dari atas sampai bawah dengan pandangan yang menggelap pekat. "Aku ingat aku menyuruhmu tetap di penthouse, Axelian. Dan... kenapa kamu memakai kemeja ini ke kantor ?"
Axelian tidak gentar. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam netra hijau Xander dengan tatapan menantang yang elegan. "Aku bosan di penthouse, Kak Xander. Dan soal kemeja ini? Bukankah ini ulahmu sendiri yang menyita semua pakaianku pagi ini? Aku tidak punya pilihan selain memakai ini untuk menemui Xera. Dan sekarang, semua staf di bawah menatapku dengan tatapan aneh." Xander menggerakkan tangan besarnya, jemari kasarnya menyentuh dagu Axelian dengan kelembutan yang kontras dengan auranya yang mengintimidasi. Ia sedikit menekan dagu wanita itu agar tatapan mereka semakin terkunci.
"Biarkan mereka menatap, Axelian," bisik Xander, suaranya begitu rendah dan pekat di dekat wajah Axelian, membuat napas wanita itu sedikit tertahan. "Dengan begitu, seluruh pria di gedung ini tahu bahwa kamu mengenakan pakaianku karena kamu adalah milikku. Kamu berada di bawah perlindungan Alexander Vargas."
Xaviero menuntun Xaviera menuju sofa kulit besar di sudut ruangan, sementara tangannya tidak pernah lepas dari pinggang sang istri, sesekali meremasnya pelan penuh gairah yang terpendam.
Xaviera mulai membuka kotak bekal mewah yang dibawanya, menata hidangan aromatik di atas meja kaca. "Duduklah, Kak Xander, Axelian. Mari makan bersama."
Xander akhirnya melepaskan cengkeramannya di dagu Axelian, namun tangannya beralih meraih jemari lentik wanita itu, menuntunnya untuk duduk di sofa tunggal. Xander sendiri tidak duduk di kursi kosong, melainkan duduk di lengan sofa tepat di samping Axelian, menempelkan tubuhnya rapat-rapat pada sisi tubuh wanita itu seolah takut Axelian akan menghilang jika ia berjarak beberapa senti saja.
Selama makan siang berlangsung, kemesraan kedua pasangan itu begitu terlihat. Xaviero berulang kali menyuapi Xaviera dengan telaten, menyeka sudut bibir istrinya dengan ibu jarinya, lalu mengecup jemari Xaviera di sela-sela kunyahan mereka.
Di sisi lain, Xander yang biasanya kaku dan dingin, menunjukkan sisi protektif yang luar biasa amatir namun sangat manis. Ia memotongkan daging di piring Axelian, memastikan wanita itu mendapatkan bagian terbaik. Setiap kali Axelian mengunyah, tatapan mata Xander tidak pernah lepas dari bibir ranum Axelian yang bergerak.
"Makan yang banyak, Axelian. Tubuhmu terlalu ramping di dalam kemejaku," gumam Xander rendah, tangannya yang bebas merayap ke belakang punggung Axelian, mengusap pinggang wanita itu di balik kain sutra tipis tersebut.
Axelian merasakan sensasi menggelitik yang hangat menjalar ke seluruh tubuhnya akibat usapan tangan Xander. Sifat kaku pria itu perlahan meleleh, digantikan oleh keintiman pekat yang hanya diciptakan khusus untuk dirinya. Di hadapan Xaviera dan Xaviero, Axelian mencoba menjaga ketenangannya, namun rona merah di wajah cantiknya tidak bisa berbohong bahwa ia sepenuhnya terserap dalam pesona posesif dari sang Tuan Vargas.
Setelah sesi makan siang yang dipenuhi atmosfer intim itu selesai, keheningan yang nyaman kembali merayap di dalam ruang rapat utama Costa Tower.
Xaviera menyandarkan tubuhnya dengan rileks di dada bidang Xaviero, membiarkan suaminya itu memainkan helai demi helai rambutnya dengan gerakan malas yang protektif. Di seberang mereka, Xander masih enggan bergeser dari lengan sofa tempat Axelian duduk. Tangan besar pria Vargas itu kini beralih mengusap punggung tangan Axelian, menelusuri setiap buku jarinya dengan ibu jari yang kasar, sebuah gestur sederhana yang entah mengapa terasa begitu mendominasi.
"Jadi," Xaviero memecah keheningan, suaranya berat dan bergetar di dada tempat Xaviera bersandar. "Apa yang membuat kalian berdua nekat menerobos lobi kantorku tanpa laporan terlebih dahulu, hm? Terutama kamu, Axelian. Aku tahu Xander tidak akan melepaskanmu semudah itu setelah keributan kecil kalian di penthouse tadi pagi."
Axelian mendongak, melirik Xander yang berada di samping atasnya sebelum kembali menatap Xaviero. Dengan keanggunan yang tidak luntur sedikit pun, ia merapikan kemeja sutra hitam kebesaran itu di atas lututnya. "Aku hanya butuh udara segar. Namun, kakak iparmu ini tampaknya mengira Madrid adalah zona perang yang penuh dengan musuh yang mengincar gaun kasualku."
Xander mendengus pelan, sebuah suara rendah yang sarat akan ketidaksetujuan. "Madrid memang zona perang jika kamu keluar dengan pakaian yang memperlihatkan bahu dan dadamu seperti tadi pagi, Axelian. Aku hanya memastikan asetku tetap berada di tempat yang seharusnya."
"Aset?" Axelian menaikkan satu alisnya, menatap Xander dengan kilat menantang yang seksi. "Sejak kapan aku menjadi salah satu aset dalam pembukuan bisnismu, Kak Xander?"
Melihat perdebatan itu, Xaviera tertawa kecil. Ia menoleh sedikit untuk mengecup rahang tegas Xaviero sebelum bersuara.
"Sudahlah, Kak Xander. Jangan terlalu kaku begitu. Tadi di kafe, Axelian bahkan sempat mengomel karena merasa seperti anak kecil yang dipaksa memakai baju ayahnya. Tapi lihat sekarang, begitu bertemu denganmu, dia bahkan tidak berniat melepas kemeja ini."
Pipi Axelian seketika merona merah sempurna mendengarnya. Ia melotot kecil ke arah Xaviera, merasa dikhianati oleh sesi curhat mereka di kafe tadi. "Xera!"
Xander yang mendengar hal itu tidak bisa menyembunyikan kilat kepuasan di sepasang netra hijaunya. Sudut bibirnya yang biasanya kaku dan datar, perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Axelian hingga aroma mint dan tembakau mahal dari napasnya menyapu kulit sensitif di leher wanita itu.
"Jadi kamu mengomel di belakangku, Sayang?" bisik Xander dengan nada parau yang mengintimidasi namun penuh gairah.
"Kira-kira hukuman apa yang pantas untuk wanita yang tidak patuh, lalu mengadukan pasangannya pada orang lain?"
"Hei orang lain itu adikmu ya ALEXANDER" Teriak Xaviera tapi tidak ditanggapi mereka.
Axelian menahan napas, tubuhnya mendadak menegang saat merasakan sentuhan bibir Xander yang sengaja menempel sekilas di sudut rahangnya. Sifat elegannya runtuh seketika, digantikan oleh debaran jantung yang menggila. "Aku tidak mengadu... aku hanya menyatakan fakta lagipula itu adikmu,Kak Xander," gumam Axelian dengan suara yang hampir tenggelam.
Xaviero yang menyaksikan interaksi itu hanya memberikan senyuman miring khas seorang Costa. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Xaviera, membawa istrinya bangkit dari sofa.
"Xander, jika kamu ingin menghukum wanitamu, lakukan di penthouse-mu. Aku tidak mau sofa ruanganku menjadi saksi kegilaanmu."
Xaviera memukul pelan dada Xaviero sambil terkekeh. "Xavi, jaga bicaramu."
"Aku hanya bicara, Sayang," balas Xaviero santai, lalu beralih menatap Xander dengan tatapan profesional yang kembali menguat.
"Urusan pelabuhan barat biar Riccardo yang menangani sisa sore ini. Kamu bisa membawa Axelian kembali ke penthouse."
Xander tidak membantah. Pria Vargas itu berdiri tegap, lalu dengan gerakan satu tangan yang tegas namun lembut, ia menarik Axelian untuk ikut berdiri bersamanya. Xander merapikan bagian depan kemeja hitamnya yang membungkus tubuh Axelian, memastikan kancing teratas tetap tertutup rapat, menyembunyikan apa pun yang seharusnya hanya menjadi konsumsi pribadinya.
"Kami pergi dulu, Vier, Xera," ucap Xander datar. Ia meraih tas jinjing Axelian dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari
Axelian, seolah mengunci wanita itu di sisinya untuk selamanya. Axelian melambaikan tangan pamit pada Xaviera dengan senyuman tipis yang manis, membiarkan dirinya dituntun keluar dari ruang rapat oleh langkah besar Xander.
Saat pintu itu kembali tertutup, menyisakan Xaviero dan Xaviera di dalam ruangan, Xaviero langsung memutar tubuh istrinya, mengurung Xaviera di antara tubuh tegapnya dan meja rapat besar di belakang mereka.
"Sekarang," bisik Xaviero, sepasang matanya menggelap penuh dengan gairah yang sedari tadi ia tahan sejak istrinya terlihat. "Karena para pengganggu sudah pergi, mari kita bicarakan tentang 'kejutan' makan siangmu ini, Nyonya Costa."
Xaviera tersenyum manis, melingkarkan kedua lengannya di leher Xaviero, menyambut dominasi suaminya dengan kepatuhan penuh cinta yang mutlak di dalam ruang kerja yang kini menjadi saksi bisu kemesraan mereka.
badassss🤣👍
duuuh kalo liat cara kerja mafia ,,
ngeri2 sedaaap🤭🤭🤭🤭
ayooooo qta lihaat masa2 Xander bucin ke axel 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
sayang byk2 ,, 🫰🫰🫰🫰🫰
mafia juga manusia kn ,, bisa sakit ,, bisa manja ,, bisa Nangis juga ,, 🤭🤭🤭🤭 ,,
semoga kalian selalu bahagia ,, 😁😁
lanjuuuut kak ,,