Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Aliansi Baru
Teddy yang sudah berbalik hendak melangkah menuju mobilnya, seketika menghentikan langkah. Pria matang itu menoleh lambat-lambat, menatap Aira dengan dahi berkerut dalam seolah gadis itu baru saja berbicara dalam bahasa alien.
"Foto?" ulang Teddy, suaranya datar dan sarat akan penolakan. Ini bukan usianya lagi pamer setelah memiliki kekasih baru.
"Kita baru saja membuat aliansi taktis untuk menjatuhkan seorang psikiater ulung. Tapi, ternyata dalam pikiran pertamamu hanya untuk berswafoto lalu dikirim ke mantan kekasihmu?"
"Ih, bukan mantan, Om! Pengkhianat! Dia itu pengkhianat terbesar pada abad ini. Lebih kejam dibanting Dokter Arnold yang ketularan gila karena menghadapi pasien gangguan jiwa!" koreksi Aira tidak terima, buru-buru meraba saku jas praktiknya dan mengeluarkan ponsel yang ternyata layarnya telah retak seribu karena kejadian tadi.
"Ya ampuuun, hapeku ..." desisnya menatap pembelian orang tuanya di kampung panik.
Setelah ia mengecek, ternyata ponselnya masih menyala. "Ya udah ... Nanti minta lagi aja. Yang penting sekarang si Beni Beno Bono itu harus tahu, aku baik-baik saja!"
Dengan gerakan cepat yang tidak bisa dicegah Teddy, Aira sudah berdiri di samping pria itu. Dia menyalakan kamera depan, menjinjitkan kakinya sedikit agar wajahnya yang sembap bisa sejajar dengan bahu tegap Teddy yang menjulang setinggi 180 sentimeter lebih.
"Ayo, Om, senyum sedikit! Biar Mas Beni tahu kalau seleraku sekarang langsung naik kelas ke level eksekutif, bukan abdi negara amatiran yang hobi selingkuh di pulau seberang!" cerocos Aira berapi-api.
Klik! Klik!
Teddy bahkan belum sempat protes saat lampu kilat ponsel Aira menyala dua kali. Di dalam foto pertama, wajah Teddy terlihat sangat kaku dengan tatapan datar bagai papan triplek.
Sementara Aira tampak tersenyum terpaksa dengan mata sembap dan sudut bibir yang ada sedikit bercak darahnya.
Namun anehnya, kontras di antara mereka berdua, pria matang dan gadis muda yang berantakan tetapi keras kepala, justru membuat foto itu terlihat sangat estetis dan dramatis dengan latar belakang senja dermaga yang menggelap.
"Aira, hapus foto itu. Saya tidak suka wajah saya dipajang sembarangan," perintah Teddy dingin, mencoba merebut ponsel Aira.
"Enggak mau! Ini namanya barang bukti otentik!"
Aira buru-buru menyembunyikan ponselnya di balik punggung, menatap Teddy dengan binar mata yang kini dipenuhi riak balas dendam yang membara. Tanpa ragu, Aira langsung mengirimkan foto tersebut ke nomor tidak dikenal yang tadi mengiriminya foto pernikahan Beni, lengkap dengan status singkat.
[ Makasih ya infonya. Untung diganti sama yang jauh lebih matang, mapan, dan berwibawa. Semoga samawa di sana! ]
Setelah menekan tombol kirim, Aira mengembuskan napas panjang. Beban di dadanya runtuh satu per satu. Dia menatap Teddy dengan senyum yang jauh lebih lepas, meskipun keningnya yang membiru akibat benturan tadi mulai terasa berdenyut nyeri.
"Nah, urusan si pengkhianat selesai. Sekarang, tinggal urusan Dokter Arnoldy Darmawan," ucap Aira, memasukkan kembali ponselnya dengan percaya diri.
"Ayo, Om Teddy. Katanya tadi mau pergi dari tempat sampah ini? Mobil Om yang mana?"
Teddy menatap gadis itu selama beberapa detik, menggelengkan kepalanya samar antara heran dan sedikit kagum dengan kecepatan adaptasi mental Aira yang luar biasa. Pria itu berbalik, melangkah menuju sedan hitam legam miliknya yang terparkir tak jauh dari pembatas dermaga.
"Jalan di samping saya, Anak Kecil. Dan berhenti memanggil saya Om jika kamu tidak mau saya turunkan di tengah jalan raya," ucap Teddy tanpa menoleh.
Aira terkekeh geli, menyusul langkah lebar Teddy dengan setengah berlari. "Siap, Mas Om Teddy!"
Malam pun jatuh sepenuhnya di ujung dermaga, namun bagi Aira dan Teddy, permainan yang sesungguhnya ... baru saja dimulai.
*bersambung*
ini demi masa depan kita bersama
modus si dikit,tapi kan biar dia mau pak 🤭
biar bebas bisa pegang2 tangannya,,
siapa tau bisa pegang yg lain,,kan mantap
nanti pak junet cepet dapat cucu loh dari Aira..
ke gap camer
apa rasa tu🤭🤣🤣
tinggal dikit lagi aku padamu
sekali nya jatuh cinta lagi
begini ni🤭🤣
disini malah jadi begini
hajaar pak🤣🤣
saya yg tanggung jawab Bu
lahir bathin juga boleh 🤣🤣
dih,ngarep🤭