Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24 Diterima Bekerja
"Tapi, Mawar, aku nggak bisa melakukan itu. Aku—"
"Mas! Jangan plin-plan!" potong Mawar dengan suara meninggi. Matanya menatap Firman dengan kilatan amarah yang tak ditutupi. Ia menghempaskan tangan Firman yang mencoba meraihnya.
"Kalau kamu nggak bisa menceraikan istrimu, ya sudah! Kembalikan semua uang investasiku detik ini juga! Memangnya kamu pikir aku wanita bodoh yang mau dimanfaatkan begitu saja?" ancam Mawar, napasnya memburu. Ujung bibirnya kemudian tertarik membentuk seringai licik.
"Lagi pula, ingat, Mas... kita sudah melakukannya malam itu. Apa kamu mau aku memberitahukan semua rahasia kotor kita pada istrimu yang malang itu?"
Firman memucat. Keringat dingin merembes di keningnya. "Malam itu aku khilaf karena pengaruh alkohol, Mawar. Aku tidak sadar."
"Halah! Semua pria juga selalu berkata begitu kalau sudah ketahuan, Mas. Basi!" decih Mawar membuang muka.
Dengan kepanikan yang memuncak, Firman melangkah maju dan langsung memeluk tubuh Mawar erat-erat, mengabaikan rontaan wanita itu.
"Mawar, dengarkan aku. Aku pasti akan menceraikan Kania, tapi kamu sabar, ya? Beri aku waktu untuk mengurus semuanya pelan-pelan."
Mawar berhenti memberontak, namun tatapannya tetap dingin.
"Sampai kapan, Mas? Aku sudah muak mendengar janji-janji palsumu. Dulu, kamu pernah berjanji menungguku kembali dari luar negeri, tapi akhirnya apa? Kamu malah menikahi Kania di belakangku!"
Firman terdiam kaku. Lidahnya kelu. Ucapan Mawar menohok tepat di jantungnya, namun wanita itu tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Ya, memang benar dulu Firman berniat menikahi Kania hanya sebagai bentuk tanggung jawab. Sebuah rahasia kelam yang ia simpan rapat-rapat hingga membawanya ke liang lahat: Firman lah penyebab utama kaki Kania cacat. Kecelakaan tragis di malam hujan deras itu terjadi karena kelalaiannya dalam mengemudi. Tidak ada satu pun orang yang tahu, bahkan Kania sekalipun mengira itu murni musibah tabrak lari karena ia tak sadarkan diri. Demi menebus rasa bersalah yang nyaris membuatnya gila, Firman berpura-pura menjadi pahlawan. Ia merawat Kania, berusaha mencintainya, hingga akhirnya menikahinya.
Namun, siapa sangka, cinta palsu yang awalnya berlandaskan rasa bersalah itu perlahan berubah menjadi cinta yang nyata di hatinya.
"Maafkan aku, Mawar," bisik Firman parau, pikirannya berkecamuk hebat.
"Aku tidak butuh kata maaf! Pokoknya ambil keputusan secepatnya, Mas! Jangan buat aku menunggu terlalu lama, atau perusahanmu yang jadi korbannya!"
Setelah mengatakan ancaman final itu, Mawar menepis kasar tangan Firman yang melingkar di pinggangnya, lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan dengan langkah berdentum keras.
Sepeninggal Mawar, Firman mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menendang meja kerjanya dengan brutal.
"Argh! Sial! Kenapa jadi begini?!"
*
*
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.
"Kenapa lama sekali?"
Suara bariton yang sedingin es itu langsung menyambut Kania begitu ia melangkah masuk ke dalam ruangan. Abimanyu duduk di balik meja kebesarannya dengan wajah kaku tanpa ekspresi. Matanya menatap tajam ke arah Kania, sementara jari telunjuknya mengetuk-ngetuk jam tangan mahalnya.
"Kamu pikir kamu bos di sini, sampai-sampai aku yang harus menunggumu hampir tiga puluh menit?" sindir Abimanyu dengan nada ketus.
Kania yang baru saja datang dengan napas sedikit tersengal segera menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Maafkan saya, Pak Abi. Berkas lamaran fisik saya tiba-tiba hilang di rumah pagi ini. Tapi Bapak tidak usah khawatir, saya sudah menyimpannya dalam bentuk file." Kania melangkah mendekat, lalu menyodorkan sebuah flashdisk ke atas meja Abimanyu.
Abimanyu mendengus pelan. Ia mengambil benda itu, menancapkannya ke laptop, lalu membuka file yang diberikan Kania. Ruangan itu hening selama beberapa menit. Hanya terdengar suara klik mouse.
Perlahan, mata Abimanyu yang tajam menyipit. Keningnya berkerut samar. Ternyata, wanita yang terlambat ini pernah kuliah mengambil jurusan desain busana. Dan saat melihat portofolio hasil desain Kania, Abimanyu harus mengakui dalam hati, meski gengsi untuk mengucapkannya, bahwa karya wanita ini tidak main-main. Sangat brilian dan memiliki karakter kuat.
"Kamu pernah bekerja di bidang ini sebelumnya?" tanya Abimanyu tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
"Pernah, Pak. Di sebuah butik ternama, tapi itu sebelum saya menikah," jawab Kania lugas.
Alis Abimanyu terangkat sebelah. Ia mendongak menatap Kania dari atas ke bawah. "Oh, kamu sudah menikah?"
Kania mengangguk pelan. "Sudah, Pak."
Abimanyu melipat kedua tangannya di dada, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya angkuh.
"Lalu, suamimu tidak marah istrinya bekerja? Suami macam apa yang membiarkan istrinya bersusah payah mencari pekerjaan di luar begini? Harusnya dia malu."
Kania sedikit tersentak mendengar komentar pedas yang keluar dari bibir calon bosnya itu. Wajahnya berubah datar.
"Maaf, Pak. Urusan pribadi saya sepertinya tidak relevan dan tidak perlu dibahas di ruang interview ini."
Mendengar balasan yang cukup berani itu, Abimanyu terdiam. Ia menatap lekat mata Kania yang membalas tatapannya tanpa rasa takut. Alih-alih marah karena ditegur oleh pelamar kerja, Abimanyu justru mengalihkan kembali pandangannya ke arah laptop.
"Ya sudah. Hari ini kamu bisa mulai bekerja," ucap Abimanyu tiba-tiba dengan nada sedatar jalan tol. "Asistenku akan menunjukkan di mana mejamu berada."
Mata Kania membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut. "Bapak serius? Saya... saya diterima?"
"Coba lihat wajahku baik-baik. Memangnya ada tampang-tampang bercandanya?" sahut Abimanyu sambil menunjuk wajahnya sendiri yang tanpa senyum sedikit pun.
Kania mengerjap beberapa kali, memperhatikan wajah kaku pria di depannya.
"Emm, nggak sih, Pak. Wajah Bapak seram soalnya, kaku seperti kanebo kering."
"Apa kamu bilang?!"
"Eh, tidak, Pak! Maksud saya, Bapak kelihatan sangat serius!" ralat Kania cepat, mengutuk mulutnya yang lepas kendali.
"Kalau begitu keluarlah. Jangan buang waktuku lagi, aku ada meeting penting hari ini," usir Abimanyu mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak!" Kania tersenyum sumringah, mengangguk hormat, lalu bergegas pamit undur diri dari ruangan dingin itu dengan perasaan lega luar biasa. Langkahnya terasa jauh lebih ringan.
Sepeninggal Kania, pintu ruangan kembali tertutup rapat. Abimanyu menatap layar laptopnya yang masih menampilkan biodata wanita itu.
"Kania Maheswari. Kenapa nama itu sepertinya tidak asing? Aku seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi di mana?" gumam Abimanyu pelan. Keningnya kembali berkerut memikirkan sesuatu.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...