"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Melepaskan
*
*
*
Malam telah menelan hiruk-pikuk kota sedikit demi sedikit. Lampu-lampu rumah menyala seperti kunang-kunang yang enggan tidur, sementara angin berkelana tanpa tujuan di antara dedaunan. Di jam-jam seperti ini, rahasia terasa lebih berani keluar dari persembunyiannya.
Andreas terlelap di kamar, bersebelahan dengan Isana. Kali ini wanita itu mengizinkannya. Namun dibalik itu semua, ia memiliki rencana.
Isana menoleh kesamping, memastikan Andreas benar-benar terlelap sebelum ia beringsut turun dari ranjang.
Wanita itu berdiri, melangkah menuju nakas disamping ranjang. Ia sempatkan untuk menoleh pada box bayi, tempat Ghazi tertidur pulas. Baru kemudian, ia meraih ponsel milik Andreas dengan tangan gemetar.
Jemarinya membuka layar, sedang jantungnya berdegup lebih cepat.
Layar terbuka, tanpa ada sedikitpun hambatan. Tidak ada kata sandi, tidak ada sidik jari. Semuanya seperti terlalu mudah untuk seseorang yang sedang menyembunyikan rahasia.
Isana menoleh, melihat Andreas yang masih lelap dalam mimpi. Selanjutnya, ia membuka aplikasi pesan. Menggulir satu persatu pesan yang tersusun rapi di layar.
Semua riwayat pesan sudah ia buka, tidak ada yang janggal. Semua berisi tentang pekerjaan, sesekali disertai jokes dengan teman, dan beberapa pesan dari komunitas yang suaminya ikuti.
Mata Isana menyipit, jemarinya melanjutkan penelusuran. log panggilan tak luput dari pencariannya. Nama kontak, semua sudah ia cek tanpa satupun terlewat.
Nihil.
Apa yang dicari Isana tidak ada. Sejenak ia berfikir, apa kecurigaan ini hanya kecurigaan yang tak beralasan? Tapi, Risa ... dan wajah panik Andreas ketika di Serang. Juga petunjuk-petunjuk lain yang seakan menerobos masuk, bukan suatu hal yang bisa diabaikan begitu saja. Isana menggigit bibir.
Sudah puas ia mengoperasi ponsel Andreas, namun tetap tidak menemukan petunjuk apapun. Foldernya penuh dengan foto-foto lama. Bahkan foto mereka berdua saat pacaran masih tersimpan rapi, salah satunya ia gunakan sebagai wallpaper pesan.
"Mungkin saat ini belum, tapi aku yakin suatu saat semua ini akan terbongkar." gumamnya pada dirinya sendiri. "Ya ... Allah bantu aku menemukan bukti-bukti nya, jika memang dugaanku salah tolong beri tahu aku Ya ...Allah."
Isana menghela nafas pelan. Teringat dengan akun sosial media yang bernama @Callmerain, Isana melanjutkan untuk menelisik lebih jauh.
Andreas tidak banyak menyimpan aplikasi sosial media. Hanya satu, itupun terlihat jarang sekali ia gunakan. Namun rasa penasaran terus mendesaknya untuk mengetuk sosial media itu. Ia perhatikan setiap halamannya. Tidak ada yang janggal. Semua pesan juga tidak luput dari perhatiannya. Namun tetap saja, Isana tidak menemukan apa-apa.
Ia lanjutkan melihat daftar pengikut dan yang diikuti Andreas. Degup jantungnya kembali memompa lebih keras, tenggorokannya terasa kering. Ia menemukannya. Akun @Callmerain berada diantara tumpukan barisan akun-akun lain didaftar pertemanan.
Gemetar jari Isana, mengetuk akun tersebut. Akses untuk stalking, terbuka lebar. Deretan postingan yang tidak seberapa itu muncul. Menyeruak memenuhi layar ponsel Andreas.
Foto-foto itu tidak terlalu jelas—tidak ada foto yang benar-benar menampilkan wajah. Namu, ada satu foto yang menarik perhatian Isana.
Sebuah foto, dua tangan saling menggenggam. Dengan latar restoran bernuansa klasik. Isana memperbesar foto itu, tatapannya menajam. Ia kenal dengan tangan itu.
Bagaimana tidak kenal, jika tangan itu yang selama dua tahun lebih menjadi tangan yang selalu ia gunakan untuk membelai rambutnya, yang sering melingkarkan tangan di pinggangnya, yang sering membawanya kedalam pelukan hangat didada bidangnya.
"Mas Andreas..."
Tidak mungkin ia salah mengenali.
Napas Isana tercekat. Ponsel di tangannya terasa semakin berat.
Dengan jemari yang mulai dingin, ia menggeser layar ke postingan berikutnya. Foto secangkir kopi. Foto pemandangan senja. Foto meja makan dengan dua piring yang sudah setengah kosong. Foto kamar hotel. Foto city view yang diambil dari arah dalam.
Sekilas tidak ada yang aneh.
Namun setelah diperhatikan lebih lama, semuanya terasa seperti potongan-potongan cerita yang sengaja disembunyikan. Potongan cerita tentang dua orang yang menghabiskan waktu bersama.
Isana meraih ponsel milik dirinya sendiri. Ia arahkan ponsel itu, memotret nya untuk kemudian ia simpan dalam sebuah folder yang ia beri nama Andreas.
Tanpa sadar, setitik cairan hangat mengalir dipelupuk mata Isana. Ia membiarkan cairan itu jatuh, melewati pipi kemudian dagu sampai akhirnya jatuh kelantai.
Dada Isana terasa nyeri, namun ia menelannya dalam diam. Tenggorokannya terasa penuh, matanya memanas.
Tapi ia masih mampu menahannya.
Semua aplikasi diponsel Andreas tidak ada yang luput satupun dari pencariannya. Hingga di aplikasi terakhir.
Sebuah aplikasi yang rasanya tidak mungkin untuk digunakan untuk berkomunikasi. Apalagi untuk perselingkuhan. Namun Isana tidak peduli, ia terus mengupas aplikasi belanja online itu.
Ia mulai dengan melihat riwayat belanja, keranjang yang terisi. Dan semua yang berhubungan dengan akun aplikasi tersebut. Tidak ada tanda-tanda, sampai sebuah notifikasi pesan di aplikasi tersebut muncul. Nama akun yang sama dengan akun sosial media tadi.
Callme Rain. Dengan pesan ...
< Ponselnya nggak dibawa kerumah kamu ya? Aku nggak bisa tidur nih, pengen denger suara kamu >
Nanar tatapan Isana pada pesan itu. Ia berharap kalau huruf-huruf itu salah merangkai kata. Ia berharap itu hanya halusinasi nya saja. Bahkan sejak tadi ia berharap kalau kecurigaannya selama ini hanya kecurigaan tanpa alasan. Ia berharap kalau dugaannya selama ini salah.
Namun yang terjadi didepan matanya, justru seperti pisau yang ditarik perlahan dari luka yang masih terbuka.
Isana tertawa kecil, karna hatinya sudah terlalu hancur untuk menangis lagi.
Ia mengulang hal yang sama. Mengarahkan kamera ponselnya pada isi pesan itu. Menyimpannya di draft yang sama.
Diluar rumah,
Hujan turun dengan kemurkaan yang sulit dijinakkan. Ribuan tetesnya menari liar di atas atap, mengetuk-ngetuk jendela kaca dan jalanan kota yang basah kuyup. Petir menyambar, meninggalkan guratan cahaya putih yang sesaat membelah kegelapan.
Disusul gemuruh yang menggetarkan dada, langit seperti sedang mengadukan seluruh kesedihannya kepada bumi.
Jari Isana masih berada diatas layar ponsel milik suaminya. Ia masih menunggu pesan dari akun yang ia yakin, itu adalah akun milik Risa. Namun beberapa menit berlalu. Tidak kunjung ada balasan.
Isana menggigit bagian dalam mulutnya, ia hafal dengan kata sandi yang dipakai Andreas saat membuat akun belanja online tersebut. Karna waktu itu, ia yang membantu membuatkannya.
Isana meretas akun tersebut, memindahkannya ke ponsel miliknya. Semuanya berjalan lancar, sesuai dengan keinginan wanita itu.
Ia menghela nafas, menaruh benda pipih itu di nakas dengan tatapan muak yang teramat sangat. Kemudian beralih menatap Andreas yang tengah lelap dalam mimpinya. Senyum sinis Isana mengukir disudut bibir.
"Setelah ini, kebohongan apa lagi yang akan kamu ingkari Mas?" Tanya Isana, pada wajah Andreas yang menutup mata rapat-rapat.
Namun mata itu perlahan-lahan terbuka, menangkap sosok Isana yang sudah duduk disebelahnya.
"Sayang, kok kamu belum tidur?" Suara Andreas terdengar berat, dan serak. "Kamu kebangun?"
Tangan Andreas meraih tangan Isana, menaruhnya dipipi miliknya sendiri. Seolah sedang mencari kenyamanan dari kehangatan sentuhan tangan yang justru mendingin.
Isana tidak menjawab, namun membiarkan tangannya tetap berada digenggaman Andreas.
"Isa ... Aku rindu sama tangan kamu. Malam ini, biarkan aku tidur dengan tangan kamu ini ya ..." Ucap Andreas yang kemudian kembali menutup mata. Menenggelamkan pipinya pada telapak tangan Isana setelah mengecup pelan.
Sekelebat Isana ingat foto tangan yang saling menggenggam. Seluruh luka yang bercokol dihatinya, mengeluarkan darah segar.
'Rindu katanya? Rindu yang mana? Bukankah kamu sudah menggantinya dengan tangan wanita lain Mas?' tanya batin Isana.
Isana menarik pelan tangannya, "Ghazi mau menyusu, Mas."
Sebuah alasan yang ia pilih, untuk melepas tangannya. Sekaligus sebagai pilihan terakhir, untuk benar-benar melepaskan rumah tangga yang semakin rusak oleh dusta.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍