"𝘏𝘢𝘭𝘰, 𝘪𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘬𝘦𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮, 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘱𝘢𝘮 𝘤𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨.
𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵,
𝘑𝘢𝘷𝘢𝘴—𝘬𝘶𝘳𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘯𝘥𝘢!"
Bagi Javas, seorang kurir dengan sejuta cara untuk mencuri perhatian, mengantarkan paket hanyalah alasan untuk bertemu dengannya: seorang janda anak satu yang menjadi langganan tetapnya. Dengan senyum menawan dan tekad sekuat baja, Javas bertekad untuk memenangkan hatinya. Tapi, masa lalu yang kelam dan tembok pertahanan yang tinggi membuat misinya terasa mustahil. Mampukah Javas menaklukkan hati sang janda, ataukah ia hanya akan menjadi kurir pengantar paket biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti_sR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Rumah sakit
Mobil ambulans itu melaju cepat membelah jalanan yang ramai di siang hari. Di dalamnya, tepat di atas brankar, tubuh seorang pria terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang masih membasahi sebagian perbannya. Beberapa alat medis terpasang di tubuhnya, sementara dua orang dokter bergerak sigap membersihkan luka di kepala dan kaki yang kondisinya cukup parah.
Meski sudah dibalut kasa, darah masih terus merembes keluar, membuat kain putih itu perlahan berubah warna.
Di sisi brangkar, seorang pemuda duduk dengan wajah tegang. Tatapannya tak lepas dari wajah pucat yang kini tak sadarkan diri. Tangannya terus gemetar, kulitnya terasa dingin, dan di sudut matanya cairan bening ditahan mati-matian agar tidak jatuh.
“Lebih cepat, Pak. Kondisi pasien kritis, alat medis kita terbatas di sini,” ujar salah satu dokter dengan nada tegang.
Sopir ambulans langsung menambah kecepatan. Ketegangan memenuhi ruang sempit itu, diselingi gumaman doa lirih dari mereka yang ada di dalamnya, berharap pasien ini bisa bertahan sampai rumah sakit.
Seorang pria yang lebih dewasa, duduk tak jauh dari pemuda itu, mengusap lembut punggungnya, berusaha memberi sedikit ketenangan.
“Bukan salah kamu, boy. Dia yang menerobos lampu merah, jadi kamu tidak perlu setakut itu,” ucapnya dengan suara rendah namun tegas.
“Tetap saja, Dad. Aku yang menabraknya… aku…” Suaranya tercekat. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh juga. Bahunya bergetar hebat, dadanya terasa sesak oleh rasa takut dan bersalah. “Ba… bagaimana kalau dia tidak selamat? Bagaimana kalau dia—”
“Shuttt!”
Pria itu segera memotong ucapannya. Tangannya menggenggam jemari putranya yang dingin dan basah oleh keringat. “Jangan bilang seperti itu, tidak baik. Kita doakan saja yang baik-baik. Dia pasti selamat.”
Meski berusaha terlihat tenang, sorot mata pria itu menyimpan kecemasan yang sama. Namun dia tetap di sana, menggenggam erat, seolah menjadi satu-satunya penopang agar putranya tidak runtuh sepenuhnya.
Tak lama kemudian, ambulans itu akhirnya memasuki area rumah sakit. Sirene masih menggema saat kendaraan berhenti mendadak di depan pintu masuk. Beberapa perawat sudah bersiaga, mendorong tandu dan menyiapkan peralatan medis.
“Bawa ke UGD, cepat!” perintah dokter yang sejak tadi berada di dalam ambulans.
Brangkar itu segera didorong dengan cepat memasuki lorong rumah sakit. Roda-rodanya berderit, sementara para perawat membuka jalan. Tubuh yang tak sadarkan diri itu langsung dibawa masuk ke ruang UGD tanpa jeda.
☘️
☘️
“Pasiennya kenapa?” tanya seorang dokter yang usianya tak lagi muda, baru saja keluar dari ruang pasien lain, saat melihat sebuah brangkar melaju cepat di depannya.
“Kecelakaan, Dok,” jawab seorang perawat singkat.
Dokter itu menoleh lebih saksama. Langkahnya melambat sesaat ketika matanya menangkap wajah pasien yang berlumuran darah itu.
“Eh, sebentar… itu…” gumamnya pelan.
Matanya membulat. “Javas?”
Tanpa pikir panjang, dokter itu langsung berbalik dan berlari menyusul brangkar yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang UGD, raut wajahnya berubah panik.
Di ruang UGD, suasana berubah menekan begitu tubuh Javas dipindahkan ke bed pemeriksaan. Lampu-lampu terang menyorot tajam, memperlihatkan darah yang masih membasahi perban di kepalanya. Masker oksigen segera terpasang, napasnya terbantu alat, naik turun dengan ritme yang tidak stabil.
Infus dipasang cepat, cairan bening mengalir ke dalam tubuhnya, sementara monitor di samping bed terus berbunyi, garis-garis di layar bergerak tak menentu. Setiap bunyi dari alat itu terasa seperti pengingat bahwa kondisinya berada di batas aman.
Luka di kepalanya dibersihkan ulang, darah ditekan, kasa diganti berkali-kali. Kaki yang terluka ditangani tergesa namun teliti, perban dibuka, jahitan dilakukan tanpa banyak jeda. Tangan-tangan sibuk bergerak, saling bergantian, nyaris tanpa ada ruang untuk berhenti.
Udara di ruangan itu terasa berat. Semua bergerak cepat, terlalu cepat, seolah satu detik saja terbuang bisa mengubah segalanya. Tubuh Javas tetap diam, tak memberi respons apa pun, sementara alat-alat medis bekerja menggantikan apa yang tak mampu dia lakukan sendiri.
...****************...
Dokter Arez keluar dari dalam ruangan. Wajahnya pucat, garis tegang jelas tercetak di sana. Matanya sempat menyapu dua orang yang masih duduk di kursi tunggu dengan wajah kalut, namun dia tidak mengatakan apa pun. Tangannya langsung merogoh saku jas, mengeluarkan ponsel untuk menghubungi sang sahabat.
Namun sebelum panggilan itu benar-benar tersambung, perhatiannya teralihkan.
Dari arah koridor, terdengar langkah tergesa disertai suara tangis yang pecah. Mommy Kanaya, Valleria, dan Pak Anto datang nyaris berlari. Wajah dua wanita itu sembab, mata mereka merah, napas terengah karena panik dan jarak yang baru saja mereka tempuh. Isak tangis masih terdengar jelas, memenuhi lorong rumah sakit yang terasa semakin sempit.
“Dok… dokter… bagaimana putra saya? Bagaimana Javas, Dok?” Mommy Kanaya berdiri tepat di hadapan Dokter Arez, kedua tangannya mencengkeram lengan pria itu, suaranya bergetar menuntut jawaban.
Dokter Arez tidak langsung menjawab. Dia diam, tatapannya sendu, seolah menimbang kata-kata yang terlalu berat untuk diucapkan.
Di sisi lain, Valleria sudah terduduk lemas bersandar di tembok. Tubuhnya bergetar, air mata terus mengalir tanpa suara. Tatapannya sesekali terangkat, menatap pintu UGD yang masih tertutup rapat, berharap sekaligus takut pada apa pun yang akan keluar dari balik sana.
“Halo Dokter Arez?” Panggilan yang dokter Arez lakukan itu tersambung. Suara berat seorang pria dari seberang terdengar samar, tertutup sesekali oleh isak tangis Mommy Kanaya.
“Arez, itu siapa yang menangis?”
“Pak Haidar…” Sebelum Arez sempat menjawab lebih jauh, ponselnya direbut Mommy Kanaya dengan cepat saat mendengar nama suaminya disebut. Wajah wanita itu memerah, antara tangis dan kemarahan bercampur jadi satu.
“Halo…”
“Haidar Oliver, lima menit kamu tidak sampai di rumah sakit, mati kamu di tangan aku!!!” Pekik Mommy Kanaya pecah di lorong, tangannya mencengkeram ponsel erat, suaranya bergetar antara marah dan takut sekaligus. Napasnya tersengal, dada naik-turun cepat, dan pandangannya liar menatap sekeliling, seolah menuntut jawaban segera. Suasana di sana menjadi sesak, semua suara kecil di lorong tenggelam oleh amarah dan ketakutan wanita itu.
Sebelum Haidar sempat bicara dari seberang, ponsel itu dia matikan, lalu tubuhnya luruh di lantai dekat pintu ruangan putranya. Rambut berantakan, pakaian sedikit kusut, dan air mata masih mengalir di pipinya.
Tak lama dia kembali berdiri, berusaha menopang tubuhnya sekuat mungkin, kakinya maju satu langkah, bergerak pelan menuju sebuah jendela kaca, dimana dari sana dia bisa melihat tubuh putranya yang terbaring lemah di dalam, dan masih di tangani oleh beberapa dokter lainnya. Tangannya bergerak di depan kaca, seolah ingin menyentuh tubuh yang terbaring lemah itu.
"Sayang… Javas anak Mommy, yang kuat, ya…" racaunya lirih hampir tenggelam di antara dengungan lorong rumah sakit. Ia berbalik, tatapannya bergantian antara Dokter Arez dan dua pria yang baru disadarinya. Dua pria itu menatap sendu; yang muda wajahnya masih tegang, penuh panik, rasa bersalah, dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
"Kalian?" tanyanya, suaranya bergetar tipis.
"Maaf… Maafkan saya, Bu… Saya tidak sengaja. Saya akan bertanggung jawab atas semuanya, saya…" Tanpa aba-aba, pemuda itu terjatuh berlutut di depan Mommy Kanaya, menundukkan kepala, memohon maaf dengan suara yang bergetar, tubuhnya tampak lemah oleh beban rasa bersalah.
Vallerie yang juga tidak menyadari keberadaan dua orang itu langsung melirik saat mendengar suara penuh permohonan itu. wajahnya membulat tak percaya, orang itu, pemuda yang berlutut di depan mommy-nya...
"Leonel... kamu yang menabrak kakak saya?" tanyanya, suaranya tercampur antara terkejut dan tak percaya, juga rasa marah, tubuhnya seketika membeku di tempat.