Revan adalah pria tampan dan pengusaha muda yang sukses. Namun di balik pencapaiannya, hidup Revan selalu berada dalam kendali sang mama, termasuk urusan memilih pendamping hidup. Ketika hari pertunangan semakin dekat, calon tunangan pilihan mamanya justru menghilang tanpa jejak.
Untuk pertama kalinya, Revan melihat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Bukan sekadar mencari pengganti, ia menginginkan seseorang yang benar-benar ingin ia perjuangkan.
Hingga ia teringat pada seorang gadis yang pernah ia lihat… sosok sederhana namun mencuri perhatiannya tanpa ia pahami alasannya.
Kini, Revan harus menemukan gadis itu. Namun mencari keberadaannya hanyalah langkah pertama. Yang lebih sulit adalah membuatnya percaya bahwa dirinya datang bukan sebagai lelaki yang membutuhkan pengganti, tetapi sebagai lelaki yang sungguh-sungguh ingin membangun masa depan.
Apa yang Revan lakukan untuk meyakinkan wanita pilihannya?Rahasia apa saja yang terkuak setelah bersatu nya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Pulang
Eliana bersandar nyaman di dada bidang suaminya. Lengan Revan melingkar erat, seolah tak ingin melepaskannya. Beberapa hari terakhir terasa begitu cepat berlalu. Tanpa terasa, hari ini adalah hari terakhir mereka di pulau itu. Esok, mereka harus kembali ke tanah air dan menjalani kehidupan yang sesungguhnya.
“Aku rasanya tidak ingin kembali,” ucap Revan pelan sambil mengecup kepala istrinya.
“Aku ingin tetap di sini… hanya denganmu, tanpa siapa pun yang mengganggu.”
Eliana tersenyum, tetap bersandar di dadanya.
“Aku juga begitu,” jawabnya jujur.
“Tapi mau bagaimana lagi, kita harus kembali dan menjalani kehidupan kita.”
“Kamu benar,” sahut Revan singkat, suaranya tenang.
Angin pantai berembus lembut, membawa aroma laut yang menenangkan.
“Hari ini hari terakhir kita di sini,” lanjut Eliana.
“Kamu tidak lupa janji untuk mengajakku snorkeling, kan?”
“Tentu aku ingat,” jawab Revan cepat.
“Tapi sebelum itu…”
“Kamu harus memberiku vitamin terlebih dahulu.”
“Vitamin?” Eliana mengernyit bingung.
“Vitamin apa?”
Belum sempat Eliana bertanya lagi, Revan sudah mengangkat tubuh istrinya dengan sigap. Eliana refleks menjerit pelan karena terkejut, lalu tertawa kecil.
“Revan!” protesnya pelan.
Revan membawa Eliana masuk ke kamar dan meletakkannya perlahan di atas ranjang.
“Jadi ini vitamin yang kamu maksud?” tanya Eliana sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.
“Tentu,” jawab Revan dengan senyum nakal.
“Memangnya ada vitamin lain?”
Hari pun berjalan tanpa mereka sadari. Kelelahan dan kebahagiaan membuat keduanya tertidur pulas, hingga tanpa sengaja melewatkan jam makan siang.
Revan terbangun lebih dulu. Ia tersenyum bahagia begitu matanya terbuka dan mendapati Eliana masih terlelap di sisinya. Wanita yang kini menjadi belahan jiwanya itu tampak begitu damai.
Ia bangun perlahan agar tidak mengganggu tidur istrinya, lalu membersihkan diri dan memesan makan siang. Revan ingin ketika Eliana terbangun, semuanya sudah tersedia.
Tak lama kemudian, Eliana terbangun.
“Maaf,” ucapnya lembut.
“Aku tidur terlalu nyenyak sampai kamu yang menyiapkan semuanya.”
Revan mendekat, menarikkan kursi untuk Eliana.
“Tidak apa-apa,” katanya lembut.
“Kamu pasti kelelahan. Lagi pula, ini tugas kita bersama.”
“Ayo makan,” lanjut Revan sambil mengambilkan piring untuk istrinya.
“Kamu pasti sudah lapar.”
Menu makan siang mereka terdiri dari mas huni, salad khas Maladewa berbahan ikan tuna, kelapa parut, dan jeruk nipis—nasi putih hangat, kari ikan Maladewa, serta roshi, roti tipis khas pulau itu.
Eliana mencicipi mas huni dan tersenyum.
“Enak sekali,” ucapnya.
“Rasanya ringan tapi segar.”
“Kamu suka?” tanya Revan.
Eliana mengangguk.
“Kalau begini, aku bisa kangen makanan Maladewa.”
Revan tertawa kecil.
“Nanti kita cari restoran yang mirip di Indonesia.”
Setelah makan dan beristirahat sejenak, Revan menepati janjinya. Ia mengajak Eliana menuju lokasi snorkeling.
Mereka dipandu oleh pemandu snorkeling lokal yang ramah dan berpengalaman. Ia menjelaskan cara penggunaan peralatan dengan sabar, memastikan semuanya terpasang dengan benar.
Revan mengecek masker dan pelampung Eliana sekali lagi.
“Sudah nyaman?” tanyanya khawatir.
“Sudah,” jawab Eliana sambil tersenyum.
“Terima kasih sudah perhatian.”
Mereka pun turun ke laut. Begitu kepala mereka masuk ke dalam air, dunia seolah berubah. Terumbu karang berwarna-warni terbentang luas, ikan-ikan kecil berenang lincah, sementara sinar matahari menembus air laut yang jernih.
Eliana terpukau. Ia menunjuk sekumpulan ikan biru dan kuning yang berenang beriringan. Revan mengangguk, ikut menikmati keindahan itu. Mereka saling menggenggam tangan, bergerak perlahan, menikmati setiap detik tanpa kata.
Setelah merasa cukup, mereka kembali ke permukaan dengan senyum puas.
“Aku tidak ingin melupakannya,” ucap Eliana.
“Semua ini terasa seperti mimpi.”
“Kalau begitu,” kata Revan,
“kita buat kenangan lain.”
Mereka melanjutkan dengan jet ski, tertawa lepas saat melaju di atas air, saling berpacu kecil, menikmati hari terakhir mereka dengan penuh tawa.
Tak terasa hari semakin sore, dengan berat hati mereka kembali ke penginapan.
Malam hari Revan membawa istrinya makan malam. Revan telah menyiapkan makan malam romantis di tepi pantai. Meja dihias sederhana dengan lilin dan bunga, suara ombak menjadi musik alami.
Eliana terdiam sejenak begitu melihatnya.
“Ini indah,” ucapnya pelan.
“Terima kasih.”
“Kamu pantas mendapatkan yang terbaik,” jawab Revan.
“Terima kasih sudah menjadi istriku.”
Mereka menikmati makan malam dengan obrolan ringan, tawa kecil, dan tatapan penuh makna.
“Besok kita pulang,” ucap Eliana lirih.
Revan menggenggam tangannya.
“Ke mana pun kita pergi nanti,” katanya mantap,
“asal bersamamu, aku siap.”
Eliana tersenyum, menggenggam tangan suaminya lebih erat. Malam itu menjadi penutup sempurna bagi bulan madu mereka bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang sebagai suami istri.
---
Cahaya matahari perlahan menyelinap masuk melalui celah tirai. Suara ombak masih setia mengiringi pagi terakhir mereka di pulau itu. Eliana terbangun lebih dulu. Ia menoleh ke samping, menatap wajah Revan yang masih terlelap.
Ada perasaan berat di dadanya.
Ia tahu, setelah hari ini, semuanya akan kembali pada ritme kehidupan yang sebenarnya.
Eliana bangkit perlahan dan membuka tirai. Laut biru terbentang luas di hadapannya. Pemandangan yang beberapa hari terakhir menjadi saksi tawa, canggung, dan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
“Kita pulang hari ini,” gumamnya lirih.
“Kenapa nada suaramu terdengar sedih?”
Eliana sedikit tersentak. Revan sudah terbangun dan kini duduk di ranjang, menatapnya dengan senyum tipis.
“Rasanya baru kemarin kita sampai.”
Revan mendekat, memeluknya dari belakang.
“Bulan madu memang seharusnya terasa cepat,” ucapnya lembut.
“Supaya kita rindu, lalu belajar menciptakan kebahagiaan yang sama di rumah.”
Eliana bersandar di dadanya.
“Kamu selalu bisa membuat semuanya terdengar tenang.”
“Itu tugasku sebagai suami,” jawab Revan sambil tersenyum.
Mereka bersiap dengan tenang. Tidak ada terburu-buru. Eliana mengemasi pakaian mereka, sementara Revan memastikan dokumen dan barang-barang penting tersimpan rapi.
“Jangan sampai ada yang tertinggal,” ucap Eliana sambil menoleh.
“Yang tidak boleh tertinggal cuma satu,” jawab Revan
"Apa?" Tanya Elaina singkat
“Kamu.” jawab Revan dengan senyum tak lepas dari wajahnya. Semenjak menikah Revan jadi sering tersenyum.
Eliana menatapnya sejenak, lalu menggeleng kecil sambil tersenyum. "Gombal,"
Setelah memastikan semuanya beres mereka pun segera keluar. Sebelum meninggalkan vila, mereka berdiri sejenak di teras. Eliana menghirup udara laut dalam-dalam.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
“Untuk semua yang kamu lakukan selama di sini.”
Revan menatapnya penuh arti.
“Aku yang seharusnya berterima kasih,”
“Kamu sudah mau belajar menjadi istriku, meski semuanya masih baru.”
Perjalanan menuju bandara mereka lalui dengan mobil resort. Eliana menyandarkan kepala di bahu Revan, matanya memandang jalan yang perlahan menjauh dari pantai.
“Kalau nanti kita sibuk dengan pekerjaan, rumah, dan keluarga,” ucap Eliana pelan,
“jangan sampai kita lupa seperti apa rasanya hari-hari di sini.”
Revan menggenggam tangannya.
“Kita tidak perlu pulau untuk mengingat ini,” katanya yakin.
“Cukup saling mengingatkan.”
Di bandara, mereka menunggu penerbangan sambil duduk berdampingan. Eliana sesekali mengecek ponsel, pesan dari Nadia dan keluarga sudah masuk, menanyakan perjalanan mereka.
“Keluarga pasti sudah menunggu,” ucap Eliana.
“Iya,” sahut Revan.
“Dan setelah ini, kita akan benar-benar menjalani hidup sebagai suami istri.”
Eliana menoleh.
“Kamu siap?”
Revan tersenyum, menatapnya lurus.
“Aku mungkin belum sempurna,” katanya jujur,
“tapi aku siap belajar bersamamu.”
Pengumuman boarding terdengar. Mereka berdiri, melangkah bersama menuju pintu keberangkatan.
Saat pesawat lepas landas, Eliana menatap ke luar jendela. Pulau itu semakin kecil hingga akhirnya menghilang di balik awan.
“Selamat tinggal,” bisiknya.
Revan meraih tangannya dan mengecup punggungnya lembut.
“Ini bukan akhir,” ucapnya.
“ Semua ini awal yang baru.”
Eliana tersenyum. Ia memejamkan mata, menyandarkan kepala di bahu suaminya.
emang sepaket y..
jafi pinisirain.. 😁😁😁
sprti ny Revan, hrs menyia jan pengawslbsysngsn deh buat Elliana.
jingga segitu nyenilsi dxn ketidak sukaan ny pada Elliana