"Tidak ada pengajaran yang bisa didapatkan dari ceritamu ini, Selena. Perbaiki semua atau akhiri kontrak kerjamu dengan perusahaan ku."
Kalimat tersebut membuat Selena merasa tidak berguna menjadi manusia. Semua jerih payahnya terasa sia-sia dan membuatnya hampir menyerah.
Di tengah rasa hampir menyerahnya itu, Selena bertemu dengan Bhima. Seorang trader muda yang sedang rugi karena pasar saham mendadak anjlok.
Apakah yang akan terjadi di dengan mereka? Bibit cinta mulai tumbuh atau justru kebencian yang semakin menjalar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LyaAnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30 : Tenang yang Tak Pernah Netral
Tring.....
Gawai Selena bergetar, membuatnya sedikit menggeliat. Pagi itu, cahaya matahari menyusup disela-sela tirai jendelanya. Alisnya sedikit berkerut serta napasnya tidak stabil. Tidurnya semalam tidak nyenyak karena pikirannya masih terus menerus berkecamuk.
Perlahan, Selena membuka matanya. Mengumpulkan jiwa-jiwa nya yang melanglang-buana entah kemana. Setelah dirasa sudah terkumpul, ia meraih gawainya di sekitar bantalnya.
Aksa Maheswara
"Hai Selena. Selamat pagi. Semoga hari ini menjadi hari yang menyenangkan untukmu."
Cukup lama Selena menatap teks itu.
"Semoga saja sih. Capek banyak plot twist," gumamnya pelan.
Selena menyamankan posisi nya dengan duduk bersandar di kepala ranjang. Karena belum punya pasangan, jadinya bersandarnya di kepala ranjang dulu. Dengan ragu, jemarinya mengetikkan balasan untuk pesan Aksa.
"Pagi juga. Makasih udah doain baik buat aku hari ini."
Send....
Tring.....
"Tenang saja, hari ini aku tidak akan mengganggumu. Tapi misalkan kamu butuh apa-apa, cari saja aku. Okey."
Pernyataan itu membuat Selena kembali diliputi perasaan yang aneh.
"Aneh banget. Setiap kalimat yang digunakan kok seolah-olah ia tau apa yang gue rasain ya," lirihnya.
Karena tidak mau berlarut, ia memutuskan untuk membersihkan dirinya, setelah itu ia memasak nasi goreng sederhana ala dirinya. Selena meletakkan gawainya di meja kerjanya. Setelah itu ia menyambar handuknya dan segera mandi. Hari ini, Selena tidak pergi ke kantor karena ia diminta bu Prita untuk istirahat saja dirumah. Karena itu, ia bisa melanjutkan memeriksa draf cerita barunya.
******
Bhima bolak balik mengecek gawainya, khususnya bagian WhatsApp. Di layar gawai, tertulis nama Gatra Daraksha Maheswara. Orang yang kini sedang mengusik hidupnya.
"Sampai mana lu manipulasi Selena. Kalau ini masalah tentang naik jabatan, jangan ganggu dia. Lawan lu gue. Bukan Selena," gumamnya sambil menggenggam erat gelas kaca di atas mejanya.
"Ketemu Selena dimana lu?"
Tak membutuhkan waktu lama, gawai Bhima kembali bergetar. Ternyata balasan dari Gatra.
"Pagi juga brow. Jangan tegang gitu lah. Gue nggak bakal nyakitin dia. Justru gue cuma mastiin supaya dia aman aja."
Bhima terkekeh kecil membaca balasan pesan tersebut.
"Ck! Cara lu nggak bersih. Apa-apaan kek gitu. Dia makin nggak tenang waktu ada di sisi lu."
Gatra tak langsung menjawab. Bhima yang menanti jawaban dari Gatra ikut berdegup.
Beberapa menit berikutnya, pesan itu muncul kembali.
"Tenang itu relatif. Terkadang, kegelisahan justru malah menyadarkan seseorang kalau udah tersesat."
Tring .....
Bhima mengusak wajahnya kasar. Dengan lirih ia bergumam.
"Sakit lu, Tra. Gue pikir lu orang baik. Ternyata lu se manipulatif ini. Selena nggak salah. Dia nggak pantes ada di permainan licik lu."
Bhima meletakkan gawainya dan berjalan menuju dapur untuk menyeduh kopi.
"Sebenarnya apa tujuan lu ngejalanin permainan ini, Gatra. Lu nggak mungkin ngelakuin sesuatu kalau nggak ada tujuannya."
******
Tok .... Tok ... Tok ....
"SELENA .... MASIH MOLOR APA GIMANA LU. ASTAGA. KEBIASAAN BANGET BUAT GUE TERIAK-TERIAK KEK ORANG BERANGASAN. MALU WOI, KALAU TETANGGA KOST LU DENGER GIMANA."
CEKLEK.....
Memang belum lama Rani berdiri, namun ia kesal karena setiap mampir ke kost Selena, ia harus mengeluarkan suara toa masjidnya supaya Selena dengar dan sadar kalau Rani datang berkunjung.
"Apaan sih, gue baru selesai makan sama buang air bentar. Makanya gue nggak denger lu ketok pintu. Udah tau temennya budek, ya wajar. Tetangga kost nggak ada komplain kok karena lu teriak-teriak. Gue nggak turu lagi. Santai santai. Sini masuk," ajak Selena pada Rani yang sudah berdiri tegak di depan pintu kamar.
"Kek nya lu harus kasih gue kunci cadangan deh. Biar gue bisa masuk tanpa teriak-teriak kalau gue mampir kesini." Pinta Rani pada Selena.
"Ya ya. Nanti gue kasih. Bawa apaan lu?"
"Nih, gue bawain martabak kesukaan lu. Yok makan." Ajak Rani.
Selena langsung mengambilkan piring dan meletakkan martabak ke piring.
"Ran, menurut lu orang jahat itu kelihatan tenang apa heboh?"
Tiba-tiba Selena bertanya seperti itu pada Rani. Rani menatap tajam Selena.
"Sangat bisa, bodoh. Justru kek gitu biasanya malah bahaya banget."
"Wah gitu ya. Misalnya nih orangnya bilang mau nolong, tapi malah bikin kepikiran gitu termasuk?" Lanjut Selena.
"Anjir, itu namanya nggak nolong. Itu namanya dia lagi bikin strategi biar orang yang dituju nya makin percaya sama dia." Terang Rani.
Seketika, jawaban itu membuat Selena seolah tersedak martabak yang ia makan.
"Siapa. Aksa lagi?"
Selena tak langsung menjawab.
"Kalau lu diem, berarti "iya" Len. Lu nggak bisa bohong sama gue," tekan Rani.
"Iya ya. Bener dia. Tapi, dia nggak ngelakuin apapun ke gue. Dia cuma hadir aja disamping gue waktu gue mumet aja. Jangan sensian dulu lu," ledek Selena.
Rani menepuk jidatnya. "Justru itu ege, ketika lu lagi nggak stabil emosinya, dia tau celahnya tanpa dia paksa."
Perlahan, Selena menyadarkan kepalanya di kursi.
"Udahlah Ran, capek gue curigaan sama orang mulu."
"Oke, paham. Tapi lu bisa janji sama gue, Len?"
"Hemth. Janji apaan? Kalau berat, gue nggak bisa janji." Tutur Selena.
"Jangan percaya sama siapapun yang sok deketin lu, paham?!"
Selena hanya mengangguk. Kemudian mereka kembali memakan martabaknya sampai habis.
******
"Len, malam ini gue nginep sini ya. Gue temenin lu."
Selena hanya mengangguk dan kembali melanjutkan kegiatannya menulis outline untuk cerita barunya yang akan dipublish kan.
Cahaya matahari yang terik tadi sudah berganti dengan cahaya bulan yang menenangkan.
"Lu duluan apa gue yang mandi, Ran?" Tanya Selena. Kemudian sambil menunggu jawaban, ia menutup laptopnya.
"Lu aja. Gue mau bikin mie ya. Mie seblak masih ada nggak lu?"
"Masih, tuh disitu. Telur sama nugget nya di kulkas."
Rani mengangguk dan mempersilahkan Selena untuk segera membersihkan diri.
Sedangkan, disisi lain ada seseorang yang mengawasi gerak-gerik keduanya.
"Owh, ternyata lu juga mau terlibat di permainan ini, Rani. Berani-beraninya lu ngelarang Selena buat deket sama gue. Lu tenang aja, Selena nggak bakal gue sakitin. Gue cuma jagain dia doang."
Sorot matanya tajam, namun bibirnya mengulas senyum yang sulit diartikan.
"Perfect," gumamnya. "Kamu mulai meragukan semua ini. Itu artinya rencana ku berjalan sesuai rencana."
Ia kembali menatap layar tablet nya yang memperlihatkan kondisi kamar Selena.
"Pelan-pelan Selena, aku nggak bikin kamu percaya. Aku hanya ingin kalau kamu ketakutan, kamu mencari ku. Bukan Bhima." Gumamnya.
Perlahan, suara deru mobil itu terdengar. Kota Semarang ditaburi cahaya lampu yang membuatnya semakin cantik. Namun tidak dengan Selena. Justru ia sedikit ketakutan.
Permainan baru saja dimulai. Belum sampai di puncak permainan. Namun, Selena sudah berhasil masuk lebih dalam di permainan itu.
*******