NovelToon NovelToon
OM KEN YANG PERKASA

OM KEN YANG PERKASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Anak Yatim Piatu / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat / Duda / Cintapertama
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: YuKa Fortuna

Kenneth memutuskan untuk mengasuh Keyra ketika gadis kecil itu ditinggal wafat ayahnya.
Seiring waktu, Keyra pun tumbuh dewasa, kebersamaannya dengan Kenneth ternyata memiliki arti yang special bagi Keyra dewasa.
Kenneth sang duda mapan itupun menyayangi Keyra dengan sepenuh hatinya.
Yuk simak perjalanan romantis mereka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuKa Fortuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30. Ingin Tidur Bersama

30

"Lihat apa?" Ken pura-pura tidak faham. Mencoba fokus pada jalan karena ia hendak menghidupkan mesin kembali.

"Ih, Om nyebelin banget sih." Gerutu Keyra sambil manyun.

Keyra memutar tubuhnya sedikit menghadap Ken. Jarak mereka dekat, terlalu dekat untuk sekadar kebetulan. Tangannya bergerak pelan, menyentuh paha Ken dengan isyarat yang tak perlu dijelaskan.

“Kita nggak harus langsung pulang kan, Om?!” ucapnya lirih. “Masih ada waktu.”

Ken menoleh. Tatapannya hangat, namun ada sesuatu yang tertahan di sana. Ia tidak menjauh, tapi juga tidak mendekat.

“Keyra,” panggilnya pelan.

Nada itu membuat Keyra berhenti. “Kenapa?”

Ken menarik napas dalam-dalam. “Om tahu apa yang kamu maksud.”

Keyra menelan ludah. “Dan?”

“Dan Om nggak ingin melangkah lebih jauh saat ini,” jawab Ken lembut. “Bukan karena Om tidak mau… tapi karena Om mau menjagamu.”

Keyra mengerutkan dahi. “Aku nggak minta dijaga. Aku minta ditemenin, dingertiin.”

Ken mengangguk pelan. “Dan Om sedang menemanimu dan mengerti kamu dengan cara yang tidak akan membuatmu ragu selamanya.”

Keyra terdiam sejenak. "Om selalu aja kayak gini,” katanya pelan. “Selalu berhenti tepat sebelum aku merasa benar-benar dipilih.”

Ken menoleh penuh, memarkirkan mobil dengan aman. “Dengar Om sebentar,” katanya tenang. “Kamu kupilih. Justru karena itu aku berhenti.”

“Berhenti karena apa?” suara Keyra bergetar.

“Karena Om ingin kamu bangun besok tanpa mempertanyakan dirimu sendiri,” jawab Ken jujur. “Tanpa bertanya apakah Om memanfaatkan perasaanmu.”

Keyra memalingkan wajah, menatap ke luar jendela. “Aku bukan anak kecil.”

“Om tahu,” ujar Ken cepat. “Dan justru karena kamu dewasa, Om ingin kita melangkah dengan sadar.”

Hening menyelimuti mereka. Hanya suara napas yang terdengar.

“Aku cuma…” Keyra menghela napas. “Aku cuma ingin lebih dekat.”

Ken meraih tangan Keyra, bukan menarik, hanya menggenggam. “Kita bisa dekat tanpa melampaui batas.”

Keyra menoleh kembali. “Dengan pulang?”

Ken tersenyum kecil. “Dengan pulang.”

“Dan lalu?”

“Lalu kita minum teh,” kata Ken ringan. “Kamu cerita. Om dengarkan. Atau kita sama-sama diam menikmati drama favorit.”

Keyra menatap genggaman tangan itu lama. Kekesalan kecil muncul, lalu perlahan luruh.

“Om emang pandai membujuk,” gumamnya.

Ken terkekeh pelan. “Om hanya jujur.”

Keyra menarik napas panjang, lalu mengangguk kecil. “Oke deh. Kita pulang.”

Ken menyalakan mesin. “Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk mempercayaiku,” jawab Ken.

Keyra menyandarkan punggung ke kursi, menatap ke depan. “Jangan sia-siain.”

Ken mengangguk mantap. “Tidak akan.”

Mobil melaju meninggalkan sisi jalan itu. Bukan karena mereka kalah oleh keinginan, melainkan karena mereka memilih pulang dengan perasaan yang tetap utuh.

**

Malam sudah larut ketika Ken duduk di depan di meja kerjanya, laptop terbuka dengan deretan angka dan grafik yang menuntut fokus. Kacamata bertengger di ujung hidungnya, jemarinya bergerak pelan di touchpad, sesekali berhenti untuk mencatat sesuatu di buku kecil di samping.

Ia hampir tenggelam sepenuhnya, sampai kehangatan itu datang dari belakang.

Lengan Keyra melingkar di pinggangnya, pelukan yang tiba-tiba namun akrab. Pipinya menyentuh punggung Ken, napasnya hangat dan pelan. Ken tertegun sepersekian detik, lalu bahunya mengendur.

“Hey,” ucap Ken lembut tanpa menoleh. “Kamu belum tidur?”

“Belum,” jawab Keyra lirih. “Om juga belum.”

Ken tersenyum kecil. “Sebentar lagi selesai.”

Keyra tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengeratkan pelukannya, seolah ingin memastikan Ken benar-benar ada di sana. Ken menutup laptop perlahan, klik halus yang menandai berakhirnya pekerjaan malam itu, lalu meletakkan kacamata.

“Kalau begitu,” katanya sambil memutar kursi setengah badan, “aku sudah selesai.”

Keyra melepas pelukan, namun tangannya masih tertaut di pinggang Ken. Tatapan mereka bertemu, tenang, hangat. Ken mengusap punggung tangan Keyra dengan ibu jarinya, gerakan kecil yang menenangkan.

“Ada yang kamu pikirkan?” tanya Ken.

Keyra menggeleng. “Aku cuma pingin dekat Om.”

Ken menarik napas pelan, lalu berdiri dan memeluknya, erat tapi singkat, cukup untuk menyampaikan rasa aman tanpa kata-kata berlebihan. “Terima kasih, Sweetheart.” ucapnya.

Keyra tersenyum, menyandarkan dahi ke dadanya. “Aku tahu mungkin Om capek.”

“Dan kamu tahu caranya membuat Om berhenti beraktivitas,” balas Ken ringan.

Mereka berdiri begitu beberapa detik, membiarkan malam mengendap di antara detak yang perlahan seirama. Tidak ada desakan. Tidak ada tuntutan. Hanya kehadiran yang saling menguatkan, cukup, dan terasa tepat.

Keyra masih berada dalam pelukan Ken, kepalanya bersandar di dada pria itu. Ada keheningan singkat sebelum ia mengangkat wajahnya, menatap Ken dengan sorot mata yang penuh niat, nakal, tapi terselubung.

“Om tahu nggak,” ucap Keyra tiba-tiba, nada suaranya sengaja dibuat santai,

“kadang aku pikir… kalo Om itu nggak normal.”

Ken mengangkat alis. “Oh ya? Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Iya,” Keyra mengangguk serius, tapi sudut bibirnya bergetar menahan senyum.

“Pria normal pasti sudah bereaksi macam-macam.”

Ken menatapnya beberapa detik. Lama. Tenang. Tidak tersinggung, tidak pula terpancing. Justru ada senyum kecil yang muncul, senyum seseorang yang sudah sangat mengenali dirinya sendiri.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “Om terima saja tuduhan itu.”

Keyra tampak sedikit kecewa. “Hah? Nggak bantah?”

“Tidak perlu,” jawab Ken ringan. "Aku tahu batasanku. Dan aku tahu batasanmu.”

Keyra mendengus kecil, "Om nyebelin.”

Ken tertawa lirih. “Om sering dengar itu.”

Keyra memukul dada Ken pelan, tidak benar-benar marah. “Aku cuma… ingin lihat reaksi Om.”

Ken menunduk sedikit agar sejajar dengannya. “Dan kamu mendapatkannya.”

“Apa?” Keyra menyipitkan mata.

“Bahwa Om tetap di sini,” ujar Ken tenang. “Bukan karena Om tidak merasakan apa-apa, tapi karena Om memilih untuk tetap sadar.”

Keyra terdiam. Kata-kata itu justru membuat dadanya menghangat.

“Om tahu nggak,” gumamnya pelan, “kadang aku ingin Om kehilangan kendali sedikit aja.”

Ken tersenyum, lalu mengusap rambut Keyra lembut. “Kalau Om kehilangan kendali, Om bukan lagi orang yang kamu percayai.”

Keyra menelan ludah, lalu menyandarkan kembali kepalanya ke dada Ken.

“Oke deh,” katanya lirih. “Kali ini Om menang.”

Ken menghela napas pelan, memeluknya sekilas. “Bukan soal menang.”

“Terus soal apa?”

“Menjaga,” jawab Ken singkat. “Supaya apa pun yang kita miliki… tetap utuh.”

Keyra tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum kecil, kali ini tanpa godaan, karena untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa ketenangan Ken bukan penolakan, melainkan bentuk perhatian yang paling dewasa.

"Tapi kalo aku mau tidur sama om, boleh nggak?" tanya Keyra hati-hati.

Beberapa detik Ken berpikir. Keyra menunggu jawaban, nampak tenang meski sebenarnya ia tidak sabar.

"Ya. Boleh." Ken mengiyakan. Tidak langsung, artinya ia memiliki sedikit keraguan di dalamnya.

Senyuman Keyra terbit. Elegan, meski lebih karena menahan diri untuk tidak melompat-lompat kegirangan.

"Sekarang Om?" tanya Keyra.

Ken mengangguk.

Keyra bergelayut di lengan Ken dan keduanya sama-sama menuju ke tempat tidur. Ken menyibakkan bed cover, lalu naik ke ranjang diikuti oleh Keyra.

Tidak ada hal istimewa yang terjadi. Belum. Keyra juga menahan diri untuk tidak nakal.

Ken merasa lega. Bukan takut pada Keyra, melainkan takut pada dirinya sendiri. Karena ketika ia sudah memutuskan untuk memulai, ia tidak akan bisa dihentikan lagi.

"Kuliahmu masih berapa semester lagi, Sweetheart?" tanya Ken sambil meletakkan dagunya di pucuk kepala Keyra.

"Dua semester lagi, Om." jawab Keyra yang semakin menyamankan diri di dalam dekapan Ken.

Hening.

Keyra mengernyit. Ia pikir Ken akan melanjutkan, ternyata tidak.

"Om... " Panggilnya pelan, mendongak menatap dagu Ken.

"Kenapa Sweetheart?" tanya Ken.

"Terus tadi tanya buat apaan? Iseng doang?" Ternyata Keyra menyimpan rasa penasaran yang dalam.

Ken terkekeh melihat bibir Keyra yang manyun, terlihat sangat menggemaskan.

"Iya, iseng." Ken membenarkan, meski sebenarnya bukan itu alasannya.

Keyra melenguh kecewa.

"Kirain pingin cepet-cepet jadiin aku istri." gerutunya.

"Nanti kamu nggak konsen kuliahnya kalau sudah jadi istri Om." dalih Ken.

"Kenapa bisa nggak konsen? Bukannya justru bikin aku tenang, bahagia dan nggak khawatir Om bakalan kepincut cewek lain?" fikiran Keyra masih sesederhana itu rupanya.

"Keyra... Kadang ada beberapa hal yang sulit dimengerti walaupun dijelaskan dengan kata-kata." Ujar Ken mencari alasan. "... Apa yang kamu lihat sekarang mungkin akan berbeda dengan ketika status sudah berubah menjadi terikat. Fisik dan mental kamu belum tentu siap. Jadi ... Harus melewati berbagai proses adaptasi dulu ..." lanjut Ken.

"Maksud Om..." Keyra tak sabar ingin menyela. "Om seorang hyper gitu? Dan aku akan kewalahan dan sebagainya menghadapi Om?" Keyra dapat menangkap maksud Ken rupanya.

"Umm... Tidak... Bukan itu... " Ken tiba-tiba jadi gelagapan.

"Terus apaan Om." Keyra penasaran.

Ken gelisah ditanya demikian, matanya melirik ke arah jam dinding demi mencari ide lain agar tak terus ditodong.

"Forget it. Sudah larut. Kita tidur ya." Ken menutup topik dan segera memejamkan mata, meski takkan semudah itu ia terlena.

"Hmm... Jadi Om mau main rahasia-rahasiaan dari aku." Keyra membatin. " Kita lihat aja nanti, apa yang akan aku lakuin. Om pikir bisa selamanya berpura-pura?" Keyra tersenyum puas.

Apakah gerangan yang akan dilakukan oleh Keyra?

.

Yuka/ 221225

1
Bintang Ihsan
lihat tempat ken , dirumah saja
Bintang Ihsan
margareth tidak marah, malah mendukung, kapan key dikenalkan ke margareth
Arum Widya
kan kan.... kan ay dah bilang berulang" kali key... jangan terlalu dekat. karna hubungan pertemanan antara pria dan wanita itu jarang yg pure. pasti salah satunya ada something... 😌
Arum Widya
ternyata Amara gak berubah. masih aja bahas kowan kawin ama key... 🤣🤣.. padahal gak tau aja kalau key udah Dilubangi ama om ken... 🫣
Bintang Ihsan
om ken ingin menjaga key agar tetap aman nyaman bahagia , bukan hanya nafsunya saja
Sahidah Sari
hei ko main peluk aja nih Rafael kan nanti di liat orang apalagi sama pacar km bisa gawat key yg ga enak..

duh Ken ,km itu ya bikin jantungan tau pikir td key di culik..

tunggu di rumah aja Ken udah ga sabaran banget nih .
Sahidah Sari
yey mau ketemu camer nih key
Nari Ratih
hahhaha malah rangsang2an pula 😂😂😂
Farel pula ini egois banget, lu laki bukan sih ahha
Ria Adek
Ken mulai penasaran..
Ken mulai cari perhatian..
Dari Keyra yg dulu mengejar nya secara ugal²an..
Mampu kah Ken menolak pesona anak perawan..?
Kuyy.. Mari bacanya kita lanjutkan.. 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🤣
Ria Adek
Lelaki tuh emang kudu di buat penasaran..
Bukan di kejar ugal²an..
Sebab lelaki tugas nya memperjuangkan..
Bukan untuk di kejar² perempuan..
Jaga batas adalah yg keputusan aman..
Agar tak di anggap murahan..
Agar lelaki penasaran..
Sebab perhatian yg pernah kau berikan, hilang perlahan²..
Dan jika dia cinta padamu, maka dia akan mengejarmu & di perjuangkan..
D.Nafis Union
🙈🙈🙈🙈, gk ngintip lo✌️
Nana2 Aja: singkat banget komennya
total 1 replies
D_wiwied
whattt 😱😱 giila si om gak liat2 tempat main nyusu aja 😆🤭
🌻sunshine🌻
om Ken nakal ya ..candaan nya gitu banget sih
🌻sunshine🌻
reflek gundul mu itu ..kamu ya jangan bikin salah faham
Nana2 Aja: gundul kayak tuyul😂😂😂
total 1 replies
🌻sunshine🌻
Rafael ish ish ...curi curi kesempatan ih ..
🌻sunshine🌻
Amara kepo nya kebangetan kayak aku 🤭🤭
Ratih Tyas
Duh Ken kenapa ini
apa ken lagi bir4hi lagi🙈
ato ada sesuatu🤔
Ratih Tyas
Farel kok jadi cwo egois banget
padahal habis merawanin anak orang masih aja deketin Keyra😪
Ratih Tyas: Rafael🤣
total 2 replies
Nana2 Aja
jangan cuma 2 es krim Key, jgn lupa jilat juga es krim yg berambut pirang. astaghfirullah😂😂😂
Nana2 Aja
first comment🥰🥰🥰
Nana2 Aja: humm🤭🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!