Dibawah langit kerajaan yang berlumur cahaya mentari dan darah pengkhianatan, kisah mereka terukir antara cinta yang tak seharusnya tumbuh dan dendam masa lalu yang tak pernah padam.
Ju Jingnan, putri sulung keluarga Ju, memegang pedang dengan tangan dingin dan hati yang berdarah, bersumpah melindungi takhta, meski harus menukar hatinya dengan pengorbanan. Saudari kembarnya, Ju Jingyan, lahir dalam cahaya bulan, membawa kelembutan yang menenangkan, namun senyumannya menyimpan rahasia yang mampu menghancurkan segalanya.
Pertemuan takdir dengan dua saudari itu perlahan membuka pintu masa lalu yang seharusnya tetap terkunci. Ling An, tabib dari selatan, dengan bara dendam yang tersembunyi, ikut menenun nasib mereka dalam benang takdir yang tak bisa dihindari.
Dan ketika bunga plum mekar, satu per satu hati luluh di bawah takdir. Dan ketika darah kembali membasuh singgasana, hanya satu pertanyaan yang tersisa: siapa yang berani memberi cinta di atas pengorbanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurfadilaRiska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Melakukan Hal-hal Bodoh, Kan?
Masih di hari yang sama, di tempat yang sama—
di bawah langit Pegunungan Longfeng yang cerah, suara latihan para prajurit kembali menggema, namun di sudut tempat pelatihan, suasana justru terasa lebih tenang.
Setelah hening beberapa detik, Jingyan akhirnya menoleh ke arah kakaknya.
“Jie… kau tahu tidak tentang semalam?” ucap Jingyan pelan.
Jingnan langsung menoleh. “Tahu apa?” tanyanya bingung.
“Semalam Jiejie mabuk. Weifeng Gege juga mabuk,” ujar Jingyan santai, seolah itu hal biasa.
“Para prajurit apalagi. Untungnya tabib Ling An dan Paman Wei Yu tidak mabuk.”
Jingnan mengernyit.
“Lalu?”
“Tentu saja aku meminta tolong pada Ling An untuk mengantarkan Jiejie ke kamar,” lanjut Jingyan sambil melirik sekilas ke arah kakaknya, senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Apa?!” Jingnan terkejut.
“Aku harap Jiejie tidak memarahi Ling An,” cepat Jingyan menambahkan. “Aku yang menyuruhnya. Kalau ada yang harus dimarahi, marahi aku saja, Jie.”
Jingnan menatapnya tajam sejenak. “Tapi… kau ikut, kan?”
“Tentu saja,” jawab Jingyan cepat, membuat Jingnan sedikit lega.
Namun Jingyan belum selesai. “Tapi hanya sampai depan pintu. Setelah itu aku pergi karena Mei Yin tiba-tiba datang dan mengatakan Yaoqin mengalami kram.”
Ia tersenyum lembut. “Yaoqin beruntung, Jie. Ia menikah dengan seseorang yang benar-benar mencintainya. Jianhong selalu menjaganya, walau katanya kadang dia sangat ceroboh.”
Jingnan tak menanggapi. Ia justru terdiam.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan. 'Aku tidak melakukan hal-hal bodoh, kan?
Aiss… jangan sampai.'
Ia tahu benar bagaimana dirinya jika mabuk—bernyanyi, menari, bahkan pernah memeluk kaki Weifeng sambil memanggilnya ayah. Semua kenangan memalukan itu berkelebat cepat.
Jingyan memperhatikannya dengan heran. “Jie? Kau kenapa?”
“Aku baik-baik saja,” jawab Jingnan cepat, memaksakan senyum. Ia segera bangkit.
“Aku pergi dulu.”
Jingyan hanya mengangguk pelan, membiarkan kakaknya pergi.
Tak lama kemudian, Yaoqin dan Mei Yin datang.
“Selamat pagi, Putri,” sapa Yaoqin sambil sedikit menunduk.
“Ah, tidak perlu seperti itu,” Jingyan tersenyum.
“Kau duduk saja. Tidak baik wanita hamil besar terlalu lama berdiri.”
Yaoqin menurut dan duduk perlahan. Mei Yin justru terlihat murung.
“Kau kenapa?” tanya Jingyan heran.
“Tidak tahu,” jawab Mei Yin lirih. Ia duduk di bangku kosong dan meletakkan kepalanya di atas meja kayu bundar.
Jingyan langsung mengangkat punggung tangannya dan menempelkannya ke kening Mei Yin.
Benar saja—hangat.
Ia menarik napas pelan. Selama ini, jika Mei Yin menunjukkan sikap seperti itu, hanya ada dua kemungkinan: tubuhnya tiba-tiba jatuh sakit… atau ia sedang sangat bosan hingga kelelahan tanpa disadari.
“Tubuhmu hangat,” ucap Jingyan lembut namun tegas.
“Ayo, kita kembali ke kamarmu.”
Jingyan segera berdiri dan menarik tangan Mei Yin dengan hati-hati, seolah takut sedikit saja tekanan bisa membuat gadis itu terjatuh.
“Eh…?”
Yaoqin refleks ikut memegang tangan Mei Yin, lalu ikut menyentuh pergelangan tangannya.
“Benar… tubuhnya panas,” ucap Yaoqin cemas.
“Ayo, aku bantu juga.”
“Tidak perlu,” Jingyan langsung menolak dengan lembut namun tegas.
“Kau sedang hamil.”
“Benar kata Yanyan jiejie,” ucap Mei Yin pelan.
Ia berdiri dengan susah payah, lalu tanpa sadar memeluk lengan Jingyan, tubuhnya tampak kehilangan kekuatan. Kedua kakinya gemetar, seakan tak lagi sanggup menopang tubuhnya sendiri.
Baru beberapa langkah mereka berjalan—
Bruk!
Tubuh Mei Yin tiba-tiba ambruk ke lantai.
“Mei Yin!!”
Jingyan terkejut setengah mati. Ia segera berjongkok, menopang kepala Mei Yin dan menepuk pipinya dengan lembut.
“Mei Yin… buka matamu…”
Namun gadis itu tetap terdiam. Napasnya ada, tapi kesadarannya menghilang sepenuhnya.
Jantung Jingyan kini berdegup kencang.
“Aku akan memanggil yang lain,” ucap Yaoqin cepat, meski wajahnya jelas diliputi kepanikan.
“Aku minta bantuan untuk mengangkat Putri Mei Yin ke kamarnya.”
Jingyan mengangguk, tak berani mengalihkan pandangan dari wajah Mei Yin sedikit pun.
Yaoqin segera berbalik dan melangkah pergi.
Ia berusaha mempercepat langkahnya, namun perutnya yang sudah membesar memaksanya berjalan lebih lambat dari keinginannya sendiri.
Sementara itu, Jingyan tetap berjongkok di sisi Mei Yin, menggenggam tangan gadis itu erat—
seakan takut, jika ia melepaskannya walau hanya sesaat, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.
Di balik wajahnya yang tetap tenang, kegelisahan perlahan menggerogoti hatinya.
......................
Di sisi lain, Jingnan berjalan tanpa tujuan ke bagian belakang area pelatihan Militer Junwei Jun. Langkahnya melambat saat ia tiba di tepi sebuah danau kecil yang airnya tenang, memantulkan langit pagi yang cerah. Namun ketenangan itu sama sekali tak menular ke pikirannya.
Pertanyaan-pertanyaan sejak tadi terus berputar di kepalanya.
“Aisss… ayolah, apa yang kulakukan semalam?!”
Jingnan memukul kepalanya pelan, berharap ingatannya yang kosong itu mau bekerja sama.
“Jangan sampai aku melakukan hal bodoh!”
Dengan kesal, ia mengambil sebuah batu dan melemparkannya sekuat tenaga ke tengah danau.
Plung!
Riakan air menyebar, namun tak mampu menenangkan hatinya.
Tanpa ia sadari, ia tak sendirian di tempat itu.
Di atas sebuah pohon besar yang cabangnya menjulur tepat di atas danau, Ling An sedang berbaring santai, satu tangannya dijadikan bantal. Saat batu kedua dilemparkan, Ling An langsung membuka mata dan menoleh ke bawah.
“Aku harap kali ini tak sebodoh yang dikatakan Weifeng Gege, Yanyan, dan Mei Yin…” gumam Jingnan frustrasi.
“Huwaaaaaa!!!”
Jingnan berteriak keras, lalu melemparkan beberapa batu lagi ke danau tanpa ampun, seolah semua kekesalannya ingin ia tenggelamkan bersama riakan air itu.
Ling An menghela napas pelan.
Dalam satu gerakan ringan, ia melompat turun dari atas pohon dan mendarat tepat di belakang Jingnan.
“—!!”
Jingnan langsung berbalik karena kaget. Namun pemandangan di hadapannya justru membuatnya lebih terkejut.
“LING AN!!! Sejak kapan kau berada di sini?!!!”
Ia spontan berdiri dari duduknya, wajahnya jelas menegang.
“Maaf karena telah mengagetkan Jenderal,” ucap Ling An sambil menundukkan kepala sedikit.
“Ya ya ya! Sekarang aku tanya—kau sudah berapa lama di sini?!!” suara Jingnan meninggi.
“Sejak tadi, Jenderal.”
“Hah?!!”
Wajah Jingnan langsung memucat.
“Jadi… kau mendengar semuanya?!!”
Ling An mengangguk pelan, tanpa menambahkan sepatah kata pun.
'Sialan…
Lalu aku harus apa sekarang? Ini benar-benar memalukan…' batin Jingnan kacau.
“Oh… begitu. Ya sudah,” ucapnya cepat, berpura-pura santai meski jelas gagal total.
Ia menarik napas, lalu menatap Ling An tajam.
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”
Jingnan melangkah mendekat. Karena Ling An lebih tinggi, ia berjinjit sedikit, lalu—tanpa peringatan—berbisik tepat di telinganya.
“Aku tidak melakukan hal-hal aneh, kan, semalam?”
“Saat kau mengantarku ke kamarku?”
Ling An langsung membeku.
Matanya sedikit melebar, dan telinganya perlahan memerah. Tangan yang sedari tadi tenang refleks mengepal.
“Ling An!”
“Jangan bilang kau tidak mendengarku!”
Jingnan menatapnya tajam, terlalu dekat—terlalu sadar akan jarak di antara mereka.
“Aku mendengarnya, Jenderal.”
Ling An akhirnya menatap balik. Jarak mereka kini begitu dekat hingga napas masing-masing terasa jelas.
Sejenak, dunia di sekitar mereka seolah menghilang.
Tatapan itu lembut.
Hangat.
Tenang.
Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang gelap—
dendam lama yang masih berdenyut di dalam dada Ling An.
Keduanya tersadar hampir bersamaan. Mereka buru-buru membuang muka dan melangkah mundur, menciptakan jarak yang aman—atau setidaknya terlihat aman.
Hening.
Angin berembus pelan, menggoyangkan permukaan danau.
Akhirnya, Jingnan angkat bicara lebih dulu.
“Cepat jawab pertanyaanku tadi.”
Ia melipat kedua tangan di dada dan memandang danau, membelakangi Ling An.
“Apa sebaiknya… tidak usah diceritakan, Jenderal…” ucap Ling An ragu.
Jingnan mendecak pelan. Dari nada suara itu saja, ia sudah tahu—
pasti ada sesuatu.
“Jenderal yakin…?” tanya Ling An sekali lagi.
“Jelas yakin. Mengapa tidak?”
Jingnan berbalik, menatapnya dengan sorot mata penuh tuntutan.
Ling An menghela napas panjang.
“E-emm… sebenarnya semalam…”
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jelas berusaha menunda.
Namun karena Jingnan sendiri yang meminta, ia tak punya pilihan lain...
semangat teruslah aku dukung🔥❤️