Renjiro Sato, cowok SMA biasa, menemukan MP3 player tuanya bisa menangkap siaran dari masa depan. Suara wanita di seberang sana mengaku sebagai istrinya dan memberinya "kunci jawaban" untuk mendekati Marika Tsukishima, ketua kelas paling galak dan dingin di sekolah. Tapi, apakah suara itu benar-benar membawanya pada happy ending, atau justru menjebaknya ke dalam takdir yang lebih kelam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amamimi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kompetisi Musim Dingin dan Logika Mimpi
Senin pagi setelah kencan di taman (yang secara resmi disebut "Uji Coba Makanan dan Keselamatan Maritim"), suasana di antara Ren dan Marika berubah halus.
Di depan umum, mereka tetap Ketua OSIS yang galak dan Sekretaris yang penurut. Tapi ada kode-kode rahasia. Tatapan mata yang bertahan satu detik lebih lama. Senyum tipis saat berpapasan di koridor. Dan tentu saja, bekal makan siang Marika yang kini rutin ada di meja Ren (masih dengan bentuk sosis yang kadang abstrak).
Siang itu, papan pengumuman utama di lobi sekolah dikerumuni siswa.
Ren, yang baru selesai dari kantin, penasaran. Dia menyelip di antara kerumunan.
Sebuah poster besar berwarna cerah tertempel di sana: KOMPETISI SENI VISUAL PELAJAR MUSIM DINGIN. Tema: "Harapan yang Tersembunyi". Pemenang utama akan mewakili prefektur ke tingkat nasional.
Mata Ren berbinar. Ini dia, batinnya. Kesempatan emas.
Saat kerumunan mulai bubar, Ren melihat seseorang berdiri mematung di sudut lobi.
Tsukishima Marika.
Dia berdiri agak jauh, memeluk buku-buku tebal di dadanya. Matanya tertuju lurus ke poster itu. Tatapannya bukan tatapan analitis seorang Ketua OSIS yang sedang mengecek izin tempel poster.
Itu tatapan kerinduan. Tatapan lapar. Tatapan seorang seniman yang melihat kanvas kosong.
Namun, begitu Marika menyadari ada siswa lain yang mendekat, topeng dinginnya langsung terpasang. Dia membuang muka, membetulkan letak kacamatanya (yang sebenarnya tidak melorot), dan berjalan cepat menjauhi papan pengumuman seolah poster itu tidak ada.
Ren tersenyum miring. "Ketangkap basah kamu, Ketua."
Sore harinya, di ruang OSIS.
Suasana tenang. Sugawara sedang izin ke perpustakaan, meninggalkan Ren dan Marika berdua saja. Marika sedang menyusun jadwal ujian akhir semester, sementara Ren pura-pura sibuk menyortir klip kertas.
"Ketua," panggil Ren.
"Hmm?" Marika bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Aku liat poster di lobi tadi. Kompetisi Seni Musim Dingin."
Jari Marika berhenti mengetik. "Lalu? Apa hubungannya dengan agenda OSIS? Itu urusan Klub Seni."
"Kamu nggak mau ikut?" tembak Ren langsung.
Hening. Suara detak jam dinding terdengar sangat keras.
Marika menghela napas panjang, lalu memutar kursinya menghadap Ren. Wajahnya datar.
"Sato-kun," katanya dengan nada memberi kuliah. "Mari kita bicara fakta. Aku kelas 2 SMA. Prioritasku adalah mempertahankan nilai akademik untuk persiapan masuk Fakultas Hukum atau Ekonomi. Mengikuti kompetisi seni—yang memakan waktu minimal 20 jam kerja—adalah alokasi sumber daya yang sangat tidak efisien."
"Tapi kamu suka gambar," bantah Ren.
"Suka tidak sama dengan butuh," potong Marika. "Seni itu hobi. Hobi tidak menghasilkan stabilitas masa depan. Ibuku sudah mendaftarkanku ke bimbel intensif musim dingin. Waktuku sudah habis."
Ren berdiri. Dia berjalan mendekati meja Marika.
"Itu kata ibumu," kata Ren pelan. "Kata kamu gimana?"
Marika terdiam. Tangannya meremas roknya. "Pendapatku tidak relevan dalam kalkulasi karir."
Ren menggeleng. Dia teringat sketsa elang di spanduk kemarin. Dia teringat betapa hidupnya mata Marika saat memegang kuas. Dan dia teringat suara Marika dewasa yang penuh penyesalan.
Ren mengambil langkah berani. Dia membuka laci meja Marika—laci paling bawah yang selalu terkunci tapi kuncinya tergantung di leher Marika.
"Sato-kun! Itu privasi!" seru Marika panik.
"Kuncinya ada di lehermu, artinya laci ini kebuka," kata Ren (karena Marika lupa menguncinya tadi pagi).
Ren menarik keluar buku sketsa biru tua itu. Buku yang sama yang dia lihat di gudang.
Dia membukanya di halaman terakhir. Sebuah sketsa gaun pesta yang luar biasa indah, dengan detail renda yang digambar sangat teliti. Di bawahnya ada tulisan kecil: 'Untuk dipakai suatu hari nanti'.
Ren meletakkan buku itu di depan Marika.
"Ini bukan hobi, Marika," kata Ren serius. "Ini bakat. Ini jiwa kamu."
Marika menatap gambar itu. Matanya mulai berkaca-kaca, pertahanan logisnya retak.
"Tapi... temanya 'Harapan yang Tersembunyi'," bisik Marika, suaranya bergetar. "Kalau aku ikut... dan kalau aku kalah... itu membuktikan kalau Ibu benar. Bahwa seni itu cuma buang waktu."
"Dan kalau kamu menang?" tanya Ren.
Marika mendongak.
"Kalau kamu menang," lanjut Ren, mencondongkan tubuhnya, menatap mata Marika dalam-dalam. "Itu bukti nyata. Kamu bisa bawa piala itu ke depan ibumu dan bilang: 'Lihat. Aku hebat di sini. Ini bukan sampah.'"
Air mata menetes di pipi Marika.
"Aku takut, Ren," akunya jujur, menghilangkan formalitas. "Aku takut gagal."
Ren tersenyum lembut. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Marika yang ada di atas buku sketsa.
"Kamu punya manajer handal di sini," kata Ren. "Aku bakal urus semua kerjaan OSIS kamu selama seminggu ini. Laporan, arsip, notulen, semua aku yang kerjain."
Mata Marika membulat. "Itu... itu pelanggaran prosedur. Kamu akan lembur setiap hari. Kamu akan kelelahan."
"Nggak masalah. Asal kamu punya waktu buat gambar," kata Ren mantap. "Anggap aja ini investasi. Kalau kamu menang, kamu harus traktir aku makan enak sepuasnya."
Marika menatap Ren. Dia mencari keraguan di mata cowok itu, tapi dia tidak menemukannya. Yang ada hanya keyakinan mutlak.
Ren percaya padanya lebih dari dia percaya pada dirinya sendiri.
Marika menarik napas panjang, mengusap air matanya dengan cepat. Dia mengambil pulpen.
"Formulir pendaftarannya," kata Marika, suaranya kembali tegas meski matanya merah. "Kamu... sudah ambil formulirnya, kan?"
Ren nyengir lebar. Dia merogoh saku blazernya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah dia ambil diam-diam dari ruang guru.
"Sudah siap, Bos."
Marika mengambil kertas itu. Tangannya sedikit gemetar saat mengisi kolom nama: Tsukishima Marika.
Saat dia sampai di kolom "Judul Karya", dia berhenti.
"Aku harus gambar apa?" tanyanya.
"Apapun," jawab Ren. "Apapun yang bikin kamu ngerasa hidup."
Marika memejamkan mata, membayangkan sesuatu. Lalu dia menulis judulnya dengan mantap.
Judul Karya: Dua Sisi Bulan.
"Sato-kun," kata Marika setelah menandatangani formulir itu.
"Ya?"
"Kalau Ibu tahu..."
"Biar Ibu jadi urusan nanti. Sekarang, kita fokus bikin mahakarya," potong Ren. "Kita main kucing-kucingan. Kamu gambar di ruang OSIS. Aku jaga pintu. Nggak bakal ada yang tau."
Marika menatap Ren. Senyum tipis merekah di bibirnya, senyum yang penuh dengan rasa terima kasih dan... cinta.
"Kamu benar-benar Sekretaris yang buruk," kata Marika lembut. "Mengajak Ketua melanggar aturan dan menyembunyikan kegiatan dari orang tua."
"Tapi aku Sekretaris favoritmu, kan?" goda Ren.
"Hmph. Jangan geer. Kamu cuma... aset yang berguna."
Marika menyimpan formulir itu di dalam buku sketsanya.
"Mulai besok," kata Marika, matanya kembali menyala dengan api ambisi. "Ruang OSIS akan beralih fungsi menjadi studio seni darurat mulai jam 4 sore. Pastikan tidak ada gangguan. Terutama Sugawara-kun. Dia terlalu jujur, dia tidak bisa bohong."
"Siap laksanakan," kata Ren hormat.
Sore itu, di ruang OSIS yang sunyi, sebuah perjanjian rahasia dibuat.
Renjiro Sato baru saja menekan tombol "Start" pada misi penyelamatan impian Marika. Dia tahu resikonya. Kalau nilai Marika turun, atau kalau ibunya tahu, Ren mungkin akan disalahkan.
Tapi melihat binar di mata Marika saat memegang pensil sketsanya lagi... Ren rela menanggung resiko apa pun.
"Dua Sisi Bulan, ya?" batin Ren. "Aku nggak sabar liat hasilnya."
Dan tanpa Ren sadari, "Harapan yang Tersembunyi" bagi Marika bukan hanya soal gambar. Tapi juga soal seorang cowok yang rela menjadi tameng bagi mimpinya.