"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi?
Pernikahan akan dilakukan sebulan lagi, menunggu keadaan Elle benar-benar pulih.
Rencana pernikahan ini juga masih di rahasiakan dari Elle karena Nero ingin memberikan kejutan untuk sang kekasih. Ben dan Gloria pun sepakat untuk menyembunyikan kabar bahagia ini.
*
Seminggu telah berlalu. Hari ini Elle kembali ke rumah sakit untuk melepas perban di wajahnya. Jantungnya berdebar tak karuan sejak tadi karena takut operasinya gagal.
"Mom ..." Untung saja kedua orang tuanya belum kembali ke Barcelona, membuatnya sedikit tenang.
Elle menggenggam kedua orang tuanya saat seorang perawat di dampingi dokter spesialis mulai membuka perban di wajahnya.
"Tenang, Sayang, semuanya akan baik-baik saja." Gloria membisikkan kata-kata penyemangat untuk putrinya. Begitu pula dengan Ben tak mau kalah, berusaha menenangkan putrinya.
Elle memejamkan mata, ia sampai menahan nafas dan menggenggam tangan orang tuanya sangat erat.
Perawat mengambil cermin begitu semua perban terlepas.
Gloria dan Ben saling pandang, lalu melempar senyum saat melihat wajah putri mereka.
"Nona, Anda sangat cantik sekali," puji perawat tersebut seraya memegang cermin di depan wajah Elle.
"Iya, Sayang, kau sangat cantik seperti sedia kala," sahut Gloria membenarkan ucapan perawat tadi.
"Mommy, pasti bohong." Elle masih memejamkan mata. Ia tidak percaya diri untuk membuka mata, takut hasilnya mengecewakan.
"Ayo, buka perlahan kedua matamu," bujuk Ben.
Elle mengangguk ragu. Meski takut dan ragu, ia mulai memberanikan diri untuk membuka kelopak mata.
Deg!
Ketika kedua mata terbuka lebar, ia sangat syok saat melihat wajahnya di cermin tersebut.
"I-Ini ..." Elle menangis terharu, lalu mengambil alih cermin tersebut, mematut wajahnya di cermin itu sambil mengusap kedua pipinya yang tampak kemerahan tapi mulus tanpa adanya bekas luka. "Wajahku ..." Saking bahagianya, ia sampai tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menangis penuh haru bercampur bahagia. Wajahnya kembali seperti semula. Ia masih cantik, dan rasa percaya dirinya yang kemarin sempat terkikis kini perlahan bangkit lagi.
"Terima kasih, Dokter. Aku sangat bahagia karena wajahku kembali seperti sedia kala," ungkap Elle pada dokter tersebut.
Dokter itu tersenyum senang, "sama-sama, Nona. Perjuangan Anda masih berlanjut karena harus kontrol rutin untuk penyembuhan," saran dokter pada Elle.
Elle mengangguk saja sambil mematut wajahnya di cermin dengan penuh kebahagiaan.
*
Di sisi lain, Nero saat ini sedang menatap jengkel pada asistennya—Pedro.
"Kenapa kinerjamu menurun? Kalau sudah bosan katakan saja, dengan senang hati aku akan menendangmu dari perusahaan!" bentak Nero penuh emosi, sampai membuat Pedro yang berdiri di depannya berjingkat kaget.
"Tidak, Tuan, maafkan aku kalau belakangan ini sering membuat masalah." Pedro memohon dengan kedua tangan mengatup di depan dada. Tapi tak berselang lama, perutnya kembali bergejolak, ia segera berlari ke toilet di ruangan itu tanpa izin pada pemiliknya.
Huek!!
Nero memejamkan mata seraya mengatupkan rahang dan menekan pangkal hidungnya. Mendengar Pedro mual membuatnya jadi ikut mual
Sialan!
Nero mengumpat seraya meneguk air putih dengan rakus, berharap rasa mualnya menghilang.
Huek!!
Pedro kembali mual, tak berselang lama ia keluar dari toilet itu dengan raut seperti mayat hidup. Wajahnya sangat pucat.
Nero yang ingin memaki Pedro pun urung saat melihat asistennya tiba-tiba ambruk pingsan di depannya.
"Kenapa dia lemah sekali! Astaga!!" umpat Nero, sembari menekan intercom, memanggil Ava.
"Ava, suamimu pingsan."
"Lagi?!" pekik Ava dari intercom itu.
Cammora tidak peduli dengan aturan Botak untuk Berta. Camorra mengajak Berta bersenang-senang. Cammora menggenggam erat tangan Berta menuju mobilnya.
Cammora membawa Berta ke salon kecantikan.
Cammora ingin pegawai salon merubah penampilan Berta menjadi cantik, sampai membuatnya pangling.
Elle senang tersenyum puas menikmati kegalauan Botak.
Cammora pria yang bisa membuat Berta bisa tersenyum. Berta merasa di hargai, di inginkan, dan di perhatikan.
Berta hatinya tersentuh dengan perhatian-perhatian kecil dari Cammora.
Apalagi Cammora memberikan Berta semangat dan dukungan moril, juga memberi nasehat.
Berta tumbuh dengan rasa ketakutan, tidak percaya diri, dan terasingkan.
Kini ada pria yang mengatakan Berta berharga. Jangan pernah lagi merasa rendah diri. Berta gadis hebat dan kuat.
Berta dengan mata berkaca-kaca mengucapkan terima kasih pada Cammora.
Berta tersentuh, terharu dengan apa yang dikatakan Cammora.
Cammora bertanya pada Berta - Botak yang menjawab.
Cammora tak terima pada Botak yang ikut campur urusannya dengan Berta.
Elle datang - menyelamatkan Berta dari aturan Botak yang seenaknya sendiri.
Botak kalau suka sama Berta bicara terus terang. Sok meremehkan Berta. Nyatanya cemburu Berta didekati Cammora.
Rasain Batak. Suka memarahi Berta - mana bilang bukan hanya wajah Berta yang jelek, tapi cara kerjanya juga jelek.
Lihat tuh si jelek disukai Cammora yang kaya raya. Botak tak ada apa-apanya dibanding Cammora.
Cammora memanfaatkan waktunya untuk mendekati Berta.
Bahkan kemanapun Berta pergi, Cammora mengikuti.
Berta sampai protes pada Cammora.
Berta menyebut nama sekalian nama panggilannya.
Elle dan Nero berada di kamar menatap mereka.
Nero tak terima istrinya memuji Cammora yang gentelman.
Meronalah kedua pipi Berta mendengar tamu majikannya mengatakan - berliannya Berta.
Di kasih waktu satu minggu oleh Nero.
Nero mengancam Cammora akan kehilangan kepalanya kalau melakukan hal bahaya atau melukai penghuni rumah Nero.
Elle memperbolehkan Cammora menginap - biar Botak cemburu dan sakit hati.
Elle syok mendengar penuturan Nero - Botak tidak pernah mau menikah. Mungkin Botak tidak tertarik pada wanita.
Sepertinya Botak tidak mau menikah bukan karena gay, Elle.
🥰🥰🥰🥰
biar nti pulang paman botak pangling dan lupa ngasih hukuman 🤣🤣🤣