Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Hari Ujian
Pagi itu udara terasa lebih tegang dari biasanya. Bahkan burung-burung di depan sekolah pun seperti tahu kalau hari ini bukan hari biasa. Di koridor, suasana kacau tapi penuh semangat ada yang masih membuka buku sambil jalan, ada juga yang duduk di lantai dengan wajah putus asa. Lyla berdiri di depan kelas bersama Nomi dan Wendy.
"Kenapa aku merasa jantungku kayak lagi ulangan praktek olahraga, bukan ujian tulis?” keluh Wendy sambil menepuk dadanya.
Nomi menatap lembar catatannya seolah berharap rumus bisa menempel di otaknya lewat tatapan. "Kalau aku gagal hari ini, tolong kirimkan pesan terakhirku ke guru Matematika… bilang aku udah berjuang.”
Lyla terkekeh kecil, tapi tangannya sendiri ikut gemetar saat membuka buku catatan terakhir kalinya. “Tenang aja. Kita udah belajar seminggu penuh, pasti bisa.”
Bel tanda masuk berbunyi. Semua serentak menelan ludah. “Selamat tinggal, dunia luar,” gumam Wendy pelan.
Mereka bertiga berjalan masuk ke kelas, duduk di tempat masing-masing. Suara kertas dibagikan terdengar di seluruh ruangan, dan hening pun turun.
Lyla menarik napas panjang. "Oke, fokus. Kali ini aku harus bisa."
**
Begitu bel tanda selesai ujian berbunyi, semua siswa keluar kelas seperti habis dari medan tempur.
Lyla keluar sambil menunduk lemas. “Aku… gak yakin ini masih otak manusia,” gumamnya pelan.
Nomi menyeret langkah di sampingnya.
“Setuju. Aku nulis rumus kayak mantra… entah benar atau enggak, pokoknya nulis aja dulu.”
Wendy mengangkat kedua tangannya ke langit, pura-pura menangis. “Kalau nilai aku selamat, aku janji bakal traktir kalian es krim. Tapi kalau nggak… tolong jaga akun media sosialku.”
Lyla dan Nomi langsung tertawa lemah.
“Kayaknya bukan cuma kamu yang butuh doa,” jawab Lyla sambil nyengir kecil.
Mereka bertiga akhirnya duduk di taman sekolah, memandangi langit cerah yang seolah mengejek kelelahan mereka.
“Baru hari pertama,” kata Nomi pasrah.
“Masih empat hari lagi…”
“Jangan ngomong empat hari lagi!!” seru Wendy spontan.
Lyla tertawa kecil, capek, tapi rasanya seru. Di tengah semua stres itu, kebersamaan mereka tetap terasa menyenangkan.
**
Malamnya, Lyla duduk di meja belajarnya. Buku-buku terbuka, tapi matanya mulai berkunang. Ia menatap soal terakhir yang belum sempat disentuh… lalu menghela napas panjang. “Besok pelajaran sejarah…” gumamnya lelah.
Lampu meja temaram, suasana kamar tenang. Hanya detik jam dinding yang terdengar. Lyla meraih ponselnya—sekadar ingin istirahat sejenak.
Di layar, muncul satu notifikasi.
Noah: Kamu udah tidur?
Lyla terdiam sesaat, matanya melebar sedikit. Senyum kecil muncul di bibirnya, seperti rasa capeknya hilang setengah. Ia mengetik pelan.
Lyla: Belum... baru selesai belajar. Kamu?
Tak lama, balasan datang.
Noah: Aku juga baru kelar. Hari ini sibuk banget, tapi aku cuma ingin tahu kamu baik-baik aja.
Lyla menggigit bibirnya, pipinya hangat.
Lyla: Aku baik. Tapi kalau terus kayak gini, mungkin otakku minta pensiun.
Noah membalas dengan cepat.
Noah: Heh, jangan dulu. Kalau kamu tumbang, siapa yang bakal ngingetin aku makan pas latihan nanti?
Lyla menatap pesan itu, jantungnya berdebar pelan. Ia tak tahu kenapa kalimat sederhana itu terasa begitu manis.
Lyla: Huft… dasar kamu, bikin aku malah gak bisa tidur.
Noah: Hehe, berarti berhasil. Selamat malam, Lyla.
Lyla: Selamat malam, Noah.
Lyla menatap layar ponselnya sebentar sebelum akhirnya memeluk bantal. Senyumnya masih tersisa bahkan saat matanya mulai terpejam.
Lyla akhirnya tertidur. Entah sejak kapan, tapi dalam mimpinya… ia berada di taman sekolah yang sepi, langitnya lembayung, angin bertiup pelan. Di depan sana, Noah berdiri di bawah pohon yang sedang gugur. Seragamnya sama seperti hari pertama mereka bertemu—dan senyumnya juga sama, hangat, tenang.
“Noah?” panggil Lyla pelan.
Noah menoleh. “Kamu datang juga.”
Lyla melangkah mendekat. Hembusan angin membawa kelopak bunga melayang di antara mereka.
“Kenapa di sini?” tanyanya.
Noah menatapnya lama sebelum menjawab. “Karena kamu kelihatan capek. Jadi aku datang… buat nyemangatin."
Lyla tertegun, hatinya seperti diremas lembut.
“Kalau kamu mimpiin aku, berarti kamu kangen, ya?” Noah tersenyum kecil, nada suaranya seperti bercanda tapi matanya terlalu jujur.
Lyla menunduk cepat, pipinya memanas. “Enggak juga...” katanya pelan, tapi senyum di bibirnya tak bisa ia sembunyikan.
Kelopak bunga terus berjatuhan, menari di sekitar mereka. Lyla sempat ingin mengulurkan tangan, tapi saat jari-jarinya hampir menyentuh Noah---
…angin berembus kencang, dan semuanya memudar.
“Noah—!”
Lyla tersentak bangun. Nafasnya sedikit cepat, matanya berkedip menyesuaikan cahaya pagi. Ia menyentuh dadanya, masih bisa merasakan hangat dari mimpi itu.
Perlahan, Lyla tersenyum.
“…aneh. Tapi rasanya nyata banget.”
Lyla berdiri di depan cermin, rambutnya sedikit berantakan karena buru-buru bangun. Ia sempat melamun sebentar, memandangi wajahnya sendiri--lalu tersenyum kecil saat teringat mimpi semalam.
“Bodoh… mimpi aja bisa deg-degan gitu,” gumamnya sambil menepuk pipinya pelan.
Dari luar kamar, suara ibu terdengar, “Lyla! Cepat bangun, nanti telat!”
“Iya, Bu!” jawabnya cepat.
Tak lama. Lyla sudah berada di i meja makan, roti panggang dan segelas susu sudah menunggunya. Sambil mengunyah roti, Lyla menatap keluar jendela ---langit cerah, tapi jantungnya rasanya masih belum tenang.
“Ujian hari ini pasti bisa,” katanya pelan pada diri sendiri, mencoba menyemangati.
Sesampainya di sekolah, suasananya heboh seperti biasanya saat ujian. Teman-temannya sudah berkumpul di depan kelas, beberapa masih membuka buku dengan panik, ada juga yang malah bercanda seolah tak peduli.
Wendy melambai begitu melihat Lyla. “Lyla! Sini cepet, Nomi lagi panik ngapalin sejarah "
Lyla mendekat, tertawa kecil. “Fokusnya belajar, bukan panik, Nom.”
Nomi mengeluh sambil memegang kepalanya. “Ujian ini jahat banget! Kayak sengaja mau ngetes kesabaran manusia!”
“Kalau gitu semangat, manusia sabar,” jawab Lyla sambil menepuk bahunya, membuat mereka bertiga tertawa.
Bel masuk berbunyi. Semua langsung bergerak ke kelas masing-masing.
Lyla menatap ke arah koridor sebentar, refleks mencari sosok yang biasanya muncul dengan senyum santai itu.
Tapi Noah belum terlihat.
Ia menarik napas kecil, lalu masuk ke kelas.
“Fokus dulu, Lyla,” katanya dalam hati. “Nanti baru boleh kangen.”
Hari kedua ujian berakhir.
Begitu bel tanda selesai berbunyi, seluruh kelas langsung riuh—ada yang bersorak lega, ada juga yang mengeluh keras-keras soal-soalnya yang katanya “tidak manusiawi”.
Lyla mengembuskan napas pelan.
“Sudah selesai…” gumamnya.
Wendy merapat ke mejanya. “Gila ya, otakku rasanya gosong. Nomi hampir nangis waktu lihat soal terakhir.”
“Eh! Aku nggak nangis!” protes Nomi dari barisan belakang, membuat mereka bertiga tertawa.
Namun di tengah tawa itu, Lyla sempat melirik ponselnya yang tergeletak di meja.
Masih sepi.
Biasanya Noah selalu mengirim pesan pagi-pagi—entah cuma, “Semangat ujian ya,” atau sekadar emoji senyum.
Tapi hari ini… belum ada apa-apa.
Ia cepat menutup ponsel dan pura-pura fokus pada obrolan teman-temannya, tapi senyumnya terasa sedikit kaku.
“Lylaaa, ayo ke kantin, lapar banget!” seru Wendy.
“Iya, bentar,” jawabnya sambil berdiri.
Namun dalam hatinya, ia cuma berpikir satu hal kecil yang entah kenapa terasa berat.
Noah belum nge-chat sama sekali hari ini… kenapa ya?
**
Di kantin. Lyla duduk bersama Nomi dan Wendy.
“Aku kayaknya udah salah nulis setengah jawaban tadi,” gumam Nomi lesu.
“Setengah? Aku malah yakin jawabanku semua salah,” balas Wendy sambil menghela napas panjang.
Lyla hanya tersenyum kecil, tapi matanya tiba-tiba menangkap sosok yang lewat di depan pintu kantin.
Noah.
Ia berjalan cepat, menunduk sedikit, earphone menempel di telinganya. Tidak melihat ke arah mana pun—terutama tidak ke arah Lyla.
Lyla sontak menegakkan tubuhnya, jantungnya seperti berhenti sepersekian detik. Matanya mengikuti langkah Noah sampai sosok itu menghilang di balik tikungan lorong.
“Eh, Lyla?” Wendy memanggil pelan.
“Ha? I-iya?” Lyla tersentak kecil, buru-buru menunduk.
Nomi mendekat, berbisik dengan nada menggoda, “Tadi kayaknya kamu ngelihat seseorang, ya?”
“Bukan, kok!” jawab Lyla cepat, suaranya meninggi sedikit.
Ia kembali menatap makanan di depannya yang kini sudah dingin. Entah kenapa, rasanya perutnya jadi susah menerima makanan.