Seorang dokter muda bernama Mika dari dunia modern terseret ke masa lalu — ke sebuah kerajaan Jepang misterius abad ke-14 yang tak tercatat sejarah. Ia diselamatkan oleh Pangeran Akira, pewaris takhta yang berhati beku akibat masa lalu kelam.
Kehadiran Mika membawa perubahan besar: membuka luka lama, membangkitkan cinta yang terlarang, dan membongkar rahasia tentang asal-usul kerajaan dan perjalanan waktu itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon latifa_ yadie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Dunia Ketiga
Sejak malam cahaya itu muncul di langit, aku tidak bisa tidur.
Ada sesuatu di udara — tenang tapi penuh tekanan, seperti dunia sedang menahan napas.
Setiap kali aku menutup mata, aku mendengar gema samar dari kejauhan:
“Datanglah… ke dunia tanpa nama.”
Suara itu bukan Sensei, bukan juga Ren.
Suaranya lebih luas — seolah seluruh langit berbicara bersamaan.
Ren duduk di beranda, menatap laut yang memantulkan cahaya samar dari horizon.
Dia belum tidur juga.
“Suara itu datang lagi?” tanyanya tanpa menoleh.
Aku mengangguk. “Iya. Tapi kali ini lebih jelas. Kayak… memanggil.”
Ren menghela napas. “Aku juga dengar. Mungkin ini yang dimaksud Sensei: dunia yang bahkan waktu belum tahu.”
Aku menatapnya. “Kau siap?”
Dia menoleh, matanya berkilau biru samar. “Aku lahir karena waktu yang kau jaga. Kalau dunia baru memanggil, kita jawab bareng-bareng.”
Aku tersenyum kecil. “Bareng-bareng, ya.”
Kami berangkat saat fajar.
Langit berubah dari abu-abu ke perak, lalu biru muda — tapi matahari tidak terbit.
Hanya cahaya samar yang muncul dari laut, membentuk kolom vertikal menjulang tinggi ke langit, seperti menara cahaya yang tak berujung.
Kami berjalan menuju pantai.
Setiap langkah terasa ringan tapi dingin; pasir di bawah kaki kami bergetar lembut, seperti menyadari langkah waktu sedang melintas di atasnya.
Ren berhenti di tepi air.
“Jadi ini… Pintu Dunia Ketiga?”
Cahaya itu mendesir pelan, seolah menjawab.
Permukaannya bergerak seperti air, tapi tidak memantulkan apa pun — bukan laut, bukan langit, bukan kami.
Hanya ketiadaan yang berpendar.
Aku menatapnya dalam. “Dunia tanpa nama… tempat waktu tidak berkuasa.”
Ren menatapku. “Kalau waktu nggak berkuasa, berarti Sensei pun nggak bisa bantu kita, kan?”
Aku menunduk, menggenggam liontin di leherku.
“Iya. Tapi mungkin itu maksudnya. Dunia ini ingin tahu, apakah manusia bisa bertahan tanpa waktu.”
Ren tersenyum kecil. “Lucu. Kita selama ini berusaha memperbaiki waktu, sekarang malah disuruh hidup tanpanya.”
Aku menatapnya. “Siap?”
Dia mengulurkan tangan. “Kau tahu jawabannya.”
Aku menggenggam tangannya, dan kami melangkah bersama ke dalam cahaya.
Tidak ada sensasi masuk.
Tidak ada dingin, tidak ada panas, tidak ada berat.
Satu-satunya hal yang terasa hanyalah… diam.
Diam yang begitu murni sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri — lalu menyadari, bahkan itu pun mulai menghilang.
Kami berdiri di tempat yang tidak bisa dijelaskan.
Langit di atas kami bukan biru, tapi juga bukan hitam — seperti warna sebelum warna diciptakan.
Tanah di bawah kami seperti kabut padat, tapi tak meninggalkan jejak.
Dan di depan, ada sesuatu yang menyerupai danau luas, tapi airnya… tidak bergerak sama sekali.
Ren berbisik pelan. “Ini… sunyi sekali.”
Aku mengangguk. “Seperti dunia yang belum lahir.”
Dia menatapku. “Atau dunia yang baru mati.”
Aku menatap sekeliling. Tidak ada angin, tidak ada suara, bahkan napas kami pun tidak menghasilkan kabut.
Untuk pertama kalinya sejak dunia baru lahir, aku merasa benar-benar sendirian — bahkan waktu pun tidak menjawab.
“Kau salah.”
Suara itu muncul tiba-tiba — bukan dari luar, tapi dari dalam pikiranku.
Aku terkejut, menoleh ke Ren. “Kau dengar itu?”
Dia menggeleng. “Nggak. Tapi aku lihat sesuatu.”
Aku mengikuti pandangannya.
Di tengah danau yang beku itu, muncul siluet samar.
Tinggi, berambut putih panjang, dan mengenakan jubah yang memantulkan cahaya seperti kristal.
Setiap langkahnya menimbulkan riak — tapi riak itu tidak menyebar, melainkan diam di tempat.
“Selamat datang, Penjaga Waktu dan Jangkar Baru.”
Ren menatapnya waspada. “Kau siapa?”
“Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah pantulan dari dunia yang tak sempat diciptakan.”
Aku melangkah ke depan. “Pantulan? Maksudmu… dunia ini cermin?”
Sosok itu tersenyum samar. “Lebih dari itu. Dunia ini adalah sisa dari kemungkinan yang tidak pernah terjadi.”
Aku menatapnya, ngeri dan kagum bersamaan. “Jadi… dunia ini berisi hal-hal yang tidak jadi?”
“Benar. Setiap pilihan yang tidak diambil, setiap kata yang tidak diucap, setiap cinta yang tidak sempat diungkap — semuanya berakhir di sini.”
Ren menelan ludah. “Berarti ini… tempat dari semua ‘seandainya’?”
“Tempat dari semua yang hampir ada.”
Seketika, udara di sekeliling kami mulai berubah.
Cahaya di langit berputar pelan, dan di sekitar kami, muncul bayangan-bayangan manusia — samar, transparan, tapi wajah-wajah mereka familiar.
Aku menatap satu per satu… dan jantungku berhenti.
“Sensei…”
Dia berdiri di antara mereka, tersenyum tenang.
Tapi matanya kosong — seperti bayangan dari seseorang yang tidak benar-benar hidup.
“Sensei!” aku berlari, tapi tanganku menembus tubuhnya.
“Aki…”
Suara itu lembut tapi bergema.
“Aku bukan dia yang kau kenal. Aku versi yang tidak sempat hidup — yang gagal menjadi jangkar.”
Aku tertegun. “Berarti… ada lebih dari satu?”
“Ada ribuan. Setiap kali dunia mencoba menulis ulang dirinya, selalu ada yang gagal. Dan semua versi itu berkumpul di sini.”
Aku mundur, napasku memburu.
“Kalau begitu, kenapa kami di sini?”
“Karena dunia baru butuh fondasi. Untuk membangun dunia ketiga, ia membutuhkan kesadaran dari yang pernah gagal.”
Ren menatapku. “Aki… dia ngomong kayak dunia ini mau memakai kita.”
Aku mengangguk. “Ya. Mau menjadikan kita bagian dari dirinya.”
“Bukan mau, tapi perlu,” lanjut sosok itu. “Dunia tanpa nama tidak bisa eksis tanpa arah. Kalian berdua adalah arah itu.”
Ren melangkah maju. “Kalau begitu, beri kami pilihan. Apa yang harus kami lakukan?”
Sosok itu menatap kami lama.
“Satu dari kalian harus menetap di sini, menjadi jangkar bagi dunia yang belum lahir.”
“Yang satu lagi… akan membawa ingatan dunia ini kembali ke atas, agar waktu tak lupa asalnya.”
Aku menatap Ren cepat. “Jadi sama seperti dulu.”
Dia menatapku, lalu tersenyum pahit. “Ya. Bedanya, sekarang bukan Sensei yang harus memilih.”
Sunyi sejenak.
Aku ingin menolak, tapi jauh di dalam hatiku, aku tahu dunia ini berkata benar.
Selalu ada harga untuk setiap kelahiran.
Ren memecah diam. “Aku yang tinggal.”
Aku langsung menatapnya tajam. “Jangan bodoh.”
Dia tersenyum. “Kau sudah kehilangan Sensei. Dunia butuhmu di atas. Aku hanya hasil dari waktu yang kau ciptakan. Kalau harus ada yang jadi fondasi, biarkan aku.”
“Ren, jangan! Dunia ini belum selesai tanpa kau!”
Dia mendekat, memegang bahuku.
“Aki… setiap dunia butuh jangkar. Dan aku… aku diciptakan untuk itu.”
Aku menggigit bibir, air mata mulai mengalir. “Aku nggak mau kehilangan siapa pun lagi.”
Dia tersenyum lembut. “Kau nggak kehilangan. Aku cuma berubah tempat — seperti Sensei.”
Cahaya di sekitar kami mulai bergetar, makin terang, seperti waktu mendesak keputusan.
Aku menggenggam tangannya kuat-kuat. “Kalau kau benar-benar tinggal, aku janji satu hal.”
Dia menatapku. “Apa?”
“Aku nggak akan biarkan dunia melupakanmu. Setiap kali hujan turun, aku akan ingat, ada seseorang yang memilih bertahan di tempat di mana waktu belum punya nama.”
Ren menatapku lama, lalu menunduk dan menempelkan dahinya ke dahiku.
Suaranya bergetar, tapi tenang. “Kalau begitu, aku akan jadi hujannya.”
Aku menutup mata, menahan tangis. “Dan aku akan jadi langitnya.”
Cahaya meledak.
Segalanya putih.
Suara, rasa, tubuh — semuanya hilang.
Hanya ada satu kalimat terakhir yang kudengar, entah dari Ren, dari dunia, atau dari waktu sendiri:
“Setiap dunia lahir dari kehilangan yang diterima dengan cinta.”
Ketika aku membuka mata, aku sudah kembali di pantai.
Langit biru lembut, laut tenang, dan pasir hangat di bawah telapak tanganku.
Liontin di leherku bersinar pelan, tapi di dalamnya, cahaya biru kecil berdenyut lembut — jantung waktu ketiga.
Aku menatap laut.
“Ren…”
Angin laut berhembus, membawa bisikan lembut:
“Aku di sini, Aki. Di antara cahaya dan dunia yang belum punya nama.”
Aku tersenyum, menatap horizon.
“Baiklah, dunia ketiga. Mari kita hidup dengan cara yang bahkan waktu belum mengerti.”
Langit berpendar lembut, dan untuk pertama kalinya sejak Sensei hilang, aku merasa benar-benar tidak sendiri lagi.
Karena kali ini, bukan hanya waktu yang hidup — tapi aku juga.