Shenina Jean atau yang akrab disapa Nina adalah seorang wanita karir sekaligus istri dari lelaki bernama Argan Dio. mereka merupakan sepasang kekasih yang menikah atas dasar saling mencintai.
karena tak kunjung mendapatkan keturunan, Shenina memutuskan untuk meninggalkan dunia kerja dan melepaskan jabatan bersama mimpi-mimpinya. Agar bisa lebih fokus pada program kehamilan yang tengah ia jalani.
Namun setelah semua usaha yang ia lakukan, ternyata Shenina mendapati suami yang sangat dicintainya justru menjalin hubungan gelap dengan wanita lain merupakan orang terdekatnya.
Kenyataan pahit atas pengkhianatan tersebut membuatnya hancur berkeping-keping. hingga ia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin. menghilang tanpa jejak, merombak dirinya secara keseluruhan lalu kembali dengan kehidupan dan identitas yang benar-benar baru.
Bagaimana kisah kelanjutannya....? apakah Shenina akan balas dendam ? Atau justru memulai cinta yang baru ? Nantikan kisahnya ya……..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
Malam itu setelah selesai membawa semua barangnya, Shira dan Jenifer beristirahat sejenak.
Mumpung akhir pekan, mereka berencana ingin makan diluar sambil menikmati pemandangan kota di malam hari.
Tapi ternyata manajer Shira itu sudah tidur lebih dulu. Karena siang tadi ada beberapa tugas yang di urus oleh Jenifer, jadi mungkin saja dia kelelahan.
Jen juga pergi ke beberapa tempat untuk rapat bersama klien, membicarakan kerjasama bisnis mumpung mereka masih berada disana.
Selain melakukan pemotretan untuk produk Luxe’me Cosmetic, Shira juga di undang ke berbagai tempat dan acara sebagai bintang tamu.
Akhirnya Shira memutuskan untuk pergi sendiri sambil mencari udara segar di malam itu. Wanita itu juga ingin berbelanja di toserba yang ada di bawah, membeli beberapa barang dan makanan untuk mengisi lemari pendingin.
Sesampainya di restoran Shira tanpa sengaja melihat sosok yang ia kenal.
Seseorang yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya, sekaligus seseorang yang memberikan pelajaran berharga bagi masa lalu Shira.
Ya, dia tidak mungkin salah lihat. Orang itu adalah Yuri. Tapi siapa lelaki yang sedang bersamanya??
Sekilas hanya melihat dari punggungnya saja, Shira bisa tahu kalau laki-laki itu bukanlah Dio.
Lelaki itu juga terlihat sangat mesra dengan Yuri. Mereka berbincang sambil berpegangan tangan.
Terlalu berlebihan untuk dikatakan sebagai teman biasa, namun terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa mereka adalah pasangan.
Tanpa mencari tahu lebih banyak, Shira memilih fokus menikmati makanannya.
Sepulang dari restoran, Shira kemudian menyempatkan waktu untuk mampir ke toserba sebelum akhirnya kembali ke apartemen.
Shira juga mengambil minuman kesukaannya beberapa botol untuk stok di kulkas. Setelah semua keperluannya terpenuhi, wanita itu berjalan menuju meja kasir dengan membawa keranjang penuh.
Sementara dia tidak menyadari kalau seseorang sedang memperhatikannya dari belakang.
Belum sempat belanjaan Shira di scan, seseorang sudah lebih dulu menyodorkan botol minuman miliknya.
“Yang ini biar sekalian pembantuku yang bayar” ucapnya sambil berlalu keluar dari toserba.
“Apa.?? Pembantu ??”
“Pak Shen…..!!!!
“Hiisssshh.. menyebalkan sekali sejak kapan dia ada disini” gerutu Shira yang tidak bisa berbuat apa-apa karena sedang mengantre.
Ketika sudah di luar Shira kembali dikejutkan dengan suara klakson mobil yang berada tepat di hadapannya.
Emosi Shira semakin meledak-ledak ketika dia mengetahui siapa pelaku yang berada di dalam mobil tersebut.
“Orang ini benar-benar tidak punya sopan santun rupanya, sulit dipercaya dia adalah CEO Luxe’me Cosmetic yang sangat tersohor itu”
“Kau duluan yang tidak sopan padaku Shira, mulai sekarang aku juga akan bersikap sama sepertimu…!!!”
“(Cih dia masih tidak berubah rupanya, masih tetap pendendam seperti dulu)”
“Tunggu apa lagi ?? Ayoo naik”
Sementara Shira hanya diam menatapnya, lelaki itu sudah tidak menunjukkan wajah dinginnya lagi kepada Shira.
Bahkan intonasi suaranya juga terdengar lebih ramah dari sebelumnya, persis seperti dia bicara dengan Nyonya Dehan atau Nina.
Ibarat seekor harimau, Shendra sudah tidak menunjukkan kuku dan taringnya lagi.
Shira masih sangat hafal dengan karakter kakaknya. Jadi sekecil apapun perubahan dari sikap Shendra, maka dia akan dengan mudah menyadarinya.
Shira tersentak dari lamunannya, ketika Shendra mengambil barang belanjaannya dan meletakkannya ke dalam bagasi.
Lelaki itu tersenyum ketika melihat sekilas belanjaan Shira, banyak minuman favoritnya yang sempat mereka perebutkan hari itu.
“Ayo masuk..”
“Tumben sekali pak Shen baik..??” Ucap Shira menatap penuh selidik.
“Tentu saja, aku bukan majikan yang tega meninggalkan pembantunya sendirian….”
“Pak Shen..!! Aku bukan pembantumu yaa !!”
“Lalu apa ??? Kau ingin ku anggap sebagai apa hmm..???” Tanya Shendra sambil terus mendekat ke arah Shira sambil memasangkan sabuk pengaman, membuat wanita cantik itu sedikit menghindar menjaga jarak wajah mereka.
Pertanyaan Shendra sangat sepele tapi membuatnya terdiam, hanya bisa menjawab dalam hati dan lewat sorot mata.
“Cih manja sekali, padahal apartemen dan toserba sangat dekat kenapa harus pakai mobil” ucap Shira mengalihkan topik.
“Siapa bilang kita mau ke apartemen…??”
“Eehhh ehhh kita mau pergi kemana ??”
“Ke TKP…!!!”
Kemudian mobil itu melaju dengan cepat, menuju ke suatu tempat yang sangat jauh dari keramaian serta mampu menciptakan kedamaian tersendiri bagi Shendra.
Tanpa banyak protes Shira hanya diam mengikuti kemana lelaki itu membawanya. Dari jalur yang mereka lewati, sepertinya Shira sudah bisa menebak arah tujuan mereka.
Sepanjang jalan Shendra menyalakan lagu, tapi karena lagu itu terus berulang dengan sendirinya jadi Shira berinisiatif untuk menggantinya.
“Jangan di ganti…” ucap Shendra menahan tangannya.
Sontak Shira menarik mundur tangannya. Mulutnya diam tapi hatinya bertanya-tanya, sesekali ujung matanya melirik Shendra yang terus fokus menatap ke depan.
”(kenapa tidak boleh diganti ?? Apa dia sangat suka lagu ini ?? Seingat ku ini sama sekali bukan selera kak Shen. Atau jangan-jangan…??)”
“Lagu ini adalah lagu yang pernah diputar Nina saat kami pergi bersama untuk yang terakhir kalinya” ucap Shendra tanpa menoleh sedikitpun, seolah sedang menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya.
Deg…, dugaan Shira benar. Seketika gemuruh di dadanya mulai menimbulkan rasa sesak.
Seingatnya dia memang mendengar lagu itu dua tahun lalu saat mereka pulang dari pantai, tepatnya sehari sebelum dia mengakhiri hidupnya sebagai Nina.
Kenapa Shendra tiba-tiba membahas tentang adiknya ??
Jadi selama ini dia hanya mendengarkan lagu itu tanpa pernah menggantinya sekalipun ?? Bagaimana mungkin ??
Shira juga baru menyadari kalau kakaknya selalu memakai mobil yang ini, padahal dia punya banyak koleksi mobil.
Sesampainya di tempat tujuan Shendra keluar sendirian, sambil menenggak minumannya menatap ke arah laut.
Sementara Shira masih terdiam memperhatikan Shendra dari dalam mobil. Entah apa yang sedang ia rasakan, tapi sejak masalah lagu tadi pikirannya mulai tidak karuan.
Shira mencoba menenangkan dirinya, sebelum akhirnya dia keluar menghampiri Shendra.
“Apa pak Shen sering ke sini…??”
”Hmm, selalu…” jawabnya sambil melempar kerikil kecil dari atas tebing curam itu.
“Apa dia juga suka tempat ini..??” Tanya Shira mengarah pada Nina, tapi tidak langsung dijawab oleh Shendra.
Tangannya yang sedang melempar kerikil langsung terhenti saat mendengar pertanyaan Shira.
“Mungkin…” jawabnya singkat.
“Disinilah tempat Nina mengakhiri hidupnya..”
“Dia tidak bisa berenang, tapi dia sangat suka pantai dan laut. Siapa sangka dia justru menjadikan tempat ini sebagai peristirahatan terakhirnya”
Mendengar itu Shira hanya terdiam. Namun tidak ada yang tahu betapa rapuhnya dia saat ini. Seolah kalimat Shendra barusan seperti pukulan pada bekas luka yang masih terasa perih.
“Shira…”
“I..iya pak Shen..??”
“Boleh aku bertanya sekali lagi…??” Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan pelan oleh Shira.
“Apa kau benar-benar tidak pernah mengenalku sebelumnya..???” Tanya Shendra untuk yang kesekian kalinya.
Wanita itu hanya menggeleng.
“Lalu apakah kau pernah mengenal Shenina Jean…???”
Lagi-lagi Shira kembali berbohong dan tetap menggeleng, menandakan bahwa dia tidak kenal dengan Nina.
Tangannya gemetar menahan diri agar tidak keceplosan. Mulutnya sangat ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi hatinya belum sepenuhnya siap untuk itu.
Shendra hanya bisa menghela napas setelah dia memastikan sesuatu. Meskipun sebenarnya banyak sekali yang ingin dia tanyakan pada Shira, namun untuk saat ini masih diurungkan.
“Sepertinya Pak Shen sangat menyayangi Nina..?? Aku jadi penasaran orang seperti apa dia…??” Ucap Shira sambil menatap wajah Shendra.
Kemudian perlahan Shendra mulai bercerita. Menurutnya Nina adalah perempuan paling luar biasa sekaligus paling bodoh yang pernah dia kenal.
Hatinya sangat tulus, sehingga tidak bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak. Dia selalu peduli terhadap perasaan orang lain, tapi tidak pernah memikirkan perasaannya sendiri.
Nina selalu pura-pura tegar padahal hatinya begitu rapuh. Dia selalu bersikap baik kepada semua orang, bahkan yang telah menyakitinya sekalipun. Tapi dia benar-benar tidak ramah pada Shendra.
Temperamennya selalu meledak-ledak setiap kali mereka bersama. Meski bukan saudara kandung dan sering bertengkar, namun Shendra begitu menyayanginya.
Yang paling menyedihkan bagi Shendra adalah, Nina tetap membela dan melindungi mantan suaminya hingga akhir hidupnya.
Shendra juga mengatakan kalau dia bertahan sejauh ini karena Nina. Jika tidak, mungkin dari dulu dia sudah membunuh mantan suami adiknya.
Namun sampai saat ini, Shendra selalu berharap dan menganggap kalau Nina masih hidup. Karena kasus adiknya merupakan kasus kematian tanpa jasad.
Hal itulah yang membuatnya berpikir tidak menutup kemungkinan adiknya masih hidup. Entah terseret ombak atau ditemukan oleh kapal nelayan, yang jelas dia tidak mau berpikir bahwa hal buruk telah menimpa Nina.
Itu sebabnya Shendra enggan menyebut adiknya dengan sebutan mendiang. Meski orang lain menganggapnya sudah tiada, namun tidak bagi Shendra.
Lelaki itu bahkan telah melakukan berbagai macam upaya agar adiknya bisa ditemukan. Tapi hasilnya nihil.
Andai boleh memilih, Shendra pasti akan menggantikan posisi adiknya. Dia rela menanggung semua penderitaan asalkan Nina tetap bahagia.Tapi sayangnya takdir berkata lain.
Tanpa terasa air mata itu kembali jatuh membasahi wajah cantik Shira.
“Ahhh anginnya kencang sekali, mataku jadi berair” ucapnya berdalih.
“Maaf….” Akhirnya satu kata itu keluar dari mulut Shendra.
“Kenapa tiba-tiba minta maaf….??”
“Maaf soal sikapku sore tadi…”
“Aaaa, tentang rumah itu..?? Tidak apa-apa pak Shen. kalau saya ada di posisi itu, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama”
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya dua orang itu memutuskan untuk kembali pulang.
Sepanjang perjalanan Shira terus merenung, dia sangat merasa bersalah atas semuanya.
Malam itu Shira mulai menyadari satu hal, bahwa keputusan yang selam ini dia anggap sudah benar, ternyata telah meninggalkan luka yang begitu dalam bagi orang-orang di sekitarnya.
Ibarat dia jatuh ke dalam jurang hitam tanpa dasar, namun tanpa disadari ada seseorang yang rela terjun menolongnya.
Tapi ternyata hingga kini dia belum berhasil menemukannya. Dan orang itu tidak lain adalah Shendra.
Sementara Shira tengah menuju jalan keluar, sedangkan Shendra masih terjebak dalam dinginnya jurang penantian.
“(Maafkan aku kak Shen, sekali lagi maafkan aku sudah berbohong)”
“(Karena keegoisanku, hingga tidak memedulikan perasaanmu)”
“(Ketika waktunya tiba, aku pasti akan jujur dan siap menerima kemarahanmu…)”
……………………………………………………………………………….
mendingan gk punya pacar ,dri pd bodoh
penyesalan mu bagai angin yg
gk pernah berhenti mampir..
knp sih lelaki bnyak yg bodoh. wanita baik mesti di tinggal tp wanita murahan kayak yuri gmpang bnget dpt laki.
blm dpt karma ya pelakor ini.